KIRIMI AKU SURAT CINTA
Aku bernafas lega begitu kedua anakku
berhasil kuninakbobokkan. Kurebahkan tubuhku di sofa kesayangan sambil memencet
remote TV, mencari-cari acara TV yang menghibur siang itu. Lelah sekali aku
hari itu. Seakan pekerjaan rumah tangga tidak pernah habis, tidak pernah
selesai. Jam kuno, warisan eyang suamiku, berbunyi dua kali. Tepat jam 2 siang.
Beberapa jam lagi suamiku tiba dari kantor. Dari sofa aku masih melihat
beberapa mainan anakku berserakan. Baju-baju kotor yang belum sempat kucuci
juga masih menumpuk di keranjang cucian. Kembali aku berdesah pelan. Tak
mungkin aku merutuki diriku. Toh, ini sudah pilihan yang kuambil kala menerima
pinangan keluarga suamiku dulu.
Aku
terkejut mendengar ucapan salam dan suara pintu berderit terbuka. Ternyata yang
pulang Satrio. Buru-buru kubenahi baju dan rambutku. Rupanya aku tertidur satu
jam, terbangun karena kedatangannya.
“Kok
sudah pulang jam segini, Io?” tanyaku. Mata Satrio menatap ke arahku. Bibirnya
tersenyum kemudian terdengar ucapan lirihnya, “Tidak ada lembur, Bu, jadi kami
boleh langsung pulang.” Matanya masih menatapku penuh perhatian saat menjawab
pertanyaanku. Justru aku terkejut ketika Io, panggilan sayang Satrio Perkasa, pamit hendak masuk ke
kamarnya.
Satrio
anak lelaki kami. Tahun ini usianya genap 25 tahun. Sudah 3 bulan ini ia
diterima bekerja di sebuah pabrik garmen. Selama 6 bulan, Io harus menjalani
masa percobaan sebelum diangkat menjadi karyawan tetap. Semangat bekerjanya
sungguh luar biasa. Meskipun terkadang ia harus lembur bahkan harus bekerja shift malam hari. Semuanya dilakukan
dengan suka cita. Mungkin karena ini pengalaman pertamanya bekerja. Dan yang
terpenting, Io bisa bekerja di pabrik garmen berkat jerih payahnya sendiri.
Bukan dibantu atau ditolong siapapun, juga ayahnya yang punya hubungan baik
dengan pemilik pabrik.
Begitu
Io masuk kamar, aku tersadarkan. Ternyata sejak jam 2 siang tadi aku ketiduran.
Buru-buru kutengok HP yang tergeletak di meja depan sofa yang kutiduri tadi. Ya
ampun, aku kaget melihat banyak miscall
masuk. Kaget berikutku, ternyata yang menelpon suamiku. 5 kali ia menelpon aku
dan semuanya tidak terjawab olehku. Gambar surat bertengger di layar atas
HP-ku. Buru-buru kubuka. Perkiraanku tidak meleset. Yang mengirimkan SMS adalah
suamiku. Kok telpon Abah nggak diangkat? Kalimat
pertama dari SMS suamiku. Ketiduran ya…, lanjut
SMS-nya. Setelah membaca semua pesannya barulah aku menjawab pesannya. Aku
minta maaf karena tak mendengar sambungan telponnya. Aku capek dan mengantuk sekali, gumamku.
Kekhawatiranku pudar begitu tahu
pesan suamiku. Ia hendak pulang malam, bahkan mungkin larut malam baru sampai
di rumah. Katanya, ada tugas keluar kota yang harus diselesaikan bersama
atasannya. Sedikit lega hatiku karena rumah belum sepenuhnya rapi, sehingga aku
tidak perlu terburu-buru membereskan. Kutengok kamar kedua anakku yang tadi
kuninabobokkan. Nada dan Kenang masih tertidur pulas. Tadi keduanya bermain
sepulang sekolah, mungkin capek. Nada berusia 9 tahun sedangkan Kenang, 7
tahun. Usia mereka terpaut jauh dengan Satrio. Setelah memastikan keduanya
masih terlelap, aku beranjak menuju dapur. Ada tugas sore di dapur yang harus
kukerjakan, termasuk juga mengurusi cucian kering yang sepertinya kering semua
hari itu. Cuaca hari itu lumayan terik menyengat.
Saat aku masih di dapur, terdengar
suara orang bersenandung mendekati dapur. Tiba-tiba Satrio sudah tampak di
pintu dapur. “Cucian keringnya aku angkat, ya Bu?” ucapnya. Meskipun aku
mengatakan tidak usah, Satrio tidak menggubrisnya dan terus berjalan menuju
halaman belakang. Dari dapur kuperhatikan ia mulai mengangkat cucian-cucian
kering. Gerakannya tidak kaku, menunjukkan ia biasa melakukan hal-hal sepele
macam ini. Semua cucian kering sudah dilipat dan diletakkan di dalam keranjang
besar. Ia kemudian membawa cucian kering itu ke kamar di sebelah dapur. Kamar
kosong itu sesungguhnya kamar pembantu. Namun sejak Irah, pembantu kami,
menikah, kamar itu dijadikan kamar setrika dan tempat menumpuk cucian-cucian
kering.
Baru aku hendak minta tolong Satrio
menyirami tanaman di depan, terdengar suara sapu lidi beradu dengan tanah. Hmm,
rupanya Satrio sedang menyapu dedaunan yang jatuh di halaman belakang.
Senandung kecilnya masih terdengar menimpali kegiatannya menyapu. Aku
membiarkannya bekerja. Sampai akhirnya aku mendengarnya memanggilku. “Bu,
sehabis beres-beres halaman, aku mau minta izin ke toko buku. Ada yang mau
kubeli.” Aku hanya mengangguk, mengiyakan keinginannya untuk pergi sehabis
menyapu halaman.
Menjelang maghrib, aku, Nada, dan
Kenang duduk di sofa menunggu azan maghrib berkumandang. Satrio belum pulang. Sudah sampai dimana, Io? tanyaku melalui
SMS. Lama tak ada jawaban. Baru setelah azan berkumandang, Io membalas SMS-ku. Aku maghriban di masjid dekat toko buku, Bu.
Setelah itu aku langsung pulang. Laparrrr…. Begitu tulisan di HP-ku. Aku
tidak menjawab lagi SMS-nya karena bersiap melaksanakan salat maghrib bersama
Nada dan Kenang. Suamiku selalu membiasakan kami salat berjamaah maghrib jika
kebetulan semua pas ada di rumah. Nada dan Kenang menjadi terbiasa, dan selalu
mengajakku salat bareng kalau ayahnya belum pulang kerja.
Jam 7 malam kurang beberapa menit, suara
motor Satrio memasuki halaman depan. Aku segera membukakan pintu samping yang
bersambungan dengan carport. Satrio
memberi salam dan mencium tangan kananku. “Aku ke kamar dulu, bersih-bersih
terus mau makan, ya Bu…. Lapar nih!” Tangannya menepuk-nepuk perutnya yang
langsing. Sebelum badannya masuk kamar, ia berbalik lagi dan bertanya, “Ayah
belum pulang, Bu?”
“Ayahmu pulang tengah malam. Katanya
ada tugas ke luar kota bersama Bos-nya,” kataku. Ia mengangguk dan memasuki
kamarnya. Kulihat ia membawa keresek putih. Mungkin buku yang dibelinya.
Tak sampai 5 menit Satrio sudah
selesai bebersih. Ia keluar dari kamarnya. Mengenakan celana gombrang
kesukaannya serta oblong yang sudah pudar warnanya. Langsung mendekati Nada dan
Kenang yang masih duduk di sofa. Mengajak mereka makan malam. Kedua anak itu
terlihat gembira melihat Satrio dan langsung minta gendong menuju meja makan.
Aku hanya bisa menggeleng melihat keakraban mereka. “Nanti, sehabis kita makan,
Mas Io mau kasih sesuatu buat kalian.” Kedua anak kecil itu langsung berteriak
girang. Aku senang melihat keakraban mereka. Jarak usia yang begitu jauh tak
menjauhkan mereka secara emosi. Justru terlihat Satrio sangat ngemong kepada kedua adik-adiknya.
“Mas Ioo, mana?” teriak Nada begitu
nasi di piringnya sudah habis. Io hanya mengatakan sabar dan tunggu sebentar.
Ia bergegas bangkit dari duduknya dan
berjalan menuju kamarnya. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka lebar. Dan aku kagum
padanya. Kamarnya selalu bersih. Nyaris aku tidak pernah membersihkan kamarnya.
Ia selalu melarangku jika hendak membereskan kamarnya. Baginya, kebersihan
kamarnya adalah tanggung jawabnya. Namun suatu ketika aku pernah minta padanya
untuk sesekali boleh membantu membereskan kamarnya kalau dia sedang sibuk
kerja. Satrio pun tidak keberatan. Justru ia malah mengatakan takut aku
kecapekan karena sudah mengurus semuanya di rumah ini.
Kedua tangan Satrio menggenggam
sesuatu. Rupanya ia membelikan adik-adiknya buku cerita. Nada dan Kenang begitu
gembira memperoleh buku dari Satrio. Mereka langsung asyik melihat-lihat buku
bergambar itu. Nada yang sudah bisa membaca, membacakan cerita di buku untuk
adiknya. Sementara aku dan Satrio duduk di sofa bersebelahan. “Beli buku apa
sih, Io?” tanyaku ingin tahu.
“Aku beli novel, Bu. Nih bukunya!” Ia
menyodorkan novel itu padaku. Tercium aroma wangi saat ia menyerahkan novel
itu. Hidungku sedikit terusik aroma tubuh Satrio. Namun cepat-cepat aku alihkan
kepada novel yang diberikannya.
Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi. Itulah judul novel yang dibeli Satrio. Aku mendesah
perlahan membaca judul novel itu. Entah kenapa seperti ada yang berderit dalam
hatiku. Sementara aku membolak-balik novel baru Satrio, si pemilik novel asyik
menonton acara di telivisi. Io masih duduk di sebelahku. Lagi-lagi aroma wangi
mengusik penciumanku.
“Io pakai parfum wangi, ya?” Ditanya
begitu, ia memalingkan wajahnya dan melihat ke arahku. Kepalanya mengangguk
antusias.
“Iya Bu, tadi barusan beli. Nggak
sengaja sih. Kebetulan kok ada konter parfum di sebelah toko buku itu. Ini
gara-gara termakan rayuan si mbak yang jualan.” Terdengar tawa renyah dari
mulut Satrio. “Kok pas ditawari wangi ini aku langsung cocok dan suka. Kalem,
tapi tidak feminim. Masih terasa macho. Bener nggak sih, Bu?” Satrio minta
pendapatku.
Aku mengangguk. “Iya juga sih…. Dari
tadi, hidung ibu sudah mengendus-endus aromanya. Segar kok wanginya. Ibu juga
suka,” kataku tidak basa-basi. Nyatanya memang aku terpikat dengan aroma wangi
parfum Satrio. Sekonyong-konyong Satrio mendekatiku, kemudian merangkul
pundakku. “Kalau dekat gini, wanginya makin kerasa tidak, Bu?” Aku yang kaget
buru-buru menjawab ‘iya’. Satrio langsung melepaskan rangkulannya. Io
tertawa-tawa melihat aku kaget dirangkulnya tiba-tiba. Spontan aku memukul
kepalanya dengan lembut, membalaskan rasa kagetku.
“Bu, aku ke kamar dulu?” Io bangkit
dan pamit ke kamarnya. “Kalau novelnya mau dibaca, ibu pegang dulu aja.” Kembali
aku menganggukkan kepala, setuju dengan usulan Satrio. Dan memang, aku agak
penasaran dengan novel Surat Cinta Sang
Pengembara Sunyi.**) Surat cinta yang bagaimana yang dituliskan oleh si
Pengembara Sunyi ini? Aku mulai membuka halaman demi halaman novel itu.
Jantungku berdegup kencang. Wajahmu berkilau dalam siluet cahaya oranye
lampu panggung. Kecantikanmu yang memancar bagai berlian menghisapku begitu
dalam. Rambutmu masih seperti dulu tergerai indah di bahu. Aku tak dapat
melepaskan pandanganku darimu. *)
Kalimat-kalimat ini kubaca di awal
cerita, yang entah kenapa, tiba-tiba, melambungkan anganku. Seakan-akan pujian
itu ditujukan padaku. Desahan kecil terlantun dari mulutku selesai membaca
paragraph pertama novel Surat Cinta Sang
Pengembara Sunyi. Si penulis membuka kisah novelnya dengan menuliskan
perasaannya yang terdalam. Aku yang biasanya tidak terlalu perhatian pada
cerita-cerita yang kubaca, malam itu, seperti mendapat sihir kekuatan kata-kata
si penulis. Aku juga merasakan nyuttt dalam hatiku. Sepertinya, kalimat-kalimat
indah si penulis langsung menyetrum perasaanku juga. Setrum si penulis terhenti
gara-gara Kenang berteriak minta dibuatkan susu. Aku buru-buru bangkit setelah
menyelipkan kertas yang ada di meja sebagai penanda halaman.
Anak-anakku terbiasa mandiri dalam
usia kanaknya. Begitu susu sudah kubuatkan untuk Kenang, Nada sang kakak juga
ikut-ikutan minta dibuatkan coklat hangat kesukaannya. Coklat yang katanya
tiada tara enaknya jika dibuatkan olehku. Mereka kini asyik membaca buku
pemberian Satrio di kamar. Komputer juga sudah tampak menyala, membuka aplikasi
sebuah permainan otak. Kubiarkan saja mereka memainkannya. Keasyikan mereka
sebuah kado termahal untuk ‘me time’ aku malam itu. Kududuki lagi sofa tadi,
meraih novel milik Io.
Kembali aku terlarut dalam kisah
cinta si Pengembara Sunyi. Jujur saja, malam itu, segenap perasaanku
tertumpahkan membaca novel. Aku bisa merinding hebat membaca banyak surat cinta
yang dituliskan si penulis. Ini tidak biasa sekali dalam aku mengapresiasi
sebuah tulisan. Novel yang kini ada ditanganku benar-benar membuat gerah
seluruh perasaanku. Halaman demi halaman aku lahap cepat dengan segenap
perasaanku. Saking meresapi membaca novel aku tidak sadar Satrio sudah ada di
belakangku. Aku terkejut ketika sebuah dekapan tangan melingkar lembut
dileherku. Teriakan ahh dariku, membuat dekapan itu lepas, lantas terdengar
tawa renyah dari mulut Satrio.
“Duhhh, yang asyik baca…. Lupa
anak-anaknya deh!” Aku sempat tersipu dikatai begitu. Novel yang kupegang
bahkan nyaris jatuh karena kagetku. “Io mau dibuatkan apa?” Aku mencoba
mengalihkan keterkejutanku dengan menawarinya sesuatu. Gelengan kecil kepala
Satrio yang menjawab tawaranku. “Beneran nggak mau ibu buatkan sesuatu seperti
adik-adikmu?” Sekali lagi aku memberi Io tawaran. “Tidak Bu, makasih. Nanti aku
buat sendiri kalau pingin.” Sembari menepuk pundakku, Io berjalan ke arah
dispenser. Kulihat ia mengambil kopi instant yang ada di samping dispenser.
Menyeduhnya, menghirup wanginya seperti iklan-iklan di TV kemudian berlalu dari
situ. “Aku ngamar lagi ya, Bu….! Takut ngganggu ibu yang lagi merona,” katanya
sambil tersenyum.
“Awass ya kalau nggodain terus...
Nggak akan ibu bangunkan besok pagi,” kataku tak mau kalah. Hanya terdengar
tawa dari mulut anak lelakiku ini. Meskipun sudah sebesar itu Satrio kesulitan
bangun pagi sendiri. Selalu aku atau ayahnya yang membangunkan. Makanya, aku
berani mengancamnya gara-gara sudah mengagetkan sekaligus membuat aku tersipu. Begitu punggung tubuhnya menghilang
di kamarnya, aku mendesah lega dan segera meneruskan imajinasiku membaca karya Ryan Penatama si penulis novel. Aku
melirik kembali kamar Satrio sebelum membaca. Tampak dari tempatku duduk pintu
kamarnya terbuka sedikit, menampakkan dirinya yang sedang asyik di depan
laptop.
Setelah separuh novel kubaca, aku
tergelitik untuk mengulang kembali awal novel ini dikisahkan. Rambut tergerai sebahu mengingatkan masa
mudaku. Masa-masa SMA di sebuah pinggiran kota. Boleh dikata, saat SMA aku
merupakan salah satu murid perempuan yang cantik. Cantik untuk ukuran sebuah
desa. Itu pun karena kata teman-temanku sesama perempuan. Meskipun dijuluki
paling cantik, aku berusaha tetap bersahaja dan bergaul lumrah, dengan siapa
pun tanpa terkecuali. Masa-masa SMA kurasakan sebagai masa yang menyenangkan
berteman dengan banyak teman. Bahkan ada pula teman SMA dari tetangga desa. Tapi
akhirnya, kecantikanku masa SMA hanya berakhir dalam pelukan Nasir Soewandi.
Kuingat betul, seminggu lagi aku akan
mengikuti ujian nasional SMA. Rumahku kedatangan kerabat ayah. Sebetulnya
kekerabatan yang terjadi dikarenakan pernikahan antarsaudara. Tapi seingatku,
kerabat ayah ini tidak asing buat keluarga kami. Apalagi aku. Ayah sering sekali
berhubungan dengan Lik Wawa, begitu aku memanggil dan mengenalnya. Akan tetapi,
aku tidak pernah mengerti nama lengkapnya siapa dan tak pernah menanyakan hal
itu kepada ayah. Setiap beliau datang, aku selalu menyuguhkan minuman untuknya.
Wajar aku tahu wajah dan siapa keluarga kecilnya. Lik Wawa hanya hidup bersama
anak semata wayangnya. Istrinya sudah lama meninggal, ketika umur anak
lelakinya baru berusia 5 tahun. Sepanjang itu pulalah ia menduda, tidak menikah
lagi. Masih menurut ayah, Lik Wawa membesarkan sendiri anak lelakinya.
Malam itu, seminggu sebelum aku ujian
nasional SMA, Lik Wawa datang bersama anak semata wayangnya. Bocah lelaki kecil,
yang kusapa ‘adik’ ketika menyuguhkan minuman untuk mereka. “Ini Asa, anak
paklik. Masih kelas 5 SD. Umurnya 10 tahun,” Lik Wawa memberi penjelasan padaku
sesudah minuman aku suguhkan. Aku tersenyum seraya mengangguk.
“Ajak adikmu main ke dalam,” perintah
ayah setelah Lik Wawa mengenalkan anaknya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk
mematuhi perintah ayah. Asa aku ajak ke ruang tengah untuk menonton tivi dan
mengobrol santai. Kubiarkan ayah mengobrol dengan Lik Wawa. Sejurus kemudian,
ibu muncul dari pintu belakang dan langsung ikut nimbrung bersama ayah dan Lik
Wawa setelah ia menyapa aku dan Asa. Selama 3 orang dewasa mengobrol di ruang
tamu, aku berusaha menjadi kakak yang baik bagi Asa. Ternyata aku dan Asa hanya
terpaut usia 6 tahun. Pantaskan aku menyebut Asa sebagai adikku.
Ada kurang lebih satu jam, Lik Wawa
mengobrol bersama ayah dan ibu. Jelang pukul 9 malam, Lik Wawa berpamitan. Ia
berteriak memanggil anak lelakinya. Asa yang merasa dipanggil, bergegas bangkit
dan berpamitan padaku. “Makasih ya, Mbak. Lain kali, kalau aku ke sini lagi,
bolehkan?” Kepalaku mengangguk pelan kemudian mengantarkannya ke ruang tamu.
***
Aku termangu. Tak satu pun
universitas negeri pilihanku yang meloloskan aku. Aku gagal memasuki universitas
negeri baik melalui jalur undangan maupun ujian tulis. Pada saat aku masih blank hendak ngapain, ayah menghampiri aku di kamar. Tak lama kemudian, ibu ikut
menyusul masuk. Kedua kakakku sudah tidak tinggal di rumah lagi, terlebih sejak
keduanya bekerja di luar kota. Aku serasa menjadi anak tunggal di rumah.
Perempuan satu-satunya pula.
Selama ini, ayah memang tidak
mengijinkan aku untuk dekat dengan cowok secara khusus apalagi sampai harus
berpacaran. Peringatan ayah sangat jelas, karena ingin aku sukses dulu baru
memikirkan tentang cowok dan pernikahan. Namun malam itu, setelah aku gagal
diterima di universitas negeri, sikap ayah berbeda. Aku nyaris tidak bisa
berkata apa-apa mendengar penjelasan ayah. Dengan panjang lebar ayah
menjelaskan padaku. Bahasanya pun, dibuatnya sedemikian lembut, tidak
meledak-ledak.
“Ayah ingin kau menikah dengan Lik
Wawa.” Kalimat ini yang terus terngiang dibenakku sepanjang malam setelah ayah
dan ibu keluar dari kamarku. Aku lantas ingat, ternyata seminggu sebelum aku mengikuti
ujian nasional, inilah yang mereka bicarakan dengan Lik Wawa. Pantas saja Asa
dibawa dan diperkenalkan padaku. Hmmm…..
Keputusan aku dipinang Lik Wawa semua
lewat tangan ayah. Aku tidak kuasa menolak, karena memang sejak dulu aku patuh
selalu. Meskipun akan dinikahkan dengan Lik Wawa, ayah tidak memaksaku segera menjadi
istrinya. Aku masih diperbolehkan mengikuti kursus atau pelatihan yang kusukai.
Tapi bayangan menikah, kelak punya anak, membuatku tidak bersemangat mengikuti
kursus. Semua yang kuikuti merupakan bentuk kepatuhanku pada ayah. Satu hal yang
sangat kusesali dari keputusan ayah yang hendak menikahkan aku dengan Lik Wawa,
yaitu aku harus membatasi hubungan dengan teman-teman priaku.
“Jika tidak ada yang diperlukan di
luar rumah, sebaiknya kamu di rumah saja. Carilah kesibukan yang bermanfaat
yang kelak berguna jika kamu sudah berumah tangga,” begitulah pesan ayah. Hanya
media sosial sebagai pelampiasan keinginanku dalam pergaulan.
Tetap saja terasa ada yang kering di
dalam dadaku. Seusiaku yang baru lulus SMA dibatasi pergaulannya. Aku nyaris
tidak pernah merasakan masa-masa indah bersama pria seperti kebanyakan
teman-temanku yang sudah mengenal pria dan pacaran. Bahkan aku sempat tertegun
ketika Kirah, sahabatku, menunjukkan surat cinta yang diperolehnya dari
pacarnya. Apapun mengenai pacarnya Kirah selalu menyampaikan kepadaku. Ia
selalu membagi kisah cintanya denganku.
Bertepatan ulang tahunku yang ke-20,
hari itu juga aku resmi menyandang gelar tambahan: istri. Aku dinikahkan
langsung oleh ayah dengan Lik Wawa yang bernama lengkap Nasir Soewandi. Pria yang usianya lebih seperempat abad usiaku, plus seorang anak lelaki yang saat itu
berusia 14 tahun. Asa terlihat gembira setelah tahu yang menjadi ibu tirinya
adalah aku. Tak ada alasan aku membencinya, toh Asa anak baik dimataku.
“Aku senang, mbakku ini sekarang
adalah ibuku juga,” ucapnya kala itu. Ia bahkan menggenggam erat tanganku di
pelaminan. Ya, selama resepsi pernikahan itu, Asa terus mendampingiku dan Lik
Wawa di pelaminan. Senyumnya merekah kepada para tetamu yang mengucapkan rasa
bahagianya kepada kami bertiga.
Tuhan baru memercayai aku memiliki
anak kandung setelah usia pernikahanku 2 tahun. Lahirlah Nada disusul Kenang
selang 2 tahun berikutnya. Asa, si anak tiriku, juga senang memiliki adik. Lik
Wawa alias Abah Nasir, suamiku, sesungguhnya masih menginginkan anak perempuan
dariku, namun tak memaksa harus punya. “Seandainya terjadi kehamilan lagi
padamu, kita terima dengan rasa syukur. Apabila tidak terjadi mungkin hanya
Nada dan Kenang yang harus kita urusi bersama Asa,” ucap bijak Abah Nasir.
Kehidupanku akhirnya habis di rumah
mengurus kedua anakku, Asa, dan suami. Setiap waktu senggang, aku hanya
berselancar di media sosial. Meleburkan diri bersama dunia maya dan mengenal
teman-teman dari situ saja. Keseringan berada di media sosial, dengan usia yang
juga masih muda, membuat aku terkadang hendak memutar roda kehidupanku. Ada
letupan-letupan sesaat yang mendobrak dada, meski tetap aku tidak pernah berani
neko-neko. Melalui medsos juga aku
membaca banyak surat cinta yang romantis, yang tidak pernah aku rasakan. Untuk
kesekian kalinya lagi, jiwa mudaku menggelegak gara-gara membaca novel Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi karya Ryan
Penatama.
***
Setelah
mengulang halaman pertama novel yang membawa aku ke masa SMA, aku lanjutkan
lagi membaca novel milik Io. Hatiku benar-benar tersentuh dan bergetar membaca
surat cinta yang dituliskan si tokoh dalam novel. Entah kenapa hasrat dapat
membaca surat cinta membuncah hebat malam itu. Saking keasyikan membaca, untuk
kedua kalinya aku tidak sadar Io sudah ada di belakangku lagi. Mengawasiku
membaca novel miliknya.
“Kok
senyum-senyum terus sih, Bu?” Suara Io mengagetkan aku.
Tanpa
sungkan kukatakan saja pada Io bahwa aku belum pernah menerima surat cinta.
Oleh karena awalnya kami seperti kakak beradik, makanya aku berani mengutarakan
hal ini pada Io. “Abahmu tuh, nggak pernah memberi ibu surat cinta sejak ibu
dinikahinya.” Mendengar pengaduanku Io hanya terkekeh.
“Kasihan
deh Ibu,” sahut Io.
“Emang
mau dibuatkan surat cinta?” Kutatap mata Io sewaktu ia menawarkan dirinya
menuliskan surat cinta. Namun senyum tipis menyembul dibibirnya. Dan aku langsung
paham, itu hanya omongan asal-asalan saja padaku. Aku menanggapi senyumnya
dengan senyuman pula. Kami berdua akhirnya tertawa. Io kemudian berlalu dari
dekatku menuju dapur. Entah apa yang dikerjakannya di sana. Dari dapur Io
berteriak, “Sudahlah Bu, baca aja novel itu. Banyak surat cintanya, kan?”
Sesudah
sibuk di dapur, Io kembali ke kamarnya. “Bu, jangan lupa besok aku dibangunkan,
ya?” pintanya pelan. Kuanggukkan kepalaku sembari mengatakan ‘pastilah’. Io pun
menutup kamarnya.
Kulihat
di kamar anak-anak, Nada dan Kenang masih asyik bermain komputer. Aku lantas
minta mereka berhenti dan persiapan ritual sebelum tidur. Tidak sulit sama
sekali mengatur kedua anakku itu. Dan begitu mereka berbaring di ranjang
masing-masing, aku langsung meninggalkan mereka. Kembali ke sofa melanjutkan
membaca novel sembari menunggu Abah Nasir datang.
Kau laksana bunga yang menyebarkan berjuta
aroma wangi. Andaikan saja kau dalam taman liar, ingin kupetik dan kusimpan.
Tapi kau ada di taman indah berpenjaga, yang tak memungkinkan aku menyentuhmu.
Aku hanya bisa melihatmu setiap hari, mengaromai tubuhmu dari kejauhan dan
hanya bisa berharap sepanjang hayatku.
Ini
salah satu cetusan perasaan si Pengembara Cinta, mungkin pada seseorang yang
disukainya. Namun sepertinya, sang pujaan sudah dimiliki seseorang dan tidak
bisa didekati dari sisi mana pun. Membaca cetusan perasaan barusan, entah
kenapa desiran darahku mengalir lebih cepat. Ada dorongan dari dalam yang berkata
seandainya itu aku? Aku hanya mampu menghela napas, diam sejenak, dan bergumam
lirih, aku tak pernah membaca surat cinta. Perasaanku yang campur-aduk malam
itu, tertelan kesunyian malam yang memelukku tiba-tiba.
Aku
terkejut mendengar deringan HP yang berbunyi keras. Memecah kesunyian malam
itu. Tapi aku justru lebih kaget setelah mengetahui yang sebetulnya. Ternyata
sudah jam 5 pagi. Dan deringan di HP adalah alarm yang sengaja kusetel setiap
pagi. Dengan kesadaran yang masih terbatas, aku mencoba melihat sekelilingku
dan ternyata aku masih berada di sofa.
Kenapa
sepi?? Otakku mulai konek. Aku juga tidak menjumpai Si Abah, suamiku, di
sekitaran aku duduk. Kulihat sekali lagi HP-ku, siapa tahu ada kabar baik
darinya. Benar adanya. Abah mengirimkan pesan singkat setelah menelpon padaku berulang
kali. Ia hanya mengatakan tidak jadi pulang semalam karena masih berada di luar
kota. Sekarang sedang menginap di hotel bersama Bos-nya.
Astagfirullah, aku teringat kalau Io
harus dibangunkan. Kamarnya masih tertutup rapat. Perlahan kuketuk pintunya
sambil memanggil namanya. Terdengar jawaban ‘iya bu’ dari dalam. Lega aku Io
sudah bangun meskipun membangunkannya terlambat. Pagi yang berantakan dan serba
terburu-buru. Gara-gara aku ketiduran dan tidak mendengar alarm, semua terkena
imbas bangun terlambat.
Rumah kembali sepi ketika semua penghuninya
sudah pergi, menyisakan aku yang harus kembali menjadi nakoda rumah. Ketika
hendak meletakkan piring-piring kotor ke dapur, tak sengaja aku melihat kamar
Io tidak terkunci. Selama ini pun, Io tak pernah mengunci kamarnya kalau
bepergian. Ia memberi kebebasan siapa saja
memasuki kamarnya, asalkan tidak mengacak tatanan yang sudah dimapankan
olehnya. Kudorong perlahan pintu kamarnya dan mendapati kamar yang belum rapi.
Masih berserakan beberapa barang-barangnya. Bahkan laptop pun masih terpasang charger-nya. Dan tampaknya, Io lupa juga
mematikan laptopnya.
Ada
beberapa buku yang berserak di meja dan di tempat tidur, yang seluruhnya berupa
kumpulan cerpen dan novel. Juga ada kertas putih yang berisi tulisan tangannya.
Tampaknya seperti sebuah cerita atau alur cerita, entahlah…. Meja tempat Io biasa
mengetik memang menyatu dengan rak buku. Kesannya meja kerja yang luas dan
lebar. Kususun perlahan, satu per satu, buku-buku yang berserakan tadi.
Meletakkannya di meja lagi dan tidak ke dalam rak buku supaya Io nanti yang
mengaturnya sendiri.
Kabel
charger kucabut dari laptop. Aku
sangat yakin, pasti baterai laptop juga sudah 100%. Ketika kugoyangkan mouse,
layar laptop yang semula padam, menyala. Menampakkan program Microsoft Word. Ada tulisan di situ.
Terketik rapi seperti sebuah cerita. Aku gulung ke atas layar word tersebut ingin tahu apa bagian
atasnya. Dan aku membaca judul sebuah cerita.
SURAT CINTA
SANG PENGEMBARA SUNYI
Oleh Satrio
Perkasa
Itu
judul novel yang kubaca semalam. Novel yang semalam dibeli Io dan
dipinjamkannya padaku. Mengapa bukan Ryan Penatama penulisnya? Kenapa justru
nama lengkap Io, Satria Perkasa, yang tercantum di situ. Alinea pertama tulisan itu, sama persis
dengan novel Io yang kubaca.
“Jantungku
berdegup kencang. Wajahmu berkilau dalam siluet cahaya oranye lampu panggung.
Kecantikanmu yang memancar bagai berlian menghisapku begitu dalam. Rambutmu
masih seperti dulu tergerai indah di bahu. Aku tak dapat melepaskan pandanganku
darimu.”
Supaya mendapatkan jawabannya,
kuambil novel milik Io yang kuletakkan di meja dekat sofa. Aku dibuat
terperanjat karena semua kalimat di novel sama persis dengan kalimat-kalimat
yang ada dalam laptop Io. Tapi mengapa di laptop dituliskan nama Satria Perkasa
sedangkan pada novel merupakan karya Ryan Penatama? Jangan-jangan…, batinku
dalam hati.
Aku memang belum selesai membaca
novel Ryan Penatama sehingga belum tahu akhir cerita yang dituliskannya.
Buru-buru aku mencari akhir dari ketikan yang ada dalam laptop. Aku benar-benar
tidak menyangka membaca surat cinta sebagai penutup cerita Surat Cinta Sang Pengembara Sunyi. Surat cinta yang dibuatnya
bernada kesedihan. Sedih karena tidak bisa memperoleh apa yang diinginkan.
Barangkali sudah saatnya aku bangun, dan tidak
melanjutkan mimpi-mimpi yang selalu mengawal tidurku. Barangkali aku harus
ikhlas melepaskanmu menjadi bunga di taman indah, dan tak perlu menunggumu
tumbuh di taman liar pinggir jalan. Namun, tak seorang pun boleh melarangku
mendekatimu di taman indah, tak juga si pemilik taman indah.
Kamu tahu? Aku tak peduli siapa penjaga taman indahmu.
Yang kumau, aku masih bisa tetap membelaimu kala si penjaga lengah menjagamu.
Tak akan kubiarkan tubuh dan aromamu lumat diterjang panas dan hujan. Justru
aku akan menjagamu dengan segenap hatiku tanpa si pemilik taman indah
mengerti….
Asa adalah harapan. Dan aku tidak pernah berhenti
mengharapkanmu……
Aku terduduk lemas selesai membaca
surat cinta di ujung cerita dalam novel karya Satrio Perkasa (dalam laptop).
Aku tak pernah menyangka ada cinta yang terbalut sentuhan, dekapan, dan pelukan
selama ini. Aku abai kedekatan itu
membawa misi cinta. Dan tawaran ‘emang mau dibuatkan surat cinta’,
bukanlah tawaran biasa. Sebuah penawaran yang memang sudah direncanakan matang.
Aku hanya bisa mendesah
berulang-ulang. Yang kupikirkan bagaimana menghadapi Ryan Penatama yang ketika
di rumah menjelma menjadi anak tiriku. Kembali desahan nafasku mengalun
perlahan. Dan aku masih terduduk lemas di kamarnya, memandang layar laptop yang
masih menyala terang dan mempertontonkan cetusan-cetusan perasaannya yang
terangkum dalam surat cinta untukku.
THE END
Catatan:
*) Kalimat ini diambil dari cerpen
Han Gagas, “Wayang Potehi: Cinta Yang Pupus”, Kompas edisi Minggu, 24 Januari
2016
**) Judul novel dalam cerita ini terinspirasi dari cerpen Achmad Munif, "Pidato Cinta Pengembara Sunyi", Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 21 Februari 2016
**) Judul novel dalam cerita ini terinspirasi dari cerpen Achmad Munif, "Pidato Cinta Pengembara Sunyi", Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 21 Februari 2016
Meskipun terlambat, akhirnya jadi juga. Met ultah untuk Muntarie, tanggal yang sudah lewat kemarin (4 Maret). Tidak lewat bulan Maret pastinya, hehehehe..... Semoga senang menerimanya.
BalasHapus