Postingan

BUKAN CINTA BIASA

“K ristina masih tinggal di situ? Aku kok jarang melihatnya, ya?” tanya suamiku, sepulang kami dari subuhan di masjid kompleks. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Sebagai wanita pekerja, Kris selalu berangkat pagi dan pulang malam. Menurut pengakuannya, ia bekerja sebagai sekretaris direktur. Wajar saja apabila jam kerjanya mengikuti aktivitas  si bos. Beruntungnya, Kris masih lajang. Minggu pagi, 5 bulan yang lalu, aku dan Tiara -tetangga depan rumahku-, sedang belanja di tukang sayur keliling. Kris keluar dari rumahnya ikutan nimbrung belanja. Di situlah awal perkenalan kami. Kris orangnya cantik dan ramah. Kesan pertama yang aku rasakan, dia tidak sombong. Justru tampak luwes dan supel dalam bergaul. Tutur dan sapanya juga sopan. Ia mengaku hanya tinggal sendirian di situ. Tiga kali dalam seminggu, ada wanita paruh baya dari kampung belakang kompleks yang datang  membersihkan rumahnya. Kalau suamiku jarang bertemu Kris, kayaknya sah-sah saja...

KASIH YANG KAU TANAMKAN DI STUDIO

Begitu pintu studio terbuka, semua berebut masuk. Tak kuhiraukan desakan teman-teman yang ingin segera melampiaskan hasrat bermusik. Aku justru terperangah begitu tahu kau ternyata sudah duduk di dalam. Wajah tertunduk membaca sesuatu dari kertas yang terpegang. Reaksi terkejut begitu tampak ketika aku masuk terakhir. Lama tak bersua, hanya memandang wajahmu dari medsos-medsos yang kauikuti. Dan kini pancaran lembut itu nyata di hadapanku. Entah mengapa ada yang mendesir p erlahan di dada. Tiba-tiba kau memintaku duduk di sebelahmu. “Ayolah, ikutan bernyanyi untuk acara reuni besok,” ajakmu. Aku hanya tersenyum. Desiran halus yang sempat mengalir, terasa kian menderas. "Masih ingat lagu ini, kan?" Aku melirik teks yang dipegangnya. Hanya helaan napas yang kuhembuskan. Mereka setuju kalau kau duet denganku, katanya lagi. Aku mengangguk setuju. Terdengar teriakan nyaring dari teman-teman si anak band, “Kapan lagi duet sama Tria, Don?” Musik pun mengalun mengiringi Tria ...

ANGKASA SEMAIKAN SELALU CINTAKU PADANYA

Gambar
Pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Adisucipto. Ini penerbangan domestik terakhirku. Selanjutnya, aku akan mulai terbang ke luar negeri mulai besok. Begitu pesawat benar-benar berhenti di apron bandara, aku mulai memperlihatkan senyum manisku kepada para penumpang pesawat yang mengakhiri perjalanannya di Jogja. Bersisa 5 orang penumpang yang akan melewati pintu depan pesawat. Seorang pria berwajah simpatik menyapaku, “Sampai ketemu lagi.” Sebuah anggukan dan senyuman ramah kuberikan padanya sebagai balasan. Malam ini aku tidak bermalam di hotel seperti teman-temanku yang lain. Aku hendak tidur dan menikmati semalamku di rumah orang tuaku. Jika ditarik garis lurus ke timur, dari ujung landasan pacu Bandara Adisucipto, rumah orang tuaku hanya berjarak 800 meter saja. Berhubung aku diantar mobil jemputan, maka aku harus berjalan memutar menuju sana. Entah sudah berapa kali kusinggahi bandara ini selama aku menjadi pramugari. Yang pasti, kenangan masa kecilku bersama ban...