GARA-GARA UNGGAHAN ASINAN

Meskipun sibuk berkarir sebagai accounting officer Bank CIBA, pergaulan medsos tidak dilewatkan Uniq. Unique Vritani Mumtasz. Di tengah kesibukan mendebetkreditkan transaksi, menyusun jurnal serta membuat laporan, stressing karena sering lembur, Uniq tetap update di hampir semua medsos yang diikutinya. Akun fesbuknya tertulis: accounting officer di Bank CIBA, pernah belajar di Universitas Hyang Bwana (UHB), pernah belajar di SMA Negeri XV, pernah belajar di SMP Islam Terpadu “Nurul Fiqih”, tinggal di Sleman, menikah dengan Jaelani Kono Mumtasz.
            Dalam berteman, Uniq juga tidak pilih-pilih. Setiap hari, ada saja yang mengajak berteman di fesbuknya. Salah satunya Sarpinggi Pudjono Dewata. Meski untuk pria yang satu ini, Uniq tidak tahu persis berkaitan dengan siapa pertemanannya. Kalau melihat teman-teman Sarpinggi tak ada satu pun yang merupakan teman Uniq. Dan ini juga tidak terlalu dipedulikannya. Justru hubungan dengan Sarpinggi sering dilakukan melalui fesbuk, disela-sela kesibukan Uniq. Ada yang sangat disukai Uniq ketika membaca status yang dibuat Sarpinggi, yaitu sering menayangkan berbagai resep masakan maupun minuman. Kebetulan lagi Uniq sedang getol-getolnya hobi memasak. Gara-gara anak-anak dan suaminya selalu minta masakan atau jajanan yang dibuat sendiri. Sebetulnya melelahkan tapi demi keluarga tercinta, Uniq rela capeknya dobel. Di kantor dan di rumah.
***
            Sudah hampir 6 bulan ini Pino selalu melihat perempuan yang memarkir motornya di depan kiosnya jika ia berbelanja ke Pasar  Kronggah. Selalu, tak pernah tidak. Kebetulan saja, kios Pino dan istrinya memang persis di depan parkiran motor pasar. Kalau berbelanja, perempuan itu tak berdandan. Memang karena wajahnya cantik, tanpa dirias pun kecantikannya tetap memancar. Ia juga selalu memakai jaket, yang rit jaketnya dibiarkan turun ke bawah. Dadanya menyembul karena rit jaketnya selalu berada di tengah dadanya. Ia juga selalu memakai celana jeans yang sama. Blue jeans…
            Turun dari motor, si perempuan itu pasti langsung memesan ayam di depan kios Pino. Ada penjual ayam yang ngemper persis di muka kios Pino. Berapa kilogramnya yang dibeli, Pino tidak terlalu tahu. Tapi yang pasti, setelah memesan ayam, ia baru pergi berbelanja ke tempat lain. “Titip ayamnya dulu, ya Bu!” Kalimat itu yang selalu diucapkan sambil berlalu dari tempat ia memesan ayam. Pernah iseng-iseng Pino bertanya kepada penjual ayam apa saja yang dibeli perempuan itu?
            “Ahh, biasa saja yang dipesan. Lazimnya ibu-ibu kalau mau masak di rumah. Memang seringnya si ibu itu pesan dada juga sesekali ati rempolo. Paling banyak 2 kg kalau pesan. Belum pernah lebih dari 2 kg,” begitu penjelasan si penjual ayam.
            Kebiasaan perempuan itu, yang selalu parkir di muka kiosnya, seperti menjadi pemandangan khusus bagi Pino. Ia selalu datang selepas subuh. Datang sendiri tanpa ditemani siapa pun. Entah dimana rumahnya kok berani pergi sendiri ke pasar naik motor. Disela-sela melayani pembeli di kiosnya, juga sambil membantu istrinya, Pino selalu tidak melewatkan kehadiran perempuan itu. Sayangnya, selama 6 bulan terakhir ini, baru 2 kali saja ia mampir ke kiosnya. Pertama kali, ia hanya melihat-lihat dan bertanya-tanya apa saja yang dijual. Saat itu, yang meladeni pertanyaan perempuan itu istri Pino. Adapun yang kedua kalinya, perempuan itu membeli jajanan pasar 2 dus. Dilayani karyawan Pino yang bertugas pagi itu. Pino hanya duduk di meja dalam menerima uang pembayaran dari para karyawannya. Matanya hanya mengawasi gerak-gerik perempuan itu. Sesudah itu, Pino hanya melihat perempuan itu mampir di tempat tukang ayam dan pergi belanja ke dalam.
***
            Uniq berulang kali mengajak Sarpinggi ketemuan. Kopdar ceritanya. Bukan untuk hal-hal yang lain, tapi semata-mata hanya ingin berkenalan dengannya dan istrinya. Lagi-lagi karena postingan Sarpinggi mengenai resep juga kadang-kadang foto makanan, apa saja makanan itu, yang membuat Uniq tergiur.
            “Saya malu Mbak. Saya hanya orang pinggiran, rumah juga cuma di desa jauh dari kota. Kasihan Mbak Uniq kalau dolan ke rumah.” Jawaban itu yang selalu diberikan Sarpinggi setiap Uniq mengajaknya bertemu.
            “Resep sama masakan yang sering saya tampilkan di fesbuk juga hanya saya comot sana-sini dari berbagai sumber. Hanya niatnya berbagi saja. Lha saya tidak tahu harus cerita apa di fesbuk,” suatu ketika itu yang dikatakan Sarpinggi. Pria ini benar-benar merendah. Tapi Uniq tidak pernah surut tetap ingin suatu saat bertemu dengan Sarpinggi dan istrinya.
            Meskipun postingan di fesbuk Sarpinggi comot sana-sini, namun tak sedikit juga Sarpinggi menampilkan resep dan masakan hasil kreasi istrinya. Uniq sempat mencoba resep buatan istri Sarpinggi. Sederhana, mudah, dan langsung jadi favorit di rumahnya. Maka dari itu, ia kukuh ingin menjumpai pria rendah hati ini, yang menjadi teman fesbuknya tanpa sengaja.
***
            Akhir bulan Pebruari kemarin tanpa sengaja Pino mendengar perempuan yang biasa membeli ayam di depan kiosnya, memesan ayam dalam jumlah banyak. Sampai-sampai, ibu penjual ayam meneriakkan “penglaris-penglaris” padahal ayam baru akan diambil nanti pada Sabtu. 4 Maret. Namun sepertinya, si perempuan itu sudah jauh-jauh hari memesan kepada si ibu penjual ayam.
            “Bener ya, Bu, disiapkan pesanan ayam saya untuk 4 Maret. Jangan pakai kepala dan sayap, pokoknya . Saya nanti ke sini sekitar jam 6-an. 5 kg disiapkan, ya Bu,” kata perempuan itu terus mengingatkan si ibu penjual ayam. Pino kebetulan sedang berada di luar kios, menata dagangan. Otomatis semua pembicaraan kedua perempuan itu didengarnya baik. 
            “Sekilo biasanya bisa berapa potong, Bu?” tanya perempuan itu sebelum benar-benar meninggalkan ibu penjual ayam.
            “Terserah Mbak e saja, dijadikan berapa potong maunya. Kalau mau terlihat besar potongannya, mungkin sekilo bisa jadi 10 potongan atau kurang dari 10 juga saya bisa,” ucap ibu penjual ayam. Perempuan muda nan cantik itu terdiam sebelum memberikan keputusannya.
            “Ya sudah Bu, dijadikan 10 potongan sekilonya, ya?” perintahnya kemudian. Ia pun tersenyum kemudian berlalu dari situ.
            Baru beberapa langkah meninggalkan lapak, perempuan itu membalikkan badan, berjalan menuju si ibu penjual ayam lagi. Saya perlu beri uang muka dulu, nggak Bu, tanyanya.
            “Nggak usah, Mbak. Besok saja pas ngambil ayamnya. Nggak apa-apa,” jawab si ibu penjual ayam. Perempuan itu tersenyum sembari mengucapkan terima kasih. Tanpa Pino duga sama sekali, perempuan yang tadi sudah hendak masuk ke dalam pasar justru masuk ke dalam kios Pino. Melihat sudah ada apa di dalam kios. Istri Pino yang langsung menyambut perempuan itu. Seperti kebiasaan setiap paginya, Pino, istri, dan karyawannya masih menata dagangan yang mau dijual hari itu. Pino tetap melihatnya dari luar kios karena yang dikerjakannya belum selesai. Perempuan itu lantas membeli risoles, lumpia, dan selat solo, hanya beberapa buah. Namun ada ucapannya pagi itu, yang menyenangkan hati Pino yaitu ketika perempuan itu bertanya pada istri Pino apakah bisa pesan risoles dan lumpia untuk Sabtu, 4 Maret nanti. Dengan suka-cita, dengan tersenyum, istri Pino mengangguk-anggukan kepalanya.
            “Mau pesan berapa, Mbak?” tanya istri Pino. Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia sedang berpikir mau pesan berapa banyak, perkiraan Pino begitu. Tiba-tiba perempuan itu melihat tulisan di dinding kios.
            “Nanti saya hubungi berapa perlunya, ya! Itu nomor yang bisa saya hubungi, kan?” Jarinya menunjuk ke arah tembok. Istri Pino mengangguk lagi.
            “Minarti…  Mbak Minarti jajanan,” ucapnya lirih sambil jari-jarinya mengetik nomor HP istri Pino ke dalam kontak memori HP.
            “Mimin, tulis saja Mimin, Mbak.” Istri Pino menyela. Perempuan itu melihat ke arahnya. Kali ini kepalanya mengangguk. Ia berjanji sebelum tanggal 4 Maret akan menghubungi lagi. Ia pun lantas berpamitan.
            “Kamu mau dipesani juga?” tanya ibu penjual ayam setelah perempuan itu pergi.  Pino mengangguk. Bibirnya tersenyum.
***
            Sebuah pesan masuk di inbox fesbuk Sarpinggi. Isinya undangan hadir pada Sabtu, 4 Maret. Yang mengundang Uniq. Isi berita komplitnya: Mas Sar, meskipun belum pernah ketemu, saya mengundang mas dan istri, kalau anak-anaknya mau ikut, silakan datang di perayaan ulang tahun saya, Sabtu, 4 Maret, pukul 7 malam. Datang yaa. Nggak semua teman dumay saya undang. Jadi, Mas Sarpinggi dan keluarga merupakan orang pilihan.  Selain undangan, Uniq juga memberi alamat sekaligus denah rumahnya. Sebuah perumahan mewah di utara kota. Hmmm, desah Sarpinggi mendadak.
            Sarpinggi terperangah juga terkejut. Namun seulas senyuman dibibirnya tersungging. Ia hanya tidak menyangka Uniq mengundang hadir di acara ulang tahunnya. Bahkan tidak cuma dirinya tapi juga anggota keluarganya. Ia pun menjawab pesan itu dengan balasan in sha allah.
            Masih jam 10 pagi namun matahari menyorot tajam dan terik. Jika mengenai kepala pasti terasa cekot-cekotnya. Sarpinggi iseng-iseng memposting asinan kreasi istrinya di fesbuk. Komentarnya:
           
  





Dahaga terpuaskan saat di luar sana panas menyengat. Asinan kreasi bojoku.

            
Setelah postingan asinan itu nampang di fesbuk, tidak menunggu waktu lama, komentar mengenai asinan segera bermunculan, mampir di fesbuk Sarpinggi. Komentar terbanyak adalah tulisan “MAUUUU….” Hingga siang komentar terus masuk menanggapi asinan yang terlihat menyegarkan.
            Mungkin karena sudut pengambilan foto asinan yang bagus, membuat para pengikut Sarpinggi memberikan komentarnya. Ada pula yang minta resepnya. Ada pula yang mau pesan dan minta dibuatkan. Dari sekian komentar itu, Pino belum melihat Uniq mengomentari foto asinannya. Baru pada jam duaan Uniq mengomentari foto asinan Sarpinggi.
            “Menyegarkan!! Kalau dikasih pasti aku mau. Sebentar, sebentar…. Kok aku merasa  kenal dengan situasi asinan itu diletakkan ya?” Itu yang ditulis Uniq, mengomentari foto asinan Sarpinggi.
            “Jangan lupa, tanggal 4 menjumpaiku.” Tulis Uniq berikutnya. Komentar ini, tak urung memunculkan komentar-komentar lain yang ramai. Dan sejak itu Uniq tidak ikut berkomentar lagi. Adapun Sarpinggi, tetap menjawab pendek komentar Uniq tadi: in sha allah.
            Menjelang tidur, masih rebahan di ranjang Sarpinggi melihat fesbuknya. Ada sebuah pesan masuk. Dari Uniq lagi. Ia hanya menuliskan masih merasa penasaran dengan foto asinan yang tadi siang diunggah Sarpinggi. Aku kok merasa pernah melihat tempat itu tapi dimana yaa, Mas? Sarpinggi hanya tersenyum membaca pesan itu dan tidak membalasnya. Apalagi istrinya yang sudah terlelap duluan tiba-tiba menggeliat. Ia baru ingat belum memberitahukan undangan Uniq untuk datang di pesta ulang tahunnya. Sarpinggi pun lantas menceritakan perihal undangan itu kepada istrinya. Istrinya tersenyum dan mengangguk. Aku sih manut, ikut sama Mas saja, ucapnya seraya menarik selimut. Entah kenapa udara terasa dingin menyergap. Sarpinggi membalas senyuman istrinya dengan sebuah pelukan hangat.
***
            Tanggal 2 Maret siang, Mimin menerima SMS dari perempuan yang kemarin berjanji hendak memesan jajanan di kiosnya. Ternyata yang dipesan tidak hanya risoles dan lumpia. Ada juga selat solo, bolu gulung, stick keju pedas serta keripik tempe. Segera Mimin membalas pesan itu dengan ucapan terima kasih dan berjanji akan menyiapkan sebaik-baiknya. Ia pun juga menanyakan alamat rumah perempuan itu. Karena pesanannya banyak, nanti biar diantarkan suami saya ke rumah Mbak, begitu yang dituliskan dalam pesan SMS-nya. Sebuah jawaban langsung diterima Mimin. Aduhhhh senangnya aku, makasih ya Mbak sudah mau mengantarkan ke rumah. Ditunggu yaa… Tolong berapa yang harus saya bayarkan? Nanti tanggal 4 Maret pagi, sambil ambil ayam, saya bayarkan sekalian. Nuwun…
            Pino yang barusan kembali dari mengantarkan pesanan, langsung disambut Mimin istrinya di kios. Wajahnya sumringah, senang banget mendapatkan pesanan banyak dari perempuan yang sampai lupa menanyakan siapa namanya.
            “Mas, alhamdulillah, kita dapat pesanan dari perempuan yang kemarin pesan ayam itu. Astaga, aku kok lupa menanyakan siapa namanya? Nanti tolong diantarkan ke rumahnya, ya Mas…. Ini alamatnya..,” sambil nyerocos Mimin menyerahkan catatan alamat rumah perempuan itu.
            “Tolong di SMS lagi siapa nama perempuan itu, ya?” pinta Mimin kepada Pino. Kepalanya mengangguk, bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti.

Sabtu, 4 Maret, @Pasar Kronggah pagi hari
            Pino tak sengaja melihat perempuan yang memesan ayam dan memesan jajanan turun dari mobil Honda CRV 2.4 AT. Dari mobilnya itu, sudah diketahui dari kelas sosial mana perempuan itu berasal. Kali ini, ia bersama seorang pria juga seorang anak perempuan usia anak SMA.
            Pagi itu, ia tetap bergaya seperti kalau ia naik motor. Hanya pagi itu ia tidak berjaket. Memakai kaos casual putih, bercelana jeans. Anak perempuannya juga berpakaian sama dengannya. Hanya pria yang mendampinginya, berkaos namun memakai celana pendek tanggung.  Mereka berjalan menuju tempat ibu penjual ayam dan sebentar lagi pasti akan mendatangi kios Pino. Entah kenapa Pino merasakan jantungnya berdebar ketika melihat perempuan itu datang dan semakin mendekati kiosnya.
            Setelah membayar ayam pesanannya, anak laki-laki ibu penjual ayam langsung mengikuti suami perempuan itu menuju mobil. Hendak menaruh ayam pesanan di bagasi mobil. Perempuan itu mendatangi kios Pino. Begitu melihat perempuan itu datang, Pino langsung jongkok seolah-olah sedang mencari sesuatu di bawah. Kedatangan perempuan itu bersama anaknya disambut hangat Mimin istri Pino.
            “Selamat pagi Mbak, kok mruput datangnya?” Merasa disapa dengan hangat, perempuan itu tersenyum seraya mengatakan hendak membayar semua pesanannya. Sementara itu, anak perempuannya melihat jajanan yang sudah dipajang di situ.
            Tiba-tiba Mimin berkata lirih, “Maaf saya memanggil Mbak bukan ibu. Saya pikir…”
            “Sudahlah nggak apa-apa, kan saya malah jadi awet muda dipanggil mbak?” ucap perempuan itu diiringi derai tawanya yang langsung menampakkan deretan giginya yang putih bersih. Entah kenapa, Mimin merasa perempuan di depannya terlihat lebih cantik pagi itu.
            “Maunya sih tuh mama.” Tiba-tiba anak perempuannya berkomentar demikian sambil tertawa.
            Sesudah menerima nota yang harus dibayarkan, perempuan itu mengeluarkan uang dari dompetnya dan langsung menyerahkan uangnya kepada Mimin. “Kakak nggak mau beli jajanan untuk pagi ini?” tanya perempuan itu kepada anaknya. Anak gadisnya hanya menggeleng.
            “Nanti malam kan ada. Nanti malam aja makan sepuasnya.” Anak gadisnya tertawa lagi.
            Pino masih saja jongkok seolah sedang sibuk di bawah. Sekonyong-konyong ia mendengar suara istrinya bertanya lirih kepadanya siapa nama perempuan yang ada di depan mereka. Pino menyebutkan nama Rita dengan lirih juga. Kemudian terdengar nama Rita disebutkan Mimin sekaligus ucapan terima kasih sudah memesan makanan di situ.
            “Ohya Mbak Mimin, nanti kalau suaminya antarkan pesanan saya, bilang saja ke satpam perumahan rumah Pak Jaelani. Itu nama suami saya.” Jaelani yang sudah kembali dari mobil langsung mengangguk seraya tersenyum kepada Mimin.
            “Ya sudah kalau gitu, saya pamit yaa…. Sampai nanti sore di rumah.” Rita langsung berpamitan. Tapi mendadak Rita diam sejenak. Gara-garanya, ia melihat meja yang di atasnya tergeletak gorengan. Dahinya tampak mengernyit.
            “Meja itu, tulisan di dinding yang betuliskan ‘pesanan bisa menghubungi…’, ia menyebutkan nomor HP Mimin, kok situasinya seperti foto asinan di fesbuk, ya?” Mimin yang ditanyai begitu hanya bengong. Tidak tahu harus menjawab apa.
            “Foto asinan apa, ya Mbak Rita?” tanyanya bingung.
            “Saya memang diminta suami saya menyiapkan asinan. Katanya, mau dikirim hari ini juga ke temannya yang sedang ulang tahun. Tapi dikirim kemana saya juga tidak tahu, yang pesan siapa, saya juga tidak mengerti. Malahan nanti sore, kami diundang ke pesta ulang tahunnya juga. Katanya, itu teman fesbuk suami saya.” Dengan polos dan lancar Mimin menceritakan soal asinan yang minta dibuatkan suaminya. Mendengar cerita Mimin, muka Rita seperti keheranan.
            “Nama suami Mbak siapa?” tanya Rita.
            “Pino, Mbak.” Ketika menyebutkan nama Pino, lagi-lagi Rita mengernyitkan dahinya. Suami dan anak gadisnya hanya terdiam, sesekali ikut nimbrung menanyakan ada apa?
            “Mas..,” tangan Mimin mencolek pundak suaminya yang sibuk di bawah etalase. “Siapa yang mau dikirimi asinan nanti sore?” Pino yang dicolek hanya bergerak sebentar trus diam dan masih tetap berjongkok.
            “Ini lho Mbak Rita tanya soal asinan?” Pino mau tak mau harus berdiri dari jongkoknya. Dan begitu Pino berdiri menemui Rita, terdengar suara pekikan….
            “Mas Sarpinggiiiiii….Ya ampunnnn. Kok ada di sini?” Mimin yang mendengar teriakan Rita hanya bengong. Suami Rita dan anak gadisnya juga kaget, tidak mengira istrinya memekik.
            “Jadi Sarpinggi, jadi Pino, jadi asinan yang di fesbuk itu??” Pino alias Sarpinggi hanya senyum kecut, tersipu malu.
            “Maaf ya. Maafkan saya, menyembunyikan diri selama ini dari Mbak Uniq.” Mendengar suaminya bermohon seperti itu, Mimin istrinya makin tidak mengerti. Ia keheranan melihat kejadian itu.
            “Dik,” kata Pino. “Mbak Rita, Mbak Uniq seperti yang mas ceritakan kemarin tuh, orang yang sama. Ini yang mas mau beri asinan buatanmu itu.” Muka tegang Mimin seketika berubah. Ia tertawa renyah. Untungnya belum banyak pembeli di kios mereka.
            “Dan Sarpinggi, dan Pino juga orang yang sama. Ini lho mas, Mas Sarpinggi teman fesbukku yang ternyata diam-diam istrinya dan dirinya jago masak. Tapi, selalu merendah kalau aku chatting di fesbuk.” Jaelani yang mendengar penjelasan istrinya ikutan tertawa seperti Mimin.
            “Wah, ternyata kamu dikerjain teman fesbukmu, Ma,” ujar Jaelani, dengan masih terkekeh. Uniq ikutan tertawa setelahnya.
            Pagi itu, di Kios Mbak Mimin, di hari ulang tahun Unique Vritani Mumtasz, akhirnya mempertemukan 2 teman dumay yang selama ini susah untuk bertemu. Bukan susah karena sesuatu dan lain hal, tapi lebih karena kerendahan hati seorang Pino Sarpinggi kepada Uniq, karyawan bank CIBA yang sudah 6 bulanan ini berteman di fesbuk. Dunia maya yang kadang penuh hoax, ternyata tetap menyisakan persahabatan yang indah di antara Uniq dan Sarpinggi.
            “Sudah, nanti malam jangan tidak datang. Harus datang ya,” kata Uniq sebelum mereka pergi dari kios Pino.
            Ketika Pino hendak mengucapkan selamat ulang tahun, langsung disela oleh Uniq, “Nanti saja di rumah. Nanti malam aja ngomongnya.” Semua yang ada di kios itu tertawa lagi….
            “Asinannya jangan lupa, ya?” teriak Uniq lagi. Pino dan Mimin hanya mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati Pino membatin, kejutan asinan untuk Mbak Uniq gagal deh… Ia pun tersenyum sendiri hingga terkejut ketika lengannya dicolek Mimin istrinya.
            “Ada apa Mas kok senyam-senyum sendiri?”

         “Gara-gara asinanmu, Dik!” Mereka berdua akhirnya tertawa. Kios pun mulai ramai dikunjungi pembeli yang hendak membeli jajanan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA