BUKAN CINTA BIASA
“K
|
ristina masih tinggal di situ? Aku
kok jarang melihatnya, ya?” tanya suamiku, sepulang kami dari subuhan di masjid
kompleks. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Sebagai wanita pekerja, Kris
selalu berangkat pagi dan pulang malam. Menurut pengakuannya, ia bekerja
sebagai sekretaris direktur. Wajar saja apabila jam kerjanya mengikuti aktivitas
si bos. Beruntungnya, Kris masih lajang.
Minggu pagi, 5 bulan yang lalu, aku
dan Tiara -tetangga depan rumahku-, sedang belanja di tukang sayur keliling.
Kris keluar dari rumahnya ikutan nimbrung belanja. Di situlah awal perkenalan
kami. Kris orangnya cantik dan ramah. Kesan pertama yang aku rasakan, dia tidak
sombong. Justru tampak luwes dan supel dalam bergaul. Tutur dan sapanya juga
sopan. Ia mengaku hanya tinggal sendirian di situ. Tiga kali dalam seminggu, ada
wanita paruh baya dari kampung belakang kompleks yang datang membersihkan rumahnya.
Kalau suamiku jarang bertemu Kris,
kayaknya sah-sah saja. Suamiku juga selalu berangkat pagi. Sebelum matahari
meronakan ufuk timur, ia sudah meninggalkan rumah supaya tidak terjebak
kemacetan. Biasanya, jam 5 lebih dikit ia sudah lenyap dibawa angkutan yang
lewat depan kompleks. Sesudah suamiku pergi, mulailah rutinitas pagiku berjalan.
Sudah seminggu ini, anak-anak libur
kenaikan kelas. Kesibukanku justru jadi bertambah ketika mereka tidak sekolah.
Itu juga yang membuat aku jarang bertemu Kris, akhir-akhir ini. Akan tetapi, aku
masih sempat melihat wanita yang sering membersihkan rumahnya. Kris mengontrak
rumah sebelah selama 2 tahun. Ini tahun pertama ia menempati rumah sebelah
tersebut.
Hari itu, selesai menyiapkan sarapan,
aku mengecek pesanan melalui tabletku. Sudah tiga tahun belakangan ini aku berbisnis
online. Lumayan menghasilkan sehingga bisa menambah uang belanja dan jajan
anak-anak. Inbox pesanan masih NIL, membuat aku ingin mengerjakan hal lain pagi
itu. Mataku menatap lemari buku yang kusam, diselimuti debu. Aku ingin
membersihkannya. Anak sulungku sedang sarapan. Ia mau pergi bersama
teman-temannya sehabis sarapan. Sementara adiknya masih asyik browsing memakai laptopnya. Entah apa
yang sedang dicarinya.
Setelah melepas kepergian Clara, aku
langsung meneruskan beberes lemari buku. Rencanaku, semua koleksi buku di
lemari hendak kukeluarkan. Satu per satu buku mau kubersihkan, juga lemarinya.
“Revo, nanti mama dibantuin, ya,” pintaku. Revo yang sedang asyik di depan
laptopnya menengok. Bibirnya tersenyum kemudian dari mulutnya keluar kata-kata,
“Oke, Ma. Pasti Revo bantuin.” Mendengar jawabannya aku lega. Lalu kembali
mengeluarkan buku-buku dari lemari.
Sewaktu mengeluarkan koleksi
buku-buku karya Enid Blyton, tak sengaja satu buku terjatuh. Ke Sarang Penyelundup, begitu judul buku
yang terjatuh itu. Aku letakkan setumpuk buku Enid Blyton yang lain dan
mengambil buku yang terjatuh. Membukanya karena ingin tahu tahun berapa buku
itu aku tanda tangani. Aku selalu punya kebiasaan menandatangani buku-buku
koleksiku serta selalu memberikan catatan kecil sesuai keadaan yang terjadi
pada saat itu. Aku tersenyum begitu tahu buku Enid Blyton itu kubeli saat aku masih kelas 2 SMA. Secara
serampangan aku membuka halaman buku itu. Sebuah foto terjatuh dari dalamnya. Terlihat
fotoku bersama Chacha dan Ernita. Dalam foto itu kami duduk di anak tangga
sebuah tempat wisata di Bali. Kami sedang melakukan study tour, kala itu. Foto aku bersama kedua sahabatku itu hasil
bidikan Nobby. Aku tersenyum mengenang kembali peristiwa dalam foto itu.
Dalam beberapa kesempatan
berjalan-jalan selama di Bali, Nobby selalu menyertai kami. Karena teman
sekelas dan anaknya juga menyenangkan, kami tidak risih ada orang lain di
antara kami bertiga. Akhirnya banyak foto kami bertiga yang diabadikan oleh
Nobby. Ia semacam juru foto kami bertiga. Sesekali, Nobby ikut berfoto.
Masing-masing dari kami ada foto bersamanya, di beberapa tempat yang kami
anggap layak untuk sebuah pose kenang-kenangan.
Sewaktu di Tanah Lot, Chacha dengan
sangat cantiknya mengabadikan fotoku bersama Nobby. Dengan latar belakang ombak
yang memecah bebatuan pantai, fotoku dengan Nobby jadi terlihat keren. Di pinggir pantai itu, aku berfoto dua
kali. Satu foto, Nobby merangkul pinggangku, sedang foto lainnya, memelukku dari belakang. Aku tidak tahu mengapa saat Chacha menyuruh Nobby merangkul
dan memelukku, aku tidak menolak atau bereaksi. Kami hanya tertawa gembira
melakukan pemotretan bak selebritis. Hanya aku satu-satunya yang berpose
seperti itu. Kedua sahabatku hanya berfoto layaknya orang berpose normal saja.
Aku menghela napas panjang melihat
fotoku bertiga yang baru saja meluncur dari buku Ke Sarang Penyamun. Apalagi
kalau mengingat pose bersama Nobby. Aku tidak tahu kemana foto itu berada kini.
Berharap tidak ada di rumah supaya tidak membuat geger bumi. Namun jujur, aku terkadang
ingin juga sesekali melihat foto-foto itu.
Masih memegangi foto itu aku kembali
tersenyum gara-gara mengingat sebuah peristiwa di teras rumahku sebelum kami
liburan kenaikan kelas. Nobby datang menemuiku selepas isya, dia .... “Ma,
sebentar ya bantuinnya. Nanggung nih, Revo masih nyari bahan untuk artikel yang
mau ditulis.” Teriakkan Revo mengagetkan lamunanku tentang sebuah ucapan Nobby,
selepas isya itu.
“Iya sayang, nggak pa pa. Mama juga
baru ngeluarin buku-buku dari lemari,” kataku menjawab teriakkan Revo.
Buru-buru foto itu kumasukkan lagi ke dalam buku yang terjatuh itu, memulai
lagi beres-beres lemari.
***
“Permisi, assalamu’alaikum...”
terdengar suara dari luar rumah. Aku dan Revo sedang membersihkan buku-buku di
teras belakang, dekat kolam ikan. Bel rumah menyusul berbunyi sesudahnya.
“Biar Revo yang bukakan pintu, Ma.”
Bergegas Revo berdiri dan mencari tahu siapa yang datang berkunjung. Segera
kuletakkan buku-buku dan bergegas mengikuti Revo menuju pintu.
Ternyata yang datang Pak Marsudi,
pemilik rumah sebelah. “Bu Nurul, ini saya,” sapanya. Mendengar suaraku
mempersilakan masuk, Revo membiarkan Pak Marsudi masuk dan duduk. “Ma, Revo
nerusin ya...” Aku mengangguk. Sesudah menyapa dan menyalami Pak Marsudi, Revo
masuk ke dalam meneruskan pekerjaan bersih-bersih lemari buku.
“Maaf Bu Nurul mengganggu pagi-pagi,”
ucapan Pak Marsudi begitu duduk. Aku tentu mengatakan tidak apa-apa, karena
memang tidak mengganggu apapun pagi itu. Akhirnya, aku tahu maksud
kedatangannya pagi itu. Ia kehilangan kontak dengan Kristina, yang mengontrak
rumahnya. Aku pun mengatakan kalau sudah lama tidak berjumpa Kristina. “Sudah
coba Bapak hubungi hapenya?” Ia mengangguk, kemudian bilang bahwa nomornya
tidak aktif.
“Nomor mana yang Bapak hubungi?”
tanyaku ingin tahu. Si pemilik rumah sebelah langsung mengeluarkan hapenya,
melihat nomor milik Kristina. “Yang ini yang saya hubungi Bu....” Ia
memperlihatkan nomor Kristina yang ada di hapenya. Aku menggeleng. Aku pamit ke
dalam mengambil hape.
“Saya biasa menghubungi Kris memakai
nomor yang ini. Nomor ini juga yang dia berikan sebelumnya bukan seperti nomor
yang Bapak tunjukkan. Mungkin Kris memakai dua nomor,” kataku seraya
menunjukkan nomor hape Kris kepada Pak Marsudi.
“Coba saya hubungi Kris!” kataku. Pak
Marsudi mengangguk.
Aneh, nomor yang kuhubungi juga tidak
aktif. Maaf, nomor yang anda tuju berada
di luar jangkauan. Terdengar suara otomatis begitu nomor yang dituju tidak
aktif. Dahi Pak Marsudi mengernyit begitu mengetahui nomor yang kumiliki juga
tidak bisa tersambung ke Kristina.
“Biasanya, seminggu 3 kali ada yang
datang membersihkan rumah, Pak,” kataku, berharap Pak Marsudi tidak terlalu
khawatir. Kerutan di dahinya melebar, matanya sedikit membulat, bibirnya
tersenyum.
“Nanti kalau si ibu itu datang, saya
tanyakan,” lanjutku kemudian.
“Baik-baik, terima kasih banyak Bu
Nurul. Saya tunggu kabarnya, ya...” Pak Marsudi terlihat akan mengakhiri
kunjungannya. Sebelum benar-benar berdiri, aku iseng menanyakan mengapa ia
mencari Kristina.
“Rumah mau saya jual, Bu! Perlu
uangnya,” sambil tersenyum. “Kristina sudah tahu waktu dia mau kontrak rumah
saya tempo hari. Saya cuma bilang selama belum ada yang jadi, silakan dikontrak
paling lama 2 tahun. Soalnya minggu kemarin, ada yang telpon saya, dia juga
sudah ke sini melihat keadaan rumah. Cocok katanya....”
“Oh gitu ceritanya,” aku
mengangguk-angguk, mengerti maksud Pak Marsudi mencari Kristina. “Baiklah,
nanti saya bantu cari informasi mengenai Kris,” aku menawarkan diri tetap
membantunya. Pak Marsudi pun pamit sebelum aku menyuguhkan minuman kepadanya.
***
Sejak kedatangan Pak Marsudi ke rumah
tempo hari, wanita paruh baya yang biasa membersihkan rumah Kris, tidak
kelihatan datang. Aku jadi tidak bisa mencari tahu keberadaan Kristina.
Anehnya, di halaman depan rumah banyak terdapat tumpukan material bangunan. Ada
pasir, batu-batu, beberapa zak semen, juga rangka-rangka. Pak Marsudi pun tidak
menghubungiku. Aku dan anak-anak baru saja sampai Jakarta lagi. Selama 12 hari
aku liburan bersama mereka di Malang. Suamiku tidak ikut karena ditugaskan ke
Manado dilanjutkan ke Kota Kinibalu, negara bagian Malaysia di utara Pulau
Kalimantan. Rumah kami kosong selama beberapa hari. Aku juga belum bertanya
kepada Tiara, tetangga depan rumahku. Iseng-iseng aku menelpon nomor hape
Kristina. Tetap tidak aktif di dua nomor miliknya.
Pagi itu, aku seperti biasa beres-beres
rumah sekalian membuatkan sarapan. Anak-anak baru masuk sekolah seminggu lagi.
Ini liburan sekolah terlama yang pernah mereka alami. Aku kemudian membuka
pesan inbox melalui tabletku. Mengecek, barangkali ada pesanan online yang masuk. Selama liburan,
sengaja aku off transaksi dulu supaya
benar-benar merasakan liburan. Jauh dari rutinitas dan hingar-bingar Jakarta.
Ada banyak pesan yang masuk, tapi
entah kenapa mataku tertuju sebuah pesan yang dikirimkan seseorang bernama
“peracik aksara”. Aku tidak mengenalnya. Subjek pesannya berbunyi “Nih..
silakan dilihat,” semakin membuatku heran sebelum membuka pesannya secara utuh.
Dan ketika sudah membuka penuh pesannya,
barulah aku terbelalak. Dua fotoku bersama Nobby, yang ia sedang memelukku dari
belakang dan merangkul pinggangku. Foto-foto lama di Tanah Lot, Bali. Aku hanya
bisa menghela napas panjang menyaksikan keduanya. Buru-buru kubuka profil si
Peracik Aksara, menelisik dengan seksama siapa gerangan dirinya. Namun begitu,
tak banyak yang bisa kuketahui dari profilnya.
Tampaknya si pemilik akun sengaja
menyembunyikan jati dirinya. Tidak mau orang mengetahuinya. Yang bisa kulihat
di galeri fotonya, beberapa kaver buku-buku karya Enid Blyton: Berkelana, Rahasia di Pulau Kirin, Memburu
Kereta Hantu, dan Rahasia Harta Karun. Ahh, rupanya ia penggemar karya Enid
Blyton juga. Pikiranku langsung mengarah kepada Nobby. Pasti dia yang mengirimi
foto-foto itu. Tapi kenapa memakai nama Peracik Aksara?
Sejak perpisahan SMA dulu, aku tidak
pernah secuil pun berjumpa dengan Chacha, Ernita maupun Nobby. Sayangnya lagi, ketiga
sahabatku itu bukan tipe penggemar medsos. Tak pernah kutemui akun mereka di
twitter maupun fesbuk. Aku mulai ragu-ragu mengira Nobby sebagai pengirim
foto-foto jadul itu. Aku terus menelisik profil Peracik Aksara. Sayangnya,
informasi mengenai dirinya juga sangat minim.
Siapa pun kamu, terima kasih kiriman foto-foto masa laluku. Kalau kamu
Nobby, hai apa kabarmu? Tinggal di mana sekarang? Sengaja aku kirimkan pesan kepada si
Peracik Aksara dengan langsung menyebutnya sebagai Nobby. Iseng, siapa tahu
dibalas olehnya. Tidak terlalu berharap juga sebenarnya. Aku pun hanya menanti
dengan sabar.
Tiap hari aku mengecek inbox, tak ada
pesan masuk dan balasan dari si Pencari Aksara. Ada yang berbeda tampilan
profilnya pada hari kelima. Pada foto profilnya, dia memasang kaver buku Enid
Blyton yang berjudul “Berkelana”. Dalam kolom komentar foto profilnya, si
Peracik Aksara menuliskan kalimat “Akhir petualangan bukan akhir sebuah kisah
tentang keberanian.” Hanya tulisan itu yang bercokol dalam fesbuknya. Tampaknya
si pemilik akun ingin berteka-teki denganku.
Selagi aku menerka teka-teki dari si
Peracik Aksara, terdengar suara berisik dari rumah sebelah. Suara seperti orang
sedang memaku, menggedor-gedor tembok. Sesungguhnya, aku sudah melihat banyak
tukang yang bekerja di rumah Kristina 3 hari yang lalu. Namun baru mulai hari
ini mereka menimbulkan suara berisik karena tembok digedor-gedori. Dentuman
tembok dipukul terdengar jelas pada tembok rumahku. Tembok rumah kami menyatu,
sehingga segala hal yang mengenai tembok sebelah, pasti juga terdengar dari
rumahku. Yang menjengkelkan, mereka bekerja sampai malam. Bahkan selepas magrib
masih saja bekerja. Siang tadi bahkan, para tukang meninggikan tembok belakang
untuk membuat bangunan lantai 2. Ceceran semen mengenai tamanku di halaman
belakang. Aku sempat berteriak supaya mereka hati-hati dan lebih peduli.
Merasa sebagai tetangga yang paling
terganggu, aku hendak protes. Sama sekali tak ada omongan minta izin kalau ingin
merenovasi rumah. Orang yang pertama kutelpon adalah Pak Marsudi. Namun
nomornya tidak aktif. Setali dengan hape Kristina yang dua-duanya tak aktif
juga. Menyebalkan...
Akhirnya, protes urung kulakukan.
Menunggu suamiku pulang dari Kinibalu. Biar dia sebagai kepala keluarga yang
melayangkan protes kepada siapa pun pemilik rumah sebelah. Whatsapp hapeku berbunyi. Sebaris pesan masuk: Sayang, aku nggak jadi pulang minggu ini. Sama bos diminta ke Bangkok,
ada pertemuan regional di sana. Mungkin tidak bisa merayakan ulang tahunmu, 4 Juli nanti. Maaaaafffff ya, miss
u....muachh.... Jangan sedih ya. Nanti aku bawain oleh-oleh kado ulang tahun
dehh.... Mau apa??
Ulang tahun?? Ya ampunnn.., gara-gara
sibuk mengurusi anak-anak yang libur juga tetangga sebelah yang sableng, aku
lupa sendiri kalau 4 Juli adalah hari lahirku. Meskipun tak pernah dirayakan,
tanpa ada suamiku pas ulang tahun, rasanya juga kurang afdol. Kami selalu kompak
melakukan banyak selebrasi berempat. Bersama-sama selalu. Kali ini, keadaan
tentu tak mungkin. Suamiku ada di belahan negara yang jauh dari Jakarta. Harus
tetap ceria walau hanya bertiga merayakannya kelak.
Lamunanku buyar seiring gedoran
tembok oleh para tukang yang sedang membangun di sebelah. Buangan napas sebal
sudah berulang kali aku semburkan. Toh keadaan tak berubah juga. Kulihat tanda
berkedip-kedip di tabletku. Menandakan ada pesan masuk di inbox. Mudahan
pesanan online, pikiranku cepat. Dan
ternyata benar adanya. Ada 4 orang yang memesan daganganku. Sejenak aku
melupakan dar-der tembok digempur.
***
Malam hari, gelisah yang melandaku
membikin susah memejamkan mata. Hawa malam itu dinginnya terasa dikulit padahal
selimut sudah menutupi tubuhku. Jendela kamarku memang tengahnya berkisi-kisi
sehingga hawa malam dingin atau panas, mudah saja menyeruak ke dalam kamar. Kedua
anakku sudah kuminta kruntelan
denganku, tapi keduanya beralasan sendiri-sendiri. Jadilah malam yang dingin
aku sendirian di kamar.
Segera kupasang earphone dan memutar lagu-lagu. Sambil mendengarkan lagu-lagu, aku
berselancar di fesbuk. Profil si Peracik Aksara belum berubah, masih seperti
hari-hari kemarin. Aku teringat teka-teki yang dituliskan PA di kolom komentar
foto profilnya, “Akhir petualangan bukan akhir sebuah kisah tentang
keberanian.” Bukannya mencari tahu jawaban teka-teki itu, aku justru mengembara
ke masa SMA. Kejadian di teras rumahku kala itu, kembali dipertontonkan lagi.
Nobby
datang mengembalikan novel yang dipinjamnya sekaligus berpamitan. Ia akan
berlibur di rumah eyangnya di Blambangan Jawa Timur. Sebelum pergi dari
rumahku, mendadak ia menanyakan sesuatu padaku. Sesuatu yang membuatku gelisah malam
itu. Pertanyaannya to the point.
“Entah
kenapa, aku kok merasa dekat denganmu. Nyatanya, memang kita dekat, karena
selalu bersama-sama, kan....” Semua omongannya aku simak sungguh-sungguh.
“Hanya, kok aku tiba-tiba pingin sesuatu yang lebih darimu. Nggak tahu denganmu
sih?” Nobby saat mengucapkan kalimat-kalimatnya menatap mataku. Tidak
mengarahkan pandangan ke arah lain. Matanya fokus menatapku. Terlihat tenang
dan kalem berbicara. Justru aku yang deg-deg-an.
“Mau
nggak Nurul menjadi pacarku?” Kalimat itu benar-benar mengejutkanku. Meskipun
aku berani menatap matanya, tak urung juga, jantungku tak berhenti berdegup
kencang. Aku yakin, raut wajahku pasti berubah ketika itu.
“Nggak
usah kamu jawab sekarang. Santai saja!” Ucapnya kemudian, sebelum aku sempat
berkata-kata. “Sudah ya, aku pamit. Sampai ketemu bulan depan,” katanya sekaligus
memohon diri. Aku hanya mengangguk pelan begitu Nobby pamit kedua kalinya. Aku memberanikan diri bicara. “Kamu mau aku
menjawab pertanyaanmu sekarang?” Meskipun berani ngomong begitu, aku juga belum
tahu akan menjawab apa.
“Nggak
usah. Nanti saja, kalau kita sudah ketemu bulan depan.” Kepalanya menggeleng.
Bibirnya menyunggingkan senyuman. Kami bersalaman.
Aku
mengantar Nobby sampai ke halaman depan. Menemani mengenakan helm, mengenakan
jaket, dan menungguinya men-start motornya. “Ohya, Lima Sekawan yang Berkelana,
aku pinjam dong. Boleh, kan?” Tiba-tiba ia menghentikan men-start motornya.
“Ada,”
jawabku, mengangguk pelan trus bergegas hendak masuk ke dalam. Sebelum aku
berbalik, Nobby menjamah tangan kananku. Aku melihat matanya. “Boleh aku minta
fotomu, Rul? Satu saja. Yang fotomu sendirian.” Otakku tidak memprogram kata
‘tidak’, malahan menyuruh kepalaku mengangguk mengiyakan permintaan Nobby.
“Sebentar
ya, aku ambilkan bukunya.”
Di
dalam kamar, baru aku tersadar dengan ucapanku hendak memberikan fotoku
padanya. Fotoku di atas vespa ayah sudah kupegang. Antara bimbang dan iya, ada
sebuah dorongan halus dalam hati yang menyuruhku memberikan foto itu.
Buku
Lima Sekawan, Berkelana, berikut
fotoku, kuserahkan pada Nobby. Kedua barang itu berpindah tangan sekejap saja.
Kulihat Nobby tersenyum menerimanya. “Makasih ya, Rul. Kamu memang baik.” Ia
mengelus punggung tangan kananku sebelum men-start motornya lagi. “Dah ya, aku
pulang. Sampai bulan depan.”
Di tempat tidur malam itu, gelisahku
perlahan menguap. Aku tersenyum sendiri mengingat kenangan itu. Apakah saat
itu, pada saat Nobby menyatakan perasaannya, aku juga benar-benar suka padanya,
gumamku. Kalau aku nggak suka padanya
kenapa aku memberikan fotoku padanya. Gumam keduaku keluar lagi. Aku menarik
napas mengingat cerita lama itu.
Ketika
bulan depan kami bertemu lagi, aku tak pernah menjawab pertanyaannya apakah mau
menjadi pacarnya. Dalam beberapa kesempatan, aku sering bepergian dengannya.
Kalau aku ingin ditemani membeli sesuatu, Nobby dengan sukarela mengantarkanku
kemana saja. Aku membiarkan ia datang pada hari sabtu malam atau kapan saja ia
mau datang. Kalau ada cowok lain mendatangiku sabtu malam, aku selalu menyuruh
Mak Tum, pembantu rumahku, mengatakan aku tidak ada. Juga orang rumah yang
kebetulan ada.
Ketika
ulang tahunku yang ke-18, aku mengajaknya makan di sebuah saung sunda. Di sana
aku sengaja memesan es kelapa muda 1 buah dan minum sebatok berdua. Aku biarkan hidung kami
saling menempel ketika menyedot air kelapa. Dan untuk pertama kalinya, di usia
18 itu, aku biarkan bibirku dicium olehnya meskipun setelah mencium, Nobby berulang
kali meminta maaf padaku. Aku hanya memeluknya kemudian.
***
Renovasi rumah sebelah makin parah.
Gedar-gedornya tidak aturan. Bising sekali bunyinya. Aku hanya bisa menarik
napas, mencoba bersabar sembari menunggu suamiku datang.
Suatu siang, aku sedang mengecek
inbox. Melihat pesanan yang masuk. Dar-der-dor, dag-dig-dug-dug-dug, pekerjaan
renovasi terus terdengar dari rumahku. Ada beberapa orang yang mengirimkan
pesan, ingin memesan barang. Alhamdulillah,
ucapku lirih. Sebelum meneruskan membaca pesanan, aku klik si Peracik Aksara.
Tetap masih belum berubah. Pada saat melihat foto profil si PA, aku teringat
sesuatu: Buku Lima Sekawan, Berkelana. Buru-buru
kuambil buku itu dari lemari buku. Kubuka daftar isi buku. Menelusuri semua bab
dari kisah petualangan Berkelana.
Bab 23 tertulis “Akhir Petualangan”.
Aku tersenyum sumringah bisa memecahkan teka-teki si Peracik Aksara. Hups !!
Aku belum menemukan siapa pemilik akun fesbuk yang sedang kujelajahi. Bab 23
mulai halaman 260, segera aku membukanya. Tak ada yang aneh di sini. Dengan
cara speed reading, aku berusaha
mencari tahu.
“Bingo...!! Kena kamu,” ujarku
senang.
Di halaman itu ada tokoh bernama
Nobby yang merupakan sahabat Julian, Dick, Anna, dan George. Pada dunia
nyataku, Nobby adalah nama panggilan Fabian, pria yang mengutarakan perasaannya
kepadaku sebelum ia pergi berlibur ke rumah eyangnya, puluhan tahun lalu.
Tebakanku padanya tak salah, saat tahu foto-foto itu dikirimkan kepadaku. Hanya
kenapa ia harus bersembunyi dibalik nama Peracik Aksara. Nama itu justru yang
membuatku bimbang.
Aku memang tak pernah menjawab
pertanyaannya. Kutunjukkan semua rasa sukaku padanya dengan tindakan. Sayangnya,
Fabian hanya ingin aku mengatakan secara verbal rasa sukaku. Dan itu, tak
pernah terjadi sampai aku menerima pinangan Mas Trisnawan Wuryanto, kakak angkatan
di kampusku. Karena Trisnawan, aku tergerak berhijab dan berusaha menjadi istri
yang sholeha. Melupakan masa laluku. Melupakan Nobby Fabian.
“Kalau sekarang aku tiba-tiba
mengingat Nobby Fabian, salahkah aku yang sudah bermain api dalam hati?” Kegalauan
seketika melanda siangku. Astagfirullah..., astagfirullah. Ampuni aku, ya Allah....
Astagfirullah.... Mulutku komat-kamit mengucapkan istigfar berulang-ulang.
Dar-der-dor tembok digedor, brak-bruk
barang dihempaskan masih terdengar nyaring dari rumah sebelah. “Beri aku
kesabaran ya Allah.” Hanya itu yang kumintakan pada-Nya. Lamat-lamat terdengar
suara assalamu’alaikum....
“Revoo, tolong bukakan pintu. Lihat
siapa yang datang ke rumah kita,” teriakku menyuruh anak keduaku itu. Ia sedang
mengiringi kakaknya bernyanyi. Revo piawai bermain piano. Mereka sering banget
berduet, mengisi acara-acara di sekolah atau undangan-undangan tertentu.
Suara Revo terdengar mempersilakan
tamu itu masuk. Sesudah merasa jilbabku terpasang baik dan rapi, bergegas aku
keluar menemuinya. Cuaca di luar yang terik, dengan panas matahari yang
menyorot tajam, membuat ruang tamuku agak redup. Aku tidak menyalakan lampu
ruang tamu. “Assalamu’alaikum...” tamu itu berujar salam kepadaku.
“Saya dari rumah sebelah.” Mengetahui
yang datang pemilik rumah sebelah, hampir saja menaikkan tensiku. Hampir juga
ingin kulabrak cepat. Sabar Nurul,
sabar.... Kata hatiku menyuruhku sabar.
“Mohon maaf, saya baru sowan ke sini.
Maaf sekali, tukang-tukang saya sampai mengganggu ketentraman keluarga Ibu
gara-gara renovasi ngebut ini.” Aku masih berdiam diri mendengarkannya. Tamu di
hadapanku perawakannya tinggi besar, agak gemukan, memakai peci putih, berjambang
dan berjanggut lebat, serta berkacamata minus yang tebal.
“Saya baru tiba dari Manila kemarin
siang.” Masa bodoh pikirku. Mau dari mana kek, yang pasti urusan renovasinya sudah
mengganggu ketentraman rumahku.
“Orang yang saya suruh mengurus izin
kepada para tetangga mendapat musibah. Ia tertabrak sebelum renovasi rumah
dimulai.” Inalillahi..., aku sempat berucap dalam hati. Aku langsung
mengendurkan emosi yang sempat meningkat.
“Saya memang minta dipercepat
renovasinya karena segera akan ditempati anak-anak dan istri saya.” Ia kembali
menjelaskan.
“Maaf ya, dengan siapa saya
berhadapan sekarang?” tanyaku sebelum menanggapi semua perkataannya.
“Astagfirullah, saya lupa mengenalkan
diri kepada ibu. Saya Fabian Robbiyanto.” Sambil mengucapkan namanya, ia
berdiri mendekat ke arahku, serta mengulurkan tangannya. Aku hanya bisa
terperangah sedikit mendengar ia sebutkan namanya. Aku sama sekali tidak
mengenalnya gara-gara cambang dan janggut lebat di wajahnya. Tubuhnya yang agak
gemuk turut membuatku pangling. Dia juga tak mengenaliku karena hijabku. Sebelum
aku menjawab salam perkenalannya, aku merasakan denyut jantungku mulai berdetak
cepat.
“Maaf, Anda Peracik Aksara alias si
Nobby di Akhir Petualangan? Dari Berkelananya Lima Sekawan Enid Blyton?”
Sengaja kukatakan begitu di
hadapannya. Jantungku sudah tak bisa kuatur untuk tenang. Ia bagaikan musik
rock yang berdentum keras di rongga dadaku. Pria di hadapanku hanya terdiam sesudah
kuberondong dengan Nobby, Akhir Petualang, dan Berkelananya Enid Blyton.
“Nurul? Kamu Nurul? Nurul Prastiti?”
Jabat tangannya masih menggenggam erat tanganku. Ia tak melepaskan sambil terus
menyebut-nyebut namaku. Jantungku tak mengendur, berdenyut cepat dan keras.
Sayup-sayup dari dalam aku mendengar
dentingan piano Revo yang mengiringi Clara menyanyikan Bukan Cinta Biasa milik Siti Nurhaliza. Huhhh, entah apa yang
berkecamuk di kepala, hati, dan perasaanku dalam situasi siang yang
menggedor-gedor dada. Fabian masih menggenggam erat tanganku. Dan kami hanya
terdiam sesudahnya.
Begitu banyak cerita. Ada suka ada duka.
Cinta yang ingin kutulis. Bukanlah cinta biasa.
Dua keyakinan beza. Masa’alah pun tak
sama.Ku tak ingin dia ragu. Mengapa mereka selalu bertanya.
Cintaku bukan di atas kertas. Cintaku
getaran yang sama. Tak perlu dipaksa..tak perlu dicari. Kerna kuyakin ada
jawabnya.
Andai kubisa merubah semua. Hingga tiada
orang terluka.Tapi tak mungkin...ku tak berdaya. Hanya yakin menunggu jawabnya.
Janji terikat setia. Masa merubah segala.
Mungkin dia kan berlalu. Ku tak mahu mereka tertawa.
Diriku hanya insan biasa. Miliki naluri
yang sama.Tak ingin berpaling... tak ingin berganti. Jiwaku sering saja
berkata.
Andai kumampu ulang semua. Ku pasti tiada
yang curiga. Kasihkan hadir tiada terduga. Hanya yakin menunggu jawaban.
&&&&&&&
Dita Titah, kucomot yaaa ceritamu.....
BalasHapus