MEMBALIK MASA LALU YANG TERLUPAKAN



Waktu merayap perlahan tuju tengah malam. Shiera menghela nafas begitu melirik jam di dinding. Tepat jam 11. Tugas yang harus dirampungkan juga belum berakhir. Mata mulai berkerjap terusik suasana adem di luar. Sesekali tetesan curahan hujan terdengar menerpa atap rumahnya. Suasana makin terasa ngelangut apalagi selama mengerjakan tugas alunan lagu syahdu tak putus. Dan kini yang sedang mengalun Dirimu, Keenan Nasution. 
        Katanya, Asguna suami Shiera akan tiba di rumah jam 11. Sesuai pesan singkatnya sejam yang lalu. Sementara kini, jarum pendek jam dinding sudah mulai bergeser meninggalkan angka 11. Sosok yang ditunggu Shiera tak kunjung datang. Tetesan hujan yang semula ringkih mulai terdengar renyah. Apalagi selain beradu dengan atap fiber, beberapa bagian rumah Shiera dilapisi asbes. Derunya terdengar nyaring kini.    
        Shiera agak terkejut ketika ponselnya bergetar-getar. Ia sengaja mematikan dering setiap malam. Sebagai gantinya ia setel mode vibra getar yang keras. Meja tempatnya bekerja bergetar yang sempat dirasakan kedua tangannya yang sedang berhenti mengetikkan huruf-huruf di laptop. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Berharap yang berkirim pesan adalah suaminya. Namun yang didapatkan, matanya justru terbelalak. Yang masuk dalam deretan pesan masuknya hanya 12 digit angka. Hanya nomor, yang artinya, pengirim bukan orang yang sudah tersimpan dalam daftar kontaknya. Ketika membuka pesan, yang muncul justru audio musik. Dengan cepat Shiera mendonlot pesan audio itu. Terdengar suara Iwan Fals melantunkan Yang Terlupakan.

            Dengan raut terheran-heran Shiera memutar lagu itu. Berpikir keras siapa si pengirim? Apa maksud mengirimkan lagu Yang Terlupakan. Hingga lagu itu selesai dinyanyikan Iwan Fals, Shiera tetap tak menemukan sosok pengirim lagu. Membuka foto profil juga tidak membantu mengetahui sosok yang diinginkan. Hanya dalam status si pengirim tertulis 3 hari lagi. Shiera tidak mudeng tulisan itu. Pikirnya, status pada tiap pribadi pasti terkandung arti atau makna sendiri yang orang lain tak perlu mengetahuinya. Lama Shiera berusaha menerka-nerka siapakah seseorang yang sudah mengiriminya lagu itu menjelang tengah malam begini. Keasyikan memikirkan, Shiera lupa kalau ia sedang menunggu suaminya tiba. Hujan menderas. Serbuan angin malam yang dingin menyusup dari beberapa bagian rumahnya yang memang banyak celah bersela yang memungkinkan hawa dingin bisa masuk.
            Sampai tengah malam TENG, Asguna suami Shiera tetap belum datang. Mata Shiera sudah mengerut. Beberapa senti lagi siap merapat. Namun pantang baginya untuk pejamkan mata sebelum suaminya masuk rumah. Petuah ibunya terus terngiang, tapi disaat yang bersamaan kantuk kian menyergap. “Pantang kamu tidur sebelum suamimu kembali dan masuk ke rumah,” begitu petuah ibunya. Meskipun sudah berulang kali juga Asguna mengingatkan dirinya supaya kalau sudah lelah dan mengantuk, ia tidak perlu menunggu kedatangannya. Toh suaminya juga membawa kunci rumah cadangan. Di saat mata Shiera benar-benar hendak mengatup, ia dikejutkan getaran keras ponselnya lagi. Laptop masih memancarkan sinar terangnya. Daftar yang dibuatnya tadi, pun masih tampak dan belum diisikan.
            Kali ini, Shiera tambah dibuat bingung lagi. Si pengirim tak bernama mengirimkan pesan singkatnya. 2 HARI LAGI…. Kali ini dia tak hanya menuliskan dalam status wattsapp-nya, tapi juga menuliskannya di badan pesan masuk. Gara-gara membaca pesan itu, matanya yang semula meredup hendak mengatup, agak sedikit membuka. Kembali otaknya yang sudah nyaris tenggelam di alam alpha, terjaga lagi. Di tengah deraan kantuk dan lelah, tak ada yang bisa diperolehnya dari sosok pengirim pesan singkat malam itu. Hujan yang menyebar hawa dingin kian memperparah kantuk Shiera. Ia pun tertidur di sofa di samping meja kerjanya. Dan laptopnya masih benderang, menerangi sedikit ruang di dekat Shiera tertidur.
            Lantunan ayat suci dari langgar dekat rumah Shiera membangunkan lelapnya. Begitu matanya terbuka perlahan, Shiera terkejut telah mendapatkan dirinya dalam bekapan selimut  juga guling trepes kesayangannya. Sepersekian detik, di jelang pagi itu, Shiera langsung menyadari kalau Asguna suaminya pasti sudah pulang. Bergegas ia bangkit dan mendatangi kamar tidur mereka. Shiera menarik nafas pelan seraya mendekati ujung tempat tidur.
            “Mas, bangun...,” bisik Shiera ditelinga suaminya. Tak ada reaksi dari Asguna. Shiera memang selalu bangun jelang subuh untuk menghabiskan sepertiga malam, mengadu kepada-Nya. Sesudahnya ia selalu akan membangunkan suaminya.  
            “Mas, bangun…,” ulang Shiera sekali lagi. Suaranya tetap berbisik pelan. Bisikan kedua baru menggeliatkan Asguna sekaligus membuka matanya. Sesungging senyuman terbentuk di wajah Asguna. Lontaran kata maaf meluncur ringan dari mulut Shiera. Suaminya itu segera bangkit dari tidurnya dan duduk bersila di ranjang  mereka. Tangannya mengusap lembut kepala Shiera mengikuti gerai rambut yang tak pernah terlihat setiap harinya.
            “Nggak apa-apa. Kan sudah Mas bilang nggak usah minta maaf kalau Dik Ira ketiduran. Mas ngerti! Kayak Dik Ira baru jadi istri Mas ajah!” Tangan Asguna yang tadi mengusap lembut rambut istrinya berpindah mengusap punggung belakangnya. Dengan setengah memeluk diusap lembut punggung Shiera perlahan. Keduanya merasakan kehangatan di jelang subuh yang masih menunggu.
            Asguna merapatkan dirinya ke tubuh istrinya sambil mendekap erat.  Tangannya melingkar penuh tubuh Shiera. Satu dua kali, ia daratkan kecupan mesra di pipi Shiera. Masing-masing merasakan desiran hangat aliran darah yang bolak-balik meluncur dari kepala ke bagian bawah tubuh, berulang-ulang. Dan ketika Asguna mencium lembut ujung hidung Shiera serta menatap lembut dua bola mata istrinya, Shiera langsung mengerti. Bahkan ketika suaminya merebahkannya di ranjang, Shiera menyunggingkan senyuman manisnya.   
            Jelang subuh yang dingin. Tetesan sisa air hujan semalam sesekali masih terdengar mengenai genting-genting rumah mereka. Tetesan yang jatuh dari atas pohon yang ada di sekitar rumah sederhana mereka. Alam sepertinya mengamini karena membiarkan keduanya menyatukan hasrat yang menggelora. Bahkan, tanpa mereka sadari, lantunan surat An-Nisaa dari langgar dekat rumah seakan melodi merdu penyatuan mereka. Shiera menggenggam erat tangan suaminya bahkan membiarkan suaminya itu menjelajahi setiap inchi tubuhnya. Mata Shiera yang terpejam membikin Asguna kian bergairah. Hembusan nafas hangat saling beradu dikedua wajah mereka.
             Panggilan Ash shalaatu khairum minan-nauum, menjadi penanda untuk tubuh-tubuh yang berhimpitan. Asguna membantingkan tubuhnya ke sebelah Shiera, meraih selimut yang tergeletak di dekatnya kemudian menutupkan ke tubuh istrinya. Mata Shiera terbuka, bibirnya menyunggingkan senyuman serta terdengar lirih ucapan sayang. “Terima kasih untuk cintamu, Mas…”
            Shiera lupa kalau semalam otaknya sedang kebingungan mencari tahu siapa pengirim “2 hari lagi” di ponselnya. Semua gara-gara jelang subuh itu jiwa dan raganya dilontarkan bersama kekasih hatinya. 
Bagaskara rupanya tak mau membiarkan kegelapan dan basah menaungi semesta terus-menerus. Dengan keperkasaannya, ia hadir dengan sorot mata tajamnya untuk mencahayai penghuni semesta. Pagi itu masih pukul 7 kurang beberapa menit.
            Di dapur Shiera menjerang air untuk menyeduh kopi. Kopi bali asli yang akan dipersembahkan bagi suaminya yang sedang membaca koran di beranda rumah mereka. Tak menyentuh ponsel membuatnya lupa sama sekali dengan pesan “2 hari lagi”. Seduhan kopi buatan Shiera langsung mengaromai dapur. Tak lupa bolen bandung buah tangan temannya kemarin ia hangatkan untuk dijadikan pendamping kopi panas buatannya.
            “Nah akhirnya datang juga si kopi,” ujar Asguna begitu Shiera sampai ke hadapannya. Shiera cuma tersenyum mendengar kata-kata suaminya. Ia langsung meletakkan cangkir kopi di meja sembari menawarkan bolen bandung oleh-oleh temannya kemarin. Sesaat kemudian Shiera masuk lagi ke dalam. Dan saat di dalam, Shiera mendengar suara suaminya menanyakan apakah mau wedangan bareng.
            “Iya Mas, sebentar. Aku seduh minuman untukku dulu,” teriak Shiera dari dalam.
            “Ohh, Dik Ira nyeduh minuman favorit,” ucap begitu Asguna melihat apa yang dibawa istrinya.
            Shiera membikin minuman hangat berupa perasan jeruk nipis dicampur madu karena ia tak suka kopi. Yang terpenting, momen bersama suaminya tetap ia peroleh setiap pagi sebelum masing-masing beraktivitas. Pagi yang mulai hangat karena sorot tajam si bagaskara menjadi teman obrolan mereka berdua. Beberapa kali Asguna harus melambaikan tangan atau berteriak “mariii atau monggo” kepada para tetangga yang kebetulan lewat depan rumah mereka. Beberapa anak kecil yang lewat juga kerap memanggil nama mereka. Anak-anak SD tersebut memanggil keduanya dengan sebutan Pakde dan Bude. Siapa pun yang menyapa tanpa terkecuali selalu dibalas dengan hangat oleh keduanya. Namun demikian, yang kerap membalas sapaan adalah Asguna.
            Sambil memegangi minumannya Shiera melihat semua yang lewat terutama anak-anak kecil berseragam sekolah dasar. Tatapannya sangat lekat ketika melihat anak-anak itu lewat di depan rumah mereka. Sesekali Shiera juga ikut melambaikan tangan dan tersenyum. Akan tetapi, sorot mata Shiera tak pernah berubah dari waktu ke waktu sepanjang ia hidup bersama Asguna. Tatapan yang dalam, penuh arti, dan pengharapan besar. Jika sudah begitu, Asguna pasti akan segera mengalihkan tatapan istrinya itu. Ia tahu sekali arti tatapan mata istrinya jika melihat anak-anak kecil berseliweran, setiap harinya.
            “Ohya Dik, lusa, 2 hari lagi, Mas mau ke Jakarta. Ada acara di kementerian kelautan. Setelah itu Mas langsung ke Lampung. Dua atau tiga hari di sana,” kata Asguna berusaha mengalihkan perhatian Shiera dari anak-anak yang barusan lewat. Mendengar penuturan suaminya otomatis pandangan Shiera teralihkan. Kepalanya hanya manggut-manggut. Wajahnya datar menerima pemberitahuan itu. Kepergian beberapa hari, beberapa kali dalam hitungan pekan maupun bulan bagi Shiera sudah menjadi hal lumrah dan biasa. Sejak menerima Asguna sebagai suami, ia sudah tahu risiko yang harus dihadapi sehari-harinya disebabkan pekerjaan suaminya.
            Tiba-tiba Shiera bagai ditepuk kepalanya. Ia teringat kejadian semalam gara-gara suaminya mengatakan 2 hari lagi hendak pergi ke Jakarta dan Lampung. Setelah menimbang-nimbang perlu menyampaikan atau tidak pada suaminya, Shiera pun menceritakan yang terjadi semalam. Sepanjang usia pernikahannya, Shiera tak pernah menutupi apapun yang terjadi pada dirinya. Ia memang ingin menjadi istri yang sepantasnya, yang berbakti kepada suami yang telah menjadi imamnya. Reaksi Asguna begitu mendengar cerita istrinya hanya tertawa. “Kok tertawa sih, Mas?” tanya Shiera.
            “Paling penggemar beratmu, Dik…! Bukannya sebelum menikah denganku banyak yang senang padamu.” Lagi-lagi Asguna tertawa setelah menjawab pertanyaan Shiera. Mendengar tertawa suaminya Shiera tersenyum. Percuma saja kalau ia memasang wajah cemberut, merajuk atau sebangsanya. Suaminya pasti tetap akan tertawa. Begitulah Asguna yang selalu menanggapi kejadian-kejadian ringan, lucu atau serius sekalipun dari istrinya. Awal mulanya Shiera sering cemberut jika apa yang dikemukakannya tidak ditanggapi sungguh-sungguh. Seiring perjalanan waktu kebersamaannya bersama Asguna, ia mulai menyadari bahwa suaminya tidak terlalu mempersoalkan kejadian-kejadian yang terjadi padanya termasuk adanya penggemar atau fans berat dirinya.
            “Mas tahu, Dik Ira pasti bisa menyelesaikan sendiri. Mas percaya bulat-bulat,” sambil jari-jarinya membentuk lingkaran. Shiera tersenyum seraya berterima kasih sudah diberi kepercayaan. Mereka pun menikmati pagi dengan sruputan kopi hangat serta perasan nipidu (jeruk nipis madu) hangat sembari tetap melambaikan tangan pada orang-orang yang menyapa mereka.
            Ponsel Shiera berbunyi. Dilihatnya yang menelpon Sundari, sekretaris kantornya. Sundari hanya mengingatkan kalau pukul 9 ada yang ingin bertemu dengannya di kantor. Salah satu orang tua anak ingin bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Dua tahun terakhir ini, Shiera mengelola Tempat Penitipan Anak sekaligus Kelompok Bermain yang diberi nama “Bermuda”. Tempat ini sengaja dibuatkan suami Shiera supaya ia tidak terlalu ngelangut saat ditinggal bepergian ke luar kota. Tempat ini pula yang bisa menjadi buluh perindu bagi Shiera karena menantikan pengharapan yang besar dari pernikahannya.     
            Kebersamaan mereka di beranda usai begitu tegukan kopi terakhir Asguna terjadi. Asguna bergegas masuk untuk mandi dan siap berangkat kerja. Seperti biasa, saat suaminya mandi Shiera menyiapkan segala sesuatu yang bakal dikenakan dan dibawa suaminya. Semua beres. Semua tertata rapi setiap harinya. Karena memang hanya itu yang selalu disiapkan Shiera setiap harinya. Mengurusi perlengkapan Asguna.
            Sepeninggal Asguna, Shiera mempersiapkan dirinya. Ketika hendak masuk ke kamar mandi, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini ada pesan masuk. Ketika melihat siapa yang mengirimkan pesan, hanya tarikan nafas yang keluar dari mulut Shiera. Apa sih maumu, batin Shiera begitu tahu yang mengirimkan pesan adalah nomor tak bernama seperti tadi malam. Masih mencantumkan “2 hari lagi”, kali ini si pengirim melampirkan lagu dari Ari Lasso. Cinta Sejati…

 Shiera tetap belum bisa mengetahui siapa gerangan orang ini. Sekilas ia melihat foto profil si pengirim sudah berubah. Kali ini tampak tangan seseorang, -yang diyakini Shiera adalah tangan si pengirim pesan-, sedang memetik gitar. Meskipun isi kepalanya berkecamuk, Shiera tetap melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Pikirnya, setelah mandi siapa tahu ia akan menemukan jawabannya.
            Seharian Shiera di TPA-nya, seharian pula ia tak direcoki pesan-pesan rahasia. Hingga kantor usai pukul 4 sore, Shiera tidak menerima pesan masuk kecuali pesan masuk yang jelas dan terarah maunya. Diam-diam Shiera merasa ‘kecarian’ karena pesan rahasia tidak masuk lagi ke ponselnya. Justru yang masuk melalui pesan singkat berasal dari Asguna. Dik, aku pulang malam lagi. Nggak usah nunggu Mas datang yaa. Kalau mau tidur, tidur ajah. Kunci serep sudah di kantong. Mas masih di Sragen sore ini. Nanti malam baru pulang. Dan Shiera hanya menjawab singkat saja: YA….
            Malam hari, mata Shiera membesar. Tidur sebentarnya sepulang dari TPA sudah membuatnya merasa segar. Setelah menangkringkan si belor di hidungnya yang mbangir mulailah Shiera mengerjakan tugas-tugas yang tertunda. Ada beberapa berkas kantor yang dibacanya. Ia pun memastikan data-data tesisnya sudah terkumpul dan segera dibuatkan tabel. Mengisi waktu dan hari-harinya, sengaja memang Shiera mengikuti kuliah S2 lagi. Malam itu juga, semua perangkat miliknya aktif. You tube disetelnya lagu-lagu instrumentalia. Facebook diaktifkan termasuk messenger bawaan FB. Tak lupa ponsel diaktifkan supaya BBM, whatsapp, dan LINE menyala.  
            Dan ketika sapaan “Haiiii, met malam” muncul di messenger FB, Shiera pun merasa memperoleh teman bekerja malam itu. Dialah teman medsosnya yang gokil dan sering mengajaknya chatting berjam-jam tanpa rasa lelah. Hari-harinya yang panjang menjadi tidak membosankan. Semua gara-gara makhluk gokil itu.
            Di tengah asyiknya chatting serta mengerjakan tugas, ponselnya berbunyi. Pesan masuk hadir. Seperti kemarin, tarikan nafaslah yang pertama kali dilakukan Shiera begitu membaca pesan masuk. Namun pesannya kini berubah menjadi “1 hari lagi”. Waktu memang sudah beranjak dari pukul 00.00 tengah malam. Tepatnya pukul 00.07. Si pengirim sepertinya sedang menghitung mundur sesuatu. Apa yang sedang dihitung, Shiera juga tidak mengerti. Pada pesannya kali ini, ia juga menyisipkan lagu dari Ermi Kulit, Kasih.

Shiera blank sama sekali dengan si pengirim. Sekilas lagi, Shiera melihat foto profil si pengirim. Kalau tadi hanya tangan yang terlihat memetik gitar, kini fotonya menampakkan separuh badan, dengan masih tangan memetik gitar. Tetapi, tetap kepala si pengirim belum tampak. Rasa penasaran Shiera mulai membuncah. Shiera akhirnya pamit kepada teman chatting-nya, ingin tidur dan menyantaikan isi kepalanya yang mulai penasaran dengan si pengirim pesan rahasia.
            Seperti hari kemarin, hari ini Shiera tidak diganggu pesan rahasia. Ia pun terlihat sibuk dengan TPA terlebih ada anak yang dititipkan agak rewel. Para pengasuh TPA jika kewalahan, mereka akan menyerahkan kepada Shiera. Entah bagaimana sebabnya, anak-anak kecil yang rewel, yang dititipkan orang tuanya di situ, akan luyut dan tunduk kepada Shiera. Mungkin disebabkan hati Shiera yang tulus dan merindu sehingga anak-anak kecil mudah terbuai dalam pelukan, gendongan atau pangkuannya.
            Malam itu, Asguna suami Shiera sudah tidur cepat. Pukul 9 ia pamit tidur duluan kepada Shiera. Sebelum membuka laptop dan mengerjakan tesisnya, Shiera menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa suaminya bepergian ke Jakarta dan Lampung esok pagi.
            “Hai, met malam.” Pesan itu yang nongol di messenger FB Shiera. Siapa lagi kalau bukan dari teman medsosnya yang gokil itu.      Bersamaan dengan masuknya sapaan dari teman medsos Shiera, ponsel Shiera berbunyi dan pesan masuk rahasia hadir. Pesannya: beberapa jam lagi…..berikut lagu Kasih Tak Sampai milik PADI. Shiera mendengarkan lagu itu setelah membaca pesan masuknya.

            “Aku sedang mengerjakan sebuah tulisan nih..,” kata teman medsos Shiera ketika Shiera menanyakan via messenger sedang apa malam ini.
            “Boleh tahu nggak judulnya apa tulisanmu?” tanya Shiera kepada teman medsosnya itu.
            Tanpa banyak alasan, teman Shiera itu langsung menuliskan judul tulisannya: Membalik Masa Lalu Yang Terlupakan. Dan dengan lancar pula temannya ini menceritakan sedikit kisah dari tulisan yang dibuatnya. “Nanti baca saja di MyBlog yaa….” pesan teman Shiera.
            Malam itu, Shiera memutuskan untuk tidur lebih awal. Karena besok pagi suaminya akan bepergian. Ia ingin sebelum suaminya bangun, segala sesuatunya sudah tersedia. Setidaknya, ia masih bisa menyeduhkan kopi panas untuk Asguna meskipun tidak mungkin berlama-lama duduk di beranda depan rumah. Sebelum berpamitan kepada teman medsosnya, Shiera menengok ponselnya, melihat apakah si pengirim pesan rahasia muncul. Ternyata tidak…. Shiera pun lega.
            “Aku pamit ya, mau tidur duluan. Besok suamiku mau bepergian,” tulis Shiera kepada teman medsosnya. Hanya jawaban pendek OK yang muncul. Tapi tak berapa lama, muncul lagi tulisan, “Jangan lupa besok mampir MyBlog untuk baca ceritaku, ya.”
***
            Meskipun tidur hanya beberapa jam, tapi Shiera merasa badannya segar setelah terbangun pukul setengah empat pagi. Ia menengok sebelahnya, suaminya masih terlelap. Sebelum membangunkan, seperti biasa Shiera bermunajat kepada Allah. Mengadu, berkeluh kesah, dan memohon pertolongan dari-Nya supaya kehidupannya bersama suaminya selalu dalam lindungan DIA.
            Ketika hendak menjerang air, Shiera menyalakan ponselnya. Yang muncul pertama kali adalah pesan masuk whatsapp dari si pengirim tak bernama. Dalam badan pesan, ada foto seorang pria memainkan gitar, seperti penggalan foto-foto yang pernah dikirimkan sebelumnya. Anehnya, Shiera tetap tak bisa mengenali siapa orang yang telah membuatnya penasaran. Ia hanya mengatakan: HARI INI UNTUKMU…. TAK PERNAH KULEWATKAN SEDIKIT PUN DALAM INGATANKU. Dan sebuah lagu disertakan…. 

            “Tengok juga //http:id.simple.com ada sebuah cerita untukmu, Membalik Masa Lalu Yang Terlupakan,” tulis si pengirim pesan tak bernama. Shiera jelas kaget membaca judul cerita itu. “Bukannya itu alamat blog Mas Idhamte yang semalam ia beri tahukan?” tanya Shiera sendiri keheranan. Tiba-tiba berkecamuk pikiran Shiera pagi itu. Ia lantas mengaitkan antara Idhamte dengan pengirim tak bernama yang 3 hari terakhir ini membuatnya penasaran. Shiera bertekad menuntaskan hal ini dengan menanyakan langsung kepada Idhamte.
            “Mas, cerita yang semalam ada di blogmu, pesanan siapa?” tanya Shiera langsung melalui whatsapp. Hari masih pagi banget. Azan Subuh pun belum berkumandang.
            Tanya Shiera kepada Idhamte tak berjawab. Sementara perasaan Shiera makin tak karuan. Bermacam-macam dalam benaknya mengenai Idhamte dengan pengirim tak bernama. “Apakah mungkin Idhamte adalah pengirim tak bernama 3 hari terakhir ini?” Berulang kali Shiera melihat ponselnya tapi yang ditunggu tak memberikan jawaban. Shiera pun lalu membangunkan suaminya untuk memintanya bersiap-siap. Untuk sementara waktu, ia tidak akan menceritakan apa yang barusan terjadi. Ia akan menjaganya sendiri.
            Shiera kaget. Tiba-tiba saat bangun suaminya mencium pipi dan bibirnya. “Selamat ulang tahun ya Dik!” Plang barulah Shiera ngeh kalau hari ini merupakan tanggal kelahirannya. Saking penasaran, ketika si pengirim tak bernama mengirimkan lagu Selamat Ulang Tahun milik Dewi Lestari, Shiera tak menyadarinya. “Ya Allah, ya Tuhanku…. Maafkan aku yang melupakan nikmat ini dari-Mu,” ucap Shiera dalam hati. Sementara itu Asguna agak tekejut mendapatkan istrinya seperti orang linglung karena terlambat merespon ucapan dan kecupannya. Untung tidak berlangsung lama karena Shiera segera mengerti serta membalas hangat perlakuan suaminya kepada dirinya.
            “Bukannya tidak mau memberitahukan nama si narasumber cerita? Tapi aku sudah berjanji akan menjaga kerahasiaan semua narasumberku yang kisahnya aku tuliskan.” Jawaban itu yang dibaca Shiera ketika ia sudah sampai di kantor TPA. Shiera menghiba supaya Idhamte mau memberitahukan siapa nama pemilik kisah Membalik Masa Lalu Yang Terlupakan. Ia pun kemudian menjelaskan duduk masalahnya kepada Idhamte.
            “Pemilik kisah itu, temanku kuliah. Namanya Hasbi Muhammad Alkari. Biasa dipanggil Hasmu juga kadang dipanggil Hasmual.” Penjelasan singkat Idhamte ketika Sheira menanyakan kenal dari mana dengan pemilik kisah.
            Membaca nama Hasmu, seketika pikiran Shiera melayang jauh ke masa lalu. Ke masa SMA. Ingatlah ia dengan si Hasmu yang jago main gitar. Dan ketika mereka plesiran ke Kaliurang bersama-sama, Hasmu yang memainkan lagu milik Iwan Fals, Yang Terlupakan, saat acara santai. Selama memainkan gitar sekaligus menyanyikan lagunya, Hasmu terus mencuri-curi pandang ke arah Shiera. Bahkan ketika sudah kembali dari plesiran, di kelas, Hasmu masih suka mencuri-curi pandang padanya.
            “Ira, Hasmu tuh naksir kamu,” kata Wati teman sebangku Shiera, kala itu. Diberitahu begitu Shiera tidak langsung percaya. Shiera baru percaya ketika membaca puisi cinta di mading sekolah. Dalam puisi itu tertera nama Lamuha. Dan masih kata Wati, teman sebangku Shiera, Lamuha adalah nama pena dari Hasmu.
            “Kamu tahu, Ira? Puisi itu curahan cinta Hasmu kepadamu. Dia tuh pemalu, tapi dia ungkapkan semua rasa cintanya untukmu lewat aku,” kata Wati ketika Shiera menanyakan detil.
            Hati Shiera sebenarnya berbunga-bunga. Merasa tersanjung disukai Hasmu yang selain jago main gitar juga berprestasi dalam bidang akademik. Namun begitu mengingat wajah ayahnya yang super protektif, yang tak memperbolehkan dirinya berpacaran selama SMA, juga pacaran dianggap tidak islami, Shiera hanya bisa terdiam. Ia lantas membiarkan saja setiap puisi cinta yang ditorehkan Hasmu di mading sekolah. Sesekali ia juga menerima puisi cinta lewat Wati teman sebangkunya.
            Waktu menggilas perjalanan hidup keduanya. Selama kuliah mereka tidak pernah bertemu. Hasmu yang sempat kuliah selama 2 semester di UGM, akhirnya memutuskan menerima beasiswa ke Jerman, sedangkan Shiera tetap berada di Indonesia. Mereka putus kontak apalagi jaman tahun segitu medsos belum menjajah manusia. Selesai kuliah, Shiera menerima saja calon yang disodorkan ayahnya. Jadilah ia istri Asguna Permadi.
            “Makasih masih mengingat masa lalu kita. Maaf aku tidak mengenalimu, karena caramu yang tidak biasa kau lakukan. Tapi aku juga salut kamu membalikkan masa lalu kita yang terlupakan olehku. Sayangnya, aku sudah milik suamiku sejak selesai kuliah dulu, Hasmu. Hasbi Muhammad Alkari.” Begitu yang dituliskan Shiera dalam pesan singkat ke nomor tak bernama. Kini, nomor tak bernama itu sudah diberinya nama.
            Sejak Shiera membalas dengan menyebutkan nama Hasmu, si pemilik nomor tidak pernah membalas atau mengirimkan pesan lagi. Bahkan ia menghapus foto profilnya dan menggantikan dengan gambar lain. Shiera kemudian seperti merasa bersalah. Ingin minta maaf tapi tidak tahu bagaimana caranya.
            Ketika Shiera membuat akun instagram secara tidak sengaja ia menemukan akun Lamuha. Akun itu coba diikutinya sehingga ia bisa masuk ke dalamnya. Sayangnya, Lamuha mengunci akunnya. Artinya, hanya orang-orang yang disetujui saja yang bisa masuk dan melihat-lihat isi di dalamnya. Tiga minggu berselang, Shiera baru bisa mengakses akun Lamuha. Nama akunnya berubah menjadi Lamuha_German. Foto yang ditampilkan melulu foto-foto pemandangan alam di Jerman. Tak satu pun menampilkan si pemilik akun. Tapi Shiera yakin, itu adalah Hasmu.
            Pagi itu, Shiera dan Asguna duduk santai menikmati hari libur tanggal merah. Mereka menyeruput minuman kesukaan masing-masing. Ponsel Shiera bergetar. Ia melihat pesan apa yang masuk di ponselnya. Pemberitahuan instagram menyala. Shiera langsung membukanya. Jantungnya nyaris copot. Pesan yang diterimanya berasal dari Hasmu.
            Tulisan Hasmu: Tentu saja, dirimu sudah jadi milik suamimu dan aku tak akan mengganggu. Supaya aku tidak terbayang masa lalu yang merambat ke masa kini, kuputuskan aku akan menikmati kesendirianku di sini (Jerman), sampai kapan nanti waktu  melipat hidupku.  
            Membaca pesan singkat itu, Shiera ingin menangis tapi ditahannya. Akan menjadi pertanyaan suaminya pabila air matanya meleleh tiba-tiba. Tanpa membuat rasa curiga berlebihan, Shiera berdiri dan pura-pura masuk ke dalam. “Aku ke belakang dulu, Mas, mau setor ke kamar mandi.” Akhirnya, itu yang diucapkan Shiera kepada suaminya. Dasar Asguna, masih juga ia mencandai istrinya, “Hati-hati ya Dik, di kamar mandi!” Kemudian terdengar kekehan tawa suaminya.





Komentar

  1. Makasih Mas Adhit, atas kirimannya. Berasa kesentil deh, hahaha...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

CA_MA

BUKAN PUJANGGA YANG MEMILIH HATIMU