MEMBALIK MASA LALU YANG TERLUPAKAN
Shiera agak terkejut ketika ponselnya bergetar-getar. Ia sengaja mematikan dering setiap malam. Sebagai gantinya ia setel mode vibra getar yang keras. Meja tempatnya bekerja bergetar yang sempat dirasakan kedua tangannya yang sedang berhenti mengetikkan huruf-huruf di laptop. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Berharap yang berkirim pesan adalah suaminya. Namun yang didapatkan, matanya justru terbelalak. Yang masuk dalam deretan pesan masuknya hanya 12 digit angka. Hanya nomor, yang artinya, pengirim bukan orang yang sudah tersimpan dalam daftar kontaknya. Ketika membuka pesan, yang muncul justru audio musik. Dengan cepat Shiera mendonlot pesan audio itu. Terdengar suara Iwan Fals melantunkan Yang Terlupakan.
Dengan raut terheran-heran Shiera
memutar lagu itu. Berpikir keras siapa si pengirim? Apa maksud mengirimkan lagu
Yang Terlupakan. Hingga lagu itu
selesai dinyanyikan Iwan Fals, Shiera tetap tak menemukan sosok pengirim lagu.
Membuka foto profil juga tidak membantu mengetahui sosok yang diinginkan. Hanya
dalam status si pengirim tertulis 3 hari lagi. Shiera tidak mudeng tulisan itu. Pikirnya, status
pada tiap pribadi pasti terkandung arti atau makna sendiri yang orang lain tak
perlu mengetahuinya. Lama Shiera berusaha menerka-nerka siapakah seseorang yang
sudah mengiriminya lagu itu menjelang tengah malam begini. Keasyikan
memikirkan, Shiera lupa kalau ia sedang menunggu suaminya tiba. Hujan menderas.
Serbuan angin malam yang dingin menyusup dari beberapa bagian rumahnya yang
memang banyak celah bersela yang memungkinkan hawa dingin bisa masuk.
Sampai tengah malam TENG, Asguna
suami Shiera tetap belum datang. Mata Shiera sudah mengerut. Beberapa senti
lagi siap merapat. Namun pantang baginya untuk pejamkan mata sebelum suaminya
masuk rumah. Petuah ibunya terus terngiang, tapi disaat yang bersamaan kantuk kian
menyergap. “Pantang kamu tidur sebelum suamimu kembali dan masuk ke rumah,”
begitu petuah ibunya. Meskipun sudah berulang kali juga Asguna mengingatkan
dirinya supaya kalau sudah lelah dan mengantuk, ia tidak perlu menunggu
kedatangannya. Toh suaminya juga membawa kunci rumah cadangan. Di saat mata Shiera
benar-benar hendak mengatup, ia dikejutkan getaran keras ponselnya lagi. Laptop
masih memancarkan sinar terangnya. Daftar yang dibuatnya tadi, pun masih tampak
dan belum diisikan.
Kali ini, Shiera tambah dibuat
bingung lagi. Si pengirim tak bernama mengirimkan pesan singkatnya. 2 HARI
LAGI…. Kali ini dia tak hanya menuliskan dalam status wattsapp-nya, tapi juga menuliskannya di badan pesan masuk.
Gara-gara membaca pesan itu, matanya yang semula meredup hendak mengatup, agak
sedikit membuka. Kembali otaknya yang sudah nyaris tenggelam di alam alpha,
terjaga lagi. Di tengah deraan kantuk dan lelah, tak ada yang bisa diperolehnya
dari sosok pengirim pesan singkat malam itu. Hujan yang menyebar hawa dingin
kian memperparah kantuk Shiera. Ia pun tertidur di sofa di samping meja
kerjanya. Dan laptopnya masih benderang, menerangi sedikit ruang di dekat Shiera
tertidur.
Lantunan ayat suci dari langgar
dekat rumah Shiera membangunkan lelapnya. Begitu matanya terbuka perlahan,
Shiera terkejut telah mendapatkan dirinya dalam bekapan selimut juga guling trepes kesayangannya. Sepersekian
detik, di jelang pagi itu, Shiera langsung menyadari kalau Asguna suaminya
pasti sudah pulang. Bergegas ia bangkit dan mendatangi kamar tidur mereka.
Shiera menarik nafas pelan seraya mendekati ujung tempat tidur.
“Mas, bangun...,” bisik Shiera
ditelinga suaminya. Tak ada reaksi dari Asguna. Shiera memang selalu bangun
jelang subuh untuk menghabiskan sepertiga malam, mengadu kepada-Nya. Sesudahnya
ia selalu akan membangunkan suaminya.
“Mas, bangun…,” ulang Shiera sekali
lagi. Suaranya tetap berbisik pelan. Bisikan kedua baru menggeliatkan Asguna
sekaligus membuka matanya. Sesungging senyuman terbentuk di wajah Asguna.
Lontaran kata maaf meluncur ringan dari mulut Shiera. Suaminya itu segera
bangkit dari tidurnya dan duduk bersila di ranjang mereka. Tangannya mengusap lembut kepala
Shiera mengikuti gerai rambut yang tak pernah terlihat setiap harinya.
“Nggak apa-apa. Kan sudah Mas bilang
nggak usah minta maaf kalau Dik Ira ketiduran. Mas ngerti! Kayak Dik Ira baru
jadi istri Mas ajah!” Tangan Asguna yang tadi mengusap lembut rambut istrinya
berpindah mengusap punggung belakangnya. Dengan setengah memeluk diusap lembut
punggung Shiera perlahan. Keduanya merasakan kehangatan di jelang subuh yang
masih menunggu.
Asguna merapatkan dirinya ke tubuh
istrinya sambil mendekap erat. Tangannya
melingkar penuh tubuh Shiera. Satu dua kali, ia daratkan kecupan mesra di pipi
Shiera. Masing-masing merasakan desiran hangat aliran darah yang bolak-balik meluncur
dari kepala ke bagian bawah tubuh, berulang-ulang. Dan ketika Asguna mencium
lembut ujung hidung Shiera serta menatap lembut dua bola mata istrinya, Shiera
langsung mengerti. Bahkan ketika suaminya merebahkannya di ranjang, Shiera
menyunggingkan senyuman manisnya.
Jelang subuh yang dingin. Tetesan sisa
air hujan semalam sesekali masih terdengar mengenai genting-genting rumah
mereka. Tetesan yang jatuh dari atas pohon yang ada di sekitar rumah sederhana
mereka. Alam sepertinya mengamini karena membiarkan keduanya menyatukan hasrat
yang menggelora. Bahkan, tanpa mereka sadari, lantunan surat An-Nisaa dari langgar dekat rumah seakan
melodi merdu penyatuan mereka. Shiera menggenggam erat tangan suaminya bahkan
membiarkan suaminya itu menjelajahi setiap inchi tubuhnya. Mata Shiera yang
terpejam membikin Asguna kian bergairah. Hembusan nafas hangat saling beradu
dikedua wajah mereka.
Panggilan Ash
shalaatu khairum minan-nauum, menjadi penanda untuk tubuh-tubuh yang
berhimpitan. Asguna membantingkan tubuhnya ke sebelah Shiera, meraih selimut
yang tergeletak di dekatnya kemudian menutupkan ke tubuh istrinya. Mata Shiera
terbuka, bibirnya menyunggingkan senyuman serta terdengar lirih ucapan sayang. “Terima kasih untuk cintamu, Mas…”
Shiera lupa kalau semalam otaknya
sedang kebingungan mencari tahu siapa pengirim “2 hari lagi” di ponselnya. Semua
gara-gara jelang subuh itu jiwa dan raganya dilontarkan bersama kekasih hatinya.
Bagaskara rupanya tak mau membiarkan
kegelapan dan basah menaungi semesta terus-menerus. Dengan keperkasaannya, ia
hadir dengan sorot mata tajamnya untuk mencahayai penghuni semesta. Pagi itu
masih pukul 7 kurang beberapa menit.
Di dapur Shiera menjerang air untuk
menyeduh kopi. Kopi bali asli yang akan dipersembahkan bagi suaminya yang
sedang membaca koran di beranda rumah mereka. Tak menyentuh ponsel membuatnya
lupa sama sekali dengan pesan “2 hari lagi”. Seduhan kopi buatan Shiera
langsung mengaromai dapur. Tak lupa bolen bandung buah tangan temannya kemarin
ia hangatkan untuk dijadikan pendamping kopi panas buatannya.
“Nah akhirnya datang juga si kopi,”
ujar Asguna begitu Shiera sampai ke hadapannya. Shiera cuma tersenyum mendengar
kata-kata suaminya. Ia langsung meletakkan cangkir kopi di meja sembari
menawarkan bolen bandung oleh-oleh temannya kemarin. Sesaat kemudian Shiera
masuk lagi ke dalam. Dan saat di dalam, Shiera mendengar suara suaminya
menanyakan apakah mau wedangan
bareng.
“Iya Mas, sebentar. Aku seduh
minuman untukku dulu,” teriak Shiera dari dalam.
“Ohh, Dik Ira nyeduh minuman
favorit,” ucap begitu Asguna melihat apa yang dibawa istrinya.
Shiera membikin minuman hangat
berupa perasan jeruk nipis dicampur madu karena ia tak suka kopi. Yang
terpenting, momen bersama suaminya tetap ia peroleh setiap pagi sebelum
masing-masing beraktivitas. Pagi yang mulai hangat karena sorot tajam si
bagaskara menjadi teman obrolan mereka berdua. Beberapa kali Asguna harus
melambaikan tangan atau berteriak “mariii atau monggo” kepada para tetangga
yang kebetulan lewat depan rumah mereka. Beberapa anak kecil yang lewat juga
kerap memanggil nama mereka. Anak-anak SD tersebut memanggil keduanya dengan
sebutan Pakde dan Bude. Siapa pun yang menyapa tanpa terkecuali selalu dibalas
dengan hangat oleh keduanya. Namun demikian, yang kerap membalas sapaan adalah
Asguna.
Sambil memegangi minumannya Shiera
melihat semua yang lewat terutama anak-anak kecil berseragam sekolah dasar.
Tatapannya sangat lekat ketika melihat anak-anak itu lewat di depan rumah
mereka. Sesekali Shiera juga ikut melambaikan tangan dan tersenyum. Akan
tetapi, sorot mata Shiera tak pernah berubah dari waktu ke waktu sepanjang ia
hidup bersama Asguna. Tatapan yang dalam, penuh arti, dan pengharapan besar. Jika
sudah begitu, Asguna pasti akan segera mengalihkan tatapan istrinya itu. Ia
tahu sekali arti tatapan mata istrinya jika melihat anak-anak kecil
berseliweran, setiap harinya.
“Ohya Dik, lusa, 2 hari lagi, Mas
mau ke Jakarta. Ada acara di kementerian kelautan. Setelah itu Mas langsung ke
Lampung. Dua atau tiga hari di sana,” kata Asguna berusaha mengalihkan
perhatian Shiera dari anak-anak yang barusan lewat. Mendengar penuturan
suaminya otomatis pandangan Shiera teralihkan. Kepalanya hanya manggut-manggut.
Wajahnya datar menerima pemberitahuan itu. Kepergian beberapa hari, beberapa
kali dalam hitungan pekan maupun bulan bagi Shiera sudah menjadi hal lumrah dan
biasa. Sejak menerima Asguna sebagai suami, ia sudah tahu risiko yang harus
dihadapi sehari-harinya disebabkan pekerjaan suaminya.
Tiba-tiba Shiera bagai ditepuk
kepalanya. Ia teringat kejadian semalam gara-gara suaminya mengatakan 2 hari
lagi hendak pergi ke Jakarta dan Lampung. Setelah menimbang-nimbang perlu
menyampaikan atau tidak pada suaminya, Shiera pun menceritakan yang terjadi
semalam. Sepanjang usia pernikahannya, Shiera tak pernah menutupi apapun yang
terjadi pada dirinya. Ia memang ingin menjadi istri yang sepantasnya, yang
berbakti kepada suami yang telah menjadi imamnya. Reaksi Asguna begitu
mendengar cerita istrinya hanya tertawa. “Kok tertawa sih, Mas?” tanya Shiera.
“Paling penggemar beratmu, Dik…!
Bukannya sebelum menikah denganku banyak yang senang padamu.” Lagi-lagi Asguna
tertawa setelah menjawab pertanyaan Shiera. Mendengar tertawa suaminya Shiera
tersenyum. Percuma saja kalau ia memasang wajah cemberut, merajuk atau
sebangsanya. Suaminya pasti tetap akan tertawa. Begitulah Asguna yang selalu
menanggapi kejadian-kejadian ringan, lucu atau serius sekalipun dari istrinya.
Awal mulanya Shiera sering cemberut jika apa yang dikemukakannya tidak
ditanggapi sungguh-sungguh. Seiring perjalanan waktu kebersamaannya bersama
Asguna, ia mulai menyadari bahwa suaminya tidak terlalu mempersoalkan
kejadian-kejadian yang terjadi padanya termasuk adanya penggemar atau fans
berat dirinya.
“Mas tahu, Dik Ira pasti bisa
menyelesaikan sendiri. Mas percaya bulat-bulat,” sambil jari-jarinya membentuk
lingkaran. Shiera tersenyum seraya berterima kasih sudah diberi kepercayaan.
Mereka pun menikmati pagi dengan sruputan
kopi hangat serta perasan nipidu (jeruk nipis madu) hangat sembari tetap melambaikan tangan pada orang-orang yang menyapa mereka.
Ponsel Shiera berbunyi. Dilihatnya
yang menelpon Sundari, sekretaris kantornya. Sundari hanya mengingatkan kalau pukul
9 ada yang ingin bertemu dengannya di kantor. Salah satu orang tua anak ingin
bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Dua tahun terakhir ini, Shiera
mengelola Tempat Penitipan Anak sekaligus Kelompok Bermain yang diberi nama “Bermuda”.
Tempat ini sengaja dibuatkan suami Shiera supaya ia tidak terlalu ngelangut saat ditinggal bepergian ke
luar kota. Tempat ini pula yang bisa menjadi buluh perindu bagi Shiera karena
menantikan pengharapan yang besar dari pernikahannya.
Kebersamaan mereka di beranda usai
begitu tegukan kopi terakhir Asguna terjadi. Asguna bergegas masuk untuk mandi
dan siap berangkat kerja. Seperti biasa, saat suaminya mandi Shiera menyiapkan
segala sesuatu yang bakal dikenakan dan dibawa suaminya. Semua beres. Semua
tertata rapi setiap harinya. Karena memang hanya itu yang selalu disiapkan
Shiera setiap harinya. Mengurusi perlengkapan Asguna.
Sepeninggal Asguna, Shiera
mempersiapkan dirinya. Ketika hendak masuk ke kamar mandi, ponselnya berbunyi
lagi. Kali ini ada pesan masuk. Ketika melihat siapa yang mengirimkan pesan,
hanya tarikan nafas yang keluar dari mulut Shiera. Apa sih maumu, batin Shiera begitu tahu yang mengirimkan pesan
adalah nomor tak bernama seperti tadi malam. Masih mencantumkan “2 hari lagi”,
kali ini si pengirim melampirkan lagu dari Ari Lasso. Cinta Sejati…
Shiera tetap belum bisa mengetahui siapa gerangan orang ini. Sekilas ia melihat foto profil si pengirim sudah berubah. Kali ini tampak tangan seseorang, -yang diyakini Shiera adalah tangan si pengirim pesan-, sedang memetik gitar. Meskipun isi kepalanya berkecamuk, Shiera tetap melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Pikirnya, setelah mandi siapa tahu ia akan menemukan jawabannya.
Shiera tetap belum bisa mengetahui siapa gerangan orang ini. Sekilas ia melihat foto profil si pengirim sudah berubah. Kali ini tampak tangan seseorang, -yang diyakini Shiera adalah tangan si pengirim pesan-, sedang memetik gitar. Meskipun isi kepalanya berkecamuk, Shiera tetap melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Pikirnya, setelah mandi siapa tahu ia akan menemukan jawabannya.
Seharian Shiera di TPA-nya, seharian
pula ia tak direcoki pesan-pesan rahasia. Hingga kantor usai pukul 4 sore,
Shiera tidak menerima pesan masuk kecuali pesan masuk yang jelas dan terarah
maunya. Diam-diam Shiera merasa ‘kecarian’ karena pesan rahasia tidak masuk
lagi ke ponselnya. Justru yang masuk melalui pesan singkat berasal dari Asguna.
Dik, aku pulang malam lagi. Nggak usah
nunggu Mas datang yaa. Kalau mau tidur, tidur ajah. Kunci serep sudah di
kantong. Mas masih di Sragen sore ini. Nanti malam baru pulang. Dan Shiera
hanya menjawab singkat saja: YA….
Malam hari, mata Shiera membesar.
Tidur sebentarnya sepulang dari TPA sudah membuatnya merasa segar. Setelah menangkringkan si belor di hidungnya
yang mbangir mulailah Shiera
mengerjakan tugas-tugas yang tertunda. Ada beberapa berkas kantor yang dibacanya.
Ia pun memastikan data-data tesisnya sudah terkumpul dan segera dibuatkan tabel.
Mengisi waktu dan hari-harinya, sengaja memang Shiera mengikuti kuliah S2 lagi.
Malam itu juga, semua perangkat miliknya aktif. You tube disetelnya lagu-lagu instrumentalia. Facebook diaktifkan termasuk messenger
bawaan FB. Tak lupa ponsel diaktifkan supaya BBM, whatsapp, dan LINE menyala.
Dan
ketika sapaan “Haiiii, met malam” muncul di messenger
FB, Shiera pun merasa memperoleh teman bekerja malam itu. Dialah teman
medsosnya yang gokil dan sering mengajaknya chatting
berjam-jam tanpa rasa lelah. Hari-harinya yang panjang menjadi tidak
membosankan. Semua gara-gara makhluk gokil itu.
Di tengah asyiknya chatting serta mengerjakan tugas,
ponselnya berbunyi. Pesan masuk hadir. Seperti kemarin, tarikan nafaslah yang
pertama kali dilakukan Shiera begitu membaca pesan masuk. Namun pesannya kini
berubah menjadi “1 hari lagi”. Waktu memang sudah beranjak dari pukul 00.00
tengah malam. Tepatnya pukul 00.07. Si pengirim sepertinya sedang menghitung
mundur sesuatu. Apa yang sedang dihitung, Shiera juga tidak mengerti. Pada
pesannya kali ini, ia juga menyisipkan lagu dari Ermi Kulit, Kasih.
Shiera blank sama sekali dengan si pengirim. Sekilas lagi, Shiera melihat foto profil si pengirim. Kalau tadi hanya tangan yang terlihat memetik gitar, kini fotonya menampakkan separuh badan, dengan masih tangan memetik gitar. Tetapi, tetap kepala si pengirim belum tampak. Rasa penasaran Shiera mulai membuncah. Shiera akhirnya pamit kepada teman chatting-nya, ingin tidur dan menyantaikan isi kepalanya yang mulai penasaran dengan si pengirim pesan rahasia.
Shiera blank sama sekali dengan si pengirim. Sekilas lagi, Shiera melihat foto profil si pengirim. Kalau tadi hanya tangan yang terlihat memetik gitar, kini fotonya menampakkan separuh badan, dengan masih tangan memetik gitar. Tetapi, tetap kepala si pengirim belum tampak. Rasa penasaran Shiera mulai membuncah. Shiera akhirnya pamit kepada teman chatting-nya, ingin tidur dan menyantaikan isi kepalanya yang mulai penasaran dengan si pengirim pesan rahasia.
Seperti hari kemarin, hari ini
Shiera tidak diganggu pesan rahasia. Ia pun terlihat sibuk dengan TPA terlebih
ada anak yang dititipkan agak rewel. Para pengasuh TPA jika kewalahan, mereka
akan menyerahkan kepada Shiera. Entah bagaimana sebabnya, anak-anak kecil yang
rewel, yang dititipkan orang tuanya di situ, akan luyut dan tunduk kepada
Shiera. Mungkin disebabkan hati Shiera yang tulus dan merindu sehingga
anak-anak kecil mudah terbuai dalam pelukan, gendongan atau pangkuannya.
Malam itu, Asguna suami Shiera sudah
tidur cepat. Pukul 9 ia pamit tidur duluan kepada Shiera. Sebelum membuka
laptop dan mengerjakan tesisnya, Shiera menyiapkan perlengkapan yang akan
dibawa suaminya bepergian ke Jakarta dan Lampung esok pagi.
“Hai, met malam.” Pesan itu yang
nongol di messenger FB Shiera. Siapa
lagi kalau bukan dari teman medsosnya yang gokil itu. Bersamaan dengan masuknya sapaan dari teman medsos Shiera,
ponsel Shiera berbunyi dan pesan masuk rahasia hadir. Pesannya: beberapa jam lagi…..berikut lagu Kasih Tak Sampai milik PADI. Shiera
mendengarkan lagu itu setelah membaca pesan masuknya.
“Aku sedang mengerjakan sebuah
tulisan nih..,” kata teman medsos Shiera ketika Shiera menanyakan via messenger sedang apa malam ini.
“Boleh tahu nggak judulnya apa
tulisanmu?” tanya Shiera kepada teman medsosnya itu.
Tanpa banyak alasan, teman Shiera
itu langsung menuliskan judul tulisannya: Membalik
Masa Lalu Yang Terlupakan. Dan dengan lancar pula temannya ini menceritakan
sedikit kisah dari tulisan yang dibuatnya. “Nanti
baca saja di MyBlog yaa….” pesan teman Shiera.
Malam itu, Shiera memutuskan untuk
tidur lebih awal. Karena besok pagi suaminya akan bepergian. Ia ingin sebelum
suaminya bangun, segala sesuatunya sudah tersedia. Setidaknya, ia masih bisa
menyeduhkan kopi panas untuk Asguna meskipun tidak mungkin berlama-lama duduk
di beranda depan rumah. Sebelum berpamitan kepada teman medsosnya, Shiera menengok
ponselnya, melihat apakah si pengirim pesan rahasia muncul. Ternyata tidak….
Shiera pun lega.
“Aku pamit ya, mau tidur duluan.
Besok suamiku mau bepergian,” tulis Shiera kepada teman medsosnya. Hanya
jawaban pendek OK yang muncul. Tapi tak berapa lama, muncul lagi tulisan, “Jangan
lupa besok mampir MyBlog untuk baca ceritaku, ya.”
***
Meskipun tidur hanya beberapa jam,
tapi Shiera merasa badannya segar setelah terbangun pukul setengah empat pagi.
Ia menengok sebelahnya, suaminya masih terlelap. Sebelum membangunkan, seperti
biasa Shiera bermunajat kepada Allah. Mengadu, berkeluh kesah, dan memohon
pertolongan dari-Nya supaya kehidupannya bersama suaminya selalu dalam
lindungan DIA.
Ketika hendak menjerang air, Shiera
menyalakan ponselnya. Yang muncul pertama kali adalah pesan masuk whatsapp dari si pengirim tak bernama. Dalam
badan pesan, ada foto seorang pria memainkan gitar, seperti penggalan foto-foto
yang pernah dikirimkan sebelumnya. Anehnya, Shiera tetap tak bisa mengenali
siapa orang yang telah membuatnya penasaran. Ia hanya mengatakan: HARI INI
UNTUKMU…. TAK PERNAH KULEWATKAN SEDIKIT PUN DALAM INGATANKU. Dan sebuah lagu
disertakan….
“Tengok juga //http:id.simple.com
ada sebuah cerita untukmu, Membalik Masa
Lalu Yang Terlupakan,” tulis si pengirim pesan tak bernama. Shiera jelas
kaget membaca judul cerita itu. “Bukannya itu alamat blog Mas Idhamte yang semalam
ia beri tahukan?” tanya Shiera sendiri keheranan. Tiba-tiba berkecamuk pikiran
Shiera pagi itu. Ia lantas mengaitkan antara Idhamte dengan pengirim tak bernama
yang 3 hari terakhir ini membuatnya penasaran. Shiera bertekad menuntaskan hal
ini dengan menanyakan langsung kepada Idhamte.
“Mas, cerita yang semalam ada di
blogmu, pesanan siapa?” tanya Shiera langsung melalui whatsapp. Hari masih pagi banget. Azan Subuh pun belum berkumandang.
Tanya Shiera kepada Idhamte tak
berjawab. Sementara perasaan Shiera makin tak karuan. Bermacam-macam dalam
benaknya mengenai Idhamte dengan pengirim tak bernama. “Apakah mungkin Idhamte
adalah pengirim tak bernama 3 hari terakhir ini?” Berulang kali Shiera melihat
ponselnya tapi yang ditunggu tak memberikan jawaban. Shiera pun lalu
membangunkan suaminya untuk memintanya bersiap-siap. Untuk sementara waktu, ia
tidak akan menceritakan apa yang barusan terjadi. Ia akan menjaganya sendiri.
Shiera kaget. Tiba-tiba saat bangun suaminya
mencium pipi dan bibirnya. “Selamat ulang tahun ya Dik!” Plang barulah Shiera
ngeh kalau hari ini merupakan tanggal kelahirannya. Saking penasaran, ketika si
pengirim tak bernama mengirimkan lagu Selamat Ulang Tahun milik Dewi Lestari,
Shiera tak menyadarinya. “Ya Allah, ya Tuhanku…. Maafkan aku yang melupakan
nikmat ini dari-Mu,” ucap Shiera dalam hati. Sementara itu Asguna agak tekejut
mendapatkan istrinya seperti orang linglung karena terlambat merespon ucapan
dan kecupannya. Untung tidak berlangsung lama karena Shiera segera mengerti
serta membalas hangat perlakuan suaminya kepada dirinya.
“Bukannya tidak mau memberitahukan
nama si narasumber cerita? Tapi aku sudah berjanji akan menjaga kerahasiaan
semua narasumberku yang kisahnya aku tuliskan.” Jawaban itu yang dibaca Shiera
ketika ia sudah sampai di kantor TPA. Shiera menghiba supaya Idhamte mau
memberitahukan siapa nama pemilik kisah Membalik
Masa Lalu Yang Terlupakan. Ia pun kemudian menjelaskan duduk masalahnya
kepada Idhamte.
“Pemilik kisah itu, temanku kuliah.
Namanya Hasbi Muhammad Alkari. Biasa dipanggil Hasmu juga kadang dipanggil
Hasmual.” Penjelasan singkat Idhamte ketika Sheira menanyakan kenal dari mana
dengan pemilik kisah.
Membaca nama Hasmu, seketika pikiran
Shiera melayang jauh ke masa lalu. Ke masa SMA. Ingatlah ia dengan si Hasmu
yang jago main gitar. Dan ketika mereka plesiran ke Kaliurang bersama-sama,
Hasmu yang memainkan lagu milik Iwan Fals, Yang
Terlupakan, saat acara santai. Selama memainkan gitar sekaligus menyanyikan
lagunya, Hasmu terus mencuri-curi pandang ke arah Shiera. Bahkan ketika sudah
kembali dari plesiran, di kelas, Hasmu masih suka mencuri-curi pandang padanya.
“Ira, Hasmu tuh naksir kamu,” kata
Wati teman sebangku Shiera, kala itu. Diberitahu begitu Shiera tidak langsung
percaya. Shiera baru percaya ketika membaca puisi cinta di mading sekolah. Dalam
puisi itu tertera nama Lamuha. Dan masih kata Wati, teman sebangku Shiera,
Lamuha adalah nama pena dari Hasmu.
“Kamu tahu, Ira? Puisi itu curahan
cinta Hasmu kepadamu. Dia tuh pemalu, tapi dia ungkapkan semua rasa cintanya
untukmu lewat aku,” kata Wati ketika Shiera menanyakan detil.
Hati Shiera sebenarnya
berbunga-bunga. Merasa tersanjung disukai Hasmu yang selain jago main gitar
juga berprestasi dalam bidang akademik. Namun begitu mengingat wajah ayahnya
yang super protektif, yang tak memperbolehkan dirinya berpacaran selama SMA,
juga pacaran dianggap tidak islami, Shiera hanya bisa terdiam. Ia lantas
membiarkan saja setiap puisi cinta yang ditorehkan Hasmu di mading sekolah.
Sesekali ia juga menerima puisi cinta lewat Wati teman sebangkunya.
Waktu menggilas perjalanan hidup
keduanya. Selama kuliah mereka tidak pernah bertemu. Hasmu yang sempat kuliah
selama 2 semester di UGM, akhirnya memutuskan menerima beasiswa ke Jerman,
sedangkan Shiera tetap berada di Indonesia. Mereka putus kontak apalagi jaman
tahun segitu medsos belum menjajah manusia. Selesai kuliah, Shiera menerima
saja calon yang disodorkan ayahnya. Jadilah ia istri Asguna Permadi.
“Makasih masih mengingat masa lalu
kita. Maaf aku tidak mengenalimu, karena caramu yang tidak biasa kau lakukan. Tapi
aku juga salut kamu membalikkan masa lalu kita yang terlupakan olehku.
Sayangnya, aku sudah milik suamiku sejak selesai kuliah dulu, Hasmu. Hasbi
Muhammad Alkari.” Begitu yang dituliskan Shiera dalam pesan singkat ke nomor
tak bernama. Kini, nomor tak bernama itu sudah diberinya nama.
Sejak Shiera membalas dengan
menyebutkan nama Hasmu, si pemilik nomor tidak pernah membalas atau mengirimkan
pesan lagi. Bahkan ia menghapus foto profilnya dan menggantikan dengan gambar
lain. Shiera kemudian seperti merasa bersalah. Ingin minta maaf tapi tidak tahu
bagaimana caranya.
Ketika Shiera membuat akun instagram
secara tidak sengaja ia menemukan akun Lamuha. Akun itu coba diikutinya
sehingga ia bisa masuk ke dalamnya. Sayangnya, Lamuha mengunci akunnya. Artinya,
hanya orang-orang yang disetujui saja yang bisa masuk dan melihat-lihat isi di
dalamnya. Tiga minggu berselang, Shiera baru bisa mengakses akun Lamuha. Nama
akunnya berubah menjadi Lamuha_German. Foto yang ditampilkan melulu foto-foto pemandangan
alam di Jerman. Tak satu pun menampilkan si pemilik akun. Tapi Shiera yakin,
itu adalah Hasmu.
→
Pagi itu, Shiera dan Asguna duduk santai menikmati hari libur tanggal merah.
Mereka menyeruput minuman kesukaan masing-masing. Ponsel Shiera bergetar. Ia
melihat pesan apa yang masuk di ponselnya. Pemberitahuan instagram menyala.
Shiera langsung membukanya. Jantungnya nyaris copot. Pesan yang diterimanya berasal
dari Hasmu.
Tulisan Hasmu: Tentu saja, dirimu sudah jadi milik suamimu dan aku tak akan mengganggu.
Supaya aku tidak terbayang masa lalu yang merambat ke masa kini, kuputuskan aku
akan menikmati kesendirianku di sini (Jerman), sampai kapan nanti waktu melipat hidupku.
Membaca pesan singkat itu, Shiera
ingin menangis tapi ditahannya. Akan menjadi pertanyaan suaminya pabila air
matanya meleleh tiba-tiba. Tanpa membuat rasa curiga berlebihan, Shiera berdiri
dan pura-pura masuk ke dalam. “Aku ke belakang dulu, Mas, mau setor ke kamar
mandi.” Akhirnya, itu yang diucapkan Shiera kepada suaminya. Dasar Asguna,
masih juga ia mencandai istrinya, “Hati-hati ya Dik, di kamar mandi!” Kemudian
terdengar kekehan tawa suaminya.
Makasih Mas Adhit, atas kirimannya. Berasa kesentil deh, hahaha...
BalasHapus