BUKAN CINTA BIASA

“K
ristina masih tinggal di situ? Aku kok jarang melihatnya, ya?” tanya suamiku, sepulang kami dari subuhan di masjid kompleks. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Sebagai wanita pekerja, Kris selalu berangkat pagi dan pulang malam. Menurut pengakuannya, ia bekerja sebagai sekretaris direktur. Wajar saja apabila jam kerjanya mengikuti aktivitas  si bos. Beruntungnya, Kris masih lajang.
Minggu pagi, 5 bulan yang lalu, aku dan Tiara -tetangga depan rumahku-, sedang belanja di tukang sayur keliling. Kris keluar dari rumahnya ikutan nimbrung belanja. Di situlah awal perkenalan kami. Kris orangnya cantik dan ramah. Kesan pertama yang aku rasakan, dia tidak sombong. Justru tampak luwes dan supel dalam bergaul. Tutur dan sapanya juga sopan. Ia mengaku hanya tinggal sendirian di situ. Tiga kali dalam seminggu, ada wanita paruh baya dari kampung belakang kompleks yang datang  membersihkan rumahnya.
Kalau suamiku jarang bertemu Kris, kayaknya sah-sah saja. Suamiku juga selalu berangkat pagi. Sebelum matahari meronakan ufuk timur, ia sudah meninggalkan rumah supaya tidak terjebak kemacetan. Biasanya, jam 5 lebih dikit ia sudah lenyap dibawa angkutan yang lewat depan kompleks. Sesudah suamiku pergi, mulailah rutinitas pagiku berjalan.
Sudah seminggu ini, anak-anak libur kenaikan kelas. Kesibukanku justru jadi bertambah ketika mereka tidak sekolah. Itu juga yang membuat aku jarang bertemu Kris, akhir-akhir ini. Akan tetapi, aku masih sempat melihat wanita yang sering membersihkan rumahnya. Kris mengontrak rumah sebelah selama 2 tahun. Ini tahun pertama ia menempati rumah sebelah tersebut.
Hari itu, selesai menyiapkan sarapan, aku mengecek pesanan melalui tabletku. Sudah tiga tahun belakangan ini aku berbisnis online. Lumayan menghasilkan sehingga bisa menambah uang belanja dan jajan anak-anak. Inbox pesanan masih NIL,  membuat aku ingin mengerjakan hal lain pagi itu. Mataku menatap lemari buku yang kusam, diselimuti debu. Aku ingin membersihkannya. Anak sulungku sedang sarapan. Ia mau pergi bersama teman-temannya sehabis sarapan. Sementara adiknya masih asyik browsing memakai laptopnya. Entah apa yang sedang dicarinya.
Setelah melepas kepergian Clara, aku langsung meneruskan beberes lemari buku. Rencanaku, semua koleksi buku di lemari hendak kukeluarkan. Satu per satu buku mau kubersihkan, juga lemarinya. “Revo, nanti mama dibantuin, ya,” pintaku. Revo yang sedang asyik di depan laptopnya menengok. Bibirnya tersenyum kemudian dari mulutnya keluar kata-kata, “Oke, Ma. Pasti Revo bantuin.” Mendengar jawabannya aku lega. Lalu kembali mengeluarkan buku-buku dari lemari.
Sewaktu mengeluarkan koleksi buku-buku karya Enid Blyton, tak sengaja satu buku terjatuh. Ke Sarang Penyelundup, begitu judul buku yang terjatuh itu. Aku letakkan setumpuk buku Enid Blyton yang lain dan mengambil buku yang terjatuh. Membukanya karena ingin tahu tahun berapa buku itu aku tanda tangani. Aku selalu punya kebiasaan menandatangani buku-buku koleksiku serta selalu memberikan catatan kecil sesuai keadaan yang terjadi pada saat itu. Aku tersenyum begitu tahu buku Enid Blyton itu kubeli saat aku masih kelas 2 SMA. Secara serampangan aku membuka halaman buku itu. Sebuah foto terjatuh dari dalamnya. Terlihat fotoku bersama Chacha dan Ernita. Dalam foto itu kami duduk di anak tangga sebuah tempat wisata di Bali. Kami sedang melakukan study tour, kala itu. Foto aku bersama kedua sahabatku itu hasil bidikan Nobby. Aku tersenyum mengenang kembali peristiwa dalam foto itu.
Dalam beberapa kesempatan berjalan-jalan selama di Bali, Nobby selalu menyertai kami. Karena teman sekelas dan anaknya juga menyenangkan, kami tidak risih ada orang lain di antara kami bertiga. Akhirnya banyak foto kami bertiga yang diabadikan oleh Nobby. Ia semacam juru foto kami bertiga. Sesekali, Nobby ikut berfoto. Masing-masing dari kami ada foto bersamanya, di beberapa tempat yang kami anggap layak untuk sebuah pose kenang-kenangan.
Sewaktu di Tanah Lot, Chacha dengan sangat cantiknya mengabadikan fotoku bersama Nobby. Dengan latar belakang ombak yang memecah bebatuan pantai, fotoku dengan Nobby jadi terlihat  keren. Di pinggir pantai itu, aku berfoto dua kali. Satu foto, Nobby merangkul pinggangku, sedang foto lainnya, memelukku dari belakang. Aku tidak tahu mengapa saat Chacha menyuruh Nobby merangkul dan memelukku, aku tidak menolak atau bereaksi. Kami hanya tertawa gembira melakukan pemotretan bak selebritis. Hanya aku satu-satunya yang berpose seperti itu. Kedua sahabatku hanya berfoto layaknya orang berpose normal saja.
Aku menghela napas panjang melihat fotoku bertiga yang baru saja meluncur dari buku Ke Sarang Penyamun.  Apalagi kalau mengingat pose bersama Nobby. Aku tidak tahu kemana foto itu berada kini. Berharap tidak ada di rumah supaya tidak membuat geger bumi. Namun jujur, aku terkadang ingin juga sesekali melihat foto-foto itu.
Masih memegangi foto itu aku kembali tersenyum gara-gara mengingat sebuah peristiwa di teras rumahku sebelum kami liburan kenaikan kelas. Nobby datang menemuiku selepas isya, dia .... “Ma, sebentar ya bantuinnya. Nanggung nih, Revo masih nyari bahan untuk artikel yang mau ditulis.” Teriakkan Revo mengagetkan lamunanku tentang sebuah ucapan Nobby, selepas isya itu.
“Iya sayang, nggak pa pa. Mama juga baru ngeluarin buku-buku dari lemari,” kataku menjawab teriakkan Revo. Buru-buru foto itu kumasukkan lagi ke dalam buku yang terjatuh itu, memulai lagi beres-beres lemari.
***
“Permisi, assalamu’alaikum...” terdengar suara dari luar rumah. Aku dan Revo sedang membersihkan buku-buku di teras belakang, dekat kolam ikan. Bel rumah menyusul berbunyi sesudahnya.
“Biar Revo yang bukakan pintu, Ma.” Bergegas Revo berdiri dan mencari tahu siapa yang datang berkunjung. Segera kuletakkan buku-buku dan bergegas mengikuti Revo menuju pintu.
Ternyata yang datang Pak Marsudi, pemilik rumah sebelah. “Bu Nurul, ini saya,” sapanya. Mendengar suaraku mempersilakan masuk, Revo membiarkan Pak Marsudi masuk dan duduk. “Ma, Revo nerusin ya...” Aku mengangguk. Sesudah menyapa dan menyalami Pak Marsudi, Revo masuk ke dalam meneruskan pekerjaan bersih-bersih lemari buku.
“Maaf Bu Nurul mengganggu pagi-pagi,” ucapan Pak Marsudi begitu duduk. Aku tentu mengatakan tidak apa-apa, karena memang tidak mengganggu apapun pagi itu. Akhirnya, aku tahu maksud kedatangannya pagi itu. Ia kehilangan kontak dengan Kristina, yang mengontrak rumahnya. Aku pun mengatakan kalau sudah lama tidak berjumpa Kristina. “Sudah coba Bapak hubungi hapenya?” Ia mengangguk, kemudian bilang bahwa nomornya tidak aktif.
“Nomor mana yang Bapak hubungi?” tanyaku ingin tahu. Si pemilik rumah sebelah langsung mengeluarkan hapenya, melihat nomor milik Kristina. “Yang ini yang saya hubungi Bu....” Ia memperlihatkan nomor Kristina yang ada di hapenya. Aku menggeleng. Aku pamit ke dalam mengambil hape.
“Saya biasa menghubungi Kris memakai nomor yang ini. Nomor ini juga yang dia berikan sebelumnya bukan seperti nomor yang Bapak tunjukkan. Mungkin Kris memakai dua nomor,” kataku seraya menunjukkan nomor hape Kris kepada Pak Marsudi.
“Coba saya hubungi Kris!” kataku. Pak Marsudi mengangguk.
Aneh, nomor yang kuhubungi juga tidak aktif. Maaf, nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan. Terdengar suara otomatis begitu nomor yang dituju tidak aktif. Dahi Pak Marsudi mengernyit begitu mengetahui nomor yang kumiliki juga tidak bisa tersambung ke Kristina.
“Biasanya, seminggu 3 kali ada yang datang membersihkan rumah, Pak,” kataku, berharap Pak Marsudi tidak terlalu khawatir. Kerutan di dahinya melebar, matanya sedikit membulat, bibirnya tersenyum.
“Nanti kalau si ibu itu datang, saya tanyakan,” lanjutku kemudian.
“Baik-baik, terima kasih banyak Bu Nurul. Saya tunggu kabarnya, ya...” Pak Marsudi terlihat akan mengakhiri kunjungannya. Sebelum benar-benar berdiri, aku iseng menanyakan mengapa ia mencari Kristina.
“Rumah mau saya jual, Bu! Perlu uangnya,” sambil tersenyum. “Kristina sudah tahu waktu dia mau kontrak rumah saya tempo hari. Saya cuma bilang selama belum ada yang jadi, silakan dikontrak paling lama 2 tahun. Soalnya minggu kemarin, ada yang telpon saya, dia juga sudah ke sini melihat keadaan rumah. Cocok katanya....”
“Oh gitu ceritanya,” aku mengangguk-angguk, mengerti maksud Pak Marsudi mencari Kristina. “Baiklah, nanti saya bantu cari informasi mengenai Kris,” aku menawarkan diri tetap membantunya. Pak Marsudi pun pamit sebelum aku menyuguhkan minuman kepadanya.
***
Sejak kedatangan Pak Marsudi ke rumah tempo hari, wanita paruh baya yang biasa membersihkan rumah Kris, tidak kelihatan datang. Aku jadi tidak bisa mencari tahu keberadaan Kristina. Anehnya, di halaman depan rumah banyak terdapat tumpukan material bangunan. Ada pasir, batu-batu, beberapa zak semen, juga rangka-rangka. Pak Marsudi pun tidak menghubungiku. Aku dan anak-anak baru saja sampai Jakarta lagi. Selama 12 hari aku liburan bersama mereka di Malang. Suamiku tidak ikut karena ditugaskan ke Manado dilanjutkan ke Kota Kinibalu, negara bagian Malaysia di utara Pulau Kalimantan. Rumah kami kosong selama beberapa hari. Aku juga belum bertanya kepada Tiara, tetangga depan rumahku. Iseng-iseng aku menelpon nomor hape Kristina. Tetap tidak aktif di dua nomor miliknya.
Pagi itu, aku seperti biasa beres-beres rumah sekalian membuatkan sarapan. Anak-anak baru masuk sekolah seminggu lagi. Ini liburan sekolah terlama yang pernah mereka alami. Aku kemudian membuka pesan inbox melalui tabletku. Mengecek, barangkali ada pesanan online yang masuk. Selama liburan, sengaja aku off transaksi dulu supaya benar-benar merasakan liburan. Jauh dari rutinitas dan hingar-bingar Jakarta.
Ada banyak pesan yang masuk, tapi entah kenapa mataku tertuju sebuah pesan yang dikirimkan seseorang bernama “peracik aksara”. Aku tidak mengenalnya. Subjek pesannya berbunyi “Nih.. silakan dilihat,” semakin membuatku heran sebelum membuka pesannya secara utuh.  Dan ketika sudah membuka penuh pesannya, barulah aku terbelalak. Dua fotoku bersama Nobby, yang ia sedang memelukku dari belakang dan merangkul pinggangku. Foto-foto lama di Tanah Lot, Bali. Aku hanya bisa menghela napas panjang menyaksikan keduanya. Buru-buru kubuka profil si Peracik Aksara, menelisik dengan seksama siapa gerangan dirinya. Namun begitu, tak banyak yang bisa kuketahui dari profilnya.
Tampaknya si pemilik akun sengaja menyembunyikan jati dirinya. Tidak mau orang mengetahuinya. Yang bisa kulihat di galeri fotonya, beberapa kaver buku-buku karya Enid Blyton: Berkelana, Rahasia di Pulau Kirin, Memburu Kereta Hantu, dan Rahasia Harta Karun. Ahh, rupanya ia penggemar karya Enid Blyton juga. Pikiranku langsung mengarah kepada Nobby. Pasti dia yang mengirimi foto-foto itu. Tapi kenapa memakai nama Peracik Aksara?
Sejak perpisahan SMA dulu, aku tidak pernah secuil pun berjumpa dengan Chacha, Ernita maupun Nobby. Sayangnya lagi, ketiga sahabatku itu bukan tipe penggemar medsos. Tak pernah kutemui akun mereka di twitter maupun fesbuk. Aku mulai ragu-ragu mengira Nobby sebagai pengirim foto-foto jadul itu. Aku terus menelisik profil Peracik Aksara. Sayangnya, informasi mengenai dirinya juga sangat minim.
Siapa pun kamu, terima kasih kiriman foto-foto masa laluku. Kalau kamu Nobby, hai apa kabarmu? Tinggal di mana sekarang? Sengaja aku kirimkan pesan kepada si Peracik Aksara dengan langsung menyebutnya sebagai Nobby. Iseng, siapa tahu dibalas olehnya. Tidak terlalu berharap juga sebenarnya. Aku pun hanya menanti dengan sabar.
Tiap hari aku mengecek inbox, tak ada pesan masuk dan balasan dari si Pencari Aksara. Ada yang berbeda tampilan profilnya pada hari kelima. Pada foto profilnya, dia memasang kaver buku Enid Blyton yang berjudul “Berkelana”. Dalam kolom komentar foto profilnya, si Peracik Aksara menuliskan kalimat “Akhir petualangan bukan akhir sebuah kisah tentang keberanian.” Hanya tulisan itu yang bercokol dalam fesbuknya. Tampaknya si pemilik akun ingin berteka-teki denganku.
Selagi aku menerka teka-teki dari si Peracik Aksara, terdengar suara berisik dari rumah sebelah. Suara seperti orang sedang memaku, menggedor-gedor tembok. Sesungguhnya, aku sudah melihat banyak tukang yang bekerja di rumah Kristina 3 hari yang lalu. Namun baru mulai hari ini mereka menimbulkan suara berisik karena tembok digedor-gedori. Dentuman tembok dipukul terdengar jelas pada tembok rumahku. Tembok rumah kami menyatu, sehingga segala hal yang mengenai tembok sebelah, pasti juga terdengar dari rumahku. Yang menjengkelkan, mereka bekerja sampai malam. Bahkan selepas magrib masih saja bekerja. Siang tadi bahkan, para tukang meninggikan tembok belakang untuk membuat bangunan lantai 2. Ceceran semen mengenai tamanku di halaman belakang. Aku sempat berteriak supaya mereka hati-hati dan lebih peduli.
Merasa sebagai tetangga yang paling terganggu, aku hendak protes. Sama sekali tak ada omongan minta izin kalau ingin merenovasi rumah. Orang yang pertama kutelpon adalah Pak Marsudi. Namun nomornya tidak aktif. Setali dengan hape Kristina yang dua-duanya tak aktif juga. Menyebalkan...
Akhirnya, protes urung kulakukan. Menunggu suamiku pulang dari Kinibalu. Biar dia sebagai kepala keluarga yang melayangkan protes kepada siapa pun pemilik rumah sebelah. Whatsapp hapeku berbunyi. Sebaris pesan masuk: Sayang, aku nggak jadi pulang minggu ini. Sama bos diminta ke Bangkok, ada pertemuan regional di sana. Mungkin tidak bisa merayakan ulang tahunmu,  4 Juli nanti. Maaaaafffff ya, miss u....muachh.... Jangan sedih ya. Nanti aku bawain oleh-oleh kado ulang tahun dehh.... Mau apa??
Ulang tahun?? Ya ampunnn.., gara-gara sibuk mengurusi anak-anak yang libur juga tetangga sebelah yang sableng, aku lupa sendiri kalau 4 Juli adalah hari lahirku. Meskipun tak pernah dirayakan, tanpa ada suamiku pas ulang tahun, rasanya juga kurang afdol. Kami selalu kompak melakukan banyak selebrasi berempat. Bersama-sama selalu. Kali ini, keadaan tentu tak mungkin. Suamiku ada di belahan negara yang jauh dari Jakarta. Harus tetap ceria walau hanya bertiga merayakannya kelak.
Lamunanku buyar seiring gedoran tembok oleh para tukang yang sedang membangun di sebelah. Buangan napas sebal sudah berulang kali aku semburkan. Toh keadaan tak berubah juga. Kulihat tanda berkedip-kedip di tabletku. Menandakan ada pesan masuk di inbox. Mudahan pesanan online, pikiranku cepat. Dan ternyata benar adanya. Ada 4 orang yang memesan daganganku. Sejenak aku melupakan dar-der tembok digempur.
***
Malam hari, gelisah yang melandaku membikin susah memejamkan mata. Hawa malam itu dinginnya terasa dikulit padahal selimut sudah menutupi tubuhku. Jendela kamarku memang tengahnya berkisi-kisi sehingga hawa malam dingin atau panas, mudah saja menyeruak ke dalam kamar. Kedua anakku sudah kuminta kruntelan denganku, tapi keduanya beralasan sendiri-sendiri. Jadilah malam yang dingin aku sendirian di kamar.
Segera kupasang earphone dan memutar lagu-lagu. Sambil mendengarkan lagu-lagu, aku berselancar di fesbuk. Profil si Peracik Aksara belum berubah, masih seperti hari-hari kemarin. Aku teringat teka-teki yang dituliskan PA di kolom komentar foto profilnya, “Akhir petualangan bukan akhir sebuah kisah tentang keberanian.” Bukannya mencari tahu jawaban teka-teki itu, aku justru mengembara ke masa SMA. Kejadian di teras rumahku kala itu, kembali dipertontonkan lagi.
Nobby datang mengembalikan novel yang dipinjamnya sekaligus berpamitan. Ia akan berlibur di rumah eyangnya di Blambangan Jawa Timur. Sebelum pergi dari rumahku, mendadak ia menanyakan sesuatu padaku. Sesuatu yang membuatku gelisah malam itu. Pertanyaannya to the point. 
“Entah kenapa, aku kok merasa dekat denganmu. Nyatanya, memang kita dekat, karena selalu bersama-sama, kan....” Semua omongannya aku simak sungguh-sungguh. “Hanya, kok aku tiba-tiba pingin sesuatu yang lebih darimu. Nggak tahu denganmu sih?” Nobby saat mengucapkan kalimat-kalimatnya menatap mataku. Tidak mengarahkan pandangan ke arah lain. Matanya fokus menatapku. Terlihat tenang dan kalem berbicara. Justru aku yang deg-deg-an.
“Mau nggak Nurul menjadi pacarku?” Kalimat itu benar-benar mengejutkanku. Meskipun aku berani menatap matanya, tak urung juga, jantungku tak berhenti berdegup kencang. Aku yakin, raut wajahku pasti berubah ketika itu.
“Nggak usah kamu jawab sekarang. Santai saja!” Ucapnya kemudian, sebelum aku sempat berkata-kata. “Sudah ya, aku pamit. Sampai ketemu bulan depan,” katanya sekaligus memohon diri. Aku hanya mengangguk pelan begitu Nobby  pamit kedua kalinya. Aku  memberanikan diri bicara. “Kamu mau aku menjawab pertanyaanmu sekarang?” Meskipun berani ngomong begitu, aku juga belum tahu akan menjawab apa.
“Nggak usah. Nanti saja, kalau kita sudah ketemu bulan depan.” Kepalanya menggeleng. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Kami bersalaman.
Aku mengantar Nobby sampai ke halaman depan. Menemani mengenakan helm, mengenakan jaket, dan menungguinya men-start motornya. “Ohya, Lima Sekawan yang Berkelana, aku pinjam dong. Boleh, kan?” Tiba-tiba ia menghentikan men-start motornya.
“Ada,” jawabku, mengangguk pelan trus bergegas hendak masuk ke dalam. Sebelum aku berbalik, Nobby menjamah tangan kananku. Aku melihat matanya. “Boleh aku minta fotomu, Rul? Satu saja. Yang fotomu sendirian.” Otakku tidak memprogram kata ‘tidak’, malahan menyuruh kepalaku mengangguk mengiyakan permintaan Nobby.
“Sebentar ya, aku ambilkan bukunya.”
Di dalam kamar, baru aku tersadar dengan ucapanku hendak memberikan fotoku padanya. Fotoku di atas vespa ayah sudah kupegang. Antara bimbang dan iya, ada sebuah dorongan halus dalam hati yang menyuruhku memberikan foto itu.
Buku Lima Sekawan, Berkelana, berikut fotoku, kuserahkan pada Nobby. Kedua barang itu berpindah tangan sekejap saja. Kulihat Nobby tersenyum menerimanya. “Makasih ya, Rul. Kamu memang baik.” Ia mengelus punggung tangan kananku sebelum men-start motornya lagi. “Dah ya, aku pulang. Sampai bulan depan.”
Di tempat tidur malam itu, gelisahku perlahan menguap. Aku tersenyum sendiri mengingat kenangan itu. Apakah saat itu, pada saat Nobby menyatakan perasaannya, aku juga benar-benar suka padanya, gumamku.  Kalau aku nggak suka padanya kenapa aku memberikan fotoku padanya. Gumam keduaku keluar lagi. Aku menarik napas mengingat cerita lama itu.
Ketika bulan depan kami bertemu lagi, aku tak pernah menjawab pertanyaannya apakah mau menjadi pacarnya. Dalam beberapa kesempatan, aku sering bepergian dengannya. Kalau aku ingin ditemani membeli sesuatu, Nobby dengan sukarela mengantarkanku kemana saja. Aku membiarkan ia datang pada hari sabtu malam atau kapan saja ia mau datang. Kalau ada cowok lain mendatangiku sabtu malam, aku selalu menyuruh Mak Tum, pembantu rumahku, mengatakan aku tidak ada. Juga orang rumah yang kebetulan ada.
Ketika ulang tahunku yang ke-18, aku mengajaknya makan di sebuah saung sunda. Di sana aku sengaja memesan es kelapa muda 1 buah dan minum  sebatok berdua. Aku biarkan hidung kami saling menempel ketika menyedot air kelapa. Dan untuk pertama kalinya, di usia 18 itu, aku biarkan bibirku dicium olehnya meskipun setelah mencium, Nobby berulang kali meminta maaf padaku. Aku hanya memeluknya kemudian.
***
Renovasi rumah sebelah makin parah. Gedar-gedornya tidak aturan. Bising sekali bunyinya. Aku hanya bisa menarik napas, mencoba bersabar sembari menunggu suamiku datang.
Suatu siang, aku sedang mengecek inbox. Melihat pesanan yang masuk. Dar-der-dor, dag-dig-dug-dug-dug, pekerjaan renovasi terus terdengar dari rumahku. Ada beberapa orang yang mengirimkan pesan, ingin memesan barang. Alhamdulillah, ucapku lirih. Sebelum meneruskan membaca pesanan, aku klik si Peracik Aksara. Tetap masih belum berubah. Pada saat melihat foto profil si PA, aku teringat sesuatu: Buku Lima Sekawan, Berkelana. Buru-buru kuambil buku itu dari lemari buku. Kubuka daftar isi buku. Menelusuri semua bab dari kisah petualangan Berkelana.
Bab 23 tertulis “Akhir Petualangan”. Aku tersenyum sumringah bisa memecahkan teka-teki si Peracik Aksara. Hups !! Aku belum menemukan siapa pemilik akun fesbuk yang sedang kujelajahi. Bab 23 mulai halaman 260, segera aku membukanya. Tak ada yang aneh di sini. Dengan cara speed reading, aku berusaha mencari tahu.
“Bingo...!! Kena kamu,” ujarku senang.
Di halaman itu ada tokoh bernama Nobby yang merupakan sahabat Julian, Dick, Anna, dan George. Pada dunia nyataku, Nobby adalah nama panggilan Fabian, pria yang mengutarakan perasaannya kepadaku sebelum ia pergi berlibur ke rumah eyangnya, puluhan tahun lalu. Tebakanku padanya tak salah, saat tahu foto-foto itu dikirimkan kepadaku. Hanya kenapa ia harus bersembunyi dibalik nama Peracik Aksara. Nama itu justru yang membuatku bimbang.
Aku memang tak pernah menjawab pertanyaannya. Kutunjukkan semua rasa sukaku padanya dengan tindakan. Sayangnya, Fabian hanya ingin aku mengatakan secara verbal rasa sukaku. Dan itu, tak pernah terjadi sampai aku menerima pinangan Mas Trisnawan Wuryanto, kakak angkatan di kampusku. Karena Trisnawan, aku tergerak berhijab dan berusaha menjadi istri yang sholeha. Melupakan masa laluku. Melupakan Nobby Fabian.
“Kalau sekarang aku tiba-tiba mengingat Nobby Fabian, salahkah aku yang sudah bermain api dalam hati?” Kegalauan seketika melanda siangku. Astagfirullah..., astagfirullah. Ampuni aku, ya Allah.... Astagfirullah.... Mulutku komat-kamit mengucapkan istigfar berulang-ulang.
Dar-der-dor tembok digedor, brak-bruk barang dihempaskan masih terdengar nyaring dari rumah sebelah. “Beri aku kesabaran ya Allah.” Hanya itu yang kumintakan pada-Nya. Lamat-lamat terdengar suara assalamu’alaikum....
“Revoo, tolong bukakan pintu. Lihat siapa yang datang ke rumah kita,” teriakku menyuruh anak keduaku itu. Ia sedang mengiringi kakaknya bernyanyi. Revo piawai bermain piano. Mereka sering banget berduet, mengisi acara-acara di sekolah atau undangan-undangan tertentu.
Suara Revo terdengar mempersilakan tamu itu masuk. Sesudah merasa jilbabku terpasang baik dan rapi, bergegas aku keluar menemuinya. Cuaca di luar yang terik, dengan panas matahari yang menyorot tajam, membuat ruang tamuku agak redup. Aku tidak menyalakan lampu ruang tamu. “Assalamu’alaikum...” tamu itu berujar salam kepadaku.
“Saya dari rumah sebelah.” Mengetahui yang datang pemilik rumah sebelah, hampir saja menaikkan tensiku. Hampir juga ingin kulabrak cepat. Sabar Nurul, sabar.... Kata hatiku menyuruhku sabar.
“Mohon maaf, saya baru sowan ke sini. Maaf sekali, tukang-tukang saya sampai mengganggu ketentraman keluarga Ibu gara-gara renovasi ngebut ini.” Aku masih berdiam diri mendengarkannya. Tamu di hadapanku perawakannya tinggi besar, agak gemukan, memakai peci putih, berjambang dan berjanggut lebat, serta berkacamata minus yang tebal.
“Saya baru tiba dari Manila kemarin siang.” Masa bodoh pikirku. Mau dari mana kek, yang pasti urusan renovasinya sudah mengganggu ketentraman rumahku.
“Orang yang saya suruh mengurus izin kepada para tetangga mendapat musibah. Ia tertabrak sebelum renovasi rumah dimulai.” Inalillahi..., aku sempat berucap dalam hati. Aku langsung mengendurkan emosi yang sempat meningkat.
“Saya memang minta dipercepat renovasinya karena segera akan ditempati anak-anak dan istri saya.” Ia kembali menjelaskan.
“Maaf ya, dengan siapa saya berhadapan sekarang?” tanyaku sebelum menanggapi semua perkataannya.
“Astagfirullah, saya lupa mengenalkan diri kepada ibu. Saya Fabian Robbiyanto.” Sambil mengucapkan namanya, ia berdiri mendekat ke arahku, serta mengulurkan tangannya. Aku hanya bisa terperangah sedikit mendengar ia sebutkan namanya. Aku sama sekali tidak mengenalnya gara-gara cambang dan janggut lebat di wajahnya. Tubuhnya yang agak gemuk turut membuatku pangling. Dia juga tak mengenaliku karena hijabku. Sebelum aku menjawab salam perkenalannya, aku merasakan denyut jantungku mulai berdetak cepat.
“Maaf, Anda Peracik Aksara alias si Nobby di Akhir Petualangan? Dari Berkelananya Lima Sekawan Enid Blyton?”
Sengaja kukatakan begitu di hadapannya. Jantungku sudah tak bisa kuatur untuk tenang. Ia bagaikan musik rock yang berdentum keras di rongga dadaku. Pria di hadapanku hanya terdiam sesudah kuberondong dengan Nobby, Akhir Petualang, dan Berkelananya Enid Blyton.
“Nurul? Kamu Nurul? Nurul Prastiti?” Jabat tangannya masih menggenggam erat tanganku. Ia tak melepaskan sambil terus menyebut-nyebut namaku. Jantungku tak mengendur, berdenyut cepat dan keras.
Sayup-sayup dari dalam aku mendengar dentingan piano Revo yang mengiringi Clara menyanyikan Bukan Cinta Biasa milik Siti Nurhaliza. Huhhh, entah apa yang berkecamuk di kepala, hati, dan perasaanku dalam situasi siang yang menggedor-gedor dada. Fabian masih menggenggam erat tanganku. Dan kami hanya terdiam sesudahnya.
Begitu banyak cerita. Ada suka ada duka. Cinta yang ingin kutulis. Bukanlah cinta biasa.
Dua keyakinan beza. Masa’alah pun tak sama.Ku tak ingin dia ragu. Mengapa mereka selalu bertanya.
Cintaku bukan di atas kertas. Cintaku getaran yang sama. Tak perlu dipaksa..tak perlu dicari. Kerna kuyakin ada jawabnya.
Andai kubisa merubah semua. Hingga tiada orang terluka.Tapi tak mungkin...ku tak berdaya. Hanya yakin menunggu jawabnya.
Janji terikat setia. Masa merubah segala. Mungkin dia kan berlalu. Ku tak mahu mereka tertawa.
Diriku hanya insan biasa. Miliki naluri yang sama.Tak ingin berpaling... tak ingin berganti. Jiwaku sering saja berkata.
Andai kumampu ulang semua. Ku pasti tiada yang curiga. Kasihkan hadir tiada terduga. Hanya yakin menunggu jawaban.

&&&&&&& 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA