IKATAN INDAH LALU

Pesimis,” itu yang kukatakan pada istriku ketika ia menanyakan psikotes yang aku ikuti barusan. Sambil menyerahkan motor padaku, istriku berujar, “Mas, jangan putus asa, jangan patah arang. Masih ada kesempatan berikut di tempat lain. Allah pasti akan memberikan itu padamu.” Aku terdiam sejenak mendengar penuturannya. Aku menyalakan mesin motor Honda Astrea Star. Harta kami yang paling ngetop. Berkendara berdua menuju pasar untuk belanja bahan-bahan pembuat kue. Selama perjalanan ke pasar istriku sama sekali tidak menanyakan psikotes yang tadi kuiikuti.
Ini psikotes Bank Danamas kedua yang aku ikuti. Sebelumnya, aku juga pernah mengikuti psikotes untuk posisi lamaran yang berbeda dengan psikotes kedua. Materi psikotes kedua persis sama dengan psikotes pertama dulu. Dan aku tidak lolos mengikuti psikotes itu. Karenanya, ketika istriku bertanya, aku hanya berkata pesimis supaya tidak mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku kesulitan mengerjakan psikotes. Jawaban menyejukkan istriku yang membuatku tenang dan tidak merasa bersalah.
Sudah terlalu lama aku menganggur. Tak enak hati melihat istriku yang membanting tulang bekerja membuat kue-kue atau jajanan. Sejauh ini, tak ada keluhan dari istriku selain dia mengatakan tanpa bantuanku usahanya juga tidak akan berjalan lancar. Sebuah penghargaan tulus yang dikemukakan seorang istri yang suaminya pengangguran. Sarjana tapi susah sekali mendapatkan pekerjaan.
“Sudahlah Mas, nggak usah terlalu dipikirkan dalam-dalam situasi yang Mas Gino alami sekarang. Sebagai suami, sebagai imam keluarga, sebagai ayah, Mas Gino sudah jempolan. Anak-anak juga tetap menaruh respek dan hormat padamu,” ucap istriku suatu malam sebelum kami tidur. Aku hanya bisa menghela nafas mendengarkan ucapan istriku. Sambil pejamkan mata, aku memang merasakan kehangatan keluarga kecilku meski posisiku sedang tidak beruntung dalam pekerjaan.
“Satu lagi. Mas tidak benar-benar menganggur, kan? Karya-karya Mas Gino di koran, buku-buku yang sempat terbit, lukisan, itu kan juga ada hasilnya. Sudahlah Mas, tidak usah terlalu dipersoalkan lagi,” tambah istriku sebelum kami benar-benar terlelap. Aku hanya bisa membalas kebaikan hati istriku dengan ciuman dan tidur memeluknya mesra.
Dua minggu berselang setelah psikotes Bank Danamas, secara mengejutkan aku ditelpon HRD Bank Danamas. Aku diminta menemui Bu Rukmi di Bank Danamas Cabang Dago. Antara percaya dan tidak percaya, aku menanyakan sesuatu kepada karyawan HRD Bank Danamas. Pertanyaan sederhana saja apakah aku benar-benar lolos psikotes? “Benar Bapak. Bapak lolos rangkaian psikotes yang diikuti dua minggu lalu. Apabila berkenan melihat hasilnya, Bapak bisa mendatangi kantor kami di Jln. Merdeka.” Itu yang dikatakan penelponku. Untuk sementara aku memercayai perkataannya. Lagi pula, untuk apa aku tidak percaya lagi kalau pihak Bank Danamas memintaku menemui Bu Rukmi di kantornya.
Aku sengaja tidak menceritakan pemanggilan ini kepada istriku. Pada hari aku harus bertemu Bu Rukmi, sesudah salat subuh, baru kukatakan itu kepada istriku. Berulang kali istriku sujud syukur di sajadahnya kemudian memelukku hangat. “Semoga menjadi rejeki keluarga kita, ya Mas!!” Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa percaya diriku meningkat dan berpengharapan besar bisa diterima di Bank Danamas.
Sebelum menemui Bu Rukmi di kantornya, aku menyempatkan diri mampir ke kantor HRD Bank Danamas di Jln. Merdeka. Di sana aku memang melihat namaku tercantum di daftar pelamar yang mengikuti wawancara hari itu. Setelah memperoleh informasi ini aku bergegas menuju Cabang Dago menjumpai Bu Rukmi. Menurut bagian HRD, jika aku diterima di Bank Danamas, Bu Rukmi merupakan salah satu atasan langsungku. Sebetulnya ada satu lagi yang akan mewawancarai aku, kata Bagian HRD, yaitu atasan langsung Bu Rukmi. Menurutnya, apabila Bu Rukmi deal biasanya atasannya akan menerima juga.
“Silakan Bapak ikuti saja proses wawancara dengan Bu Rukmi dulu,” begitu pesan Bagian HRD sebelum aku benar-benar pergi ke Cabang Dago. Aku menenangkan hatiku setelah mendapat penjelasan itu. Pesan istriku supaya tidak lupa istighfar, mohon ampun dan membaca al-fatehah selama menunggu antrian wawancara.
Security Bank Danamas Cabang Dago mempersilakan aku naik ke lantai 2. “Silakan menunggu di ruang tamu lantai 2, nanti di sana ada sekretaris yang akan mengatur.” Ia tersenyum ramah setelah aku diberinya plang nama: ‘tamu’.
Di ruang tamu lantai 2, sudah ada 4 orang jadinya berlima denganku yang menunggu untuk diwawancarai. Seorang wanita bertampang manis, tersenyum ramah menanyakan namaku. Ia kemudian mengecek kertas yang berisi daftar yang akan diwawancarai dan memintaku menandatangani daftar itu. Sebelum mempersilakan duduk, ia mengatakan kalau aku akan diwawancarai pada urutan ketujuh. Aku mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Dari daftar itu, aku melihat ada 15 orang yang akan diwawancarai Bu Rukmi, hari itu. Sebelum duduk mengantri, aku tersenyum kepada pelamar yang ada di dekatku. Berbasa-basi sebentar kemudian duduk diam menunggu panggilan. Dalam diamku, aku ingat pesan istriku. Bacalah istighfar dan al-fatehah.  
Pelamar ketiga masuk ke ruangan Bu Rukmi. Tidak sampai 15 menit pelamar itu sudah keluar. Wajahnya lesu ketika keluar dari ruangan. Aku menghitung berapa lama masing-masing pelamar itu diwawancarai Bu Rukmi. Tidak ada yang sampai 30 menit hingga pelamar kelima. Pelamar keenam masuk. Waktu yang kuhitung lebih dari 30 menit dan pada menit ke-40 pelamar itu keluar.
“Pak Gino Hernandi,” kata wanita yang menerimaku tadi. Aku bergegas berdiri dan bersiap masuk ke ruangan Bu Rukmi. Jantungku agak berdebar namun berbekal istifghfar dan al-fatehah, aku yakin melangkah mantap menuju ruangan Bu Rukmi.
“Maaf Pak, tunggu sebentar. Ibu ada tamu yang mau bertemu.” Langkah mantapku terhenti dan segera membalikkan badan untuk kembali duduk. Seketika juga jantungku berangsur mereda debarannya. Tapi yang kuinginkan justru ingin segera menuntaskan wawancara supaya debaran jantung kembali normal. Seorang pria berdasi, terlihat perlente, masuk ke ruangan Bu Rukmi. Kuhitung persis 35 menit mereka berbincang ketika namaku dipanggil masuk. Begitu pria itu keluar, aku langsung dipersilakan masuk. Jantungku kembali berdebar lembut hingga menjadi deg-deg-deg …..
Ketukan sekali di pintu langsung dijawab perintah masuk dari dalam. “Silakan masuk,” kata Bu Rukmi perlahan tapi tetap terdengar olehku. Di hadapanku kini terlihat sosok wanita yang bernama Rukmi. Wanita berjilbab, berkacamata, dengan wajah ayu khas wanita Jawa. Ia tersenyum kepadaku seraya mempersilakan duduk. Ditangannya memegang berkas, yang kuyakini pasti CV yang aku kirimkan saat melamar. Ia membolak-balik CV yang dipegangnya sebelum menanyakan ini-itu tentang pribadiku.
“Gino Hernandi, Anda lulusan STIE YKPN Jogja?” tanya Bu Rukmi. Ditanya seperti itu selain mengangguk mulutku bersuara YA. Ia kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kampusnya waktu itu sudah di Seturan atau Balapan?” Aku kaget mendengar ia mengetahui nama kedua daerah itu. Tak berani bertanya aku jawab saja masih di Balapan saat aku kuliah. Ia mengangguk-angguk lagi.
Pertanyaan demi pertanyaan mengalir lancar. Dari pertanyaan seputar pribadi, keluarga, jumlah anak sampai menanyakan apakah aku pendatang atau asli Bandung. Semuanya kujawab lugas dengan sopan. Jika aku harus bercerita aku usahakan bercerita yang tidak bertele-tele. Setiap aku selesai menjawab atau bercerita, ia selalu mengangguk. Dari aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi kuhitung waktunya nyaris 30 menit.
Pertanyaan Bu Rukmi belum menyentuh tentang pekerjaan yang akan kulakukan jika diterima. Pada menit ke-50 barulah Bu Rukmi bertanya tentang ilmu perbankanku. Aku jawab ilmu perbankanku sedikit karena aku lulusan manajemen. “Tapi saya pernah mengikuti training perbankan di PPE FE UGM, Bu, selama 2 bulan. Melalui pelatihan itu, saya tahu tentang dunia perbankan seutuhnya.” Mendengar jawaban itu, Bu Rukmi mengangguk.
“Pak Rimawan masih di PPE?” Sekali lagi pertanyaan itu membuatku terperangah. Mengapa begitu banyak hal tentang Jogja yang diketahuinya. Aku mulai berpikiran Bu Rukmi adalah orang Jogja yang kebetulan bekerja di Bank Danamas Bandung. Tapi, tetap saja aku tidak berani menanyakannya. Pelan kujawab, “Masih di PPE Pak Rimawan sampai sekarang.” Kembali ia mengangguk.
Sejak ia tahu aku pernah training perbankan di PPE,  ia tidak menanyakan lagi mengenai perbankan dan ekonomi. Ia bertanya hal-hal ringan mengenai perekonomian nasional, menjelaskan tugas pokok yang akan aku kerjakan apabila aku diterima.
“Sebagai Unit Manager, Anda harus berinteraksi dengan kalangan bukan seperti biasanya. Saya lihat dari CV ini, Anda pernah memimpin koperasi simpan pinjam. Kalau boleh tahu dimana ini letaknya?”
“Oh, itu di Dusun Sidokarto, daerah Godean, Bu? Saya menjadi pendamping sebuah koperasi simpan pinjam saat saya masih kuliah. Koperasi itu binaan sebuah perusahaan lokal di Jogja.”
“Apakah pendampingan yang Anda lakukan berhasil sehingga koperasi tersebut memperoleh keuntungan dan bermanfaat untuk anggota dan masyarakat sekitarnya?”
“Kalau berdasarkan data-data administrasi yang saya periksa, memang terjadi peningkatan. Bahkan nyaris tidak ada tunggakan dari para peminjamnya. Saya hanya ikut membantu pendampingan selama setengah tahun, Bu.” Terlihat Bu Rukmi mengangguk-angguk lagi.
“Dusun Sidokarto itu dekat SMA 1 Godean?” Lagi-lagi aku terperangah mendengar pertanyaan Bu Rukmi. Otakku menerka-nerka siapa sebetulnya Bu Rukmi ini. Atas pertanyaannya itu aku menjawab YA. Ia pun tersenyum. Sekilas aku melihat jam meja yang ada di meja kerja Bu Rukmi. Satu jam lebih 10 menit aku berada di ruangannya. Pelamar terlama yang diwawancarainya. Bu Rukmi terlihat membolak-balik CV-ku. Tiba-tiba sebuah pertanyaan mengejutkanku. Aku sama sekali tidak menyangka Bu Rukmi menanyakan hal itu.
“Dian Herrie itu, Anda, kan? Penulis ‘Kumpulan Cerita-Cerita dari Sahabat!” Aku sempat terdiam. Otakku sempat kosong beberapa detik hingga Bu Rukmi menanyakan ulang.
“Maaf, Ibu kok tahu saya penulis buku tersebut?” Bu Rukmi menggeser kursinya ke arah kiri. Mendekati lemari pendek yang berada di belakangnya. Di sana berjejer koleksi buku-buku. Ia mengambil salah satu dari buku-buku yang ada.  Menunjukkan sebuah buku yang langsung membelalakan mataku.
“Sudah menjadi penulis dengan banyak karya kenapa masih ingin bekerja di bank?” Sebuah pertanyaan sulit yang harus kujawab. Apakah harus mengaku terus-terang atau menjawab diplomatis tanpa terlihat mengada-ada? Akhirnya, sebuah jawaban diplomatis namun kuanggap paling layak yang kuberikan kepada Bu Rukmi.
“Saya ingin lebih membahagiakan keluarga saya, Bu! Menulis bukannya tidak menjanjikan masa depan, tapi saya melakukan kegiatan ini sebagai hobi semata. Alhamdulillah, hobi ini juga memberikan kepuasaan batin plus materi juga sedikit ketenaran sesaat.” Aku lihat Bu Rukmi tersenyum ketika kukatakan ‘tenar’.
“Anda memang tenar, Mas Gino! Saya sering melihat tulisan-tulisanmu di Kompas Minggu, juga kalau tak salah di Suara Merdeka Semarang. Kalau search nama Dian Herrie di google namamu juga keluar dengan sederet tulisan di beberapa media online. Bukannya itu tenar?” Bu Rukmi tersenyum lagi. Namun senyumnya tiba-tiba mengingatkan aku pada seseorang yang masih belum bisa kuketahui. Aku juga heran dengan panggilan ‘Mas’ olehnya. Padahal sejak tadi ia memanggilku dengan sebutan ‘Anda’.
Kejutan berikutnya datang lagi menghampiriku. Sudah satu jam lebih aku berada dalam ruangan Bu Rukmi. Tiba-tiba ia mengatakan, “Lotek di selatan Sari Husada, masih ada, Mas Gino?” Pada saat menanyakan lotek itu, ia melepaskan kacamatanya. Matanya memandang tajam namun yang kulihat justru ada kelembutan dimatanya saat itu. Bibirnya dengan sapuan lisptik merah tipis tapi kentara, menyunggingkan senyuman saat melihatku. Aku masih belum mengerti arti tatapannya. Aku semakin grogi ketika ia terus menatapku, sepertinya menunggu jawaban soal lotek itu.
Ia meraih ponsel di mejanya. Sambil menunggu jawabanku ia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Pada saat bersamaan ponselku yang berada di kantong celanaku berbunyi. Astaga, aku lupa memelankan deringnya. Bu Rukmi terkejut mendengar bunyi dering ponselku. Matanya melihat ke ponselnya setelah terkejut mendengar dering ponselku.
“Ponselnya bunyi tuh, coba diterima atau dimatikan dulu. Kita masih dalam suasana wawancara,” perintahnya padaku namun wajahnya tidak menunjukkan kemarahan.
Mukaku seketika berasa kepiting rebus. Buru-buru kuambil ponselku dan sekilas melihat nomor ponsel yang tidak kukenal. Bukan kontak tersimpan. Aku tolak sambungan itu serta segera mengubah dering menjadi ‘silent’. “Maaf, Bu!”
“Tak masalah.”
Matanya masih menatapku. Aku semakin grogi hingga ia menanyakan lagi soal lotek itu baru aku bersuara. “Masih ada, Bu.” Kali ini kuberanikan diri bertanya mengapa banyak hal yang ia ketahui tentang Jogja. Bibir berlipstik merah tipis kentara itu hanya tersenyum.
“Kamu nggak mengenaliku, ya?” Suaranya menekan saat bertanya. Aku kaget Bu Rukmi menyebutku ‘kamu’ setelah tadi menyebutku ‘Anda’ kemudian ‘Mas’. Aku masih belum mengerti juga kenapa tiba-tiba Bu Rukmi menjadi tidak formal. Baru setelah Bu Rukmi memanggilku Mas Gii dengan intonasi suara tertentu, aku mulai tersadar.
“Dyah?” Tanpa perasaan takut dan waswas aku memanggil Bu Rukmi dengan panggilan ‘Dyah’. Ia tersenyum sambil mengangsurkan tangannya, “Apa kabar Mas Gii? Gimana lotek langganan kita itu?” Jabat tangannya tak kulepaskan, kini kutepuk-tepuk punggung tangannya.
“Ya ampun Dyah, aku nggak ngenali kamu! Kamu berubah jadi…” Sebelum aku meneruskan kalimatku, Rukmi alias Dyah menjawab, “Berubah jadi cantik dan ayu, kan?” Ia pun tertawa setelah aku melepaskan jabat tangan kami.
Yang jelas, jantungku tetap berdebar-debar bukan karena khawatir maupun takut. Namun lebih karena perjumpaanku dengan Dyah-lah yang tidak mengurangi debar jantungku itu. Sesaat kami berdua terdiam. Aku sangat yakin, pikiran kami pasti sedang berlomba menuju SMA 8 dan menyusuri setiap koridor, penjuru, dan tempat-tempat yang berada di sana. Entah kenapa kami sama-sama menghela nafas setelah terdiam sesaat.
“Kamu diterima di Bank Danamas, Mas Giii.” Ucapan Dyah menyeruak di antara diam kami, di antara helaan nafas yang bersamaan.
“Selamat ya. Selamat bergabung bersama Bank terkemuka di Indonesia, di Bandung utamanya.” Dyah berdiri, kedua tangannya terbuka ke atas membentang. Bibirnya tersenyum ke arahku.
Aku bersyukur diterima di Bank Danamas. Aku bersyukur bertemu teman SMA yang kini bakal menjadi atasan langsungku. Aku dengan bangga bisa menceritakan kepada keluargaku bahwa aku diterima dan akan bekerja di Bank Danamas. Namun ada sedikit perasaan waswasku, kekhawatiranku bertemu Dyah.
Kami pernah bersama selama SMA bahkan kuliah. Bedanya, aku jurusan IPS, Dyah IPA. Aku diterima di STIE YKPN jurusan manajemen, sementara Dyah jurusan akuntansi. Dan ada ikatan indah selama 5 tahun kebersamaan kami hingga akhirnya kami harus merampungkan ikatan indah itu. Mata kami saling bertatapan sebelum aku berpamitan dari ruangan Dyah.
“Bagian HRD akan menghubungimu. Kau tak perlu wawancara dengan bos-ku. Aku yang atur dengan mengatakan padanya, aku cocok menerimamu sebagai bagian dari tim kerjaku.” Kalimat itu yang mengantarkan aku meninggalkan ruangan Hedyah Lembito Rukmini, teman SMA-ku, dan mantan kekasihku…..

"Miscall di ponselmu, itu nomorku. Jangan lupa disimpan, ya!" Aku geleng-geleng kepala.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA