KIRIMI AKU SURAT CINTA

Aku bernafas lega begitu kedua anakku berhasil kuninakbobokkan. Kurebahkan tubuhku di sofa kesayangan sambil memencet remote TV, mencari-cari acara TV yang menghibur siang itu. Lelah sekali aku hari itu. Seakan pekerjaan rumah tangga tidak pernah habis, tidak pernah selesai. Jam kuno, warisan eyang suamiku, berbunyi dua kali. Tepat jam 2 siang. Beberapa jam lagi suamiku tiba dari kantor. Dari sofa aku masih melihat beberapa mainan anakku berserakan. Baju-baju kotor yang belum sempat kucuci juga masih menumpuk di keranjang cucian. Kembali aku berdesah pelan. Tak mungkin aku merutuki diriku. Toh, ini sudah pilihan yang kuambil kala menerima pinangan keluarga suamiku dulu.
            Aku terkejut mendengar ucapan salam dan suara pintu berderit terbuka. Ternyata yang pulang Satrio. Buru-buru kubenahi baju dan rambutku. Rupanya aku tertidur satu jam, terbangun karena kedatangannya.
            “Kok sudah pulang jam segini, Io?” tanyaku. Mata Satrio menatap ke arahku. Bibirnya tersenyum kemudian terdengar ucapan lirihnya, “Tidak ada lembur, Bu, jadi kami boleh langsung pulang.” Matanya masih menatapku penuh perhatian saat menjawab pertanyaanku. Justru aku terkejut ketika Io, panggilan sayang Satrio Perkasa, pamit hendak masuk ke kamarnya.
            Satrio anak lelaki kami. Tahun ini usianya genap 25 tahun. Sudah 3 bulan ini ia diterima bekerja di sebuah pabrik garmen. Selama 6 bulan, Io harus menjalani masa percobaan sebelum diangkat menjadi karyawan tetap. Semangat bekerjanya sungguh luar biasa. Meskipun terkadang ia harus lembur bahkan harus bekerja shift malam hari. Semuanya dilakukan dengan suka cita. Mungkin karena ini pengalaman pertamanya bekerja. Dan yang terpenting, Io bisa bekerja di pabrik garmen berkat jerih payahnya sendiri. Bukan dibantu atau ditolong siapapun, juga ayahnya yang punya hubungan baik dengan pemilik pabrik.
           
            Begitu Io masuk kamar, aku tersadarkan. Ternyata sejak jam 2 siang tadi aku ketiduran. Buru-buru kutengok HP yang tergeletak di meja depan sofa yang kutiduri tadi. Ya ampun, aku kaget melihat banyak miscall masuk. Kaget berikutku, ternyata yang menelpon suamiku. 5 kali ia menelpon aku dan semuanya tidak terjawab olehku. Gambar surat bertengger di layar atas HP-ku. Buru-buru kubuka. Perkiraanku tidak meleset. Yang mengirimkan SMS adalah suamiku. Kok telpon Abah nggak diangkat? Kalimat pertama dari SMS suamiku. Ketiduran ya…, lanjut SMS-nya. Setelah membaca semua pesannya barulah aku menjawab pesannya. Aku minta maaf karena tak mendengar sambungan telponnya. Aku capek dan mengantuk sekali, gumamku.
Kekhawatiranku pudar begitu tahu pesan suamiku. Ia hendak pulang malam, bahkan mungkin larut malam baru sampai di rumah. Katanya, ada tugas keluar kota yang harus diselesaikan bersama atasannya. Sedikit lega hatiku karena rumah belum sepenuhnya rapi, sehingga aku tidak perlu terburu-buru membereskan. Kutengok kamar kedua anakku yang tadi kuninabobokkan. Nada dan Kenang masih tertidur pulas. Tadi keduanya bermain sepulang sekolah, mungkin capek. Nada berusia 9 tahun sedangkan Kenang, 7 tahun. Usia mereka terpaut jauh dengan Satrio. Setelah memastikan keduanya masih terlelap, aku beranjak menuju dapur. Ada tugas sore di dapur yang harus kukerjakan, termasuk juga mengurusi cucian kering yang sepertinya kering semua hari itu. Cuaca hari itu lumayan terik menyengat.
Saat aku masih di dapur, terdengar suara orang bersenandung mendekati dapur. Tiba-tiba Satrio sudah tampak di pintu dapur. “Cucian keringnya aku angkat, ya Bu?” ucapnya. Meskipun aku mengatakan tidak usah, Satrio tidak menggubrisnya dan terus berjalan menuju halaman belakang. Dari dapur kuperhatikan ia mulai mengangkat cucian-cucian kering. Gerakannya tidak kaku, menunjukkan ia biasa melakukan hal-hal sepele macam ini. Semua cucian kering sudah dilipat dan diletakkan di dalam keranjang besar. Ia kemudian membawa cucian kering itu ke kamar di sebelah dapur. Kamar kosong itu sesungguhnya kamar pembantu. Namun sejak Irah, pembantu kami, menikah, kamar itu dijadikan kamar setrika dan tempat menumpuk cucian-cucian kering.
Baru aku hendak minta tolong Satrio menyirami tanaman di depan, terdengar suara sapu lidi beradu dengan tanah. Hmm, rupanya Satrio sedang menyapu dedaunan yang jatuh di halaman belakang. Senandung kecilnya masih terdengar menimpali kegiatannya menyapu. Aku membiarkannya bekerja. Sampai akhirnya aku mendengarnya memanggilku. “Bu, sehabis beres-beres halaman, aku mau minta izin ke toko buku. Ada yang mau kubeli.” Aku hanya mengangguk, mengiyakan keinginannya untuk pergi sehabis menyapu halaman.
Menjelang maghrib, aku, Nada, dan Kenang duduk di sofa menunggu azan maghrib berkumandang. Satrio belum pulang. Sudah sampai dimana, Io? tanyaku melalui SMS. Lama tak ada jawaban. Baru setelah azan berkumandang, Io membalas SMS-ku. Aku maghriban di masjid dekat toko buku, Bu. Setelah itu aku langsung pulang. Laparrrr…. Begitu tulisan di HP-ku. Aku tidak menjawab lagi SMS-nya karena bersiap melaksanakan salat maghrib bersama Nada dan Kenang. Suamiku selalu membiasakan kami salat berjamaah maghrib jika kebetulan semua pas ada di rumah. Nada dan Kenang menjadi terbiasa, dan selalu mengajakku salat bareng kalau ayahnya belum pulang kerja.
Jam 7 malam kurang beberapa menit, suara motor Satrio memasuki halaman depan. Aku segera membukakan pintu samping yang bersambungan dengan carport. Satrio memberi salam dan mencium tangan kananku. “Aku ke kamar dulu, bersih-bersih terus mau makan, ya Bu…. Lapar nih!” Tangannya menepuk-nepuk perutnya yang langsing. Sebelum badannya masuk kamar, ia berbalik lagi dan bertanya, “Ayah belum pulang, Bu?”
“Ayahmu pulang tengah malam. Katanya ada tugas ke luar kota bersama Bos-nya,” kataku. Ia mengangguk dan memasuki kamarnya. Kulihat ia membawa keresek putih. Mungkin buku yang dibelinya.
Tak sampai 5 menit Satrio sudah selesai bebersih. Ia keluar dari kamarnya. Mengenakan celana gombrang kesukaannya serta oblong yang sudah pudar warnanya. Langsung mendekati Nada dan Kenang yang masih duduk di sofa. Mengajak mereka makan malam. Kedua anak itu terlihat gembira melihat Satrio dan langsung minta gendong menuju meja makan. Aku hanya bisa menggeleng melihat keakraban mereka. “Nanti, sehabis kita makan, Mas Io mau kasih sesuatu buat kalian.” Kedua anak kecil itu langsung berteriak girang. Aku senang melihat keakraban mereka. Jarak usia yang begitu jauh tak menjauhkan mereka secara emosi. Justru terlihat Satrio sangat ngemong kepada kedua adik-adiknya. 
“Mas Ioo, mana?” teriak Nada begitu nasi di piringnya sudah habis. Io hanya mengatakan sabar dan tunggu sebentar.
Ia bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka lebar. Dan aku kagum padanya. Kamarnya selalu bersih. Nyaris aku tidak pernah membersihkan kamarnya. Ia selalu melarangku jika hendak membereskan kamarnya. Baginya, kebersihan kamarnya adalah tanggung jawabnya. Namun suatu ketika aku pernah minta padanya untuk sesekali boleh membantu membereskan kamarnya kalau dia sedang sibuk kerja. Satrio pun tidak keberatan. Justru ia malah mengatakan takut aku kecapekan karena sudah mengurus semuanya di rumah ini.
Kedua tangan Satrio menggenggam sesuatu. Rupanya ia membelikan adik-adiknya buku cerita. Nada dan Kenang begitu gembira memperoleh buku dari Satrio. Mereka langsung asyik melihat-lihat buku bergambar itu. Nada yang sudah bisa membaca, membacakan cerita di buku untuk adiknya. Sementara aku dan Satrio duduk di sofa bersebelahan. “Beli buku apa sih, Io?” tanyaku ingin tahu.
“Aku beli novel, Bu. Nih bukunya!” Ia menyodorkan novel itu padaku. Tercium aroma wangi saat ia menyerahkan novel itu. Hidungku sedikit terusik aroma tubuh Satrio. Namun cepat-cepat aku alihkan kepada novel yang diberikannya.
Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi. Itulah judul novel yang dibeli Satrio. Aku mendesah perlahan membaca judul novel itu. Entah kenapa seperti ada yang berderit dalam hatiku. Sementara aku membolak-balik novel baru Satrio, si pemilik novel asyik menonton acara di telivisi. Io masih duduk di sebelahku. Lagi-lagi aroma wangi mengusik penciumanku.
“Io pakai parfum wangi, ya?” Ditanya begitu, ia memalingkan wajahnya dan melihat ke arahku. Kepalanya mengangguk antusias.
“Iya Bu, tadi barusan beli. Nggak sengaja sih. Kebetulan kok ada konter parfum di sebelah toko buku itu. Ini gara-gara termakan rayuan si mbak yang jualan.” Terdengar tawa renyah dari mulut Satrio. “Kok pas ditawari wangi ini aku langsung cocok dan suka. Kalem, tapi tidak feminim. Masih terasa macho. Bener nggak sih, Bu?” Satrio minta pendapatku.
Aku mengangguk. “Iya juga sih…. Dari tadi, hidung ibu sudah mengendus-endus aromanya. Segar kok wanginya. Ibu juga suka,” kataku tidak basa-basi. Nyatanya memang aku terpikat dengan aroma wangi parfum Satrio. Sekonyong-konyong Satrio mendekatiku, kemudian merangkul pundakku. “Kalau dekat gini, wanginya makin kerasa tidak, Bu?” Aku yang kaget buru-buru menjawab ‘iya’. Satrio langsung melepaskan rangkulannya. Io tertawa-tawa melihat aku kaget dirangkulnya tiba-tiba. Spontan aku memukul kepalanya dengan lembut, membalaskan rasa kagetku.
“Bu, aku ke kamar dulu?” Io bangkit dan pamit ke kamarnya. “Kalau novelnya mau dibaca, ibu pegang dulu aja.” Kembali aku menganggukkan kepala, setuju dengan usulan Satrio. Dan memang, aku agak penasaran dengan novel Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi.**) Surat cinta yang bagaimana yang dituliskan oleh si Pengembara Sunyi ini? Aku mulai membuka halaman demi halaman novel itu.
Jantungku berdegup kencang. Wajahmu berkilau dalam siluet cahaya oranye lampu panggung. Kecantikanmu yang memancar bagai berlian menghisapku begitu dalam. Rambutmu masih seperti dulu tergerai indah di bahu. Aku tak dapat melepaskan pandanganku darimu. *)
Kalimat-kalimat ini kubaca di awal cerita, yang entah kenapa, tiba-tiba, melambungkan anganku. Seakan-akan pujian itu ditujukan padaku. Desahan kecil terlantun dari mulutku selesai membaca paragraph pertama novel Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi. Si penulis membuka kisah novelnya dengan menuliskan perasaannya yang terdalam. Aku yang biasanya tidak terlalu perhatian pada cerita-cerita yang kubaca, malam itu, seperti mendapat sihir kekuatan kata-kata si penulis. Aku juga merasakan nyuttt dalam hatiku. Sepertinya, kalimat-kalimat indah si penulis langsung menyetrum perasaanku juga. Setrum si penulis terhenti gara-gara Kenang berteriak minta dibuatkan susu. Aku buru-buru bangkit setelah menyelipkan kertas yang ada di meja sebagai penanda halaman.
Anak-anakku terbiasa mandiri dalam usia kanaknya. Begitu susu sudah kubuatkan untuk Kenang, Nada sang kakak juga ikut-ikutan minta dibuatkan coklat hangat kesukaannya. Coklat yang katanya tiada tara enaknya jika dibuatkan olehku. Mereka kini asyik membaca buku pemberian Satrio di kamar. Komputer juga sudah tampak menyala, membuka aplikasi sebuah permainan otak. Kubiarkan saja mereka memainkannya. Keasyikan mereka sebuah kado termahal untuk ‘me time’ aku malam itu. Kududuki lagi sofa tadi, meraih novel milik Io.
Kembali aku terlarut dalam kisah cinta si Pengembara Sunyi. Jujur saja, malam itu, segenap perasaanku tertumpahkan membaca novel. Aku bisa merinding hebat membaca banyak surat cinta yang dituliskan si penulis. Ini tidak biasa sekali dalam aku mengapresiasi sebuah tulisan. Novel yang kini ada ditanganku benar-benar membuat gerah seluruh perasaanku. Halaman demi halaman aku lahap cepat dengan segenap perasaanku. Saking meresapi membaca novel aku tidak sadar Satrio sudah ada di belakangku. Aku terkejut ketika sebuah dekapan tangan melingkar lembut dileherku. Teriakan ahh dariku, membuat dekapan itu lepas, lantas terdengar tawa renyah dari mulut Satrio.
“Duhhh, yang asyik baca…. Lupa anak-anaknya deh!” Aku sempat tersipu dikatai begitu. Novel yang kupegang bahkan nyaris jatuh karena kagetku. “Io mau dibuatkan apa?” Aku mencoba mengalihkan keterkejutanku dengan menawarinya sesuatu. Gelengan kecil kepala Satrio yang menjawab tawaranku. “Beneran nggak mau ibu buatkan sesuatu seperti adik-adikmu?” Sekali lagi aku memberi Io tawaran. “Tidak Bu, makasih. Nanti aku buat sendiri kalau pingin.” Sembari menepuk pundakku, Io berjalan ke arah dispenser. Kulihat ia mengambil kopi instant yang ada di samping dispenser. Menyeduhnya, menghirup wanginya seperti iklan-iklan di TV kemudian berlalu dari situ. “Aku ngamar lagi ya, Bu….! Takut ngganggu ibu yang lagi merona,” katanya sambil tersenyum.
“Awass ya kalau nggodain terus... Nggak akan ibu bangunkan besok pagi,” kataku tak mau kalah. Hanya terdengar tawa dari mulut anak lelakiku ini. Meskipun sudah sebesar itu Satrio kesulitan bangun pagi sendiri. Selalu aku atau ayahnya yang membangunkan. Makanya, aku berani mengancamnya gara-gara sudah mengagetkan sekaligus membuat aku  tersipu. Begitu punggung tubuhnya menghilang di kamarnya, aku mendesah lega dan segera meneruskan imajinasiku membaca karya Ryan Penatama si penulis novel. Aku melirik kembali kamar Satrio sebelum membaca. Tampak dari tempatku duduk pintu kamarnya terbuka sedikit, menampakkan dirinya yang sedang asyik di depan laptop.
Setelah separuh novel kubaca, aku tergelitik untuk mengulang kembali awal novel ini dikisahkan. Rambut tergerai sebahu mengingatkan masa mudaku. Masa-masa SMA di sebuah pinggiran kota. Boleh dikata, saat SMA aku merupakan salah satu murid perempuan yang cantik. Cantik untuk ukuran sebuah desa. Itu pun karena kata teman-temanku sesama perempuan. Meskipun dijuluki paling cantik, aku berusaha tetap bersahaja dan bergaul lumrah, dengan siapa pun tanpa terkecuali. Masa-masa SMA kurasakan sebagai masa yang menyenangkan berteman dengan banyak teman. Bahkan ada pula teman SMA dari tetangga desa. Tapi akhirnya, kecantikanku masa SMA hanya berakhir dalam pelukan Nasir Soewandi.
Kuingat betul, seminggu lagi aku akan mengikuti ujian nasional SMA. Rumahku kedatangan kerabat ayah. Sebetulnya kekerabatan yang terjadi dikarenakan pernikahan antarsaudara. Tapi seingatku, kerabat ayah ini tidak asing buat keluarga kami. Apalagi aku. Ayah sering sekali berhubungan dengan Lik Wawa, begitu aku memanggil dan mengenalnya. Akan tetapi, aku tidak pernah mengerti nama lengkapnya siapa dan tak pernah menanyakan hal itu kepada ayah. Setiap beliau datang, aku selalu menyuguhkan minuman untuknya. Wajar aku tahu wajah dan siapa keluarga kecilnya. Lik Wawa hanya hidup bersama anak semata wayangnya. Istrinya sudah lama meninggal, ketika umur anak lelakinya baru berusia 5 tahun. Sepanjang itu pulalah ia menduda, tidak menikah lagi. Masih menurut ayah, Lik Wawa membesarkan sendiri anak lelakinya.
Malam itu, seminggu sebelum aku ujian nasional SMA, Lik Wawa datang bersama anak semata wayangnya. Bocah lelaki kecil, yang kusapa ‘adik’ ketika menyuguhkan minuman untuk mereka. “Ini Asa, anak paklik. Masih kelas 5 SD. Umurnya 10 tahun,” Lik Wawa memberi penjelasan padaku sesudah minuman aku suguhkan. Aku tersenyum seraya mengangguk.
“Ajak adikmu main ke dalam,” perintah ayah setelah Lik Wawa mengenalkan anaknya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk mematuhi perintah ayah. Asa aku ajak ke ruang tengah untuk menonton tivi dan mengobrol santai. Kubiarkan ayah mengobrol dengan Lik Wawa. Sejurus kemudian, ibu muncul dari pintu belakang dan langsung ikut nimbrung bersama ayah dan Lik Wawa setelah ia menyapa aku dan Asa. Selama 3 orang dewasa mengobrol di ruang tamu, aku berusaha menjadi kakak yang baik bagi Asa. Ternyata aku dan Asa hanya terpaut usia 6 tahun. Pantaskan aku menyebut Asa sebagai adikku.
Ada kurang lebih satu jam, Lik Wawa mengobrol bersama ayah dan ibu. Jelang pukul 9 malam, Lik Wawa berpamitan. Ia berteriak memanggil anak lelakinya. Asa yang merasa dipanggil, bergegas bangkit dan berpamitan padaku. “Makasih ya, Mbak. Lain kali, kalau aku ke sini lagi, bolehkan?” Kepalaku mengangguk pelan kemudian mengantarkannya ke ruang tamu.
***
Aku termangu. Tak satu pun universitas negeri pilihanku yang meloloskan aku. Aku gagal memasuki universitas negeri baik melalui jalur undangan maupun ujian tulis. Pada saat aku masih blank hendak ngapain, ayah menghampiri aku di kamar. Tak lama kemudian, ibu ikut menyusul masuk. Kedua kakakku sudah tidak tinggal di rumah lagi, terlebih sejak keduanya bekerja di luar kota. Aku serasa menjadi anak tunggal di rumah. Perempuan satu-satunya pula.
Selama ini, ayah memang tidak mengijinkan aku untuk dekat dengan cowok secara khusus apalagi sampai harus berpacaran. Peringatan ayah sangat jelas, karena ingin aku sukses dulu baru memikirkan tentang cowok dan pernikahan. Namun malam itu, setelah aku gagal diterima di universitas negeri, sikap ayah berbeda. Aku nyaris tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan ayah. Dengan panjang lebar ayah menjelaskan padaku. Bahasanya pun, dibuatnya sedemikian lembut, tidak meledak-ledak.
“Ayah ingin kau menikah dengan Lik Wawa.” Kalimat ini yang terus terngiang dibenakku sepanjang malam setelah ayah dan ibu keluar dari kamarku. Aku lantas ingat, ternyata seminggu sebelum aku mengikuti ujian nasional, inilah yang mereka bicarakan dengan Lik Wawa. Pantas saja Asa dibawa dan diperkenalkan padaku. Hmmm…..
Keputusan aku dipinang Lik Wawa semua lewat tangan ayah. Aku tidak kuasa menolak, karena memang sejak dulu aku patuh selalu. Meskipun akan dinikahkan dengan Lik Wawa, ayah tidak memaksaku segera menjadi istrinya. Aku masih diperbolehkan mengikuti kursus atau pelatihan yang kusukai. Tapi bayangan menikah, kelak punya anak, membuatku tidak bersemangat mengikuti kursus. Semua yang kuikuti merupakan bentuk kepatuhanku pada ayah. Satu hal yang sangat kusesali dari keputusan ayah yang hendak menikahkan aku dengan Lik Wawa, yaitu aku harus membatasi hubungan dengan teman-teman priaku.
“Jika tidak ada yang diperlukan di luar rumah, sebaiknya kamu di rumah saja. Carilah kesibukan yang bermanfaat yang kelak berguna jika kamu sudah berumah tangga,” begitulah pesan ayah. Hanya media sosial sebagai pelampiasan keinginanku dalam pergaulan.
Tetap saja terasa ada yang kering di dalam dadaku. Seusiaku yang baru lulus SMA dibatasi pergaulannya. Aku nyaris tidak pernah merasakan masa-masa indah bersama pria seperti kebanyakan teman-temanku yang sudah mengenal pria dan pacaran. Bahkan aku sempat tertegun ketika Kirah, sahabatku, menunjukkan surat cinta yang diperolehnya dari pacarnya. Apapun mengenai pacarnya Kirah selalu menyampaikan kepadaku. Ia selalu membagi kisah cintanya denganku.
Bertepatan ulang tahunku yang ke-20, hari itu juga aku resmi menyandang gelar tambahan: istri. Aku dinikahkan langsung oleh ayah dengan Lik Wawa yang bernama lengkap Nasir Soewandi. Pria yang usianya lebih seperempat abad usiaku, plus seorang anak lelaki yang saat itu berusia 14 tahun. Asa terlihat gembira setelah tahu yang menjadi ibu tirinya adalah aku. Tak ada alasan aku membencinya, toh Asa anak baik dimataku.
“Aku senang, mbakku ini sekarang adalah ibuku juga,” ucapnya kala itu. Ia bahkan menggenggam erat tanganku di pelaminan. Ya, selama resepsi pernikahan itu, Asa terus mendampingiku dan Lik Wawa di pelaminan. Senyumnya merekah kepada para tetamu yang mengucapkan rasa bahagianya kepada kami bertiga.
Tuhan baru memercayai aku memiliki anak kandung setelah usia pernikahanku 2 tahun. Lahirlah Nada disusul Kenang selang 2 tahun berikutnya. Asa, si anak tiriku, juga senang memiliki adik. Lik Wawa alias Abah Nasir, suamiku, sesungguhnya masih menginginkan anak perempuan dariku, namun tak memaksa harus punya. “Seandainya terjadi kehamilan lagi padamu, kita terima dengan rasa syukur. Apabila tidak terjadi mungkin hanya Nada dan Kenang yang harus kita urusi bersama Asa,” ucap bijak Abah Nasir.
Kehidupanku akhirnya habis di rumah mengurus kedua anakku, Asa, dan suami. Setiap waktu senggang, aku hanya berselancar di media sosial. Meleburkan diri bersama dunia maya dan mengenal teman-teman dari situ saja. Keseringan berada di media sosial, dengan usia yang juga masih muda, membuat aku terkadang hendak memutar roda kehidupanku. Ada letupan-letupan sesaat yang mendobrak dada, meski tetap aku tidak pernah berani neko-neko. Melalui medsos juga aku membaca banyak surat cinta yang romantis, yang tidak pernah aku rasakan. Untuk kesekian kalinya lagi, jiwa mudaku menggelegak gara-gara membaca novel Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi karya Ryan Penatama.
***
            Setelah mengulang halaman pertama novel yang membawa aku ke masa SMA, aku lanjutkan lagi membaca novel milik Io. Hatiku benar-benar tersentuh dan bergetar membaca surat cinta yang dituliskan si tokoh dalam novel. Entah kenapa hasrat dapat membaca surat cinta membuncah hebat malam itu. Saking keasyikan membaca, untuk kedua kalinya aku tidak sadar Io sudah ada di belakangku lagi. Mengawasiku membaca novel miliknya.
            “Kok senyum-senyum terus sih, Bu?” Suara Io mengagetkan aku.   
            Tanpa sungkan kukatakan saja pada Io bahwa aku belum pernah menerima surat cinta. Oleh karena awalnya kami seperti kakak beradik, makanya aku berani mengutarakan hal ini pada Io. “Abahmu tuh, nggak pernah memberi ibu surat cinta sejak ibu dinikahinya.” Mendengar pengaduanku Io hanya terkekeh.
            “Kasihan deh Ibu,” sahut Io.
            “Emang mau dibuatkan surat cinta?” Kutatap mata Io sewaktu ia menawarkan dirinya menuliskan surat cinta. Namun senyum tipis menyembul dibibirnya. Dan aku langsung paham, itu hanya omongan asal-asalan saja padaku. Aku menanggapi senyumnya dengan senyuman pula. Kami berdua akhirnya tertawa. Io kemudian berlalu dari dekatku menuju dapur. Entah apa yang dikerjakannya di sana. Dari dapur Io berteriak, “Sudahlah Bu, baca aja novel itu. Banyak surat cintanya, kan?”
            Sesudah sibuk di dapur, Io kembali ke kamarnya. “Bu, jangan lupa besok aku dibangunkan, ya?” pintanya pelan. Kuanggukkan kepalaku sembari mengatakan ‘pastilah’. Io pun menutup kamarnya.          
            Kulihat di kamar anak-anak, Nada dan Kenang masih asyik bermain komputer. Aku lantas minta mereka berhenti dan persiapan ritual sebelum tidur. Tidak sulit sama sekali mengatur kedua anakku itu. Dan begitu mereka berbaring di ranjang masing-masing, aku langsung meninggalkan mereka. Kembali ke sofa melanjutkan membaca novel sembari menunggu Abah Nasir datang.
            Kau laksana bunga yang menyebarkan berjuta aroma wangi. Andaikan saja kau dalam taman liar, ingin kupetik dan kusimpan. Tapi kau ada di taman indah berpenjaga, yang tak memungkinkan aku menyentuhmu. Aku hanya bisa melihatmu setiap hari, mengaromai tubuhmu dari kejauhan dan hanya bisa berharap sepanjang hayatku.
            Ini salah satu cetusan perasaan si Pengembara Cinta, mungkin pada seseorang yang disukainya. Namun sepertinya, sang pujaan sudah dimiliki seseorang dan tidak bisa didekati dari sisi mana pun. Membaca cetusan perasaan barusan, entah kenapa desiran darahku mengalir lebih cepat. Ada dorongan dari dalam yang berkata seandainya itu aku? Aku hanya mampu menghela napas, diam sejenak, dan bergumam lirih, aku tak pernah membaca surat cinta. Perasaanku yang campur-aduk malam itu, tertelan kesunyian malam yang memelukku tiba-tiba.
            Aku terkejut mendengar deringan HP yang berbunyi keras. Memecah kesunyian malam itu. Tapi aku justru lebih kaget setelah mengetahui yang sebetulnya. Ternyata sudah jam 5 pagi. Dan deringan di HP adalah alarm yang sengaja kusetel setiap pagi. Dengan kesadaran yang masih terbatas, aku mencoba melihat sekelilingku dan ternyata aku masih berada di sofa.
            Kenapa sepi?? Otakku mulai konek. Aku juga tidak menjumpai Si Abah, suamiku, di sekitaran aku duduk. Kulihat sekali lagi HP-ku, siapa tahu ada kabar baik darinya. Benar adanya. Abah mengirimkan pesan singkat setelah menelpon padaku berulang kali. Ia hanya mengatakan tidak jadi pulang semalam karena masih berada di luar kota. Sekarang sedang menginap di hotel bersama Bos-nya.
            Astagfirullah, aku teringat kalau Io harus dibangunkan. Kamarnya masih tertutup rapat. Perlahan kuketuk pintunya sambil memanggil namanya. Terdengar jawaban ‘iya bu’ dari dalam. Lega aku Io sudah bangun meskipun membangunkannya terlambat. Pagi yang berantakan dan serba terburu-buru. Gara-gara aku ketiduran dan tidak mendengar alarm, semua terkena imbas bangun terlambat.
             Rumah kembali sepi ketika semua penghuninya sudah pergi, menyisakan aku yang harus kembali menjadi nakoda rumah. Ketika hendak meletakkan piring-piring kotor ke dapur, tak sengaja aku melihat kamar Io tidak terkunci. Selama ini pun, Io tak pernah mengunci kamarnya kalau bepergian. Ia memberi kebebasan siapa saja  memasuki kamarnya, asalkan tidak mengacak tatanan yang sudah dimapankan olehnya. Kudorong perlahan pintu kamarnya dan mendapati kamar yang belum rapi. Masih berserakan beberapa barang-barangnya. Bahkan laptop pun masih terpasang charger-nya. Dan tampaknya, Io lupa juga mematikan laptopnya.
            Ada beberapa buku yang berserak di meja dan di tempat tidur, yang seluruhnya berupa kumpulan cerpen dan novel. Juga ada kertas putih yang berisi tulisan tangannya. Tampaknya seperti sebuah cerita atau alur cerita, entahlah…. Meja tempat Io biasa mengetik memang menyatu dengan rak buku. Kesannya meja kerja yang luas dan lebar. Kususun perlahan, satu per satu, buku-buku yang berserakan tadi. Meletakkannya di meja lagi dan tidak ke dalam rak buku supaya Io nanti yang mengaturnya sendiri.
            Kabel charger kucabut dari laptop. Aku sangat yakin, pasti baterai laptop juga sudah 100%. Ketika kugoyangkan mouse, layar laptop yang semula padam, menyala. Menampakkan program Microsoft Word. Ada tulisan di situ. Terketik rapi seperti sebuah cerita. Aku gulung ke atas layar word tersebut ingin tahu apa bagian atasnya. Dan aku membaca judul sebuah cerita.
SURAT CINTA SANG PENGEMBARA SUNYI
Oleh Satrio Perkasa
            Itu judul novel yang kubaca semalam. Novel yang semalam dibeli Io dan dipinjamkannya padaku. Mengapa bukan Ryan Penatama penulisnya? Kenapa justru nama lengkap Io, Satria Perkasa, yang tercantum di situ.  Alinea pertama tulisan itu, sama persis dengan novel Io yang kubaca.
 “Jantungku berdegup kencang. Wajahmu berkilau dalam siluet cahaya oranye lampu panggung. Kecantikanmu yang memancar bagai berlian menghisapku begitu dalam. Rambutmu masih seperti dulu tergerai indah di bahu. Aku tak dapat melepaskan pandanganku darimu.”
Supaya mendapatkan jawabannya, kuambil novel milik Io yang kuletakkan di meja dekat sofa. Aku dibuat terperanjat karena semua kalimat di novel sama persis dengan kalimat-kalimat yang ada dalam laptop Io. Tapi mengapa di laptop dituliskan nama Satria Perkasa sedangkan pada novel merupakan karya Ryan Penatama? Jangan-jangan…, batinku dalam hati.
Aku memang belum selesai membaca novel Ryan Penatama sehingga belum tahu akhir cerita yang dituliskannya. Buru-buru aku mencari akhir dari ketikan yang ada dalam laptop. Aku benar-benar tidak menyangka membaca surat cinta sebagai penutup cerita Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi. Surat cinta yang dibuatnya bernada kesedihan. Sedih karena tidak bisa memperoleh apa yang diinginkan.
Barangkali sudah saatnya aku bangun, dan tidak melanjutkan mimpi-mimpi yang selalu mengawal tidurku. Barangkali aku harus ikhlas melepaskanmu menjadi bunga di taman indah, dan tak perlu menunggumu tumbuh di taman liar pinggir jalan. Namun, tak seorang pun boleh melarangku mendekatimu di taman indah, tak juga si pemilik taman indah.
Kamu tahu? Aku tak peduli siapa penjaga taman indahmu. Yang kumau, aku masih bisa tetap membelaimu kala si penjaga lengah menjagamu. Tak akan kubiarkan tubuh dan aromamu lumat diterjang panas dan hujan. Justru aku akan menjagamu dengan segenap hatiku tanpa si pemilik taman indah mengerti….
Asa adalah harapan. Dan aku tidak pernah berhenti mengharapkanmu……

Aku terduduk lemas selesai membaca surat cinta di ujung cerita dalam novel karya Satrio Perkasa (dalam laptop). Aku tak pernah menyangka ada cinta yang terbalut sentuhan, dekapan, dan pelukan selama ini. Aku abai kedekatan itu  membawa misi cinta. Dan tawaran ‘emang mau dibuatkan surat cinta’, bukanlah tawaran biasa. Sebuah penawaran yang memang sudah direncanakan matang.
Aku hanya bisa mendesah berulang-ulang. Yang kupikirkan bagaimana menghadapi Ryan Penatama yang ketika di rumah menjelma menjadi anak tiriku. Kembali desahan nafasku mengalun perlahan. Dan aku masih terduduk lemas di kamarnya, memandang layar laptop yang masih menyala terang dan mempertontonkan cetusan-cetusan perasaannya yang terangkum dalam surat cinta untukku.
THE END

Catatan:
*) Kalimat ini diambil dari cerpen Han Gagas, “Wayang Potehi: Cinta Yang Pupus”, Kompas edisi Minggu, 24 Januari 2016
            **) Judul novel dalam cerita ini terinspirasi dari cerpen Achmad Munif, "Pidato Cinta Pengembara Sunyi", Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 21 Februari 2016


Komentar

  1. Meskipun terlambat, akhirnya jadi juga. Met ultah untuk Muntarie, tanggal yang sudah lewat kemarin (4 Maret). Tidak lewat bulan Maret pastinya, hehehehe..... Semoga senang menerimanya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU