MIMPI KEDUA PULUH+


Ini malam kelima belas Pak Dirja mendatangiku lewat mimpi. Seperti malam-malam sebelumnya, dalam mimpiku Pak Dirja selalu mengajakku bersalaman. Dalam setiap kehadirannya, setiap ia mengajakku berjabat tangan, ia selalu sambil tersenyum. Senyumannya khas.

            Aku mengenal senyuman khasnya, gara-gara sering mengantarkan Levi. Aku sendiri lupa mengapa selalu kebagian mengantarkan Levi apabila selesai beracara. Selain aku dan Levi, beberapa teman di angkatanku aktif berorganisasi di himpunan jurusan. Saling jemput dan antar menjadi hal lumrah. Tak urung gara-gara antar-jemput menimbulkan cinlok antarsesama teman.
            Mimpi-mimpi didatangi Pak Dirja tak pernah kusampaikan kepada Levi. Mimpi itu mengalir begitu saja, seiring persahabatan kami di kampus. Levi tetap dengan Wasis, teman semasa SMA-nya, sementara aku terus berpedekate pada Achie.
            Wasis yang teman SMA Levi sesungguhnya sudah sangat dikenal keluarga Levi. Aku melihat sendiri Wasis sering berada di rumah Levi. Bahkan tanpa Levi ada di rumah pun, Wasis bisa bertandang dan berbincang santai dengan Pak Dirja, Bu Dirja maupun anggota keluarga Levi yang lain. Dari pengamatanku jika sedang mengantarkan Levi setelah beracara di kampus, hubungan mereka terlihat akrab. Tapi, kalau aku datang mengantarkan Levi, Pak Dirja juga terlihat hangat, tak jarang ia sering minta aku tidak buru-buru pulang setelah mengantarkan anaknya.
            “Nggak wedangan jahe dulu Nak Mono,” begitu yang selalu ditawarkan Pak Dirja padaku. Ia tahu kalau aku menyuka minuman tradisonal itu. Kebetulan, di depan rumah Levi ada penjual angkringan yang apabila menyeduh minuman hangat terutama jahe, aromanya sering tercium sampai teras rumah.
            Perkenalanku dengan wedang jahe seduhan Lik Kus, si pemilik angkringan, berawal ketika suatu malam aku mengantarkan Levi pulang. Hari itu, fakultas baru saja menggelar seminar nasional sehari penuh. Acara baru selesai jam 8 malam. Setelah beberes dan evaluasi kegiatan, seperti biasa aku kebagian mengantarkan Levi pulang. Waktu itu, aku dan Levi meninggalkan kampus jam 10 malam. Satu jam perjalanan ke rumah Levi. Dan sesampainya di sana, seperti biasanya Pak Dirja selalu duduk menunggu anak perempuannya di teras rumah mereka. Oleh karena sudah malam, begitu menyerahkan Levi kepada bapaknya, aku langsung berpamitan. Namun oleh Pak Dirja aku ditahan supaya tidak segera pergi.
            “Tercium nggak aroma menyegarkan ini?” tanya Pak Dirja kala itu padaku. Levi saat itu sudah pamit masuk ke dalam dan sama sekali tidak keluar lagi menemani kami di teras. Aku sebetulnya merasa tidak enak masih di rumah Levi. Perut juga sudah kenyang, mulut juga sudah tidak haus karena setiap ada acara di kampus, kami para anak kos selalu sehat dan perbaikan gizi makanan. Namun demi menghormati ajakan Pak Dirja, aku menerima tawarannya untuk mencicipi wedang jahe Lik Kus.
            Sejak itulah, aku nagih minum wedang jahe Lik Kus. Bahkan kalau sedang tidak buru-buru di rumah Levi, aku selalu berusaha menikmati wedang jahe. Akibat keseringan wedangan, tak jarang setiap disuguhi minuman ketika menunggu Levi, Bu Dirja memesankan dari angkringan Lik Kus, bukan membuat dari dapur rumahnya, hehehe …. Dan malam itu, untuk kali pertama, aku wedangan bersama Pak Dirja di teras sambil ngobrol banyak hal. Levi tak tahu aku bersama bapaknya. Dirinya sudah telanjur dibawa Putri Tidur.
            Setelah beberapa kali sering wedangan di teras bersama Pak Dirja entah mengapa aku selalu didatanginya dalam mimpi. Anehnya, dalam mimpi tidak pernah ada kegiatan lain kecuali hanya mengajakku bersalaman sambil menyunggingkan senyuman khasnya. Itu saja. Berulang kali… Aku tidak pernah tahu apa maksud mimpiku yang terus berulang dengannya.
            Suatu malam aku mengantarkan Levi pulang. Azan isya baru saja berkumandang. Di depan pagar rumahnya aku sudah melihat motor Wasis berdiam di halaman rumah Levi. Kucolek lengan Levi memberitahu ia kalau ada Wasis di rumahnya. Jawaban Levi, “Biarkan! Dia sudah tahu harus ngapain kalau di rumahku.” Sambil berucap begitu Levi membukakan pintu pagar mempersilakan aku masuk ke halaman rumahnya. Seperti biasa ia menyuruhku menunggu di teras. Teras sepi. Biasanya Pak Dirja selalu duduk di situ. Malam itu, beliau di dalam rumah bersama Wasis. Aku mendengar sedikit gelak-tawa juga suara Pak Dirja sedang bicara bersama Wasis. Tiba-tiba Wasis sudah berdiri di pintu depan, menatap kedatanganku. Levi sudah lenyap ke dalam melewati pintu samping rumahnya.
            “Mau pergi lagi?” tanya Wasis. Semula aku enggan menjawab pertanyaannya. Tapi ia mengulangi pertanyaannya. Aku menganggukkan kepala sambil membatin, tahu dari mana kami mau pergi lagi setelah Levi mandi dan berganti pakaian. Pada saat aku masih berpikir, dari dalam terdengar suara Levi yang berteriak menolak keinginan ibunya.
            “Bapak ajah nggak apa-apa aku pergi lagi kenapa ibu ribut sih!”
            Mendengar Levi membantahnya, Bu Dirja bukan menyudahi ucapannya. “Pergi terus, mau kemana lagi? Itu Nak Wasis sudah dari tadi di sini.” Rupanya percakapan ibu dan anak yang terdengar ini menyebabkan Wasis bertanya kepadaku. Wasis sekali lagi melihatku. Dilihat begitu, aku hanya bisa tersenyum, tak bisa mengatakan apapun lagi. Sosok Pak Dirja muncul dari pintu depan melewati Wasis yang masih terpaku di situ. Ia bergeser ke depan begitu tahu Pak Dirja hendak keluar menemuiku. Senyum khas Pak Dirja langsung bertengger di wajahnya.
            “Mau pergi lagi Nak Mono?” sapa Pak Dirja. Suaranya tenang, lembut, dan tetap tersenyum kepadaku. Aku mengangguk pelan seraya menjelaskan kemana malam ini akan bepergian. Memperoleh penjelasanku, Pak Dirja gantian yang manggut-manggut.
            “Berarti kalian menginap di sana?” tanyanya lagi. Aku kembali mengangguk.
            “Kami ke sana berdua puluh orang,” kataku menjelaskan peserta yang akan bepergian.
            “Awalnya tidak akan menginap. Tapi karena tempat yang akan kami survei baru berkegiatan malam hari hingga subuh, kami sepakat bermalam di sana,” penjelasan tambahan kusampaikan kepada Pak Dirja.
            “Selain survei, kami juga ingin melihat matahari terbit. Kebetulan lokasi survei ada di pinggir pantai.” Mendengar penjelasan yang ini, Pak Dirja tertawa seraya mengatakan, “Dasar anak muda, hahaha….” Wasis yang mendengar percakapanku dengan Pak Dirja hanya tersenyum kecut. Aku tahu, pasti ia mangkel banget melihat kekasihnya pergi lagi bersama teman-teman kampusnya. Namun seperti biasa, ia tidak berkutik kalau Levi sudah mengatakan, “Kamu ngobrol sama bapak atau ibu, ya…. Aku ada perlu sama teman-teman.” Setelah berkata begitu kepada Wasis, biasanya Levi langsung melangkah santai  kemudian menepuk pelan pundaknya. Terakhir Levi melambaikan tangannya ke arah Wasis.
             “Hati-hati di jalan. Bapak titip Levi, ya….!” Itu yang dikatakan Pak Dirja padaku saat Levi berpamitan. Aku hanya menjawab pendek ‘pasti’. Dan meyakinkan Pak Dirja kalau Levi aman selama berada ditanganku. Sebelum benar-benar berlalu dari rumah Levi, kulihat lagi tampang Wasis yang menunjukkan kekecewaan, malam itu.
            Selama perjalanan menuju tempat berkumpul, aku maupun Levi mengobrol. Aku sempat menanyakan tentang ibunya yang tak mengijinkan pergi. “Biarin ajah, yang penting Bapak sudah mengijinkan. Kamu juga dititipi aku tho!” Setelah ngomong begitu, terdengar tawa Levi. “Tapi, Lev, “kataku menyela tawanya.
            “Kamu pasti mau menanyakan soal Wasis, kan?” sergah Levi. Kepalaku mengangguk bersamaan juga tangan Levi menepuk bagian atas helm-ku.
            “Biarin! Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan di rumahku kalau aku nggak ada.” Aku mengangguk lagi mendengar jawaban Levi. Sebelum aku melanjutkan pertanyaan, Levi berkata, “Rasah takon soal Wasis. OK?” Dan aku langsung berkonsentrasi mengendarai motor supaya baik jalannya menuju tempat berkumpul. Selama perjalanan aku hanya menjadi pendengar setia, mendengarkan celotehan Levi tentang banyak cerita.
            Dan malam itu, kami benar-benar menginap di pinggir pantai. Merasakan hembusan udara pantai, mendengarkan dendangan ombak yang memecah pantai, serta menatap bintang-gemintang sambil berbaring di pasir pantai yang lembut. Kami tak tahu seperti apa rupa pasir pantai yang menjadi alas kami berbaring. Suasana di pinggir pantai gelap, segelap-gelapnya. Kami hanya bisa berbincang tanpa bisa menyaksikan wajah masing-masing. Kadang suara kami harus beradu dengan deburan ombak yang datang memecah tepian pantai. Sebelumnya, kami sudah menyewa beberapa tikar anyaman untuk kami jadikan alas berbaring. Tak ada satu pun yang terpejam matanya. Saling bercerita, saling berbincang, dan bernyanyi bersama dalam kegelapan. Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa muram, tak bisa menerangi pinggir pantai yang kami singgahi. Pun ketika salah satu teman menyalakan korek api. Apinya langsung padam tersapu udara pantai. Berulang kali kami ingin menyalakan lampu minyak yang dibawa, tetap saja nyalanya padam. Gelapnya semesta akhirnya terus menaungi kebersamaan kami malam itu.
            Semakin mendekati pagi, semakin menderas tiupan angin laut ke darat. Kami merapatkan tangan masing-masing ke tubuh. Untuk menghangatkan satu sama lain, kami duduk berdekatan. Masing-masing kami memakai jaket tebal untuk menahan gempuran angin laut. Aku sempat merasakan ada yang merapat erat di samping kananku. Kepalanya berusaha menyandar di bahuku. “Aku melu nyender, yo Mon,” tiba-tiba suara Levi terdengar.
            “Monggo,” hanya itu yang kujawab. Selanjutnya bersandarlah kepala itu seperti inginnya. Bersamaan dengan kejadian itu, terdengar petikan gitar yang mengintrokan sebuah lagu milik Iwan Fals.
            Denting piano, kala jemari menari, nada merambat pelan, dikesunyian malam saat datang rintik hujan.
            Ketika sama-sama bernyanyi, gerimis tiba-tiba menyeruak. Yang semula hanya gerimis, lambat-laun menderas tetes-tetes air yang jatuh. Hujan deras mengguyur sekonyong-konyong. Kami semua berhamburan mencari tempat teduh. Akhirnya, sasaran kami adalah emperan toko yang sudah tutup malam itu. Meskipun sudah berteduh, namun hujan ternyata deras mengguyur. Tempias hujan mengenai tubuh kami. Tak satu pun dari kami yang tidak basah. Semua kuyub dan semua berusaha mencari perlindungan aman dari hujan. Udara dingin yang basah membuat mata mengantuk. Mata bagai diganduli pemberat.
            Tikar yang kami sewa sudah tidak berfungsi sebagai alas lagi. Kini kami jadikan penutup kepala supaya curahan air dari langit tidak langsung mengenai tubuh. Hujan kian deras dan kami merapat satu sama lain. Saling menghangatkan. Kami duduk berdempetan di depan pintu atau tempat yang aman dari curahan hujan. Tapi tempias air hujan tetap mengenai. Levi tetap duduk disebelahku. Ia merapat ditubuhku seperti tadi. Menyandarkan kepalanya lagi di pundakku. “Nebeng kepala, ya Mon?” Aku tak perlu menjawab lagi karena kepalanya sudah bersandar begitu saja.
            “Dingin ya, Mon!” ujar Levi. Aku mengangguk.
            Teman-teman yang lain juga berusaha mencari kehangatan dengan caranya sendiri-sendiri. Mata mereka sudah terpejam berusaha menikmati hujan dan desiran angin laut yang dingin. Mungkin karena ada sedikit kehangatan, mataku juga ikut memberat. Terpejam, dan sesudahnya aku merasa ada di suatu tempat. Sebuah angkringan yang menebar aroma wedang jahe. Ingatanku langsung tertuju pada angkringan Lik Kus, di depan rumah Levi. Aku terperanjat ketika duduk dalam angkringan. Ternyata bukan milik Lik Kus. Ini angkringan lain namun aroma wedang jahenya mirip seduhan Lik Kus.
            Terkejutku selanjutnya karena di situ duduk Pak Dirja. Aku langsung menyapanya, tapi seperti biasa hanya uluran tangannya yang mengajakku berjabat tangan. Selesai menjabat tanganku, Pak Dirja bangkit keluar dari angkringan. Menyisakan wedang jahenya yang masih ada separuh gelas. Kulempar pandangan mengikuti langkahnya dari dalam angkringan, Pak Dirja menoleh ke arahku dan tersenyum. Senyum khas yang sering kulihat nyata maupun dalam mimpi. Tiba-tiba ia berbalik badan, mendekati aku lagi. Mengulur tangannya ke arahku, mengajak aku bersalaman lagi.
            “Mon.., Mon.., Mono… bangun.” Tubuhku diguncang-guncang seseorang. Samar-samar aku melihat Levi yang sedang mengguncang tubuhku. Kulihat tangan kananku menggenggam erat tangan kanannya. Teman-teman lain turut melihat kelakuanku juga. Mereka ingin melihat kenapa aku erat sekali menggenggam tangan kanan Levi. Bahkan saking eratnya genggaman, Levi susah melepaskan tangannya dariku.
            “Ngapain pada ngumpul di sini?” tanyaku heran. Aku merasa tangan kananku seperti digoyang-goyang seseorang. “Mon, lepaskan tanganku…” Levi setengah berteriak ke arahku. Ketika kesadaranku memulih, baru aku melepaskan tanganku yang menggenggam erat tangan Levi. Di tengah hujan yang masih menderu, suara teman-teman terdengar mengolok-olok diriku. Aku tidak memedulikan teriakan canda, olok-olok atau apapun ungkapan teman-temanku. Yang masih membekas dikepalaku adalah sosok Pak Dirja yang kembali hadir dalam mimpiku. Mimpi tentangnya merambah kemana pun dalam diriku. Di kos, di kampus, di rumah orang tuaku, malahan sekarang di pinggir pantai, di emperan sebuah toko. Dalam keherananku malam itu, aku hanya bisa menghela nafas seraya bertanya lagi apa maksud impianku tentang Pak Dirja ini.
***
            Perkuliahan dimulai kembali. Aku dan teman-teman kembali berkutat dengan materi-materi kuliah lagi. Siang itu, panas terik menyengat. Sorot tajam sang baskara tampak terjatuh di halaman parkir. Memanggang motor-motor yang tak beratap. Sesekali tajamnya cahaya matahari siang memantul dari spion-spion yang banyak bergeletakan.
            Kuliah siang itu diisi Pak Markam. Seorang professor sepuh yang masih dikaryakan fakultas. Beliau dipanggil untuk mengajar karena masih dianggap dosen mumpuni untuk mengampu matakuliah perencanaan wilayah. Belum banyak dosen muda yang mau mengampu matakuliah ini.
            Pintu ruangan diketuk. Tanpa diperintah masuk oleh Prof. Markam, seseorang masuk ke dalam. Aku mengenali yang masuk sebagai Mas Hariman, karyawan bagian akademik. Ia menyerahkan secarik kertas kepada Prof. Markam sembari membisik sebentar. Tampak professor sepuh itu mengangguk-angguk sambil menyilakan Mas Hariman yang mohon izin keluar.
            “Ada yang bernama Levita Purimas?” tanya Prof. Markam. Matanya mengedar ke seluruh penjuru ruang kuliah. Kelas yang sudah hening sejak tadi, tambah hening ketika Prof. Markam mencari Levi. Aku sedikit menggoyangkan kepala melongok ke arah duduk Levi. Aku tahu Levi duduk dekat jendela, sambil terkantuk-kantuk siang itu. Ia setengah terkejut  mendengar namanya dipanggil Prof. Markam.
            “Saya, Pak,” sahut Levi segera berdiri kemudian bergegas mendekati Prof. Markam. Ia menerima kertas yang tadi diserahkan Mas Hariman kepada Prof. Markam. Wajahnya masih tampak mengantuk. Setelah membaca sebentar kertas yang ada ditangannya, Levi kembali ke tempat duduk.
            “Silakan kalau kamu mau pulang,” ujar Prof. Markam. Beliau belum meneruskan materi kuliahnya siang itu. Levi mengangguk sambil mengambil tas ranselnya. Kulihat ia berpamitan kepada teman-teman yang ada didekatnya. Setelah berpamitan kepada Prof. Markam, Levi pun meninggalkan ruang kuliah. Seribu tanda tanya menggelayut di kepala teman-teman siang itu.
            “Mari kita lanjutkan kuliah hari ini,” kata Prof. Markam yang langsung mengambil buku yang ada di mejanya. Teman-teman masih berkasak-kusuk mengenai Levi. Degungan suara di dalam ruang kuliah memancing Prof. Markam bicara. “Itu teman kalian diminta pulang. Ada anggota keluarganya yang kecelakaan. Sekarang yang kena musibah sedang dibawa pulang ke rumahnya.” Kami langsung terdiam sesaat.
            “Mari kita lanjutkan. Kalian bisa mencari tahu nanti setelah saya menyelesaikan kuliah ini,” tambah Prof. Markam. Meskipun masih menyisakan tanya, kami ikuti apa yang dikatakan Prof. Markam.
            Aku bergegas menuju bagian akademik begitu Prof. Markam menyudahi kuliahnya. “Sudah kita tunggu Mono di kelas saja,” kata Yoka. Kelas kebetulan kosong, tidak dipakai untuk kuliah berikut. Aku masih mendengar Tinuk berteriak supaya aku segera mencari tahu tentang keluarga Levi.
            “Iya Mas, yang kecelakaan kedua orang tua Mbak Levi. Kabarnya, kedua orang tuanya dalam keadaan kritis di rumah sakit.” Mendengar penjelasan Mas Hariman, aku setengah mengawang. Pijakanku agak goyah. 
            Aku teringat mimpiku semalam. Mimpi yang kedua puluh kalinya mengenai Pak Dirja. Baru pada mimpi kedua puluh Pak Dirja bicara padaku setelah selama ini dalam mimpiku ia hanya menjabat tanganku. Hanya terus bersalaman.
            “Aku percaya padamu, Mas... Bapak titip.” Mimpi kedua puluh bersama Pak Dirja ada kalimat yang akhirnya keluar dari mulutnya. Tidak melulu jabat tangan. Dan, Pak Dirja menyunggingkan senyuman khasnya kepadaku.
            Aku tersadar ketika Mas Hariman menegurku. Menanyakanku apakah aku tidak apa-apa? “Iya Mas, aku nggak apa-apa.” Buru-buru berpamitan dari bagian akademik. Pikiranku masih terngiang-ngiang mengenai mimpi semalam dan kabar yang baru kudapatkan.
            Siang itu juga, sesudah memperoleh informasi pasti, kami langsung menuju rumah Levi. Kami hanya bisa menangis menyaksikan kedua orang tua Levi terbujur kaku di ruang tengah rumah mereka. Levi tak henti-hentinya menangis. Ia duduk bersebelahan dengan kakak-kakaknya. Tampak olehku, Wasis di antara mereka. Begitu melihat kami datang, Levi bangkit menghamburkan dirinya. Ia sesenggukan dalam pelukan Tinuk, Revi, Nanda, dan Tyas. Lama Levi dipeluk bergantian oleh mereka. Sampai akhirnya Tyas mengajak Levi duduk. Kami duduk dekat peti kedua orang tuanya. Aku mendekat ke peti, berdoa untuk kedua orang tua Levi. Selesai aku berdoa, Levi melihat aku dan mendekat. Ia langsung memeluk aku lama, sambil sesenggukan.
            “Mon, bapak sama ibu udah nggak ada.” Levi menangis lagi. Ia tak melepaskan dekapannya. Aku tidak berpikir macam-macam ketika Levi menghamburkan tubuhnya, serta mendekap aku erat. Tubuhnya yang rapat sangat aku rasakan. Nanda mengelus punggung Levi yang masih mendekap aku. Namun, dari kerling mataku, aku melihat mata Wasis menyorot tajam ke arahku. Setahuku, sejak tadi Levi memang tidak berdekatan dengan Wasis.
              Kami berada di rumah Levi hingga maghrib. Setelah berembug, kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing dulu. Hendak membersihkan diri dan nanti kembali lagi ke rumah Levi untuk menguatkan hatinya. Sayangnya, aku tak bisa ikut bergabung. Ada acara keluarga yang mengharuskan aku kumpul di dalamnya.
            Jelang tidur malam sesudah acara keluargaku selesai, aku melaksanakan salat isya. Malam itu, aku tidur di rumah bude. Aku tidur di kamar kakak sepupuku yang kebetulan malam itu sedang tugas ke Mataram. Kamar sengaja kuterangi lampu temaram. Tidak gelap, tidak terang. Aku pun salat isya. Sepanjang melakukan salat, perasaanku tidak tenang. Aku memang membaca ayat-ayat Quran. Aku juga melakukan gerakan salat seperti lazaimnya. Seperti biasa. Namun aku merasa, sepanjang aku melakukan salat empat raka’at, ada seseorang yang mengawasiku salat. Ia di belakangku, sepertinya. Menurut perasaanku. Anehnya lagi, bulu kudukku sempat meremang. Kata orang-orang lampau apabila bulu kuduk meremang begitu, ada makhluk gaib yang berada di sekitar kita. Aku tidak mau memercayai ungkapan itu, tapi malam itu, aku merasakan betul bulu kudukku meremang. Aku merasa ada seseorang yang mengawasiku salat.
            Begitu mengucapkan salam dua kali, aku memutar badanku melihat ke belakang. Kosong, sepi, tak ada siapa-siapa. Perasaanku tadi yang merasa seperti dilihat seseorang juga hilang. Aku menghadap ke arah kiblat, hendak melantunkan doa sesudah salat. Ketika aku mengangkat tangan dan menengadah untuk berdoa, perasaan seperti ada seseorang yang melihatku, muncul lagi…. Dalam bayanganku, seseorang itu tersenyum. Sayangnya, aku tak bisa mengenalinya. Dan sekali lagi, aku menengok ke belakang. Tak ada siapa-siapa, kosong, sepi. Perasaan yang muncul tadi juga hilang lagi. Namun begitu aku membalikkan badan menghadap kiblat, perasaan dilihat seseorang muncul lagi. Bulu kudukku kembali meremang.
            Kali ini aku bertekad tetap akan menghadap kiblat dan berdoa. Dan, perasaan dilihat seseorang dari belakang tetap muncul. Dalam bayanganku, seseorang itu tersenyum padaku. Ya Allah.., dalam pejam mataku aku berusaha mempertajam penglihatanku. Memastikan siapa yang tersenyum tersebut.  Aku mengenali senyumannya. Senyuman khas yang sering kulihat….
            “Yang benarrr…. Kamu sampai dua puluh kali diimpikan bapakku?” tanya Levi setengah tidak percaya. Aku mengangguk. “Yah begitulah adanya. Bukan dua puluh kali mimpi, tapi dua puluh plus plus. Plus ketika aku sedang salat isya itu.” Wajah Levi masih tidak percaya mendengarkan penjelasanku.
            Aku hanya menghela nafas panjang . Apalagi ketika Levi menanyakan kenapa aku baru menceritakan hal ini setelah 30 tahun berlalu. Aku tidak menjawab pertanyaan Levi. Hanya mengangkat bahu pelan.
            “Beneran gitu bapak menitipkan aku padamu?” tanya Levi berlanjut. “Atau jangan-jangan hanya halusinasimu saja.” Aku tersenyum. “Kamu nggak percaya, boleh… Kamu percaya, syukur alhamdulillah. Pada mimpi kedua puluh itu bapakmu berkata demikian padaku. Aku juga tidak tahu maksud dari ucapan bapakmu saat itu.” Gantian Levi menghela nafasnya.
            “Yang pasti, aku sudah sampaikan kedua puluh mimpiku bersama bapakmu,” sesudah mengatakan begitu aku tertawa.  Levi terdiam sesaat.
            Seorang anak laki-laki kecil mendekati meja kami. Levi memanggil anak kecil itu dengan sebutan Nono. “Ke sini sayang. Salam sama Om dulu.” Anak kecil yang ada didekat Levi tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya. “Namaku Nono, Om,” katanya riang. Aku melongo mendengar anak kecil itu menyebutkan namanya Nono. Levi hanya tersenyum.
            “Itu anak pertamaku, Mon,” ucap Levi datar.
            “Nono siapa, sayang? Nama panjangnya?” tanyaku kepada Nono kecil. Nono adalah nama kecilku, nama panggilanku, nama kesayanganku di rumah.
            “Lesmono Putranto.” Tiba-tiba ada suara berat yang menjawab dari belakangku. Aku menengok dan terkejut melihat sosok yang barusan menjawab pertanyaanku.
            “Abduh?” teriakku. Tak percaya kalau yang menjawab pertanyaanku adalah Abduh.
            “Apa kabar, Mon?” Abduh menyorongkan tangannya mengajak aku bersalaman. Aku terima jabat tangannya sambil mengatakan kabarku baik-baik saja.
            “Itu obsesi Levi, Mon…! Nggak dapatkan kamu, anaknya terus diberi nama seperti namamu.” Abduh tertawa sesudah mengatakan begitu. Levi kulihat memerah pipinya dengan senyum sedikit tertahan. Aku tertegun melihat kedua orang dewasa di hadapanku.
            Sambi menunjuk ke arah Abduh, “Kok jadi kamu yang menikahi Levi?” Terdengar tawa Abduh kemudian. Abduh melemparkan pertanyaanku kepada Levi. “Aku yang jawab atau kamu, Sayang?” Levi hanya diam ditanya begitu.
            “Nggak ada yang berani melamar Levi saat itu. Nggak si Wasis, nggak juga kamu, Mon!” ucap Abduh percaya diri. Aku tersipu-sipu mendengar ucapan Abduh.
            “Aku kan benar-benar hanya bersahabat dan berteman. Hanya menjadi pengantar dan penjemput Levi saja,” kataku menjelaskan.
            “Gara-gara antar-jemputmu itu, Levi jatuh cinta. Bapaknya juga setuju padamu daripada dengan Wasis,” papar Abduh.
            “Tuh, sampai kamu pun diimpikan Bapak, kan?” Aku dan Levi hanya terdiam.
            “Tapi yaitu tadi, nasib lebih berpihak kepada orang yang berani melamar duluan, hahahaha….” Sambil mengatakan begitu, Abduh tertawa renyah. Nono juga ikut tertawa sembari mendekati ayahnya.
            Aku benar-benar tak berkutik mendengarkan penjelasan Abduh. Tidak menyangka kalau diam-diam Levi menaruh hati padaku. Aku cuma ingat, pernah mengatakan pada Levi supaya persahabatan ini tidak diembel-embeli cinta dan sayang. Saat itu yang kutahu Levi langsung menjauh dan tidak mau kuantar-jemput lagi. Aku memang kemudian mengetahui ia dekat dengan Abduh. Meskipun Wasis masih setia mendatangi rumahnya. Wasis memang akhirnya menikah dengan teman kantornya, dan aku menikahi Achie, yang saat kuliah sedang aku PDKT.
            “Tenang Mon, nggak apa-apa. Toh sekarang Levi menjadi istriku dan menjadi ibu anak-anakku.” Aku tersenyum lega.
            “Nggak tahu sama Levi, masih cinta sama kamu nggak tuh?” Dengan santainya Abduh nerocos. “Masih cinta nggak sama Mono?” tanya Abduh lagi. Levi hanya senyum-senyum dikerjai suaminya.
            Yang pasti, setelah berpisah 30 tahun, kami bertemu kembali. Aku memang terputus hubungan dengan Levi karena ternyata Levi dan Abduh lama mukim di Kuala Lumpur. Siang itu kami menyudahi reuni kecil kami. Berjanji dikesempatan lain bisa ketemu lagi. Pertemuan tak sengaja itu memang mengakrabkan pertemanan kami lagi.

            Di bandara, menunggu pesawat terbang, sebuah pesan masuk di ponselku. Ssst, ojo ngomong Abduh. Aku masih sayang kamu, Mon, hehehehe…. Aku tak menjawab pesan Levi. Hanya mengirimkan icon dua jempol padanya dan buru-buru menghapus pesannya.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA