KADO ISTIMEWA TERINDAH

Selepas mandi sore, ketika jam dinding masih menunjuk pukul 4.30, Dijah sudah duduk di sofa di ruang tengah rumahnya. Dilihatnya tumpukan berkas-berkas di meja kerjanya, yang tadi dibawanya dari kampus. Sesaat ia menghela nafas. Bergumam lirih,  mengatakan akan mengoreksi hasil ujian mahasiswa-mahasiswanya nanti malam.  Melalui pintu kaca ruang tengah yang terbuka lebar, ia melihat suaminya sedang asyik memberi makan ikan-ikan di kolam berukuran 4X2 meter persegi yang ada di samping rumah. Jaraknya kira-kira sepuluh langkah dari beranda ruang tengah rumahnya. Sesekali Dijah melihat suaminya turun ke dalam kolam sekedar mengambil sampah dedaunan yang berguguran dari pohon mangga dan rambutan di pekarangan samping rumah mereka.
            “Masss.., udahan ngurus kolamnya, mau hujan!” teriak Dijah dari beranda. Dari kolam, suami Dijah hanya melemparkan senyum, kepalanya terlihat mengangguk pelan.
            Langit sore yang semula disinari matahari sore mendadak bertebaran awan hitam yang berarak entah dari mana datangnya. Dijah sedang memastikan dari mana awan-awan itu bergerak. Sebelum tahu pasti dari mana arah bergeraknya tiba-tiba mukanya terasa diserbu hembusan angin kencang. Tahulah Dijah kalau awan hitam bergerak dari timur. Sekali lagi Dijah berteriak menyuruh suaminya segera meninggalkan kolam.
            “Cepetan keluar kolam, keburu hujan …! Keburu maghrib belum mandi ntar!”
          Sekali lagi suami Dijah hanya tersenyum. Bukannya segera mengikuti kemauan isterinya, Fahroe suami Dijah, begitu keluar dari kolam malahan duduk di pinggir kolam.  Ia mengeluarkan rokok dari kantong celananya yang bagian bawahnya basah terkena air kolam tadi. Menyalakan sebatang rokok yang langsung dihisapnya perlahan. Dijah menghela nafas melihat kelakuan suaminya yang sedang menikmati rokok di pinggiran kolam. Asap keluar bergulung dari mulut suaminya. Asap kepulan itu langsung terhempas pergi diterjang hembusan angin, sore itu.
            Untuk kesekian kalinya, Dijah memanggil suaminya. Dan sekali lagi, suaminya hanya tersenyum sembari menikmati rokoknya. Tak terasa rintik hujan mulai turun. Dijah segera beranjak dari beranda ruang tengah kembali duduk di sofa. Membiarkan suaminya yang masih menikmati hisapan tembakau bakar. Wajahnya menunjukkan kekesalan melihat kelakuan suaminya. Kekesalannya langsung ditumpahkannya dalam status bbm:             
Asap mengepul, nikmatnya sesaat, hatiku miris..
            Setelah status bbm-nya terpasang, Dijah lantas mengambil sebuah kotak berukuran sedang dari bagian bawah meja yang ada di depan sofa yang sedang didudukinya. Dibukanya perlahan kemudian mengambil rajutan yang belum selesai. Diangkatnya rajutan itu sebelum mulai merajut kembali.
            Dua bulan terakhir ini, Dijah menekuni lagi hobi lamanya: merajut. Kali ini ia ingin membuat sebuah tas gendong juga dompet. Rajutannya sudah dimulai sejak seminggu yang lalu. Dijah memilih merajut sebagai pengisi waktunya selagi tidak disibukkan tugasnya sebagai dosen di sebuah Perguruan Tinggi. Selain sebagai pengisi waktu, merajut juga pelarian positif produktif kala suaminya bepergian ke luar kota. Ada ketenangan dan kepuasan batin yang dirasakan Dijah saat merajut. Ia beruntung sekali sempat diajarkan merajut oleh ibunya kala masih remaja. Ilmu merajutnya tetap terjaga meskipun sudah lama tidak dipakainya. Dan kini, ia memulainya lagi.
            Suara ting-tang-tung… ting-tang-tung, keluar dari ponselnya, pemberitahuan pada bbm-nya. Sambil merajut Dijah melirik ponselnya yang terus berkedip-kedip dan berbunyi. Sejenak ia menghentikan merajutnya, meraih ponselnya, dan melihat apa komentar teman-temannya atas status yang barusan dibuatnya tadi. Dijah tersenyum membaca komentar teman-temannya yang mengomentari status ‘asap mengepul’. Beberapa komentar teman dibalasnya, tapi pada akhirnya Dijah lebih memilih melanjutkan rajutan tas gendong yang sedang dibuatnya.
            Di luar hujan tiba-tiba menderas. Ia sengaja tidak melongok apa yang dilakukan suaminya di luar sana. Gara-gara suara gedubrak, seperti seseorang menabrak pintu, barulah Dijah mengangkat kepalanya memastikan suara tersebut. Tampak Fahroe suaminya lari terburu-buru dan menabrak pintu kaca ruang tengah. Hujan yang sekonyong-konyong deras membuatnya terbirit-birit apalagi ditimpali suara geledek yang menggelegar.
            Terdengar teriakan Dijah, “Massss.., rokokmu!!” Rupanya karena terburu-buru, Fahroe lupa membuang puntung rokok yang dihisapnya di luar. Pasangan suami isteri ini sudah sepakat bahwa dalam rumah harus steril dari asap rokok termasuk Dijah tidak mau melihat bungkus rokok di dalam rumah. Bahkan sebuah asbak pun Dijah tidak mau melihatnya. Mendengar teriakan istrinya, Fahroe buru-buru membalikkan badannya, keluar dari ruang tengah dan terlemparlah puntung rokok yang tadi masih bersarang di mulutnya.  Selagi puntung rokok melayang, terdengar teriakan lagi dari dalam. “Masss.., kok dibuang sembarangan sih puntungnya?” Bibir Fahroe seketika tersenyum kecut mendengar teriakan isterinya. Oleh karena hujan yang deras ditimpali tiupan angin dan gelegar petir, Fahroe mengurungkan niat mengambil puntung rokok yang dibuangnya barusan. Ia pun perlahan masuk ke dalam rumah. Badannya yang sempat terkena hujan meninggalkan tetes-tetes air di lantai. Wajah bersungut Dijah bertambah tebal 2 senti melihat suaminya berlari kecil menuju kamar mandi. Menyisakan tetes-tetes air sepanjang beranda, ruang tengah hingga kamar mandi.
            “Dikkk.., tolong handukku,” seru Fahroe dari kamar mandi. Dijah pura-pura tidak mendengar. Tak lama, kepala Fahroe nongol dari balik pintu kamar mandi minta tolong diambilkan handuk.
            “DD-ku sayang, handukku yooh….” pinta Fahroe merayu pelan. Dijah bangkit setelah meletakkan rajutannya. Ia berjalan ke arah belakang untuk mengambil handuk yang digantung di sana.
            “Makasih DD-ku …,”ucap Fahroe sambil mengulas senyuman seraya menerima pemberian handuk dari isterinya. Wajah Dijah masih menyisakan sungut sedikit meski sesungguhnya dalam hati Dijah geli diperlakukan begitu oleh suaminya. Ia pun berlalu dari depan kamar mandi begitu kepala Fahroe masuk kamar mandi lagi. Dijah melanjutkan merajut lagi.
            Sementara di luar rumah, hujan kian deras mengguyur bumi, suara gelegar bersahutan, dan kilat terus menyambar. Situasi ini memaksa Dijah bangkit dari duduknya untuk segera menutup pintu kaca ruang tengah dekat beranda. Sebelum kembali duduk di sofa meneruskan rajutannya, ia berjalan ke arah dapur. Biar pun hatinya sempat masygul kepada suaminya gara-gara rokok yang hampir singgah ke dalam rumah, tak urung ia mau membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Satu mug kopi hitam kreasinya langsung diseduh. Tak lupa, Dijah juga membuat minuman untuk dirinya. Segelas jeruk nipis hangat yang ia tambahkan madu. Saat ia kembali dari dapur kering rumahnya, suaminya ternyata sudah duduk di sofa, sedang memainkan ponselnya.
            “Wah mantap…. Hujan-hujan dapat suguhan kopi nikmat dari yayangku,” ujar Fahroe dengan raut wajah senang saat melihat Dijah membawa minuman. Bibir Dijah sudah menyimpul senyum kecil membalas komentar suaminya.
            “Nggak ada teman minumnya, Mas…,” kata Dijah sambil menyerahkan kopi hitam kepada Fahroe. Kepala Fahroe mengangguk pelan. Mereka kemudian duduk berdua di sofa. Dijah melanjutkan rajutannya, sedangkan Fahroe terlihat sedang ber-wattsapp.
            Sesudah menyeruput kopi hitamnya, Fahroe bangkit berjalan ke arah meja makan. Ada emping goreng setengah toples yang dibawanya ke sofa. Tanpa menawarkan kepada Dijah, dikunyah renyah emping goreng yang dua hari lalu Dijah goreng saat ia membikin opor ayam. Tangannya kemudian meraih remote control tivi, mencari acara tivi yang menyenangkan.
            Masih mengunyah emping, Fahroe mengatakan kepada Dijah bahwa jam 8 malam ia mengundang teman-temannya ke rumah. Ada bisnis yang akan mereka omongkan sebelum pengerjaan.
            “Dik, bisa nanti buatkan makanan untuk mereka?” tanya Fahroe. Dijah menghentikan merajutnya, melihat ke arah suaminya. Kepalanya lantas menggeleng.
            “Aku nggak punya stok sayuran, Mas! Tadi belum sempat belanja lagi.” Meskipun menggeleng Dijah tetap berdiri dan berjalan menuju kulkas di dapur. Tak lama kemudian terdengar suara Dijah yang mengatakan hanya punya kol, oncang, sledri, wortel, nugget, tempe, dan beberapa butir telur.
            Di depan dapur kering Dijah menanyakan siapa saja yang akan datang ke rumah. Fahroe menyebutkan ketiga temannya yang akan ke rumah. Begitu mendengar ketiga teman suaminya yang mau datang, bergumamlah dalam hati Dijah, wah para smokers.
            “Hujan begini apa ya mereka tetap mau ke sini?” tanya Dijah ingin tahu.
            “Teteplah, pasti datang mereka itu. Selain mau ngomongin bisnis, kan nanti malam ada Liga Inggris, MU lawan Chelsea.” Terdengar helaan nafas dari mulut Dijah setelah mendengar penjelasan suaminya.
            “Mas manut DD mau masak apa untuk konco-konco nanti.” Dijah masih berdiri di depan dapur kering mereka. Matanya menerawang memikirkan para smokers dan hidangan apa yang pantas disajikan.
            “Kalau pesen di seafood 99, gimana Mas?” Fahroe yang sedang mengunyah emping sambil nonton tivi menengok ke arah Dijah. Wajahnya menunjukkan penolakan Dijah memesan makanan dari restoran langganan mereka.
            “Konco-konco kui demen masakanmu, Dik! Request mereka selalu minta dibuatkan olehmu. Seadanya wae asalkan Dik Dijah yang masak, mereka pasti seneng.” Dijah sudah menyadari sejak lama bahwa banyak teman suaminya suka dengan masakan yang dibuatnya. Mendengar omongan suaminya Dijah hanya mengangguk, mengiyakan keinginan suaminya.
            “Aku masak mie rebus, goreng tempe sama nugget ajah, yo Mas?” kata Dijah sambil berjalan menuju sofa. Fahroe mengangguk-angguk.
            “Setuju, Dik! Pas hujan-hujan gini, ngemie sambil nyamikan gorengan cocok banget. Ojo lali wedang e yo, Dik! Raut muka Fahroe terlihat sumringah. Dijah mengangguk kemudian meneruskan rajutannya.
            Teman-teman Fahroe baru datang jelang jam 9 malam. Hujan masih turun meski tidak deras. Dijah belum memasakkan mie rebus namun sudah menggoreng tempe mendoan dan nugget. Setelah menyapa Dijah, mereka langsung ngepos di beranda ruang tengah. Pintu kaca hanya terbuka setengah supaya hawa dingin tetap masih masuk ke ruang tengah. Dijah melanjutkan mengoreksi hasil ujian mahasiswanya di meja kerja di pojokan ruang tengah. Dekat dengan kamar tidur mereka.
            Rumah sebesar itu memang hanya ditempati Dijah dan suaminya. Berdua saja. Tiap hari ada asisten rumah tangga yang datang membantu membereskan rumah juga mencuci setrika pakaian-pakaian mereka. Setelah menyelesaikan 10 lembar hasil ujian mahasiswanya, Dijah bergegas ke dapur hendak memasakkan mie rebus. Sebelum memasak mie rebus, tempe mendoan dan nugget goreng serta minuman panas dibawanya ke beranda ruang tengah. Tawa lebar langsung menyeruak di beranda ketika Dijah datang membawa minuman, tempe mendoan, dan nugget.
            “Mbak, kita udah dapat bocoran nih..! Katanya bakal ada mie rebus ala Mbak Dijah, ya?” ucap Pak Darminto menyela. Dijah tersenyum sambil mengatakan tunggu sebentar. Ia buru-buru berlalu dari beranda karena tidak tahan bau asap rokok teman-teman suaminya. Asap mengepul langsung membumbung ke arah luar beranda. Fahroe dilihatnya belum menyundut rokoknya. Di dalam Dijah menghela nafas…Hidungnya mulai berasa gatal mencium aroma rokok yang kemepul di beranda rumahnya.
            Ia segera ke dapur untuk menuntaskan pembuatan mie rebus. Semua bahan-bahan sudah ia siapkan, sekarang tinggal memasak kemudian menyajikan ke hadapan para smokers di beranda. Sambil tangannya mengolah mie rebus, ia terbayang masa-masa ketika dinikahi Fahroe suaminya. Sebelum mengenalnya, Fahroe perokok. Akan tetapi sejak menikah dengannya, ia memutuskan berhenti merokok. Dijah mengerti betapa besar pengorbanan Fahroe untuk berhenti merokok. Ia juga ingat, seandainya saja ayahnya tidak mengenalkan dirinya kepada Fahroe, mungkin saat ini ia masih melajang menikmati kesendiriannya dengan menjadi dosen.
            Karirnya sebagai dosen terbilang cepat. Saat ini derajat Doktor sudah diraihnya. Menjadi tidak sulit baginya menjadi Profesor apalagi usianya tahun ini masih 47 tahun. Di era sekarang menjadi Profesor tidak harus selalu pribadi-pribadi yang sudah berusia lanjut. Justru dosen-dosen muda berlomba mengejar derajat Guru Besar di usia jelita, jelang lima puluh tahun. Beberapa teman Dijah utamanya kakak-kakak angkatannya sudah banyak yang menjadi Profesor di usia belum 50 tahun. Itu impian Dijah berikutnya. Keberhasilannya berkarir sebagai dosen, selain memang kepandaian dan kecerdasannya, juga atas dorongan dan dukungan Fahroe suaminya. Fahroe memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi Dijah untuk mengejar derajat setinggi-tingginya.
            Aroma mie rebus sudah mulai tercium wangi. Taburan bawang goreng yang meruah, benar-benar terasa sekali. Dijah yang belum ikut makan pun sudah merasa kenyang. Porsi yang dibuatnya sungguh luar biasa. Maklum ada empat pria dewasa plus, berambut perak, yang seusia suaminya. Akan tetapi karena mereka berkumpul dan bersantai, pasti urusan pantang ini itu akan dikesampingkan. Dalam benak mereka, saat kumpul-kumpul selain diisi obrolan khas pria dewasa plus juga makan dan minum tanpa harus berpantang sementara waktu. Dijah tahu beberapa teman suaminya sudah mulai mengidap penyakit khas pria dewasa. Di sinilah Dijah merasa bangga yang melihat suaminya masih bugar kesehatannya.            Ketika hendak mengantarkan mie rebus ke beranda, Dijah sudah mengenakan maskernya. Suara meriah terdengar ketika mie rebus menghampiri beranda. Fahroe terlihat berjalan ke arah dapur mengambil mangkok, sendok, dan garpu.
            “Wah Mbak, aroma mie rebus bikinanmu sungguh menggoda. Kami tidak menjamin kalau isi panci ini langsung habis seketika.” Dijah tersenyum, namun ia teringat bahwa senyum manisnya pasti tak tampak. Oleh karenanya, kepalanya mengangguk menerima pujian itu.
            “Silakan ya, saya masuk ke dalam, banyak kerjaan dari kampus.” Dijah pun masuk dan segera menuju meja kerjanya. Pintu beranda dibiarkan Fahroe tetap terbuka separuh setelah ia mengambil peralatan makan dari dapur kering. 
            Laptop menyala. You tube dan messenger FB sengaja Dijah nyalakan, juga tentunya facebook. Sejak mulai mengoreksi Dijah memutar lagu-lagu dari you tube. Diseruputnya minuman yang tadi dibuatnya. Matanya kemudian melihat ke arah ponsel karena melihat lampu berwarna putih terus berkedip-kedip. Itu pertanda ada pemberitahuan yang masuk ke ponselnya. Ia menggeser ponsel android-nya untuk membuka apa saja yang harus dibuka. Ternyata status bbm-nya tadi sore terus dikomentari teman-temannya.
            Salah satunya ada yang mengatakan, “Myumet n pening lagi ya, menghirup asap tembakau bakar! wkwkwkwk…. Kacian deh…” Dijah tersenyum membaca komentar Pulung.
            Dijah langsung menjawab pesan itu dengan menuliskan ‘iya nih myumet aku tapi tak berkutik melihat kepulan asap membumbung dari tembakau bakar’.
            Pulung langsung menuliskan lagi jawaban, ‘wah kalau begitu bojomu nggak sayang dadamu’.  
            ‘Kok dadaku, maksudnya?’ tulis Dijah. Tak ada jawaban dari Pulung lagii. Dijah lalu meneruskan mengoreksi hasil ujian mahasiswa-mahasiswanya. Membiarkan ponsel android-nya tergeletak di meja sambil membunyi tang-ting-tung berulang kali.
            Saat Dijah sedang memeriksa jawaban ujian, ia melihat nama Pulung berkedip-kedip di messenger laptopnya. Ampunnn.., deh manusia satu ini, gumam Dijah tersenyum.
            Begitu pesan itu dibuka isinya hanya ‘yuhuiiiii…Dj. Dadamu, yo paru-parumu, tulis Pulung. Nih meneruskan bbm tadi. HP lagi di casss.”
            ‘Ohh itu maksutnya’, jawab Dijah. ‘Mapul aku stand-by dulu ya. Akeh koreksian nihhh…’ tulis Dijah mohon pamit sementara.
            “Okeh okeh, iya dueeehhhhh.’
            Sambil memeriksa hasil ujian, Dijah terpikir ucapan Pulung yang mengatakan suaminya tidak sayang dirinya karena merokok. Dijah sebetulnya tidak habis pikir dengan perilaku suaminya yang kembali memasukkan asap nikotin ke dalam paru-parunya. Baru tiga tahun belakangan ini suaminya mulai membakar tembakau lagi. Padahal mereka nyaris 20 tahun hidup bersama. Selama 17 tahun pernikahan mereka, Fahroe bisa betul-betul berhenti merokok. Namun kenapa akhir-akhir ini susah banget bagi Dijah untuk menghentikan kebiasaan tidak sehat suaminya ini?? Terdengar desahan panjang dari hidung Dijah yang tertutup masker. Lingkungan pergaulan suaminya yang akhirnya membuat Fahroe luluh untuk menghentikan ketidakmerokokannya.
            Berulang kali Dijah mengingatkan bahaya merokok, selalu dijawab senyuman oleh suaminya. Fahroe tak pernah marah setiap mendengar teriakan Dijah kalau ia lupa membawa bungkus rokok, puntung atau asbak ke dalam rumah. Kesepakatan antarmereka, rumah steril dari asap rokok benar-benar dipatuhi Fahroe. Ia menerima keinginan isterinya untuk selalu merokok di luar rumah. Terserah di beranda atau di pekarangan rumah mereka yang luas dan asri. Sejak kesepakatan itu disetujui, lambat-laun Dijah seperti capek sendiri mengingatkan Fahroe untuk berhenti merokok. Ia kemudian lebih menyibukkan diri dengan rajutan dan tugasnya sebagai dosen: mengajar dan melakukan banyak penelitian. Mengisi waktunya yang menurutnya panjang selama sehari itu.
            Keasyikan empat pria dewasa plus terdengar hingga ke meja kerja Dijah. Terlebih lagi ketika pertandingan sepak bola sudah dimulai. Suara-suara keseruan terdengar nyaring dari beranda rumah Dijah dan Fahroe. Fahroe memiliki tivi flat berukuran 20” yang sering dibawa kesana-kemari. Tivi itulah yang diletakkan di beranda dan ditonton bersama teman-temannya. Tiba-tiba Fahroe mendengar teriakan nyaring Dijah, “Masssss….” Seketika itu juga Fahroe tahu. Itu kode baginya untuk menutup pintu kaca ruang tengah. Itu berarti asap rokok dari beranda tercium keras oleh hidung Dijah meskipun ia sudah bermasker. Dan ketika Fahroe menutup pintu kaca, ketiga temannya itu hanya tersenyum. Mereka sudah paham Dijah alergi asap rokok dan rokoknya.
            “Nggak apa-apa, Roe,” ujar Samiyo tersenyum.
            Lain halnya dengan Dijah. Begitu mendengar pintu ruang tengah ditutup suaminya, ada sebuah perasaan halus yang mengular di hatinya. Mengapa ia sampai harus berteriak gara-gara asap rokok? Meskipun ia tahu, suaminya dan ketiga temannya akan memaklumi ketidaksukaannya terhadap rokok. Dijah merasa sudah merampas kebahagiaan suaminya bersama teman-temannya gara-gara teriakan anti rokoknya. Namun disaat hatinya melembut begitu, omongan Pulung yang mengatakan suaminya tidak sayang padanya karena terus saja merokok, juga menghantui benaknya. Dijah terdiam mematung.
            Perasaannya terbentur kepentingan sendiri-sendiri dalam hatinya. Terlebih ia juga mendengar cerita Pulung tentang seseorang yang meninggal gara-gara gagal nafas. Dan setelah paru-parunya diperiksa, ada sisa nikotin di situ. Padahal orang itu sudah berhenti merokok selama 30 tahun. Jika mengingat hal itu, ia miris. Ia takut hal itu bisa terjadi pada suaminya yang ia sayangi. Juga pada dirinya sebagai perokok pasif.
            Dijah beranjak dari meja kerjanya masuk ke dalam kamar. Menyalakan AC, menyetel tivi di kamar, dan duduk bersandar di ranjangnya. Benaknya berkecamuk macam-macam. Semuanya bermunculan. Namun anehnya, bayang-bayang yang bermunculan adalah bayangan Fahroe suaminya yang sudah begitu baik, sayang, bertanggung jawab, dan pengertian padanya. Ia teringat ketika harus mengambil S2 dan S3 di luar negeri. Dukungan luar biasa diberikan suaminya saat ia minta izin pergi belajar ke luar negeri. Semua hal mengenai karir dosennya didukung penuh Fahroe. Apapun itu bentuknya.
            Tak terasa air mata Dijah menetes. Hal lain yang membuat Dijah terharu betapa demi memenuhi kehidupan mereka, Fahroe sampai harus bekerja hingga larut malam bahkan terkadang harus menginap di luar kota. Adapun semua penghasilan yang diperoleh Dijah dipersilakan oleh Fahroe digunakan untuk kesukaannya.
            “Urusan rumah tangga, tanggung jawabku,” kata Fahroe, “Apa yang Dik Dijah peroleh, silakan untuk kesukaanmu. Nggak apa-apa!”
            Tapi Dijah bukanlah tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan penghasilannya. Dengan persetujuan Fahroe, mereka membuat usaha rental internet, komputer, dan fotokopi di daerah kampus. Usaha ini ternyata memberi mereka tambahan penghasilan. Ada satu lagi keinginan Dijah. Ia ingin mendirikan taman bermain dan taman kanak-kanak sebagai rasa rindunya kepada anak-anak. Fahroe sangat mendukung keinginan isterinya itu. Kini mereka sedang menabung guna mempersiapkan TB dan TK itu terwujud. Tanpa terasa Dijah tertidur di ranjang dalam balutan hawa sejuk kamarnya. Tanpa tercium asap rokok dari luar rumah.
            Dijah terbangun jelang azan subuh berkumandang. Agak terkejut karena benar-benar tidak menyadari kalau ia ketiduran semalam. Ketika matanya benar-benar terbuka, dalam temaramnya suasana kamar tidur mereka, Dijah mendapatkan tulisan menempel di dinding kamar. Suaminya tidur nyenyak di sampingnya. Tulisan di dinding itu berbunyi :
# IT’S 20 YEARS AND WE STILL COUNTING, RIGHT?
# IT’S 20 YEARS AND WE STILL LOVE EACH OTHER.
KEEP SMILE “MY DD”…
            Yang Dijah tidak ketahui kapan suaminya membuat tulisan itu? Kapan menyiapkannya? Kenapa sampai ia tidak mengetahuinya? Kenapa juga harus membikin spanduk seperti itu? Ada apa hari ini, batin Dijah. Tiba-tiba Fahroe bergerak sambil bergumam lirih, “Jam berapa sekarang, Dik?”
            “Jam 4 kurang, Mas, sebentar lagi azan subuh.” Tampak Fahroe mengucek matanya sebelum bangun.
            “Mas, ada apa sih? Kok sampai ada tulisan begitu?” Dijah menunjukkan spanduk itu kepada suaminya setelah melihat Fahroe terbuka lebar matanya dan duduk bersila di sampingnya. Fahroe hanya tersenyum kecil.     
            “Dik Dijah, lupa ya kalau hari ini tanggal 8 Januari, hari pernikahan kita?” ucap Fahroe pelan. Matanya menatap lembut istrinya.
            “Ya ampunnnn. Massss.., kenapa aku bisa lupa begini?”
            “Kebanyakan koreksi hasil ujian sama merajut sihhh…” Terdengar tertawa Fahroe sesudah ia mengatakan begitu.  Dengan mesra Dijah meninju lengan suaminya. Kemudian memeluk hangat suaminya.
            “Maafkan aku semalam ketiduran. Maafkan juga aku lupa hari ini hari pernikahan kita, Mas…. Maaafffffff bangett, ya!” Fahroe cuma tersenyum mendengarkan permintaan maaf isterinya. Mereka tetap berpelukan mesra dan hangat menjelang subuh itu. Mata Fahroe berisyarat tertentu yang hanya diketahui Dijah.
            “Iyahhh, sehabis subuhan ya,” sahut Dijah tersipu sambil mencubit pinggang suaminya.
            Jam di dinding kamar mereka menunjuk pukul 4 pagi. Tiba-tiba dalam keheningan ruang kamar tidur mereka, terdengar intro sebuah lagu. Dijah sempat terkejut kemudian tertegun mendengarkan intro lagu itu. Begitu mendengarkan lagu yang terdengar dari ponsel suaminya yang berada dekat ranjang mereka, mengalir halus butir-butir air matanya.
            
“Aku juga mau bilang padamu. Saat matahari terbit nanti, aku akan stop merokok. Aku sayang padamu dan juga tak mau paru-paruku menyisakan nikotin yang nantinya hanya akan membuatmu khawatir sepanjang hayat dikandung badan.”
           
 “Mass.., ini kado istimewa terindah,” hanya itu yang keluar dari mulut Dijah. Mereka kembali berpelukan dan kini air mata Dijah menderas di pipinya.
           


            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA