KEJUTAN TAK TERDUGA
Jelang
jam 12 malam. Deka selesai mengirimkan surel tugasnya. Ia mematikan laptop dan
menutup kaver laptopnya. Direnggangkannya segenap anggota tubuhnya, sekedar
menghilangkan penat yang dirasakan sejak asar tadi. Sebelum merebahkan tubuhnya
di pembaringan nan empuk di kamar yang berhawa sejuk, ia menuntaskan kopi di
mug kesayangannya yang sengaja ia bawa dari rumah sebagai obat kangen semata.
Sejak mengambil pekerjaan sebagai
penulis cerita sinetron stripping dan
meninggalkan pekerjaan design grafis,
Deka memang harus meninggalkan kota asalnya. Ia, bersama sekumpulan penulis
lainnya, dikarantina di sebuah bungalo di daerah puncak. Ada 5 penulis
sepertinya yang dikarantina. Masing-masing dari mereka diberi kamar dengan
fasilitas prima. Segala kebutuhan selama mereka karantina ditanggung pihak
rumah produksi. Tugas mereka hanya menulis, menulis, menulis, dan membuat
cerita supaya sinetron stripping yang
sedang tayang di tivi nasional tidak kehilangan rating-nya. Mereka dikontrak eksklusif dengan rentang waktu yang
panjang. Jika mengingat saat teken kontrak dan mengetahui nominal upahnya, Deka
sangat sangat bersyukur atas anugerah itu. Meskipun untuk memperoleh nominal
dengan jumlah banyak, ia harus mengorbankan sisi kehidupan yang lain. Namun
sebagai pribadi yang bertuhan, Deka tidak kemaruk mengambil semua rejeki yang
tersodorkan. Ia tetap mengukur dirinya dan kemampuan fisiknya dalam menjalankan
pekerjaan yang menuntut otak harus diperas saben hari dengan deadline dan tingkat stressing yang luar biasa.
Deka merebahkan tubuhnya,
menyelonjorkan segenap tubuh fisik dan tubuh eteriknya. Bola matanya masih
bergerak-gerak pelan meski kedua matanya sudah mengatup. Gemericik air kolam
yang ada di samping kamarnya masih terdengar sayup-sayup ditelinganya. Perlahan
dirinya terbawa ke alam alpha dan nyaris tenang damai. Dering telepon dari
ponselnya memecahkan kesunyian tengah malam dan alam alphanya. Roh dari
tubuhnya yang akan mengelana di malam hari bagai disedot paksa untuk kembali. Tubuh
Deka merespon cepat. Bergoyang perlahan dengan mata terbuka paksa. Sebagai umat
yang bertuhan baik, mulutnya justru melontarkan ucapan istighfar berulang-ulang
hingga kesadarannya benar-benar pulih dan rohnya terpasang rapi ditubuhnya.
Pelan-pelan tangannya mengambil ponsel yang tergeletak manis di samping
ranjangnya. Sesuai aturan yang sudah ditetapkan, ponsel semua penulis yang
dikarantina haram hukumnya untuk dipelankan. Harus dalam posisi dering menyalak
setiap saat. Panggilan tugas dan revisi bisa saja terjadi setiap saat. Dan itu
sudah dipahami semua penulis Rumah Produksi Multi Kreasi Cinema.
“Siap! Baik, Pak, saya segera ke
ruang pertemuan sekarang,” begitu jawaban Deka kepada penelpon ponselnya.
Yang menelpon tengah malam adalah
ketua tim penulis cerita sinetron. Namanya Tulis Sutan Sati. Dia-lah yang
namanya selalu tercantum dilayar kaca ketika credit title sinetron ditayangkan. Nama aslinya Sudemo Tandu. Tulis
dan Sati adalah kata-kata tambahan belaka. “Tulis” mungkin karena dia memang jawaranya
penulisan cerita (sinetron). Sati, oleh beberapa kru menyebutnya demikian
karena Pak Sutan “sangat teliti”. Sati sama dengan sangat teliti. Sebelum
menggawangi Tim Penulis Cerita Sinetron, ia sudah malang-melintang di jagad
tulis-menulis nasional. Perkenalannya dengan Bos Rumah Produksi Multi Kreasi
Cinema mengantarkannya sampai pada posisi Ketua.
“Pak, saya mau cuci muka sebentar,”
pinta Deka di ujung teleponnya kepada Tulis Sutan Sati.
“Iya silakan. Maaf ya mengganggu
waktu istirahatnya. Keadaan darurat memaksa kita harus berkumpul. Pak Desmon
mau mengatakan sesuatu soal sinetron kita yang sedang rating bagus di Blitz
TV.”
Mendengar nama Desmon disebut Sutan,
seketika juga mata Deka langsung membesar. Kantuknya yang tadi sangat menyergap
langsung pudar. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya supaya
wajah kusutnya tidak terlalu tampak. Lamat-lamat terdengar desah nafas dari
mulut Deka.
Berbalut jaket yang bagian
belakangnya bertuliskan Multi Kreasi Cinema, Deka keluar dari kamarnya.
Bersamaan kepalanya nongol dari kamar, pada saat itu juga teman-temannya sesama
penulis keluar dari kamar masing-masing. Mereka saling menyapa dan bertanya ada
apa gerangan mereka harus berkumpul tengah malam begini.
“Daripada bingung bertanya-tanya
kita ikuti saja pertemuan malam ini dengan Pak Desmon,” ujar Deka yang mengajak
teman-temannya segera menuju ruang pertemuan. Apabila Pak Desmon sampai
mengajak meeting pasti ada sesuatu
yang menyangkut sinetronnya yang sedang ditayangkan. Karena selama ini,
rapat-rapat perbaikan cerita maupun teknis-teknis lainnya hanya dirapatkan
bersama Pak Sutan Sati dan sutradara sinetron. Ayolah cepat, ajak kedua kali
Deka kepada teman-temannya.
Ruang pertemuan agak tinggi letaknya
dari bungalow para penulis. Mereka harus mendaki sedikit untuk mencapai tempat
itu. Ruang pertemuan itu berbentuk bundar. Jendela kaca mengelilingi ruangan
itu. Jika rapat siang hari, jendela-jendelanya dibiarkan terbuka sehingga hawa
sejuk pegunungan daerah puncak sangat terasa. Kalau malam, seperti saat ini,
jendela rapat tertutup dan ruangan dipasangi pemanas ruangan supaya hangat guna
menepis hawa dingin.
Dari kejauhan, Deka sudah melihat
Pak Sutan Sati berdiri di luar. Mulutnya terlihat mengepulkan asap. Kebiasaan
yang sering dilakukan apabila kedinginan atau saat dipaksa deadline serta kejar tayang. Begitu melihat anggota timnya
mendekat, ia buru-buru mematikan rokoknya. Tangannya mengajak semua segera
masuk ruangan.
“Selamat tengah malam. Maafkan saya
harus memaksa kalian mendatangi pertemuan malam-malam begini. Saya nggak kuasa
menolak karena Pak Desmon yang minta. Katanya, ada yang harus dibahas segera.
Karena besok pagi, keputusan rapat kita malam ini harus segera dieksekusi untuk
sinetron kita yang sedang tayang di Blitz TV.”
“Ada yang sempat menonton Blitz TV
hari ini?” tanya Sutan Sati ingin tahu. Keenam anggotanya hanya menggelengkan
kepala. TV flat berlayar lebar di
ruangan rapat sudah menyala. Memperlihatkan siaran langsung sepak bola yang
disiarkan Blitz TV.
“Pak Desmon mau teleconference dan video call
dengan kita semua,” kata Pak Sutan Sati begitu mereka duduk di kursi
masing-masing.
Segera siaran bola tadi dimatikan
oleh teknisi yang ikut membantu Pak Sutan, berganti tayangan sebuah ruangan
yang masih kosong. Hanya ada meja dan kursi yang tampak di TV layar lebar itu.
Tiba-tiba ada sosok yang datang dan duduk di kursi itu. Wajahnya terlihat lelah
namun sebuah senyuman serta lambaian tangan terlihat jelas. Itulah Pak Desmon
Erwanda, pemilik kerajaan bisnis Multi Kreasi Cinema.
“Selamat malam saudara-saudara. Maaf
kalau saya harus memanggil kalian semua.” Koor kata “malammm” menggema dalam
ruangan rapat menyambut sapaan Pak Desmon.
“Sebetulnya, saya bisa saja omongkan
hal ini dengan Pak Sutan. Tapi setelah saya pikir ulang, mengajak kalian juga bukan
sebuah kesalahan.” Tampak Pak Desmon tertawa sendiri. “Ini juga atas desakan
Pak Sutan supaya mengajak kalian rapat mendadak tengah malam begini. Sekali
lagi saya minta maaf mengusik istirahat kalian.” Tangan Pak Desmon kembali
melambai.
“Adakah dari kalian yang sempat
menonton tivi hari ini? Terutama di Blitz TV?” tanya Pak Desmon langsung.
Masing-masing dari mereka langsung menggeleng serempak.
“Jadi begini saudara-saudara semua.”
Pak Desmon terlihat diam sesaat sebelum meneruskan bicaranya. Mereka
mengernyitkan dahi ingin tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
“Jam 9 atau jam 10 tadi malam, Kikin
dan Rindra, tokoh utama sinetron kita di Blitz TV, keduanya mengalami
kecelakaan lalulintas. Di Jalan tol dalam kota. Mobil yang mereka tumpangi
pecah ban, oleng kemudian menabrak pagar jalan tol. Rindra saat ini comma dengan luka patah tulang, demikian
juga dengan Kikin, ada patah tulang juga.” Pak Desmon tampak diam, menarik
nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. Deka dan teman-temannya juga
terdiam, kemudian saling bertatapan. Sudah bisa diduga apa yang ada dalam benak
mereka setelah mendengar cerita ini.
“Pak Sutan, minggu-minggu ini Rindra
sudah berapa kali shooting?” tanya Pak Desmon langsung.
Pak Sutan tidak langsung menjawab.
Tangannya sibuk memainkan layar sentuh ponselnya. “Saya kontak astrada
sebentar, Pak.” Hanya anggukan pelan yang dilakukan Pak Desmon.
Sementara Sutan Sati menghubungi
astrada, Pak Desmon bertanya lagi, “Siapa yang membuatkan cerita untuk Rindra
dan Kikin minggu ini?” Deka langsung mengangkat tangan karena dialah yang
menuliskan cerita minggu ini untuk kedua bintang yang tengah naik daun itu.
“Tolong kamu siapkan cerita
selanjutnya mengenai keduanya. Atur saja bagaimana kelanjutannya nanti.
Konsultasikan juga dengan Pak Sutan. Saya rasa dia yang lebih tahu bagaimana
cerita selanjutnya. Ingat!! Sinetron ini bertahan rating-nya. Selalu peringkat
pertama. Saya tidak mau sinetron ini turun rating gara-gara kecelakaan Rindra
dan Kikin. Mengerti maksud saya, kan?”
“Siapa namamu anak muda?”
“Saya Deka, Pak Desmon,” ujar Deka
sambil mengangkat lagi tangannya. Kepala Pak Desmon mengangguk-angguk. Baru
kali ini, selama Deka tergabung dalam tim penulisan cerita dan skenario Rumah
Produksi Multi Kreasi Cinema, dirinya bisa bicara langsung dengan Desmon
Erwanda meskipun hanya lewat video call.
“Itu tugasmu! Membuat sinetron ini
tetap hidup ceritanya, tetap cantik jalinan ceritanya, dan tetap ber-rating
pertama selama kedua bintang PH ini sedang kena musibah.” Deka menjawab ‘baik’
dengan lirih.
“Gimana Pak Sutan? Astrada sudah
bisa dihubungi? Saya butuh tahu segera supaya kita bisa memutuskannya malam
ini.” Pak Sutan minta waktu lagi kepada Pak Desmon. Jari-jari tangannya membentuk
5 jari.
Selama menunggu Pak Sutan menjawab,
semua anggota tim penulisan MKC melihat Pak Desmon dikunjungi seseorang.
Seorang gadis cantik mendekatinya. Semuanya terkesima melihat kecantikan gadis
yang sedang bersama Pak Desmon. Ia berbicara akrab dengan Pak Desmon. Terlihat
tak ada jarak di antara keduanya. Namun apa yang mereka obrolkan tidak
terdengar sama sekali oleh yang melihatnya.
“Maaf Pak Desmon,” tiba-tiba
terdengar suara Pak Sutan menyapa. Pak Desmon yang sedang akrab berbicara
dengan gadis cantik itu langsung menghadap ke kamera di depannya.
“Malam Mbak Aning,” sapa Pak Sutan.
Gadis yang dipanggil Aning oleh Pak Sutan ikutan juga menghadap kamera. Ia
tersenyum sembari membalas sapaan Pak Sutan.
“Seminggu ini, Kikin dan Rindra
sudah shooting 5 kali, Pak! Kita masih punya stok episode yang ada keduanya.
Kalau sesuai skedul, shooting mereka yang terakhir akan ditayangkan sabtu
depan. Tapi kalau tak salah, hari sabtu depan Blitz akan menyiarkan
pertandingan sepak bola. Biasanya, kalau siaran langsung ini menarik, maka
sinetron kita tidak akan ditayangkan. Atau, mereka akan memajukan jam tayang.
Semuanya masih tentative.” Penjelasan panjang lebar sudah disampaikan Pak
Sutan. Raut wajah Pak Desmon memperlihatkan ia puas dengan jawaban orang
kepercayaannya untuk urusan cerita sinetron.
“Terima kasih Pak Sutan. Tolong atur
saja cerita selanjutnya tanpa harus ada Kikin dan Rindra. Tadi saya sudah minta
Deka yang menuliskan cerita selanjutnya. Menurut pengakuannya, episode-episode
terakhir mengenai keduanya, Deka yang menuliskan ceritanya.” Kali ini Pak Sutan
mengangguk.
“Akan saya atur dan saya perhatikan
episode selanjutnya, Pak! Bapak dapat mengandalkan anak-anak muda yang ikut
membantu kita untuk sinetron Cinta Oh
Cinta. Kali ini Pak Desmon mengacungkan jempol kanannya.
“Ohya satu lagi sebelum kita
bubarkan rapat malam ini. Saya ingin kalau bisa, pada 27 Pebruari kita bisa
tayangkan di Blitz sebuah sinetron drama 1 jam. Saya ingin Pak Sutan bisa
mengatur semuanya termasuk siapa yang nanti akan menyutradarai. Tayangan drama
sejam ini akan diproduksi anak gadis saya, Aning.” Gadis cantik yang kini duduk
di sebelah Pak Desmon hanya tersenyum. Senyumnya terlihat manis dan ramah.
Kata-kata Pak Desmon yang mengatakan
“kalau bisa” meskipun terdengar sebuah permohonan halus, namun sesungguhnya ia
tidak mau keinginannya itu terhambat. Artinya, apa yang dia inginkan harus
kejadian. Artinya lagi, sinetron drama 1 jam pada 27 Pebruari itu harus tayang
di Blitz TV. Bagaimana proses penulisan cerita, skenario hingga shooting ia
tidak mau tahu. Ia serahkan semuanya kepada Pak Sutan. Sudah beberapa kali
kepala yang tidak gatal digaruk terus oleh Pak Sutan.
“Bisa kan Pak Sutan?” tantang Pak
Desmon tersenyum. Dan kali ini, Pak Sutan yang mengacungkan 2 jempolnya.
“Sekarang, sebelum kita akhiri rapat malam ini, biarkan Aning menjelaskan
kenapa ia ingin membuat sinetron drama 1 jam ini.”
Aning, gadis cantik anak dari
pemilik Rumah Produksi terkenal di Indonesia itu langsung berbicara setelah
ayahnya mempersilakan. Ditangannya, ia seperti memegang sebuah buku. Mungkin
sebuah novel.
“Ohya, tanggal 27 Pebruari itu hari
ulang tahun Aning,” suara Pak Desmon menyela. “Makanya ia minta ulang tahun
kali ini dirayakan dengan cara berbeda. Kita dengarkan saja apa maunya.” Pak
Desmon langsung menyuruh anak gadisnya melanjutkan omongannya.
“Ayahhh Desmon !!” Matanya menatap
teduh ke arah pria yang berada di sampingnya. Wajahnya agak tersipu, ayahnya
bicara agak panjang lebar kepada anak buah
rumah produksinya.
“Karena sudah ketahuan, saya mengaku
saja,” ujar Aning kepada semua yang menyaksikan. “Saya memang berencana
merayakan ulang tahun dengan cara yang berbeda. Saya ingin membuat sebuah
tayangan berupa sinetron drama 1 jam saja. Dan saya ingin mengangkat cerita
dari sebuah novel best seller, yang
menurut saya ceritanya bagus banget. Mungkin, novel ini idealis dan kalau
ditayangkan belum tentu memiliki rating sebagus sinetron MKC yang sedang tayang
di Blitz TV. Tapi atas seijin ayah, saya boleh memproduksi cerita ini.” Aning
melihat ke arah ayahnya. Pak Desmon mengangguk lagi.
“Kado termahal yang saya berikan
untuk gadis saya yang berulang tahun, hahahaha….” Terdengar tawa renyah Pak
Desmon.
Kado mahal, sudah pasti. Memproduksi
sebuah sinetron drama 1 jam tapi prospek bisnisnya belum tentu menguntungkan.
Itu langka bagi Rumah Produksi sekelas MKC. Sebagai pemilik rumah produksi, Pak
Desmon tentunya tidak mau merugi menggelindingkan roda bisnis rumah
produksinya. Namun demi sebuah cinta kasih sayang kepada anak, ia rela
memangkas keuntungannya.
“Bukan main orang kaya ketika memberikan
kado ulang tahun kepada anak kesayangannya, tanpa berpikir panjang lagi,” batin
Deka.
“Nanti, khusus dalam tayangan
tanggal 27 Pebruari, pada credit title sinetron,
executive produser, cantumkan saja nama Aning. Ia yang mau tangani semua
produksi sinetron itu. Dari soal cerita, pemilihan pemain dan bayarannya, serta
sutradara yang menangani, semua urusan Aning.” Begitu Pak Desmon selesai
bicara, Aning mengangkat buku yang sedari tadi dipegangnya.
“Novel ini berjudul ‘Biola Pasir dari Masa Lalu’, ditulis oleh Sumirta. Ceritanya tentang masa lalu yang kelam dari seorang gadis yang berdampak begitu hebat pada kehidupan masa depannya. Ceritanya inspiratif, memacu kekuatan untuk hidup, memotivasi seseorang untuk sebuah harapan dan cita-cita.” Melihat Aning mengacungkan buku itu, Deka tersentak. Kaget luar biasa.
“Pak Sutan, adakah tim bapak yang
bisa membuatkan skenario dari novel ini dalam waktu singkat?” Deka kaget, tak
menyangka Aning akan membuat sinetron dari novel yang ditulisnya.
Itu sebetulnya impian Deka sejak
awal. Hasil karyanya diapresiasi dengan sebenar-benarnya. Tidak seperti
sekarang, ia ada dalam bayang-bayang Tulis Sutan Sati. Semua cerita seolah
ditulis oleh Sutan, padahal semua cerita sinetron ditulis oleh tim yang
diketuai Sutan. Ingin hatinya langsung mengatakan sanggup kepada Aning. Namun
karena yang ditanya Sutan, Deka hanya diam menunggu. Dan ketika Sutan
menanyakan kepada anggota tim-nya siapa yang sanggup, tanpa ragu-ragu Deka
mengacungkan jarinya.
“Sebentar Deka!! Bukankah kita sudah
sepakat kalau kamu yang akan menuliskan cerita kelanjutan sinetron yang
dibintangi Kikin dan Rindra?” Suara Pak Desmon terdengar menyambar.
“Benar Pak, saya sudah menyanggupi
untuk melanjutkan cerita yang bapak maksud. Tapi mohon maaf, saya juga masih
sanggup membuatkan skenario untuk novel ‘Biola Pasir dari Masa Lalu’. Novel
Biola itu, saya penulisnya.” Seketika itu juga, semua yang berada di dalam
ruangan rapat melihat ke arah Deka.
“Jadi Sumirta itu adalah Mas Deka?”
tanya Aning. Raut wajahnya tampak sumringah begitu mengetahui penulis novel ‘Biola
Pasir’ bekerja untuk rumah produksi ayahnya.
“Iya Mbak Aning, nama saya Deka
Sumirta. Saya selalu menuliskan nama saya Deka Sm,” jelas Deka menjawab
pertanyaan Aning.
Sutan Sati tidak mengira ada anak
buahnya memiliki karya berupa novel. Saat proses rekrutmen ia hanya membaca
tulisan Deka yang temanya sudah ia tentukan. Meskipun begitu, Sutan senang
melihat ada penulis novel dalam tim-nya.
“Kalau itu novel Deka, serahkan saja
padanya untuk membikin skenarionya. Beres, kan? Satu pekerjaan untuk sinetron
Mbak Aning sudah terselesaikan. Kita bisa memikirkan hal-hal yang lain.” Sutan
Sati langsung angkat bicara begitu tahu Deka penulis novel Biola Pasir. Pak
Desmon pun sependapat dengannya. Dan langsung minta Deka membikin skenarionya.
“Bagaimana, Mbak Aning?” tanya Sutan
Sati. Dengan wajah sumringah, senang, Aning mengangguk-anggukkan kepalanya.
Deka juga mengangguk serta menyanggupi membuatkan skenario untuk sinetron yang
akan dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun anak gadis Bos Besar-nya. Dalam
senyumnya, Deka merasakan perasaan hatinya yang luar biasa bangga dan senang.
Kantuk yang sedari tadi menyergap, malam itu benar-benar sudah menguap ke
angkasa. Sudah terbayang olehnya, karyanya akan tayang di tivi dan ditonton
banyak pemirsa. Sudah pasti pula namanya akan muncul di layar kaca.
Biola
Pasir, Cerita oleh Deka Sumirta. Malam itu juga sudah disepakati sementara,
sinetron drama 1 jam yang akan diproduseri Aning Erwanda, judulnya adalah BIOLA
PASIR. Menurut Sutan Sati, judul novel Deka sangat menjual. Big Boss Rumah
Produksi Multi Kreasi Cinema, Desmon Erwanda, hanya mengangguk dan menyerahkan
sepenuhnya kepada anak gadisnya.
“Aning produsernya. Dia-lah yang
menentukan semua untuk produksi khusus ini,” kata Desmon Erwanda.
“Ohya satu lagi!! Apabila sinetron
drama 1 jam ini rating-nya bagus, minimal break
even, saya berikan bonus bagi siapa saja yang terlibat dalam produksi ini,”
ungkap Pak Desmon sekaligus sebuah tantangan untuk anaknya Aning. Tanpa terduga,
Aning mendekati ayahnya dan langsung mengulurkan tangannya.
“Deal…,” ucap Aning dengan tersenyum
lebar.
“Ok, kalau begitu rapat dadakan
malam ini cukup, terima kasih sudah mau diganggu waktu istirahatnya dan saya
mohon maaf lagi sebelumnya,” ucap Pak Desmon. Kedua tangannya menelungkup di
depan dadanya. Ia pun berdiri segera meninggalkan meja tempatnya duduk. Sebelum
benar-benar pergi, ia kembali mengingatkan Deka supaya tidak lupa membikin
cerita mengenai Kikin dan Rindra yang
harus absen dari sinetron ‘Cinta Oh Cinta’.
Rapat malam itu pun bubar. Semua
bergegas kembali ke kamar ingin melanjutkan istirahat dan tidur nyenyak. Hanya
satu orang yang perasaannya berbunga-bunga, senang dan bangga memperoleh hadiah
kejutan yang luar biasa. Ya Allah, terima
kasih atas segala kasih-sayang serta nikmat yang bertubi dalam hidupku, ucap
lirih Deka sambil menelusuri jalan setapak menuju kamarnya. Tak ada seorang pun
yang tahu kalau tanggal 27 Pebruari selain hari lahir Aning Erwanda juga hari
kelahiran Deka Sumirta. Di dalam kamar pun, mata Deka tak bisa terpejam karena
kejutan yang Allah berikan padanya.
27 Pebruari pukul 21.30
Penulisan cerita untuk Cinta
Oh Cinta sudah dikerjakan cepat oleh Deka sejak siang. Ia juga sudah
menyetorkan hasil tulisannya kepada Pak Sutan Sati melalui surel selepas isya.
Malam itu, ia sudah berkomitmen dengan dirinya, harus menonton sinetron drama 1
jam ‘Biola Pasir’ yang tayang di Blitz TV. Selama menunggu penayangan, Deka
merasakan betul perasaannya sangat berbunga-bunga, bangga, dan senang.
Jantungnya naik-turun berdetaknya. Emosinya campur aduk karena keinginan terdalamnya
malam itu akan menjadi kenyataan. Karyanya akan ditayangkan dalam bentuk
sinteron drama 1 jam, di televisi nasional, dan disaksikan jutaan orang. Semoga
menginspirasi cerita yang kutulis dan kini dijadikan pertunjukan, ucap lirih
Deka.
Ya
Allah, terima kasih, alhamdulillah…. Kalimat
ini terus diucapkan Deka berulang kali.
Di kamarnya ia hanya sendiri
merayakan kebanggaannya itu. Namun, ia tak lupa membagi kebahagiaannya itu
kepada teman-teman medsosnya, teman-teman dumay yang selama ini sudah berbaik
hati dalam pertemanan. Dan teman sekaligus sahabat pertama yang dikirimi
perasaan bungahnya adalah Nila Candra. Dia-lah sosok yang selama ini sering
dijadikan teman berdiskusi dalam soal penulisan maupun kehidupan. Padanya, ia
merasa kecocokan dan sangat berterima kasih.
Pemberitahuan yang dituliskan di
medsosnya berbunyi: KARYA SAYA, NOVEL SAYA BERJUDUL ‘BIOLA PASIR DARI MASA
LALU’ AKAN DITAYANGKAN DALAM BENTUK SINETRON DRAMA 1 JAM. PUKUL 21.30 DI BLITZ
TV. JANGAN LUPA SAKSIKAN, YA TEMAN-TEMANKU. TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN DAN
DUKUNGAN TEMAN-TEMAN SEMUA SELAMA INI, AAMIIN YA ROBBAL ALAMIIN.
Komentar
Posting Komentar