KEJUTAN TAK TERDUGA

Jelang jam 12 malam. Deka selesai mengirimkan surel tugasnya. Ia mematikan laptop dan menutup kaver laptopnya. Direnggangkannya segenap anggota tubuhnya, sekedar menghilangkan penat yang dirasakan sejak asar tadi. Sebelum merebahkan tubuhnya di pembaringan nan empuk di kamar yang berhawa sejuk, ia menuntaskan kopi di mug kesayangannya yang sengaja ia bawa dari rumah sebagai obat kangen semata.
            Sejak mengambil pekerjaan sebagai penulis cerita sinetron stripping dan meninggalkan pekerjaan design grafis, Deka memang harus meninggalkan kota asalnya. Ia, bersama sekumpulan penulis lainnya, dikarantina di sebuah bungalo di daerah puncak. Ada 5 penulis sepertinya yang dikarantina. Masing-masing dari mereka diberi kamar dengan fasilitas prima. Segala kebutuhan selama mereka karantina ditanggung pihak rumah produksi. Tugas mereka hanya menulis, menulis, menulis, dan membuat cerita supaya sinetron stripping yang sedang tayang di tivi nasional tidak kehilangan rating-nya. Mereka dikontrak eksklusif dengan rentang waktu yang panjang. Jika mengingat saat teken kontrak dan mengetahui nominal upahnya, Deka sangat sangat bersyukur atas anugerah itu. Meskipun untuk memperoleh nominal dengan jumlah banyak, ia harus mengorbankan sisi kehidupan yang lain. Namun sebagai pribadi yang bertuhan, Deka tidak kemaruk mengambil semua rejeki yang tersodorkan. Ia tetap mengukur dirinya dan kemampuan fisiknya dalam menjalankan pekerjaan yang menuntut otak harus diperas saben hari dengan deadline dan tingkat stressing yang luar biasa.
            Deka merebahkan tubuhnya, menyelonjorkan segenap tubuh fisik dan tubuh eteriknya. Bola matanya masih bergerak-gerak pelan meski kedua matanya sudah mengatup. Gemericik air kolam yang ada di samping kamarnya masih terdengar sayup-sayup ditelinganya. Perlahan dirinya terbawa ke alam alpha dan nyaris tenang damai. Dering telepon dari ponselnya memecahkan kesunyian tengah malam dan alam alphanya. Roh dari tubuhnya yang akan mengelana di malam hari bagai disedot paksa untuk kembali. Tubuh Deka merespon cepat. Bergoyang perlahan dengan mata terbuka paksa. Sebagai umat yang bertuhan baik, mulutnya justru melontarkan ucapan istighfar berulang-ulang hingga kesadarannya benar-benar pulih dan rohnya terpasang rapi ditubuhnya. Pelan-pelan tangannya mengambil ponsel yang tergeletak manis di samping ranjangnya. Sesuai aturan yang sudah ditetapkan, ponsel semua penulis yang dikarantina haram hukumnya untuk dipelankan. Harus dalam posisi dering menyalak setiap saat. Panggilan tugas dan revisi bisa saja terjadi setiap saat. Dan itu sudah dipahami semua penulis Rumah Produksi Multi Kreasi Cinema.
            “Siap! Baik, Pak, saya segera ke ruang pertemuan sekarang,” begitu jawaban Deka kepada penelpon ponselnya.
            Yang menelpon tengah malam adalah ketua tim penulis cerita sinetron. Namanya Tulis Sutan Sati. Dia-lah yang namanya selalu tercantum dilayar kaca ketika credit title sinetron ditayangkan. Nama aslinya Sudemo Tandu. Tulis dan Sati adalah kata-kata tambahan belaka. “Tulis” mungkin karena dia memang jawaranya penulisan cerita (sinetron). Sati, oleh beberapa kru menyebutnya demikian karena Pak Sutan “sangat teliti”. Sati sama dengan sangat teliti. Sebelum menggawangi Tim Penulis Cerita Sinetron, ia sudah malang-melintang di jagad tulis-menulis nasional. Perkenalannya dengan Bos Rumah Produksi Multi Kreasi Cinema mengantarkannya sampai pada posisi Ketua.
            “Pak, saya mau cuci muka sebentar,” pinta Deka di ujung teleponnya kepada Tulis Sutan Sati.
            “Iya silakan. Maaf ya mengganggu waktu istirahatnya. Keadaan darurat memaksa kita harus berkumpul. Pak Desmon mau mengatakan sesuatu soal sinetron kita yang sedang rating bagus di Blitz TV.”
            Mendengar nama Desmon disebut Sutan, seketika juga mata Deka langsung membesar. Kantuknya yang tadi sangat menyergap langsung pudar. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya supaya wajah kusutnya tidak terlalu tampak. Lamat-lamat terdengar desah nafas dari mulut Deka.
            Berbalut jaket yang bagian belakangnya bertuliskan Multi Kreasi Cinema, Deka keluar dari kamarnya. Bersamaan kepalanya nongol dari kamar, pada saat itu juga teman-temannya sesama penulis keluar dari kamar masing-masing. Mereka saling menyapa dan bertanya ada apa gerangan mereka harus berkumpul tengah malam begini.
            “Daripada bingung bertanya-tanya kita ikuti saja pertemuan malam ini dengan Pak Desmon,” ujar Deka yang mengajak teman-temannya segera menuju ruang pertemuan. Apabila Pak Desmon sampai mengajak meeting pasti ada sesuatu yang menyangkut sinetronnya yang sedang ditayangkan. Karena selama ini, rapat-rapat perbaikan cerita maupun teknis-teknis lainnya hanya dirapatkan bersama Pak Sutan Sati dan sutradara sinetron. Ayolah cepat, ajak kedua kali Deka kepada teman-temannya.
            Ruang pertemuan agak tinggi letaknya dari bungalow para penulis. Mereka harus mendaki sedikit untuk mencapai tempat itu. Ruang pertemuan itu berbentuk bundar. Jendela kaca mengelilingi ruangan itu. Jika rapat siang hari, jendela-jendelanya dibiarkan terbuka sehingga hawa sejuk pegunungan daerah puncak sangat terasa. Kalau malam, seperti saat ini, jendela rapat tertutup dan ruangan dipasangi pemanas ruangan supaya hangat guna menepis hawa dingin.
            Dari kejauhan, Deka sudah melihat Pak Sutan Sati berdiri di luar. Mulutnya terlihat mengepulkan asap. Kebiasaan yang sering dilakukan apabila kedinginan atau saat dipaksa deadline serta kejar tayang. Begitu melihat anggota timnya mendekat, ia buru-buru mematikan rokoknya. Tangannya mengajak semua segera masuk ruangan.
            “Selamat tengah malam. Maafkan saya harus memaksa kalian mendatangi pertemuan malam-malam begini. Saya nggak kuasa menolak karena Pak Desmon yang minta. Katanya, ada yang harus dibahas segera. Karena besok pagi, keputusan rapat kita malam ini harus segera dieksekusi untuk sinetron kita yang sedang tayang di Blitz TV.”
            “Ada yang sempat menonton Blitz TV hari ini?” tanya Sutan Sati ingin tahu. Keenam anggotanya hanya menggelengkan kepala.  TV flat berlayar lebar di ruangan rapat sudah menyala. Memperlihatkan siaran langsung sepak bola yang disiarkan Blitz TV.
            “Pak Desmon mau teleconference dan video call dengan kita semua,” kata Pak Sutan Sati begitu mereka duduk di kursi masing-masing.
            Segera siaran bola tadi dimatikan oleh teknisi yang ikut membantu Pak Sutan, berganti tayangan sebuah ruangan yang masih kosong. Hanya ada meja dan kursi yang tampak di TV layar lebar itu. Tiba-tiba ada sosok yang datang dan duduk di kursi itu. Wajahnya terlihat lelah namun sebuah senyuman serta lambaian tangan terlihat jelas. Itulah Pak Desmon Erwanda, pemilik kerajaan bisnis Multi Kreasi Cinema.
            “Selamat malam saudara-saudara. Maaf kalau saya harus memanggil kalian semua.” Koor kata “malammm” menggema dalam ruangan rapat menyambut sapaan Pak Desmon.
            “Sebetulnya, saya bisa saja omongkan hal ini dengan Pak Sutan. Tapi setelah saya pikir ulang, mengajak kalian juga bukan sebuah kesalahan.” Tampak Pak Desmon tertawa sendiri. “Ini juga atas desakan Pak Sutan supaya mengajak kalian rapat mendadak tengah malam begini. Sekali lagi saya minta maaf mengusik istirahat kalian.” Tangan Pak Desmon kembali melambai.
            “Adakah dari kalian yang sempat menonton tivi hari ini? Terutama di Blitz TV?” tanya Pak Desmon langsung. Masing-masing dari mereka langsung menggeleng serempak.
            “Jadi begini saudara-saudara semua.” Pak Desmon terlihat diam sesaat sebelum meneruskan bicaranya. Mereka mengernyitkan dahi ingin tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
            “Jam 9 atau jam 10 tadi malam, Kikin dan Rindra, tokoh utama sinetron kita di Blitz TV, keduanya mengalami kecelakaan lalulintas. Di Jalan tol dalam kota. Mobil yang mereka tumpangi pecah ban, oleng kemudian menabrak pagar jalan tol. Rindra saat ini comma dengan luka patah tulang, demikian juga dengan Kikin, ada patah tulang juga.” Pak Desmon tampak diam, menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. Deka dan teman-temannya juga terdiam, kemudian saling bertatapan. Sudah bisa diduga apa yang ada dalam benak mereka setelah mendengar cerita ini.
            “Pak Sutan, minggu-minggu ini Rindra sudah berapa kali shooting?” tanya Pak Desmon langsung.
            Pak Sutan tidak langsung menjawab. Tangannya sibuk memainkan layar sentuh ponselnya. “Saya kontak astrada sebentar, Pak.” Hanya anggukan pelan yang dilakukan Pak Desmon.
            Sementara Sutan Sati menghubungi astrada, Pak Desmon bertanya lagi, “Siapa yang membuatkan cerita untuk Rindra dan Kikin minggu ini?” Deka langsung mengangkat tangan karena dialah yang menuliskan cerita minggu ini untuk kedua bintang yang tengah naik daun itu.
            “Tolong kamu siapkan cerita selanjutnya mengenai keduanya. Atur saja bagaimana kelanjutannya nanti. Konsultasikan juga dengan Pak Sutan. Saya rasa dia yang lebih tahu bagaimana cerita selanjutnya. Ingat!! Sinetron ini bertahan rating-nya. Selalu peringkat pertama. Saya tidak mau sinetron ini turun rating gara-gara kecelakaan Rindra dan Kikin. Mengerti maksud saya, kan?”
            “Siapa namamu anak muda?”
            “Saya Deka, Pak Desmon,” ujar Deka sambil mengangkat lagi tangannya. Kepala Pak Desmon mengangguk-angguk. Baru kali ini, selama Deka tergabung dalam tim penulisan cerita dan skenario Rumah Produksi Multi Kreasi Cinema, dirinya bisa bicara langsung dengan Desmon Erwanda meskipun hanya lewat video call.
            “Itu tugasmu! Membuat sinetron ini tetap hidup ceritanya, tetap cantik jalinan ceritanya, dan tetap ber-rating pertama selama kedua bintang PH ini sedang kena musibah.” Deka menjawab ‘baik’ dengan lirih.
            “Gimana Pak Sutan? Astrada sudah bisa dihubungi? Saya butuh tahu segera supaya kita bisa memutuskannya malam ini.” Pak Sutan minta waktu lagi kepada Pak Desmon. Jari-jari tangannya membentuk 5 jari.
            Selama menunggu Pak Sutan menjawab, semua anggota tim penulisan MKC melihat Pak Desmon dikunjungi seseorang. Seorang gadis cantik mendekatinya. Semuanya terkesima melihat kecantikan gadis yang sedang bersama Pak Desmon. Ia berbicara akrab dengan Pak Desmon. Terlihat tak ada jarak di antara keduanya. Namun apa yang mereka obrolkan tidak terdengar sama sekali oleh yang melihatnya.
            “Maaf Pak Desmon,” tiba-tiba terdengar suara Pak Sutan menyapa. Pak Desmon yang sedang akrab berbicara dengan gadis cantik itu langsung menghadap ke kamera di depannya.
            “Malam Mbak Aning,” sapa Pak Sutan. Gadis yang dipanggil Aning oleh Pak Sutan ikutan juga menghadap kamera. Ia tersenyum sembari membalas sapaan Pak Sutan. 
            “Seminggu ini, Kikin dan Rindra sudah shooting 5 kali, Pak! Kita masih punya stok episode yang ada keduanya. Kalau sesuai skedul, shooting mereka yang terakhir akan ditayangkan sabtu depan. Tapi kalau tak salah, hari sabtu depan Blitz akan menyiarkan pertandingan sepak bola. Biasanya, kalau siaran langsung ini menarik, maka sinetron kita tidak akan ditayangkan. Atau, mereka akan memajukan jam tayang. Semuanya masih tentative.” Penjelasan panjang lebar sudah disampaikan Pak Sutan. Raut wajah Pak Desmon memperlihatkan ia puas dengan jawaban orang kepercayaannya untuk urusan cerita sinetron.
            “Terima kasih Pak Sutan. Tolong atur saja cerita selanjutnya tanpa harus ada Kikin dan Rindra. Tadi saya sudah minta Deka yang menuliskan cerita selanjutnya. Menurut pengakuannya, episode-episode terakhir mengenai keduanya, Deka yang menuliskan ceritanya.” Kali ini Pak Sutan mengangguk.
            “Akan saya atur dan saya perhatikan episode selanjutnya, Pak! Bapak dapat mengandalkan anak-anak muda yang ikut membantu kita untuk sinetron Cinta Oh Cinta. Kali ini Pak Desmon mengacungkan jempol kanannya.
            “Ohya satu lagi sebelum kita bubarkan rapat malam ini. Saya ingin kalau bisa, pada 27 Pebruari kita bisa tayangkan di Blitz sebuah sinetron drama 1 jam. Saya ingin Pak Sutan bisa mengatur semuanya termasuk siapa yang nanti akan menyutradarai. Tayangan drama sejam ini akan diproduksi anak gadis saya, Aning.” Gadis cantik yang kini duduk di sebelah Pak Desmon hanya tersenyum. Senyumnya terlihat manis dan ramah.  
            Kata-kata Pak Desmon yang mengatakan “kalau bisa” meskipun terdengar sebuah permohonan halus, namun sesungguhnya ia tidak mau keinginannya itu terhambat. Artinya, apa yang dia inginkan harus kejadian. Artinya lagi, sinetron drama 1 jam pada 27 Pebruari itu harus tayang di Blitz TV. Bagaimana proses penulisan cerita, skenario hingga shooting ia tidak mau tahu. Ia serahkan semuanya kepada Pak Sutan. Sudah beberapa kali kepala yang tidak gatal digaruk terus oleh Pak Sutan.
            “Bisa kan Pak Sutan?” tantang Pak Desmon tersenyum. Dan kali ini, Pak Sutan yang mengacungkan 2 jempolnya. “Sekarang, sebelum kita akhiri rapat malam ini, biarkan Aning menjelaskan kenapa ia ingin membuat sinetron drama 1 jam ini.”
            Aning, gadis cantik anak dari pemilik Rumah Produksi terkenal di Indonesia itu langsung berbicara setelah ayahnya mempersilakan. Ditangannya, ia seperti memegang sebuah buku. Mungkin sebuah novel.
            “Ohya, tanggal 27 Pebruari itu hari ulang tahun Aning,” suara Pak Desmon menyela. “Makanya ia minta ulang tahun kali ini dirayakan dengan cara berbeda. Kita dengarkan saja apa maunya.” Pak Desmon langsung menyuruh anak gadisnya melanjutkan omongannya.
            “Ayahhh Desmon !!” Matanya menatap teduh ke arah pria yang berada di sampingnya. Wajahnya agak tersipu, ayahnya bicara agak panjang lebar kepada anak buah  rumah produksinya.
            “Karena sudah ketahuan, saya mengaku saja,” ujar Aning kepada semua yang menyaksikan. “Saya memang berencana merayakan ulang tahun dengan cara yang berbeda. Saya ingin membuat sebuah tayangan berupa sinetron drama 1 jam saja. Dan saya ingin mengangkat cerita dari sebuah novel best seller, yang menurut saya ceritanya bagus banget. Mungkin, novel ini idealis dan kalau ditayangkan belum tentu memiliki rating sebagus sinetron MKC yang sedang tayang di Blitz TV. Tapi atas seijin ayah, saya boleh memproduksi cerita ini.” Aning melihat ke arah ayahnya. Pak Desmon mengangguk lagi.
            “Kado termahal yang saya berikan untuk gadis saya yang berulang tahun, hahahaha….” Terdengar tawa renyah Pak Desmon.
            Kado mahal, sudah pasti. Memproduksi sebuah sinetron drama 1 jam tapi prospek bisnisnya belum tentu menguntungkan. Itu langka bagi Rumah Produksi sekelas MKC. Sebagai pemilik rumah produksi, Pak Desmon tentunya tidak mau merugi menggelindingkan roda bisnis rumah produksinya. Namun demi sebuah cinta kasih sayang kepada anak, ia rela memangkas keuntungannya.
            “Bukan main orang kaya ketika memberikan kado ulang tahun kepada anak kesayangannya, tanpa berpikir panjang lagi,” batin Deka.
            “Nanti, khusus dalam tayangan tanggal 27 Pebruari, pada credit title sinetron, executive produser, cantumkan saja nama Aning. Ia yang mau tangani semua produksi sinetron itu. Dari soal cerita, pemilihan pemain dan bayarannya, serta sutradara yang menangani, semua urusan Aning.” Begitu Pak Desmon selesai bicara, Aning mengangkat buku yang sedari tadi dipegangnya.
           
“Novel ini berjudul ‘Biola Pasir dari Masa Lalu’, ditulis oleh Sumirta. Ceritanya tentang masa lalu yang kelam dari seorang gadis yang berdampak begitu hebat pada kehidupan masa depannya. Ceritanya inspiratif, memacu kekuatan untuk hidup, memotivasi seseorang untuk sebuah harapan dan cita-cita.” Melihat Aning mengacungkan buku itu, Deka tersentak. Kaget luar biasa.
            “Pak Sutan, adakah tim bapak yang bisa membuatkan skenario dari novel ini dalam waktu singkat?” Deka kaget, tak menyangka Aning akan membuat sinetron dari novel yang ditulisnya.
            Itu sebetulnya impian Deka sejak awal. Hasil karyanya diapresiasi dengan sebenar-benarnya. Tidak seperti sekarang, ia ada dalam bayang-bayang Tulis Sutan Sati. Semua cerita seolah ditulis oleh Sutan, padahal semua cerita sinetron ditulis oleh tim yang diketuai Sutan. Ingin hatinya langsung mengatakan sanggup kepada Aning. Namun karena yang ditanya Sutan, Deka hanya diam menunggu. Dan ketika Sutan menanyakan kepada anggota tim-nya siapa yang sanggup, tanpa ragu-ragu Deka mengacungkan jarinya.
            “Sebentar Deka!! Bukankah kita sudah sepakat kalau kamu yang akan menuliskan cerita kelanjutan sinetron yang dibintangi Kikin dan Rindra?” Suara Pak Desmon terdengar menyambar.
            “Benar Pak, saya sudah menyanggupi untuk melanjutkan cerita yang bapak maksud. Tapi mohon maaf, saya juga masih sanggup membuatkan skenario untuk novel ‘Biola Pasir dari Masa Lalu’. Novel Biola itu, saya penulisnya.” Seketika itu juga, semua yang berada di dalam ruangan rapat melihat ke arah Deka.
            “Jadi Sumirta itu adalah Mas Deka?” tanya Aning. Raut wajahnya tampak sumringah begitu mengetahui penulis novel ‘Biola Pasir’ bekerja untuk rumah produksi ayahnya.  
            “Iya Mbak Aning, nama saya Deka Sumirta. Saya selalu menuliskan nama saya Deka Sm,” jelas Deka menjawab pertanyaan Aning.
            Sutan Sati tidak mengira ada anak buahnya memiliki karya berupa novel. Saat proses rekrutmen ia hanya membaca tulisan Deka yang temanya sudah ia tentukan. Meskipun begitu, Sutan senang melihat ada penulis novel dalam tim-nya.
            “Kalau itu novel Deka, serahkan saja padanya untuk membikin skenarionya. Beres, kan? Satu pekerjaan untuk sinetron Mbak Aning sudah terselesaikan. Kita bisa memikirkan hal-hal yang lain.” Sutan Sati langsung angkat bicara begitu tahu Deka penulis novel Biola Pasir. Pak Desmon pun sependapat dengannya. Dan langsung minta Deka membikin skenarionya.
            “Bagaimana, Mbak Aning?” tanya Sutan Sati. Dengan wajah sumringah, senang, Aning mengangguk-anggukkan kepalanya. Deka juga mengangguk serta menyanggupi membuatkan skenario untuk sinetron yang akan dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun anak gadis Bos Besar-nya. Dalam senyumnya, Deka merasakan perasaan hatinya yang luar biasa bangga dan senang. Kantuk yang sedari tadi menyergap, malam itu benar-benar sudah menguap ke angkasa. Sudah terbayang olehnya, karyanya akan tayang di tivi dan ditonton banyak pemirsa. Sudah pasti pula namanya akan muncul di layar kaca.
            Biola Pasir, Cerita oleh Deka Sumirta. Malam itu juga sudah disepakati sementara, sinetron drama 1 jam yang akan diproduseri Aning Erwanda, judulnya adalah BIOLA PASIR. Menurut Sutan Sati, judul novel Deka sangat menjual. Big Boss Rumah Produksi Multi Kreasi Cinema, Desmon Erwanda, hanya mengangguk dan menyerahkan sepenuhnya kepada anak gadisnya.
            “Aning produsernya. Dia-lah yang menentukan semua untuk produksi khusus ini,” kata Desmon Erwanda.
            “Ohya satu lagi!! Apabila sinetron drama 1 jam ini rating-nya bagus, minimal break even, saya berikan bonus bagi siapa saja yang terlibat dalam produksi ini,” ungkap Pak Desmon sekaligus sebuah tantangan untuk anaknya Aning. Tanpa terduga, Aning mendekati ayahnya dan langsung mengulurkan tangannya.
            “Deal…,” ucap Aning dengan tersenyum lebar.
            “Ok, kalau begitu rapat dadakan malam ini cukup, terima kasih sudah mau diganggu waktu istirahatnya dan saya mohon maaf lagi sebelumnya,” ucap Pak Desmon. Kedua tangannya menelungkup di depan dadanya. Ia pun berdiri segera meninggalkan meja tempatnya duduk. Sebelum benar-benar pergi, ia kembali mengingatkan Deka supaya tidak lupa membikin cerita  mengenai Kikin dan Rindra yang harus absen dari sinetron ‘Cinta Oh Cinta’.
            Rapat malam itu pun bubar. Semua bergegas kembali ke kamar ingin melanjutkan istirahat dan tidur nyenyak. Hanya satu orang yang perasaannya berbunga-bunga, senang dan bangga memperoleh hadiah kejutan yang luar biasa. Ya Allah, terima kasih atas segala kasih-sayang serta nikmat yang bertubi dalam hidupku, ucap lirih Deka sambil menelusuri jalan setapak menuju kamarnya. Tak ada seorang pun yang tahu kalau tanggal 27 Pebruari selain hari lahir Aning Erwanda juga hari kelahiran Deka Sumirta. Di dalam kamar pun, mata Deka tak bisa terpejam karena kejutan yang Allah berikan padanya.
27 Pebruari pukul 21.30
            Penulisan cerita untuk  Cinta Oh Cinta sudah dikerjakan cepat oleh Deka sejak siang. Ia juga sudah menyetorkan hasil tulisannya kepada Pak Sutan Sati melalui surel selepas isya. Malam itu, ia sudah berkomitmen dengan dirinya, harus menonton sinetron drama 1 jam ‘Biola Pasir’ yang tayang di Blitz TV. Selama menunggu penayangan, Deka merasakan betul perasaannya sangat berbunga-bunga, bangga, dan senang. Jantungnya naik-turun berdetaknya. Emosinya campur aduk karena keinginan terdalamnya malam itu akan menjadi kenyataan. Karyanya akan ditayangkan dalam bentuk sinteron drama 1 jam, di televisi nasional, dan disaksikan jutaan orang. Semoga menginspirasi cerita yang kutulis dan kini dijadikan pertunjukan, ucap lirih Deka.
            Ya Allah, terima kasih, alhamdulillah….         Kalimat ini terus diucapkan Deka berulang kali.
            Di kamarnya ia hanya sendiri merayakan kebanggaannya itu. Namun, ia tak lupa membagi kebahagiaannya itu kepada teman-teman medsosnya, teman-teman dumay yang selama ini sudah berbaik hati dalam pertemanan. Dan teman sekaligus sahabat pertama yang dikirimi perasaan bungahnya adalah Nila Candra. Dia-lah sosok yang selama ini sering dijadikan teman berdiskusi dalam soal penulisan maupun kehidupan. Padanya, ia merasa kecocokan dan sangat berterima kasih.
            Pemberitahuan yang dituliskan di medsosnya berbunyi: KARYA SAYA, NOVEL SAYA BERJUDUL ‘BIOLA PASIR DARI MASA LALU’ AKAN DITAYANGKAN DALAM BENTUK SINETRON DRAMA 1 JAM. PUKUL 21.30 DI BLITZ TV. JANGAN LUPA SAKSIKAN, YA TEMAN-TEMANKU. TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN DAN DUKUNGAN TEMAN-TEMAN SEMUA SELAMA INI, AAMIIN YA ROBBAL ALAMIIN.
             

           

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA