MENGURAI MIMPI DI PULAU SINGA

“Minggu depan kamu ikut saya ke Singapura!” perintah Pak Jamli mendadak. Aku masih mengetik pengantar sebuah laporan, pagi itu.
            Aku terdiam sejenak. Karena selain sedang membuat serta merangkai kalimat untuk laporan, otakku terus mengingat mimpi tadi malam. Mimpi yang sama yang selalu berulang selama 3 bulan terakhir ini. Akan tetapi, belum juga aku dapat menerjemahkan arti mimpi itu dan juga belum selesai menghitung hari apa minggu depan itu, Pak Jamli meneruskan kalimatnya, “Renita yang biasa menemani saya, minggu depan harus ke Sydney. Dia akan mewakili saya bertemu donatur proyek di Papua.” Aku mengangguk meskipun seketika jantung berdebar.
         “Besok pagi urus paspormu di kantor imigrasi. Uang pembuatannya, minta di bagian keuangan. Bagaimana prosedur dan cara membuat paspor, tanya Mbak Ulfi di bagian keuangan,” perintah Pak Jamli kemudian. “Kamu belum punya paspor kan, Bon?”
            “Ohya, kamu juga harus datang ke kantor imigrasi pagi banget. Sekira jam enam, jam tujuh-an. Kantornya sih baru buka setengah delapan. Biar hari itu urusan paspormu selesai,” jelas Pak Jamli menambahkan. Sekilas ia melihat ketikan di laptop-ku kemudian membaca sebentar. “Begitu selesai segera imil-kan ke saya sekalian print juga. Saya perlu diskusikan laporan itu denganmu,” ucap Pak Jamli sebelum meninggalkan meja kerjaku.
            Sepeninggal Pak Jamli aku hanya termangu. Terdiam lagi.
            Ke Singapura?? Mataku menembus tembok kantor, melesat cepat namun lamunan itu mendadak runtuh karena dering telpon di mejaku berbunyi. Nomor dari ruangan Mbak Ulfi. “Bono, saya tunggu di ruangan. Katanya mau buat paspor, kan?” Sesudah aku mengatakan sedang mengerjakan laporan yang ditunggu Pak Jamli, sambungan telpon dari Mbak Ulfi langsung berakhir. Kembali aku termangu mengingat perintah Pak Jamli yang harus ikut dengannya ke Singapura. Padahal banyak staf yang mumpuni dan lebih lama bekerjanya dari aku. Bahkan sampai detik terakhir mengetik laporan, baru enam bulan aku bergabung dengan Yayasan Karya Anak Bangsa pimpinan Dr. Ahmad Jamli.
***

            Pak Jamli serius membaca laporan yang kubuat. Laporan yang belum selesai namun olehnya sudah diminta karena ingin tahu pengantar yang kutuliskan. Terlihat ia mengangguk-angguk sesekali juga mengernyitkan dahinya. “Bono, nanti laporan ini sekalian kamu buatkan abstrak dalam bahasa inggris. Dua halaman saja.” Aku mengangguk mematuhi perintahnya.
            “Saya mau sebelum berangkat ke Singapura, laporan ini sudah selesai. Laporan yang kamu buat nanti saya periksa lagi. Ini nanti yang akan kita bawa ke Singapura sebagai bahan presentasi dihadapan donatur proyek di Lampung Tengah. Ohya, sekalian kamu buatkan power point semenarik mungkin.” Kembali aku mengangguk.
            “Pak, boleh saya bertanya?” Kuberanikan diri mengatakan itu kepadanya. Sebuah jawaban pendek Pak Jamli mencuatkan nyaliku untuk meneruskan tanya.
            “Kenapa Bapak yang mengajak saya ke Singapura? Bukannya saya..,” kalimatku yang belum selesai langsung disela Pak Bos.
            “Suka-suka saya, Bono! I’m a Boss in here.” Bibirnya tersenyum kemudian terkekeh. “Sudah, nggak usah banyak tanya. Kerjakan saja apa yang saya minta. Besok jangan lupa urus  paspormu.” Aku mengangguk tak berani meneruskan pertanyaan lagi dan bergegas keluar dari ruangan Pak Jamli.
            Namaku kembali dipanggil Pak Jamli. Aku menengok disaat tanganku sudah akan membuka pintu. “Biar pun bahasa inggrismu beraksen jawa banget tapi lancar. Cas-cis-cus, kata anak gaul. Karena itulah kamu saya ajak. Biar kamu juga punya pengalaman pergi ke luar negeri serta bertemu para client maupun para donatur proyek-proyek yayasan.” Setelah mengatakan begitu, Pak Jamli tersenyum dan mempersilakan aku keluar dari ruangannya.
            “Bono..,” aku menengok lagi, “Bilang Renita suruh ke ruangan saya sekarang!” Kepalaku mengangguk kesekian kalinya mematuhi perintah bos-ku yang bertampang serius, tegas namun sesungguhnya orangnya lucu dan hangat.
***
            Hari H keberangkatanku ke Singapura, menemani bos-ku, adalah hari jumat pagi.  Sesuai skedul terbang, Air Asia yang membawa kami, akan mengudara pukul 7.26 WIB. Sesuai perintah Pak Jamli juga, aku harus tiba di bandara maksimal jam 5.00 pagi. Semua perintahnya kuturuti. Maklum, cah udik dari pinggiran kota tiba-tiba diperlentekan bos pergi langsung ke luar negeri. Sebuah pengalaman pertama yang membikin jantung berdebar-debar. Antara takut, khawatir, senang, dan bangga, dipilih menemani si bos bertugas ke luar negeri.
            Aku clingukan belum melihat Pak Jamli di bandara. Kubaca ulang lagi wattsapp darinya jam 4.00 pagi tadi. Tunggu saya di depan pintu masuk bandara. Itu pesan yang dikirimkan Pak Jamli. Nyaris hampir jam 5.00 pagi aku belum melihatnya. Setiap mobil yang memasuki bandara kuperhatikan. Aku hapal mobilnya, dan pastinya Pak Jamli diantar sopir ke bandara. Sebuah wattsapp masuk membunyi di henpunku.
            Bono, kamu sampai mana? Saya sudah di depan pintu masuk bandara. Buruan ke sini!!
            Membaca wattsapp Pak Jamli aku terkejut. Sedari tadi aku di depan pintu masuk bandara namun tak menjumpainya. Sekarang malahan ia  menyuruhku cepat menemuinya. Sekali lagi aku clingukan mencari Pak Jamli. Nihil. Tak ada sosoknya. Segera kubalas wattsapp-nya. Sejak subuh saya sudah di depan bandara menunggu mobil bapak masuk bandara. Persis di pintu masuknya. Sekarang pun saya masih di depan pintu masuk bandara. Tak berapa lama masuk balasan wattsapp Pak Jamli.
            Bonooo….. pintu masuk penumpang. Bukan pintu masuk bandara untuk parkir mobil. Bibirku langsung membentuk senyum kecut sekaligus nyengir membaca balasan Pak Jamli. Dan sebelum aku sempat membalas pesannya, ia sudah menelponku mengatai aku cah udik yang tak bisa membedakan pintu masuk bandara dengan pintu masuk penumpang seperti yang dimaui olehnya. Sambil berjalan menuju arah pintu masuk penumpang, aku menepuk-nepuk jidatku. Ufuk timur mulai tampak bercahya meski masih malu-malu sinarnya. Sudah kubayangkan apa yang akan dikatakan Pak Jamli ketika kami bertemu segera. Ahh biarlah, rutukku lirih, sambil terus melangkahkan kaki menuju pintu masuk penumpang.
            Benar adanya. Pak Jamli sudah berdiri. Kepalanya berputar-putar mencari sosokku yang tidak muncul-muncul. Begitu tubuhku nongol dan tampak olehnya, kepalanya menggeleng-geleng, bibirnya setengah dimajukan ke depan. Aku sudah siap mau dikatai apa pun olehnya. “Tiket, paspor, siapkan!” Itu yang dikatakannya begitu berjumpa denganku. Melihat aku memegang botol air mineral, ia segera menyuruhku menghabiskan dan membuang botol kosongnya ke tong sampah yang ada di dekat pintu masuk.
            “Tidak boleh membawa cairan ke dalam ruang tunggu internasional. Mbak Ulfi sudah sampaikan apa-apa saja yang tidak boleh dibawa selama penerbangan ke luar negeri?” Tatapannya serius melihatku. Aku mengangguk. Kutepuk-tepuk ransel punggung berukuran sedang sebelum kugendong kembali ke punggungku. Kami hanya 2 hari di Singapura. Benar-benar hanya urusan kerja dan bisnis semata. Pak Jamli langsung mengajakku masuk setelah ia yakin aku sudah ‘steril’.
            Dengan seksama kuperhatikan Pak Jamli mengurus tiket, check-in, pemeriksaan imigrasi hingga duduk tenang di ruang tunggu yang sejuk. Ia mengajakku sarapan tak lama setelah sebuah coffee shop buka. Tak banyak omong ia memesan sarapan dan minumannya. Daftar menu diberikan padaku setelah ia memesan. Mahal-mahal amat makanan dan minuman di coffee shop ini, batinku.
            “Pilih sarapanmu, Bon! Jangan cuma kamu baca! Nggak bakalan datang menunya sendiri.” Tertawa Pak Jamli terdengar renyah. Aku tersenyum dan menunjuk pesananku padanya.
            “Pesannya sama kru coffee shop bukan sama saya,” telunjuknya menunjuk ke arah konter. Bibirku hanya tersenyum kecut dikerjai Pak Jamli.
            Selama sarapan kami membahas laporan yang sudah kusiapkan. Pak Jamli juga memastikan berkas di laptop yang kubawa sudah siap tayang saat presentasi nanti. Sesuai aturan mainnya, Pak Jamli yang akan presentasi, yang akan bicara, dan aku menyiapkan semua materi presentasi. “Tapi nanti tidak semua harus saya yang presentasi. Ada bagian yang harus kamu sampaikan di hadapan mereka. Kamu siapkan?” Anggukan pelanku membuat Pak Jamli menegur.
            “Kamu pasti bisa, Bono! Bahasa inggrismu cas-cis-cus meski aksen jawamu terasa.” Lagi-lagi Pak Jamli tertawa renyah ketika mengatakan bahasa inggrisku beraksen jawa. Meski agak sedikit khawatir namun pede-ku terasa membesar. Aku yakin kemampuan bahasa inggrisku.
            “Karena cas-cis-cus itu makanya kamu saya ajak ke Singapura,” jelas Pak Jamli. Aku mengangguk perlahan seraya mengunyah roti bulat yang bagian dalam terasa menteganya juga ada kismisnya. Terdengar panggilan kepada para penumpang Air Asia untuk masuk ke dalam pesawat. “Cepat habiskan makan dan minummu. Kita sudah mau terbang.” Sekali teguk kopi Pak Jamli tandas dimulutnya. Aku pun buru-buru mengunyah roti bulat tadi serta menggelontorinya dengan tegukan coklat panas yang tinggal sedikit.
            Aku mau terbang ke luar negeri. Tiba-tiba perasaan bungah menggelayuti pikiranku. Dengan langkah tenang dan senang kuikuti langkah-langkah Pak Jamli menuju pesawat terbang.      “Pak, boleh saya foto dekat pesawat?” tanyaku hati-hati. Ia mengangguk seraya menerima henpun milikku. Aku pun berpose di samping sayap Air Asia. Tak lama kemudian Pak Jamli juga mengeluarkan henpunnya.
            “Sini selfie denganku,” ajaknya. Jadilah kami berfoto dekat pesawat Air Asia. Senyumku merekah, semerekah suasana pagi yang mulai cerah di bandara.
***
            Cuaca cerah. Udara bagus. Tiupan angin juga tidak deras. Burung besi berlabel Air Asia pun mengudara ringan ke angkasa. Menantang matahari yang mulai menghangat di timur raya. Aku berpegang erat di kedua lengan tempat duduk, sesekali mataku terpejam. Namun sebuah bisikan lembut membuat mataku terbuka. “Rugi kalau matamu terpejam. Nggak bisa lihat eloknya Gunung Merapi yang nanti akan kita lewati.” Mataku membuka lalu mengintip dari jendela. Dan benar apa yang dikatakan Pak Jamli.
            Kegagahan Merapi dan Merbabu terlihat jelas. Tak ada awan yang menyelimuti puncaknya sehingga gagahnya kedua gunung di tengah pulau Jawa itu tampak nyata. Terbayang jelas dibenakku saat Merapi meletus dan memuntahkan material panasnya ke segala penjuru. Dari atas, aku melihat kotak-kotak kecil di lereng Merapi. Pasti itu rumah-rumah yang mulai berdiri setelah sempat ditenggelamkan lahar panas Merapi. Lereng-lerengnya juga mulai tampak menghijau. Hijau royo-royo….
            Tiba-tiba kupingku terasa mendengung. Kembali aku menyandarkan tubuhku di kursi. Berusaha memejamkan mata yang terasa berat. Aku kurang tidur semalam. Menyelesaikan persiapan presentasi dan juga masih tidak menyangka akan bepergian dengan pesawat terbang dan langsung ke luar negeri. “Kemut permen ini biar kupingmu tak mendengung.” Pak Jamli menawariku permen. Langsung aku emut dan kupingku terasa plong. Bersamaan dengan itu mataku kian memberat, dan zzzzz …. Aku ikut melayang bersama Air Asia.
            Hampir sejam lebih aku tidur di angkasa. Mataku terbuka dan terbangun gegara goncangan. Pesawat terasa bergoncang, naik-turun serta bergerak oleng kiri kanan. Pegangan eratku pada lengan tempat duduk ditimpali suara lirih Pak Jamli, “Nggak apa-apa. Biasa ada ruang hampa di udara.” Ia terkekeh kecil. Aku hanya bisa mengangguk pelan meski tak bisa dipungkiri hatiku merasa takut dan ngeri. Memaksa mata terpejam, mengajaknya tidur, juga percuma karena goncangan terus terasa. Setelah 5 menit barulah pesawat terbang tenang menembus awan putih yang berarak tertiup angin. Sejauh mataku memandang ke bawah hanya hamparan lautan luas yang tampak. Aku baru mengingat mimpi yang kurasakan dalam tidur sejam-ku di angkasa bersama Air Asia.
            Tiga bulan terakhir ini, setiap malam, aku selalu bermimpi hal yang sama yakni melihat perempuan yang samar wajahnya, berdiri di bawah patung yang mengeluarkan air. Tangan perempuan itu berayun seperti sedang mengiringi sebuah orkestra. Dalam mimpiku, ia sering mengatakan jubili dan marina. Aku tidak mengerti maksud mimpiku ini. Yang pasti, mimpi itu selalu hadir dalam setiap tidur malamku. Dan untuk pertama kali, aku bermimpi tentangnya tidak malam hari melainkan siang di angkasa menuju Singapura. Sekali lagi kupandangi hamparan lautan luas di bawah melalui jendela pesawat. Berharap ada peri baik hati yang terbang di antara awan putih dan memberitahukan arti mimpiku. Sayangnya, hingga pengumuman dari pramugari bahwa pesawat akan segera mendarat di Bandara Changi, peri baik hati itu tak kunjung kutemui di angkasa, di antara arak-arakan awan putih. Pada saat pesawat terbang menyentuh landasan Bandara Changi dengung telingaku berangsur hilang. Pendengaranku normal lagi.  
            “Selamat datang di Singapura, Bono,” ucap singkat Pak Jamli. Tangannya sibuk memasukkan buku yang tadi dibacanya selama penerbangan. Ia lantas mengatakan kalau pemeriksaan imigrasi di Singapura lebih banyak dan lebih ketat daripada Jogja. Ia juga mengingatkanku untuk tidak lupa mengisi keterangan diri mengenai kedatangan di Singapura. Alamak, aku lupa mengisinya. Dengan terburu kuambil kertas itu dan segera mengisinya. “Sudah, nanti saja mengisinya,” ujar Pak Jamli. Apa yang dikatakan olehnya aku turuti dan bersiap-siap untuk turun. Sementara itu, pesawat masih menyusuri landasan pacu menuju apron bandara. Dari celah jendela pesawat tampak olehku bandara yang luas yang untuk pertama kalinya aku datangi. Dalam hati aku berucap alhamdulillah…. Pesawat pun merapat mendekati sebuah ruangan besar berkaca penuh. Para penumpang sudah mulai berdiri, mengemasi bawaannya yang berada dalam bagasi di atas kepala masing-masing. Aku ikutan berdiri hendak mengambil ransel di bagasi.
            “Pak, biar saya yang mengambilkan tas bapak.” Pak Jamli yang bersiap membuka bagasi atas mengurungkan niatnya. Ia mempersilakan aku mengambilkan. Satu per satu para penumpang keluar melalui pintu depan pesawat. Aku dan Pak Jamli ikut berjalan dalam antrian keluar pesawat. Sebuah sapaan terima kasih dan senyuman manis diberikan pramugari yang berdiri dekat pintu pesawat ketika kami melewatinya. Hatiku kembali berdebar ketika menjejakkan jalan penghubung dari pesawat menuju ruang kedatangan. “Ini namanya garbarata,” lirih suara Pak Jamli menjelaskannya padaku. Aku mengangguk. Tak pernah disangka-sangka, aku menjejakkan kaki di bumi Singapura. Negara kecil yang hanya kukenal lewat buku, majalah, koran, dan pemberitaan televisi. Kini aku sedang melangkahkan kakiku di negara kaya se-Asia Tenggara.
            “Pak Jamli, terima kasih sudah mengajak saya ke sini. Tanpa pernah bapak mengajak, saya hanya tahu Singapura dari TV maupun koran saja.” Kusampaikan rasa terima kasihku pelan dan sopan. Senyum simpatik menghiasi wajah Pak Jamli. Kepalanya mengangguk seraya tangannya menepuk pundakku.
            “Lain kali, kamu harus siap kalau saya tugaskan ke luar negeri. Untuk sekarang-sekarang ini, kamu akan mendampingi saya apabila saya harus bertemu donatur maupun klien yayasan kita. Siap nggak?” Wajah penuh senyuman masih terhias. Anggukan kepalaku yang pelan langsung disemangati Pak Jamli.
            “Yakin dong anggukan kepalamu. Jangan ragu dan lemas kayak gitu!” Tanpa mengulang anggukan kepala, aku mengepalkan tangan seerat mungkin. Kutunjukkan kepalan itu padanya. Untuk kedua kalinya Pak Jamli menepuk pundakku. “Gitu dong…” Kami berjalan beriringan menyusuri koridor Bandara Changi menuju pemeriksaan imigrasi. Benar-benar luas dan mewah bandara ini. Hawa di dalamnya sangat dingin. Pasti kontras dengan di luar sana yang kulihat panas menyengat. Temperatur yang sempat kulihat menunjuk angka 32 derajat celcius.
            “Ohya Bono, nanti kita sekamar ya…. Kita akan menginap di Hotel Fullerton Bay dekat Merlion Park. Untungnya yang mengundang kita memberi inapan di hotel itu, sehingga kita tak perlu berjalan jauh menuju Merlion Park. Tahu nggak apa Merlion Park itu?” Aku menggeleng. Sebelum Pak Jamli menjelaskan soal Merlion Park, kami sudah diarahkan petugas imigrasi menuju loket yang tersedia.
            “Jangan lupa, kalau ditanya menginap dimana, kamu sebutkan nama hotel tadi. Kalau ditanya berapa lama, katakan saja hanya 2 hari. Ada urusan bisnis dengan warganegara Singapura apabila ditanya kegiatan. Selebihnya, jawablah secara cerdas dan benar. Kan bahasa inggrismu ciamik.” Meskipun jantungku berdebar-debar, kutekadkan hatiku. Aku tak mau Pak Jamli kecewa karena sudah mengajakku ke sini. Pengalaman pertama terbang sekaligus ke luar negeri kujadikan modal keberanianku menerima tantangan pekerjaan berikutnya dari Si Boss Jamli. Kuperhatikan seksama ketika Pak Jamli sedang diperiksa petugas imigrasi Singapura untuk terakhir kali sebelum kami keluar dari bandara.
            Ternyata aku tidak ditanyai apa-apa. Hanya menyerahkan paspor dan kertas berisi data diri yang tadi dibagikan pramugari. Membubuhkan cap jari dan selesai. Aku bergegas mendekati Pak Jamli. Kami pun segera berjalan ke luar bandara mencari taksi yang akan mengantarkan ke Hotel Fullerton Bay. Armada taksi cukup memadai. Begitu melihat penumpang datang, ada petugas yang menanyakan tujuan kami. Pak Jamli sengaja diam, membiarkan aku berbicara kepada si petugas itu. Mobil jenis sedan, yang menurutku sangat istimewa, berwarna hitam, datang mendekati kami. Sekali lagi aku berbicara. Kali ini dengan sopir yang turun dari taksi yang menanyakan kemana tujuan kami. Sesudah kusebutkan tujuan kami, taksi pun meninggalkan Bandara Changi membelah jalan bebas hambatan berpemandangan asri di kiri kanannya. Tak ada antrian panjang dan kemacetan lalulintas.  Siang itu panas terik menyengat namun kesejukan dan aroma wangi dalam taksi tetap terjaga.
            “Nanti kita langsung bertemu pengundang, jam 3 sore. Ada ruang pertemuan kecil di Hotel Fullerton Bay tempat kita presentasi. Sebelumnya kita check-in dulu. Istirahat sebentar untuk salat zuhur.” Setelah menjelaskan padaku rencana siang itu, Pak Jamli mengeluarkan henpun. Ia hendak menelpon seseorang. Dan benar, tak lama kemudian henpun sudah menyambung dan ia langsung berbicara dengan seseorang di sana. Sepertinya pengundang kami. Tak sampai 5 menit ia bicara.
            “Kamu belum lapar, kan Bon?” tanyanya. Aku menggeleng pelan. “Mr. Khong Guan akan menjamu makan siang sebelum pertemuan. Suruhlah cacing-cacingmu untuk bersabar sebentar.” Aku tertawa ketika Pak Jamli mengatakan cacing-cacingku disuruhnya bersabar. Tanpa bermaksud tak sopan, aku menjawab gurauannya, “Cacing-cacing masih aman dalam kerangkengnya, Pak! Dijamin mereka tidak akan lepas apalagi bertemu cacing-cacing bapak.” Mendengar guyonanku, gantian Pak Jamli yang tertawa, hahaha…. “Cerdas kamu, Bon!”
            Tanpa terasa taksi sampai di Hotel Fullerton Bay. Sebelum aku membuka pintu taksi, seorang petugas hotel sudah melakukakannya. Menyambut kami penuh kehangatan. Ia menanyakan apakah kami membawa koper atau tas-tas lain. Aku hanya menggeleng dan menunjukkan ransel yang kugendong sendiri. Ia kemudian menemani kami masuk ke dalam. Sebelum melangkah ke dalam, Pak Jamli menunjukkan sesuatu padaku, “Itu Merlion Park!” Aku mengikuti arah telunjuknya dan melihat sebuah kawasan yang terletak di pinggir laut atau sungai. “Itu semacam danau buatan,” seakan tahu isi kepalaku yang mengira laut atau sungai. Kami pun langsung menuju dalam hotel untuk check-in. Sembari mengagumi keindahan Hotel Fullerton Bay sesuatu mencuat dari kepalaku. Aku berusaha mengingat Merlion Park yang ditunjukkan Pak Jamli barusan. Dari depan Hotel Fullerton Bay aku sempat melihat patung yang mengeluakan air. Aku teringat mimpi-mimpi malamku: sebuah patung yang mengeluarkan air.
            Kartu magnetik kamar 1601 sudah dipegang Pak Jamli. Kepalanya bergerak sedikit, memberi kode padaku untuk segera ke kamar. Petugas hotel yang tadi mengantarkan kami ke dalam, mengangguk, kemudian menunjukkan arah lift menuju lantai 16. Lift bergerak cepat menuju lantai 16. Sebelum mencapai lantai 16, kusempatkan bertanya mengenai Merlion Park kepada Pak Jamli.
            “Benar, nggak salah! Patung di Merlion Park memang mengeluarkan air. Itu patung singa simbol Negara Singapura. Semua wisatawan tidak pernah lupa mendatangi taman itu. Mengabadikan kenangan di bawah Patung Singa muncrat.
            Aku berusaha mengingat patung yang mengeluarkan air sesuai mimpiku. Samar, karena yang kuingat hanya patung semata tanpa memperhatikan bentuknya. Dalam mimpiku, patung itu mengeluarkan air. Ujudnya apa, aku tidak melihatnya.
            Pintu lift terbuka. Di muka kami kini, di tembok depan lift, terdapat tulisan 16th. Agak geser ke kanan sedikit dari tulisan lantai 16, adalah kamar 1601. Pak Jamli langsung menggesekkan kartu magnetik di pintu kamar. Pintu kamar otomatis terbuka. Dan ketika ia meletakkan kartu magnetik pada sebuah wadah yang menempel di dinding, seketika lampu menyala. Perlahan kamar yang tadi agak hangat mulai terasa sejuk. AC ruangan sudah mulai mengeluarkan hawa sejuknya. Tiba-tiba Pak Jamli menyuruhku mendekati jendela kamar. “Lihatlah ke bawah dari jendela itu. Kamu bisa melihat Merlion Park dan Patung Singa muncrat.
            Dari ketinggian lantai 16, dari kamar yang kami tempati, aku bisa melihat sekeliling termasuk Patung Singa muncrat. Aku juga melihat sebuah gedung tinggi yang bagian atas ada perahunya. Seakan perahu itu terdampar di atas gedung. Ada juga laut lepas karena aku melihat banyak kapal berseliweran di sana. Tampak juga padang golf berwarna hijau.
            Selagi aku menikmati pemandangan di luar, Pak Jamli berucap, “Pertemuan kita paling lama 3 jam. Kira-kira kalau dimulai jam 3, akan selesai jam 6 atau jam 7. Tergantung bagaimana pembicaraan dan presentasi kita. Sesudah itu kita bisa berjalan-jalan ke Merlion Park.” Mendengar suaranya aku langsung membalikkan badan, berusaha melihatnya karena sedang bicara. Aku hanya mengangguk kemudian mengambil ransel. Pak Jamli juga memberitahu ada handuk di kamar mandi sehingga aku tak perlu memakai handuk sendiri. “Kalau kamu mau mandi, silakan duluan. Setelah itu bisa salat zuhur. Nanti salatmu di jama’ dengan asar.”
***
            Pertemuan dengan Mr. Khong Guan ternyata tak bertele-tele. Tidak makan banyak waktu. Ia secara seksama mendengarkan semua presentasi Pak Jamli juga aku. Intinya, semua program yang kami tawarkan, ia menyetujui. Bahkan anggaran yang kami ajukan, sama sekali tidak dikurangi. Mr. Khong bahkan mengatakan jika anggaran akan ditambah, ia siap menambahkan. Jam 5 kurang beberapa menit pertemuan usai. Kami masih berbincang santai sambil menikmati coffee break. Sore itu, Mr. Khong datang bersama seorang wanita, tampaknya sekretarisnya, juga seorang pria, yang juga staf perusahaannya. Sebelum mengakhiri pertemuan, ia menawarkan kepada kami kalau ingin berkeliling Singapura. Ia bisa menyiapkan mobil dan sopir. Namun secara halus Pak Jamli menolak tawarannya karena ingin berjalan-jalan disekeliling Merlion Park saja. Pak Jamli juga menjelaskan ingin segera beristirahat mengingat besok pagi langsung kembali ke Jogja sekitar jam 10-an pagi. Mr. Khong tersenyum dan sangat memakluminya. Ia bersama kedua staf-nya langsung berpamitan setelah minum kopi selesai. Sebelum keluar ruangan, ia mengingatkan supaya saat check-out besok, semua tagihan hotel dibebankan ke rekeningnya. Pak Jamli hanya perlu menyampaikan kepada pihak hotel dengan menyebutkan namanya. Bersamaan dengan itu, diserahkan kartu nama berikut catatan kecil di belakangnya.  Pasti Mr. Khong orang kaya sekali di Singapura, pikirku sambil melihat ia menyalami Pak Jamli.
            “Nice to meet you, Bono,” terdengar ucapan Mr. Khong padaku setelah ia menyalami Pak Jamli. Wajahnya penuh senyum ketika menyalamiku. Begitu juga para staf-nya.
            “Terima kasih datang ke Singapore,” dengan logat cadel Melayu yang agak terbata.
            Walaupun selesai pertemuan sebelum jam 5, tak urung kami masuk kamar untuk bebersih jam 6 lebih. Maghrib belum tiba. Jam 6 waktu Singapura, suasana kota masih terang benderang. Matahari masih bersinar. Menurut catatan gugel, maghrib di Singapura jam tujuhan malam. Pak Jamli langsung mandi setibanya di kamar. Aku duduk menunggu sambil menyaksikan siaran telivisi. Meski demikian, pikiranku lari kemana-mana mengingat mimpiku selama 3 bulan terakhir. Aku berusaha mengingat mimpiku apakah patung yang memancarkan air berbentuk singa??  Blank…Tak tampak…. Bersamaan ketidakingatanku akan bentuk patung, Pak Jamli keluar dari kamar mandi. Menyuruhku segera mandi.
            “Selesai maghrib kita jalan-jalan ke Merlion Park,” ajaknya. Kuletakkan ransel di dalam lemari pakaian dan masuk ke kamar mandi yang wangi dan ohhh.., aku harus tertegun lama di dalamnya. Takut salah pencet dan salah putar. Pintu kamar mandi digedor pelan. Sebelum aku buka pintunya, terdengar suara Pak Jamli yang mengingatkan arah kran air untuk mandi. “Jangan salah posisi. Airnya panas.” Ia berusaha mengingatkanku. Setelah kujawab teriakan Pak Jamli, aku mendekati kran air dan memutar-mutar arahnya. Yang pas memang di tengah, tidak panas tidak dingin. Aku pun mulai menikmati pancuran kamar mandi Hotel Fullerton Bay.  
            Merlion Park, malam itu terlihat ramai. Kata Pak Jamli, taman ini memang tak pernah sepi. Selalu ramai pengunjung, utamanya para wisatawan mancanegara. Kami hanya berjalan kaki menuju situ. Benar-benar sangat dekat dengan Hotel Fullerton Bay. Setiap ada momen yang bagus dan indah, aku tak melewatkan mengambil gambarnya. Bersyukur henpenku berkualitas bagus untuk memotret.
            Aku berada di sisi patung yang memancarkan air. Kuperhatikan sungguh-sungguh patungnya. Ternyata patung yang mengeluarkan air ini seekor singa. Pantas saja nama negara ini Singapura. Dan ketika aku melihat lebih seksama patung singa itu, sesuatu membuka di kepalaku. Aku seperti melihat rekaman mimpiku mengenai patung yang mengeluarkan air.  Tak kusangka, dalam mimpiku, bentuknya adalah singa, persis seperti patung singa di Merlion Park. Namun demikian, kenapa selama 3 bulan terakhir ini aku tak bisa mengira kalau patung dalam mimpiku adalah seekor singa? Aku lantas teringat di atas pesawat tadi yang berharap ada peri baik hati yang memberitahukan mimpiku. Dan malam ini, di samping Patung Singa, terurai sudah mimpiku mengenai patung. Siapa peri baik hati itu?
            Aku berpaling pada Pak Jamli yang duduk santai di taman kecil dekat patung. Persis di bawah cahaya lampu taman yang terang. Ditangannya memegang buku. Ia lanjutkan hobinya membaca. Karena orang baik itu, aku sampai di Singapura. Sampai di Patung Singa seperti mimpiku. Ia memberi kesempatan padaku untuk mengabadikan momen-momen indah di sekitar Merlion Park. Terima kasih, Pak, ujarku lirih, dan sudah pasti ia tak mendengar juga kelirihan suaraku. Kembali aku mengedarkan mata menyaksikan keindahan Merlion Park. Kubidik lagi patung singa itu dari sudut lain. Sekarang, di sisi patung banyak orang ingin mengabadikan diri.
            Bidikanku fokus pada patung singa dan air yang dimuntahkan dari mulutnya. Tidak ada yang lainnya. Namun tiba-tiba ada seorang wanita yang mendekatiku. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Ia berdiri persis di muka kamera henpunku. Berusaha menghalangi aku membidik objek patung singa. Dengan tutur bahasa inggris yang baik dan sopan, ia melarangku memotret. Menurut wanita itu, wisatawan yang sedang di-guide merasa terganggu dan dia memintaku untuk stop memotret mereka. Merasa tidak memotret rombongannya, aku sedikit protes sekaligus memberitahukan padanya, tujuan fotoku hanya patung singa. Mendengar penjelasanku, wanita itu pergi sesudah mengucapkan “I’m sorry.” Ia kembali mendekati rombongannya dan langsung mengatakan sesuatu. Mereka bergeser agak ke bawah mendekati air danau. Anehnya, wanita itu sempat menengok ke arahku. Aku hanya tersenyum ketika ia melihatku lagi.
            Jarakku dengan rombongannya kira-kira hanya 3 meteran. Dari tempatku berdiri, aku mendengar wanita itu sedang menjelaskan banyak hal seputaran Singapura dan Merlion Park. Samar-samar aku mendengar wanita itu menyebutkan kata ‘jubili’. Kemudian ia menunjuk arah di belakangku. Oh rupanya, di belakangku ada sebuah jembatan. Kupasang telingaku lekat-lekat, ingin ikut mendengarkan secara gratis pemaparan wanita itu. Ohhh, ternyata itu Jubilee Bridge. Masih menurut penuturannya, menggunakan bahasa inggris yang baik, jembatan itu diresmikan saat memperingati Hari Kemerdekaan Singapura yang ke-50 tahun pada 29 November 2015. Sesudah ia menjelaskan Jubilee, wanita itu menunjuk ke arah depan Patung Singa. Lamat-lamat aku mendengarkan ia menyebut Marina Bay. Rupanya itu pantai yang dimiliki Singapura. Wanita itu kemudian mengatakan lagi bahwa Patung Singa dekat atau dihapit antara Jubilee Bridge dan Marina Bay, salah satunya.
            Mendengar penjelasannya aku kagum. Wanita muda yang cerdas sepertinya dia. Kulitnya coklat tapi tidak gelap. Wajahnya cantik dan manis. Tuturnya berbahasa inggris tak diragukan lagi. Aku sudah mendengarkan sejak tadi. Beda banget denganku yang aksen jawanya mendominasi. Diam-diam aku terus memperhatikan wanita itu bersama rombongannya. Saat itu, sepertinya, ia mempersilakan anggota rombongannya untuk mengabadikan momen-momen di Patung Singa. Aku melihat jelas ia menunjuk jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Puas melihatnya aku bergeser ke arah Jembatan Jubilee. Di situ ternyata ada semacam prasasti yang tulisannya persis seperti apa yang dikatakannya. Tak kusiakan memotret prasasti itu. Saat aku asyik mengabadikan prasasti itu, tiba-tiba ada yang menegurku sopan, “Maaf apakah Anda dari Indonesia?” Aku berhenti mengabadikan prasati dan membalikkan badan. Setengah kaget ketika melihat sosoknya. Sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya. Dia melemparkan senyuman itu padaku yang langsung terpana. Wanita itu? Wanita yang tadi menegurku! Wanita guide rombongan yang tadi bersamaku dekat Patung Singa. 
            “Benar, saya dari Indonesia, tepatnya dari Jogja,” kataku menjawab pertanyaannya.
            “Iya kentara kalau Mas-e dari Jogja. Bahasa Inggrisnya medog.” Ya ampunnnn, dia sampai mengetahui betapa bahasa inggrisku beraksen jawa. Hmmm, aku mendesah perlahan, takut ia mendengarnya.
            “Iswari,” tiba-tiba ia menyodorkan tangannya mengajakku bersalaman. Agak gugup nyaris salah tingkah aku membalas jabat tangannya. Jantungku yang semula santai kini mulai ber-klojotan.
            “Subono,” aku memperkenalkan diri.
            “Subono Parikesit? Yang selalu menyingkat nama ‘Subono’ dengan ‘S’ saja, sehingga tertulis S. Parikesit?” tanyanya sambil tersenyum manis. Ohhh Tuhan kuatkan jantungku, gumamku lirih, gegara melihat senyuman Iswari. Saking begonya menghadapi wanita cantik yang tahu namaku S. Parikesit, aku bertanya, “Tahu namaku dari gugel, ya?” Iswari tertawa yang secara langsung menampakkan deretan giginya yang rapi dan berwarna putih.
            “SDN 49 Muara Rapak,” kali ini ia menyebutkan SD masa kecilku. “Putranya Pak Bambang Harimurti Parikesit, kan?” Ya Allah, kok sampai dia tahu nama bapakku. “Nama ini nggak dapat dari Mbah Gugel, lho….” Senyumnya seakan meledekku. Seketika itu juga, wajahku menghangat. Sepertinya merah tapi belum padam.
            “Benar, itu nama bapak saya,” kataku terbata-bata.
            “Bono lupa sama aku, ya?” Aku setengah malu-malu berusaha memandang wajah cantik di hadapanku. Rambutnya sebahu, berombak sedikit, dan legam hitamnya.
            Aku yang setengah malu-malu, kontras dengannya yang justru berani menatapku penuh percaya diri. Semakin dirinya menatapku, semakin aku gugup. Hingga akhirnya ia mengulangi pertanyaannya, “Sudah ingat aku?” Duhhh… ampun deh, kenapa otakku lemot gini? Rasanya memori yang terkubur di dasar otakku terhalang muncul di ubun-ubun.
            “Kamu dari Muara Rapak juga?” tanyaku memberanikan diri. Anggukan kepalanya mulai mengorek memori di otakku. Tanpa sengaja aku melihat Patung Singa muncrat karena letak berdiri Iswari segaris dengan patung kebanggaan Negara Singapura itu. Perlahan sekelebat mimpiku seperti tersorot di hadapanku. Antara Jubilee dan Marina Bay, dekat Patung yang mengeluarkan air, ada seorang perempuan sedang memimpin sebuah orkestra. Hal ini terlihat dari ayunan tangannya yang bergerak ritmis seperti seorang konduktor.
            “Prameswari Rehidra?” ucapku lirih, namun tak urung gadis di depanku mengangguk seraya bibirnya menyunggingkan senyuman.
            “Sudah bisa mengingat aku?” tanyanya meyakinkan aku. Aku teringat Iswari selalu menjadi dirijen tiap senin saat upacara bendera.
            “Iswari kan nama yang kamu berikan padaku sejak kita satu SD!” Seketika rasa gugupku, rasa canggungku, rasa ketidakpedeanku, melorot dan terkulai ke bawah. Jatuh ke lantai kasar di atas Jembatan Jubilee. Begitu tahu Iswari teman kecilku di Muara Rapak, aku langsung berani menjabat tangannya erat bahkan menepuk-nepuk punggung tangannya.
            “Kamu cantik!” Spontan keluar dari mulutku. Iswari kembali tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih rapi.
            Pertemuan singkat itu jelas menyenangkan hatiku. Terlebih lagi ketika Iswari mengatakan ia juga menginap di Hotel Fullerton Bay. Oleh karena ia sedang bekerja memandu wisatawan, ia buru-buru berpamitan. Kuteriakan nomor kamarku di hotel padanya. Ia pun mengangguk ceria.
            “Nanti malam aku hubungi kamarmu!” teriaknya, kemudian segera berlalu dari tempatku berdiri. Dan aku masih termangu tak percaya menjumpai teman masa kecil di negara yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehku bakal aku kunjungi. Mataku mengekor lari-lari kecil Iswari menuju rombongannya. Nanti malam ia hendak menemuiku, sementara sekarang sudah pukul 9 malam waktu Singapura. Lantas mau jam berapa ia akan menghubungiku? Pikiranku lantas berkecamuk  mengingat my boss pasti sedang mencariku. Segera aku berjalan menuju tempat Pak Jamli duduk. Dari kejauhan aku melihat Pak Jamli mencari-cari aku di antara kerumunan orang yang ada di Merlion Park. Senyumnya lantas mengembang ketika melihatku mendekatinya.
            “Saya kira kamu tercebur ke danau…. Habis nggak datang-datang,” ucapnya begitu aku sudah berada di sampingnya. Kali ini aku berani tertawa lepas. Aku juga mengatakan padanya bertemu teman SD di Merlion Park.
            “Ohya?” teriak Pak Jamli seperti tak percaya. Kutunjukkan seseorang dekat Patung Singa muncrat yang sedang mendampingi wisatawan di situ.
            “Itu dia, Pak!” tunjukku. Kepala Pak Jamli mengangguk-angguk. Aku lantas minta izin nanti malam mau bertemu dengannya di lobby hotel.
            “Kebetulan dia juga menginap di hotel yang sama dengan kita, Pak!” Terdengar kata ‘ohya’ lagi dari mulut Pak Jamli. Sambil tersenyum ia kembali mengangguk-angguk lagi. “Silakan saja, nggak masalah. Nikmati malammu, mumpung bertemu teman lama dan mumpung di Singapura, hahahahaha….” Aku tersipu seraya mengucapkan terima kasih. Tak terasa kami sampai di lobby hotel.
            “Bono, kamu ikut naik ke atas dulu! Nanti kartu magnetiknya kamu bawa. Saya mengantuk pingin segera tidur. Kalau kartu sama saya, nanti kamu harus bangunkan saya lagi, hoahhhhh. Ngantukkk….” Aku menurut dan mengikuti Pak Jamli ke kamar.
***
            Aku sengaja menunggu di lobby hotel. Khawatir kalau di kamar, Iswari menelpon  sementara Pak Jamli sudah tidur. Toh selama menunggu di lobby hotel aku tidak terlalu kesepian. Kebetulan malam itu ada ‘live music’. Aku juga bisa melihat siaran tivi kalau bosan menonton live music. Pak Jamli juga mempersilakan aku untuk pesan makan minuman jika akan menjamu temanku SD. Benar-benar aku tersanjung mengikuti kepergiannya ke sini. Hidupku benar-benar dimuliakan olehnya. Alhamdulillah….
            Akan tetapi karena sebelum ke lobby aku sempat minum di kamar, makanya selama menunggu aku tidak memesan minuman maupun makanan ringan. Tengah malam kian mendekat namun Iswari belum juga nongol. Setiap tamu yang masuk ke dalam, kepalaku selalu melongok siapa tahu saja Iswari lewat.
            “Waiting someone? May I sit in here?” Sebuah sapaan halus mengejutkan aku. Kepalaku langsung berpaling dari melihat pintu masuk hotel, ke arah suara yang menyapaku. Dan aku terpana.  Seorang gadis memakai kaos putih panjang yang ujung lengannya digulung sedikit ke atas, memakai rok blue jeans mini sebatas lutut, rambut dibiarkan tergerai sebahu, bersorotkan mata tajam namun lembut. Ia terlihat senang melihatku terkejut.
            “Boleh duduk nggak nih?” tanyanya lagi. Kini dalam Bahasa Indonesia. “Kok bengong gitu sih?” Iswari menegurku yang masih diam terpana. Sekonyong-konyong ia membantingkan tubuhnya di sofa di seberangku. Aku yang tersentak langsung mempersilakan duduk.
            “Kan ini sudah duduk Subono Parikesit,” ucapnya memanjangkan namaku. Barulah aku tersenyum setelahnya. Aku tidak menyangka yang kutunggu tidak datang dari arah luar melainkan dari dalam hotel.
            “Aku dari tadi sudah melihatmu di sini,” ujar Iswari, “Tapi karena badanku gerah, aku mandi dulu baru kemudian mengagetkanmu. Dan ternyata sukses membuatmu bengong kayak macan ompong gitu.” Terdengar tawa renyah dari mulut Iswari.
            “Kaget ya? Kaget nggak pernah lihat cewek cantik?” Lagi-lagi Iswari menggoda aku. Tanpa ia sadari aku menjawab ‘kamu memang cantik makanya aku bengong.’ Malam itu kami reuni kecil dan bernostalgi. Sebelum aku menawarkan makanan dan minuman, Iswari sudah bangkit dan berjaln ke resto hotel. Pastinya memesan sesuatu. Baru beberapa langkah berjalan, ia membalikkan badannya.
            “Lupa aku tanya padamu. Mau dipesankan apa? Aku yang traktir. Kamu duduk manis di situ.” Wajah cantiknya tak menampakkan kelelahan sehabis mendampingi wisatawan. Justru masih terlihat segar dan ceria. Ketertegunanku melihat sosoknya membuat Iswari menegurku lagi. Menanyakan aku ingin dipesankan apa! “Susah sama cowok yang nggak pernah lihat cewek cantik,” gumam Iswari sambil tertawa. Aku terperanjat lagi lantas mengatakan padanya mau dipesankan apa saja asal ia yang memesankan.
            “Beneran ya, manut yang kupesankan,” ujar Iswari terus berlalu dari hadapanku. Pemandangan indah yang kulihat ketika Iswari berjalan, tak kusiakan.
            Sosok yang sempurna: cantik, cerdas, dan smart. Sangat berbeda saat ia masih SD bersamaku. Iswari agak cengeng dan penakut. Maka dari itu, orang tuanya sering minta aku membantunya. Kebetulan saat di Muara Rapak kami tinggal di satu perumahan. Rumahnya hanya berselang 2 rumah dengan rumah orang tuaku. Selain agak cengeng karena penakut, jiwa sosial Iswari tinggi kepada orang-orang yang tidak beruntung. Hatinya gampang trenyuh melihat ketidakmampuan orang sehingga air mata juga mudah mengalir di pipinya yang mulus.
            Kami memang sempat bertetangga dan satu sekolah sejak SD. Hubungan yang sangat akrab antarkeluarga juga terjalin harmonis. Sayangnya, sejak kepergian ia mengikuti ayahnya yang harus pindah tugas, kami jadi jarang berkomunikasi lagi. Kami sempat satu SMP. Hanya kelas 1 aku bersamanya. Dan pertemuan dengannya di Singapura suatu kejutan yang luar biasa. Tiba-tiba aku teringat mimpiku tiap malam. Ahhh, rupanya ini arti mimpiku itu. Aku menjumpai teman kecilku, tetangga rumahku di Muara Rapak. Seorang gadis smart sekarang yang berani merantau ke negeri orang. Dari arah resto kulihat Iswari berjalan menuju tempat kami duduk. Henpunnya berdering saat ia hendak duduk dekatku. Kepalanya mengangguk-angguk sambil mengatakan ‘bisa, bisa….’ Setelah meletakkan tubuhnya di sofa, ia menyerahkan henpunnya padaku. “Ada yang mau ngomong.” Dengan ragu-ragu aku menerima henpunnya sambil berbisik ‘siapa?’ Ia tersenyum.
            Sebelum aku menyapa penelpon di henpun Iswari, aku sudah mendengar teriakan hangat. “Bonoooosu…, masih ingat suara ini? Masih ingat panggilan ini?”  Aku terdiam sebentar mengingatnya. Kemudian….
            “Malam Om, apa kabar?” sapaku. Penelpon itu adalah Nugros Rajendra, ayah Iswari. Aku lantas mengobrol selama beberapa menit dengannya. Sebelum mengakhiri pembicaraan, aku katakan padanya betapa hatiku senang dan gembira bisa ketemu Iswari. Satu hal yang aku terkejut, Pak Nugros menitipkan Iswari padaku. “Bantu Iis yang Bonosu kayak waktu kalian kecil dulu.” Karena tidak menyangka akan dapat perkataan begitu, aku hanya mengatakan in sha allah. “Terserah bagaimana cara Bono membantu Iis.” Sesudah itu Pak Nugros menutup pembicaraan. Telpon pun sunyi lagi. Kukembalikan henpun pada Iswari.
            “Ayah merespon senang waktu aku bertemu denganmu. Tadi selesai kita ngobrol di Merlion Park aku mengirimkan pesan singkat. Dan saat kukatakan akan bertemu malam ini, ayah lantas pingin bicara denganmu.” Aku merasa tersanjung untuk kedua kalinya. Yang pertama karena diajak pergi bersama Pak Jamli, myBoss. Adapun yang kedua karena ayah Iswari kembali menitipkan anaknya padaku. Tapi bagaimana mungkin aku menjaga dan membantu Iswari? Aku di Jogja sedangkan Iswari berada di Singapura.  
            Sebuah bisikan halus kukirimkan kepada-Nya. Ya Allah, aku tidak tahu apa yang akan Kau rancang dan Kau rencanakan untukku. Namun aku berterima kasih atas mimpi pemberian-Mu. Aku senang dapat berjumpa teman masa kecilku, si Cantik Iswari. Tak bosan-bosannya aku mengatakan Iswari cantik. Dan memang ia pantas dibilang cantik. Dan si cantik itu kini ada di hadapanku. Berbincang sembari menunggu pesanan datang.
            Aku menengok jam tanganku, sudah pukul 2 malam. Waktu Singapura yang lebih dulu sejam daripada Jogja, membuat waktu terasa cepat saja. Masih ada makanan yang belum habis kami makan. Minuman, kami sudah beberapa kali memesan. Iswari terus memanjakan perutku. Menyuruhku memesan apa yang aku suka.
            “Kamu nggak istirahat, Is?” tanyaku. Iswari yang asyik mengunyah memberi jawaban, “Cukuplah aku tidur 2 jam, terus besok kerja lagi mengantar turis-turisku, hehehe…. Bertemu denganmu, sesuatu yang jarang dan langka, jadi mau kunikmati. Ohya, besok pulang jam berapa ke Jogja?” Iswari mengangguk setelah tahu kepulanganku.
            “Maaf ya, besok aku nggak bisa mengantarkanmu. Tapi aku janji, apabila liburan, aku akan ke Jogja menemuimu. Kebetulan ada temanku yang tinggal di sana, jadi aku bisa tinggal di rumahnya. Bolehkan, Bonoo, aku main ke Jogja?” Aku tentu menjawab senang hati menerimanya di Jogja.
            Mataku terasa berat. Sejak datang dari Jogja tadi siang hingga bertemu Iswari, aku sama sekali belum pejamkan mata. Dan berat mataku terbaca Iswari. “Ayolah udahan. Kasihan matamu nanti jatuh ke lantai, hahahaha.” Kekehan Iswari mengiringi ucapannya. Aku tersenyum ketika kami sama-sama membereskan sisa makanan yang ada di meja.
            Sambil menuju lift aku menanyakan satu hal yang tadi tak sempat aku tanyakan pada Pak Nugros. “Orang tuamu sekarang tinggal dimana, Is? Tadi aku lupa bertanya.”
            Jawaban Iswari singkat, “Batu, dekat Malang.” Ia lantas mengajak aku segera masuk lift yang pintunya sudah terbuka. Ia menekan lantai 16 dan 20. Dalam lift hanya kami berdua. Lift bergerak cepat menuju lantai tujuan. Pintu terbuka di lantai 16, segera kututup lagi. “Aku antar kamu dulu baru aku kembali ke lantai 16.” Iswari tersenyum mendengar keinginanku mengantarkannya. Ia mengangkat bahunya. Gerai rambutnya entah kenapa membuatku ingin memegangnya. Hanya beberapa detik lift berhenti di lantai 20. Pintu lift terbuka, kami pun melangkah melewati koridor hotel menuju kamar 2020. Persis di depan kamar 2020 kami berhenti. Iswari mengeluarkan kartu magnetik untuk membuka pintu kamar.
            “Aku tidur bersama seorang teman guide juga. Ia orang Singapura yang satu college denganku di Shatec Institutes, kata Iswari pelan.
            “Ohya, kamu kuliah apa di sini?” Gegara asyik mengobrol ngalor-ngidul aku lupa menanyakan studi Iswari di Singapura. Iswari menepuk jidatnya kemudian berkata, “Aku kuliah manajemen turisme di Shatec Institutes.”  Hanya kata ‘keren’ yang keluar dari mulutku mendengar studi yang diambilnya. Sebuah senyum manis menyungging lagi dibibir gadis cantik ini. Aku terpesona melihatnya.
            “Ya sudah, aku pamit ke kamar,” kataku kemudian, sekaligus berpamitan pulang ke Jogja esok hari. Iswari mengangguk. Tanpa terduga-duga, tanpa kusangka-sangka, Iswari menghambur ke arahku. Ia memelukku selama beberapa detik sambil membisik, “Bono teman kecilku, teman yang sering menolongku, teman yang sering menjaga dan membantuku, aku senang banget bisa ketemu kamu meskipun hanya sebentar. Janji ya, kita ketemuan lagi kapan-kapan!” Ia pun melepaskan pelukaannya. Tanganku menyorong ke arahnya, mengajaknya bersalaman. Iswari membalas mengangsur tangannya. Entah keberanian apa yang tiba-tiba muncul, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan sebuah kecupan lembut mendarat di pipinya yang mulus. Iswari kaget tidak menyangka aku berani mencium pipinya.
            “Ihh, Bono genit, curi-curi kesempatan,” ucapnya sambil tertawa tertahan, khawatir teman sekamarnya bangun. Mendengar ia berkata begitu aku kaget dan minta maaf.
            “Satunya juga mau, Bono, biar tidak iri,” Iswari menyorongkan pipi kirinya setelah tadi pipi kanannya aku hujami kecupan. Aku meragu hendak menciumnya sampai Iswari mengatakan, “Nggak apa-apa, Bono….” Lalu secara gagah aku lakukan keinginannya. Tanpa keduga sama sekali, kembali Iswari memelukku.
            “Udah ya…. Makasih untuk ketemuannya. Malam Bono..,” pelukannya ia lepaskan. Kemudian ia menggesek kartu magnetik di pintu kamar. Aku tersenyum dan melambaikan tangan seraya berjalan menyusuri lorong hotel menuju lift. Dadaku bergetar, jantungku berdetak cepat, dan aku seperti mengaromai lorong hotel dengan wewangian bunga yang sangat menusuk.
***
            Sepulang aku ke Jogja dan kembali bertugas di yayasan, tak pernah sedikit pun aku kehilangan waktu berkomunikasi dengan Iswari. Tanpa terasa sudah 6 bulan pertemuan tidak sengaja kami di Merlion Park. Apabila mengingat Patung Singa muncrat, aku selalu terkenang perjumpaanku dengan Iswari. Dengan mimpiku yang selalu membungai tidurku. Dan lantaran peri baik hati bernama Dr. Jamli, mimpiku menjadi nyata. Bertemu si gadis cantik, teman masa kecilku: Prameswari Rehindra.
            “Minggu depan kamu temani saya ke Sydney,” perintah Pak Jamli mendadak. Seperti biasanya ia selalu mengagetkan aku yang sedang mengerjakan laporan.
            “Renita hamil muda, jadi nggak mungkin dia yang pergi ke sana. Kita yang ke sana untuk menemui donatur proyek di Kutai. Kamu siyap??” Kali ini aku mengepalkan tangan untuk mengatakan kesiapanku. Kata ‘oke oke’ berulang kali keluar dari mulut Pak Jamli sebelum pergi meninggalkan meja kerjaku. Namun, baru saja tiga langkah berjalan, badannya membalik lagi kemudian memberi perintah susulan,  “Ohya, jangan lupa, laporan yang kamu kerjakan di-imil ke saya, di-print juga sekalian.”
            Henpunku mengeluarkan bunyi ‘twing twing’. Ada japri wattsapp masuk. Dari Iswari. Pesan japrinya langsung membuat jidatku mengerut mendadak.
            Bonoooo, minggu depan aku mulai libur. Aku mau pulang ke Batu. Sebelum ke Batu aku mampir Jogja, ya?? Pingin main sama kamu beberapa hari. Bolehkan?? Nanti jemput aku di Bandara Adisucipto. Aku belum pesan tiket Air Asia, nunggu kabar kamu dulu. Balass cepat yaaa Bonooooo……
            Alamakkkk, teriakku dalam hati. Kenapa bisa barengan gini ya? Harus bilang apa ke Iswari. Takutnya ia kecewa, aku tidak bisa menemaninya selama di Jogja apalagi menjemputnya di bandara. Otakku berputar mencari jawaban yang pas di hati. Perjalanan dinas ke Sydney pasti sudah fixed. Bismillah, hanya itu doaku.
            Setelah merasa yakin jawaban yang kusiapkan untuk Iswari, aku langsung mengirimkannya. Aku sampaikan kalau minggu depan harus ke Sydney menemani myBoss. “Hanya 3 hari di Sydney sudah termasuk perjalanan pergi-pulang,” tulisku begitu. Pesanku sudah contreng dua, berwarna biru, artinya Iswari sudah membaca namun belum membalas lagi. Kenapa lama ia tak menjawabnya? Berhubung mataku bolak-balik melihat henpun, laporan yang sedang kukerjakan terhambat. Beberapa kali telepon dari Pak Jamli menanyakan laporan yang kubuat. Berulang kali juga kukatakan padanya untuk menunggu sebentar. “Twing twing’ nama Iswari muncul di henpunku. Dan terasa lega membaca pesannya: Aku ke Jogja setelah kamu pulang dari Sydney. Biar semua nyaman dan enak. Tapi week end nanti, aku minta tolong ditemani pulang ke Batu yaa… Sabtu libur kan, kantormu? Pasti ayah sama ibu senang melihatmu datang. Deal yaa…
            Sekali lagi jidatku mengerut membaca pesan balasan Iswari. Bukannya tidak mau, tapi hari sabtu minggu depan aku diminta mengikuti seminar di Jakarta. Memang belum pasti, karena belum didaftarkan namun rerasannya memang aku yang harus berangkat. Aku memberi balasan kepada Iswari kalau sedang mengikuti meeting jadi ia kuminta sabar menunggu meeting-ku selesai. Untungnya Iswari mau menunggu. Segera aku menggarap laporan yang sempat tertunda.
            Separuh laporan sudah kuserahkan kepada Pak Jamli untuk beliau baca. Jika setuju dengan apa yang kukerjakan baru aku melanjutkan lagi laporan utuhnya. Kepala Pak Jamli manggut-manggut membaca laporan yang kubuat. Sambil tangannya menuliskan catatan di laporan, mulutnya berucap. Ucapannya ketika itu membuat aku plong…. “Laporannya diteruskan, data-data pendukungnya dilengkapi sekalian. Trus, seminar di Jakarta minggu depan, jangan kamu yang pergi. Biar si Iyandi yang pergi. Biar jam terbang anak baru itu bertambah. Lagi pula kalau cuma ke Jakarta, pasti bisa sendiri. Kamu nanti yang sampaikan padanya perintah saya ini.”
            Yessss…. “Apanya yang yess?” tanya Pak Jamli. Aku kaget ditanya begitu, karena kelepasan meluapkan kegembiraan tidak jadi pergi ke Jakarta sabtu depan.
            “Maaf Pak, hanya sependapat dengan usulan bapak supaya Iyandi ikutan seminar. Biar punya pengalaman seperti saya.” Pak Jamli mengangguk seraya menyerahkan laporan yang sudah diberi catatan kepadaku. “Lengkapi laporan itu dan bilang sama Iyandi langsung suruh daftar seminar di Jakarta. Urusan ke Sydney atur juga dengan Mbak Ulfi, ya….” Aku berpamitan dan segera keluar dari ruangan Pak Jamli. Yess, yess, yesss …. Kali ini pasti Pak Jamli tak mendengar yang kuucapkan.

            Minggu depan aku siap menemanimu ke Batu. Itu pesan yang kukirimkan pada Iswari. Tak lama berselang, Iswari mengirimkan balasan  emoticon gembira, suka cita. Aku tersenyum dan mulai membayangkan betapa menyenangkan acara minggu depanku. Pergi bersama gadis cantik, teman masa kecilku. Entah kenapa, aku merasa yakin Iswari akan menjadi teman masa besarku, teman dewasaku, teman masa depanku, apabila aku sudah bertemu kedua orang tuanya.    
          Sekelebat, Patung Singa muncrat melintas di jidatku. Meskipun tak bisa menangkap klebatan patung singa itu, tapi aku yakin bisa mendekap dan mendapatkan gadis cantikku, Prameswari Rehindra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA