KISAH KLASIK PERSEMBAHAN UNTUKMU

Aku terperanjat ketika sedang melakukan transaksi internet banking. Malam itu, aku hendak membayar tagihan telepon. Untuk memastikan saldo yang masih bersisa, aku melihat mutasi rekening terlebih dulu. Kaget!! Itu yang kurasakan. Saldo rekeningku biasanya hanya puluhan ribu, malam itu, jutaan rupiah. Ada satu mutasi yang terjadi 3 hari yang lalu. Rekeningku bertambah Rp 5.000.000,-  Adapun pengirimnya adalah Spektra Media. Masih terkejut dengan tambahan rejeki dadakan, aku berucap alhamdulillah. Tebakanku sementara, uang itu adalah royalti tulisanku. Sambil masih tidak memercayai tambahan di rekening, aku mengingat tulisan atau buku yang mana yang tiba-tiba memberiku tambahan royalti sebanyak itu. Sementara itu, tidak ada kabar dari penerbit soal royalti ini. Di tengah ketidakyakinan, transaksi pembayaran telepon tetap aku lakukan. Toh uangnya cukup dan tersedia di rekeningku sebelum ketambahan uang royalti.  
            Siang itu, sebelum aku menanyakan ke Spektra Media, sudah masuk whatsapp dari mereka. Mengabarkan bahwa sudah transfer royalti sejumlah Rp 5.000.000,- untuk penjualan novelku yang berjudul Kisah Klasik Dari Masa Lalu. Selesai membaca pesan singkat itu, aku merasa surprise. Bagaimana tidak? Novel itu dicetak 3 tahun lalu. Penjualannya terbilang biasa saja bahkan menurut informasi terakhir yang kudapat, novelku ini tidak dicetak ulang. Hanya menerima POD jika ada yang memesannya. Otomatis royalti yang kuterima juga tidak sefantastis sekarang. Namun tiba-tiba, aku menerima uang royalti yang tidak pernah kusangka-sangka. Alhamdulillah, sekali lagi aku berucap syukur atas rejeki kiriman-Nya
Boleh tahu kenapa tiba-tiba novel saya itu menghasilkan royalti yang banyak?  Aku ingin tahu, karenanya menanyakan itu kepada pengirim pesan singkat.
Mas Ganandhi langsung saja datang ke kantor, ketemu Mas Murad Sumarto. Beliau kan editor novel Mas Ganandhi. Jawaban itu yang muncul di ponselku.
Oke deh, nanti sore aku ke sana, nemui Mas Murad. Ini Rachma, ya? Aku membalas pesan itu. Beberapa detik kemudian muncul icon tersenyum dan jempol. Rachma bekerja di kesekretariatan Penerbit Spektra Media. Salah tugasnya, memberi kabar kepada para penulis mengenai royalti. Di luar itu, seabrek pekerjaan lain yang ditanganinya. Di sekretariat itu, Rachma tidak sendirian, ada Wati dan Siti DW yang juga bekerja bersamanya.
Penerbit Spektra Media selalu membayarkan royalti per 3 bulan sekali kepada para penulisnya. Sistem yang diterapkan sangat menguntungkan bagi kami. Aku sudah merasakan beberapa kali pembayaran royalti dari buku-bukuku yang diterbitkan penerbit ini. Hanya, baru kali ini aku tidak menyangka saja memperoleh royalti yang terhitung banyak dan hanya dari 1 novelku.
Sore itu, akhirnya, aku bertemu Mas Murad, editor novelku. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, jadi berbincang mengasyikkan. Ia menanyakanku kenapa tidak setor naskah lagi untuk diterbitkan di Spektra. Sambil tersenyum aku berbisik padanya, “Masih mau nerbitkan naskahku? Bukankah naskahku nggak ada yang meledak di pasaran!” Mendengar bisikanku itu, Mas Murad hanya tersenyum. “Biar nggak meledak, tapi cerita-ceritamu itu ditunggu,  Mas Ganandhi,” ujar Mas Murad pelan. “Satu dua POD, sering kok kami terima,” jelas Mas Murad menambahkan. Mendengar itu, aku senang. Memang, meski tidak banyak, sering kulihat ada sejumlah uang yang masuk ke rekening bank-ku. Royalti dari Spektra Media.
“Wah, aku belum tahu, Mas…. Kok tiba-tiba novel itu terjual banyak.” Jelas Mas Murad saat kutanyakan kenapa novelku itu memberikan aku royalti banyak.
“Sebentar, aku tanya bagian penjualan, mereka yang lebih ngerti,” kulihat Mas Murad langsung menghubungi bagian penjualan. Sambil mengangguk-angguk, tampak Mas Murad mencatat sesuatu di notes yang ada di hadapannya. “Nuwun,” ucap Mas Murad sambil meletakkan gagang pesawat telepon.
Aku mendengarkan penjelasan Mas Murad dengan seksama. Ternyata novelku itu di-POD beberapa kali oleh 1 orang. Hanya, orang itu minta novel yang di-POD-kan  dikirimkan ke beberapa kota yang sudah ditentukan. Pantas saja aku memperoleh royalti banyak. “Siapa orangnya yang sudah memesan begitu banyak novel itu?” Tanyaku kemudian.
“Menurut catatan bagian penjualan, namanya Ibu Natalie Enesha. Asalnya dari Wonogiri.” Mendengar itu, aku berpikir, kok banyak banget si ibu mem-POD-kan novelku. Selagi aku masih memikirkan Ibu Natalie dengan POD ‘Kisah Klasikku’ , Mas Murad menambahkan lagi, “Mas, ternyata si ibu ini juga POD novel yang lain. Kalau dari catatan bagian penjualan, novel itu yang berjudul ‘Persembahan Untukmu’. Jadi ada 2 novel yang beliau POD-kan ke Spektra. Jumlah yang di POD juga tidak sedikit.” Kembali aku terdiam mendengar penuturan Mas Murad.
“Ke kota mana saja dikirimnya kalau saya boleh tahu?” Tanyaku lagi. Mas Murad memperhatikan kertas yang ada di hadapannya. Kepalanya mengangguk-angguk sebelum menjawab pertanyaan Ganandhi. “Menyebar ke beberapa kota di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, nih…,”ucap Mas Murad. “Baca sendiri kota-kotanya,” perintah Mas Murad sembari menyerahkan kertas yang tadi dibacanya. Mataku sempat terbelalak membaca catatan yang disodorkan Mas Murad. Dua novelku itu, ternyata memang benar dikirimkan ke beberapa kota. Ada Nunukan, Tanjung Selor, Sanggau, dan Bontang di Kalimatan. Kemudian Rengat, Sawahlunto, Kotabumi di Sumatra dan Pare-Pare di Sulawesi. Senang juga melihat novel-novel itu terdampar di kota-kota kecil itu. Apapun caranya bisa sampai ke sana, aku merasa senang karyaku dibaca di kota-kota itu. Aku hanya bisa menarik nafas panjang menghadapi kenyataan ini.
Siapa sebenarnya Natalie Enesha yang rela hati membelanjakan uangnya untuk membeli begitu banyak novel-novelku dengan cara POD!!
“Aku pamit, Mas,” ujarku kepada Mas Murad. Sore itu, aku senang bisa bersilahturahmi dengan editor novel-novelku juga mengetahui penjualannya. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, otakku tak berhenti mengingat-ingat siapa Natalie Enesha.
***
Seperti tahu keinginanku, keesokan harinya, sesudah selesai salat subuh, ponselku berdering. Deringan SMS biasa. Hari gini kok ya masih ada kirim pesan harus membayar, padahal yang gratisan semacam whatsapp, line, bbm sudah menjamur, gumamku sendiri. Dalam kotak masuk ponselku, tidak tercantum nama kontak. Hanya deretan angka nomor si pengirim.
Terima kasih untuk semuanya. Cerita-ceritamu sungguh berkesan untukku. Aku tak pernah bosan membacanya. Berulang kali bahkan!. Lebih membahagiakan lagi, ternyata cerita-cerita itu dijadikan novel, sehingga banyak orang bisa menikmatinya juga. Salutt…. Ohya, sengaja aku borong novel-novelmu untuk aku bagi-bagikan (ada yang dijual juga sih, hehehe). Sukses selalu untukmu. Maafkan apabila ada yang tidak berkenan. Maaffff banget. (NE)
Aku hanya bisa melongo membaca pesan singkat NE. Tanpa harus mencari-cari, aku langsung tahu bahwa NE adalah Natalie Enesha. Siapa dia? Sepertinya aku tidak mengenalnya. Mengapa juga harus minta maaf padaku? Kenapa bisa tahu tulisanku awalnya bukan novel?
Pagi itu, sebelum meneguk kopi, aku sudah dicecar soal siapa NE. Hmmm….. Sambil mengaduk Nescafe hitam, aku coba mengingat-ingatnya. Meskipun sudah meneguk si hitam, tetap saja aku belum bisa menemukan jati diri Natalie. Kubiarkan menggantung mengenainya karena sudah mengantri rutinitas pagiku.
Kubalas pesan NE tadi. Bunyinya: Terima kasih untuk perhatian dan pesanannya. Apakah kita saling mengenal sebelumnya? Itu yang kutuliskan sekaligus kutanyakan. Begitu pesan terkirim dengan sukses, aku ingin segera dirinya menjawab. Namun hingga awal Desember, aku tak pernah lagi menerima SMS dari Natalie. Nomor yang pernah dipakainya untuk SMS tak bisa dihubungi.
***
Victa menghubungiku 11 Desember sekitar pukul 5 sore. Ia memastikan aku supaya esok hari menemuinya dan bertemu dengan calon editorku. Naskah yang pernah kukirimkan akan diterbitkan oleh penerbit tempatnya bekerja. “Jangan lupa, besok siang  jam 1, Mas Ganandhi saya tunggu di kantor sekalian bertemu Mbak Shianne yang akan membantu urusan keredaksian.” Dengan senang hati, serta ucapan terima kasih, sebagai jawabanku sekaligus mengakhiri komunikasi sore itu dengan Victa.
Selepas makan malam, aku langsung duduk di ruang kerjaku dan membuka berkas naskah yang akan didiskusikan di kantor Penerbit Pena Berkata, esok hari. Baru beberapa halaman aku membaca naskahku, dering pertanda SMS berbunyi. Dengan enggan kubuka pesan itu. Tak ada nama kontak, hanya deretan angka sebagai pengirim pesan.
Aku tunggu di Latte Café besok siang jam 1. Sangat mengharapkan sekali kehadiranmu, juga kedatanganmu. Kami akan senang apabila Mas bisa datang memenuhi undangan ini. Jangan lupa Latte Café, di Hugo’s privat room.
Semula aku mengira SMS nyasar. Hanya berisi berita tanpa ada nama pengirimnya. Kubiarkan saja SMS itu dan meletakkan kembali ponselku. Mode silent bergetar kupasang. Aku larut kembali membaca naskahku di laptop kesayanganku. Lima belas menit berselang, ponselku bergetar. Kutengok sekilas, gambar amplop teronggok di bagian atas. Kembali aku melihatnya, ingin tahu siapa lagi yang berkirim SMS. Masih deretan angka, dari nomor yang tadi mengirimkan berita tanpa nama pengirimnya. SMS kedua hanya berisi: maaf, ini aku N.E. Sejenak aku terdiam kemudian menarik nafas panjang. Kegalauan langsung melandaku malam itu.
Natalie mengirimi aku pesan memakai nomor yang berbeda. Tanpa berpikir dua kali, aku mengiyakan undangannya bertemu di Latte Café. Soal pertemuanku dengan Victa dan Shianne di kantor Pena Berkata, akan aku mintakan ketemuan jam 4 sore. Dan pengunduran waktu pertemuan aku whatsapp ke Victa. Alasanku ada urusan keluarga mendadak yang beritanya baru aku terima malam ini. Aku lega Victa langsung merespon pesanku, serta mengatakan tidak apa-apa pertemuan diundur menjadi jam 4 sore. Malam itu, meskipun berkecamuk pikiran macam-macam tentang Natalie, aku berusaha fokus membaca naskahku. Tanpa sadar aku justru tertidur dan terbangun menjelang subuh. Tak lama kemudian azan subuh terdengar.
Ritual pagiku menikmati secangkir kopi. Laptop yang semalaman menyala sudah kumatikan, berganti koran pagi yang menjadi santapan pagiku menemani secangkir kopi yang sudah siap untuk diseruput. Pagi hingga siang aku tidak merencanakan sesuatu. Jadi, sesudah beberes aku akan kembali duduk di ruang kerja mengurusi naskah-naskahku. Ketika membuka halaman kedua koran pagi, ada pemberitahuan ucapan selamat dan sukses. Rupanya, pada 11 Desember kemarin, Latte Café baru saja dibuka. Aku jadi tak sabar untuk segera tiba di café itu.  
Setengah satu siang, aku tiba di Latte Café, Coffee Shop and Resto. Kedatanganku langsung disambut kru café. Sambil membukakan pintu, kru tersebut menanyakan apakah aku sudah reservasi. Dia mengatakan siang ini café penuh. Kusebutkan tujuanku, dan kru yang menyambutku mengangguk. Oleh salah satu temannya yang berdiri di dekatnya, aku diantarkan ke Hugo’s privat room yang letaknya di lantai 2. Aku tidak menyadari kalau di dekat anak tangga menuju lantai 2 terpasang pengumuman yang bunyinya: Setiap pembelian minimal Rp 150.000 atau lebih, pengunjung akan memperoleh novel karya Ganandhi Harmintyo. Pilih salah satu novelnya, Kisah Klasik Dari Masa Lalu atau Persembahan Untukmu. Aku justru baru tercengang ketika sudah berada di lantai 2, persis di pintu masuk menuju ruangan dalam. Ada pemberitahuan yang sama persis  dengan di lantai 1, tentang 2 novelku.
Bahkan saat kru yang mengantarkan aku ke ruangan mempersilakan masuk, aku tidak menyadari. Dia kemudian mengulangi lagi barulah aku tersadar. “Ohya, terima kasih,” ucapku agak tergagap. Senyum tersungging dibibirnya. Sebelum aku tenggelam dalam privat room, kru yang didadanya tertulis nama Rosa, mengatakan padaku untuk menunggu sebentar.
“Bu Nisha segera menyusul ke sini. Beliau sedang briefing di atas,” jari telunjuk Rosa menunjuk arah atas lantai 2. Justru aku yang terkejut mendengar nama Nisha disebutkan.
“Mbak, saya diundang Ibu Natalie Enesha ke sini bukan Ibu Nisha,” sanggahku.
“Maaf, Mas penulis novel-novel ini?” Tanpa ragu-ragu Rosa menunjuk pengumuman yang berdiri di depan pintu masuk lantai 2. Bibirnya menyunggingkan senyuman ke arahku. “Ibu bilang, jika Mas datang diantarkan ke Hugo’s privat room. Dan tadi Mas sudah sampaikan akan ke Hugo’s room.” Dengan sopan Rosa memberikan penjelasan.
“Baiklah,” kataku menyudahi. “Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai sini.” Aku tersenyum membalas senyuman Rosa. Setengah berbisik, sambil matanya mengawasi keadaan di lantai 2, tiba-tiba Rosa berkata, “Boleh saya berfoto dengan Mas di dekat sini?” Ia menunjuk pengumuman yang bergambar foto diriku dan 2 novelku. Aku mengerti maunya, dan secepatnya mengeksekusi keinginannya untuk berfoto denganku. Setelah berfoto, Rosa menyalamiku kemudian bergegas turun ke lantai 1.
Ruangan Hugos tidak luas. Mencerminkan sebuah ruangan khusus. Interior juga biasa saja. Jendela kaca menempel di tembok sebelah utara, menampilkan view Gunung Merapi yang siang itu terlihat jelas. Tinggi menjulang dan tampak gagah dilihat dari ruangan tempat aku berdiri menunggu Nisha. Seketika otakku merespon begitu mengucapkan sendiri nama “Nisha”. Setelah dibuat tidak mengerti dengan Natalie Enesha, kini nama Nisha memenuhi benakku. Ah sudahlah, pikirku, toh nanti aku akan tahu siapa Nisha atau Natalie. Aku pun duduk di sofa yang empuk. Menyaksikan siaran tivi yang menayangkan video musik Indonesia.
Tiba-tiba pintu masuk terbuka, tampak kembali Rosa masuk sambil membawa daftar menu. Ia mempersilakan aku untuk memesan minuman maupun makanan ringan sambil menunggu Nisha. Kupesan orange juice dengan kentang goreng dan sosis sebagai camilannya. Rosa meninggalkanku.
Setengah jam berlalu, saat aku menikmati orange juice, pintu masuk terbuka agak lebar. Sesosok perempuan dengan kacamata modis nangking di atas kepalanya, masuk sambil mengucapkan assalamu’alaikum. Apakah ini Nisha atau Natalie? Sebelum berpikir lebih lanjut kujawab salamnya. Wajahnya baru terlihat jelas ketika sosok ini menghampiriku. Duduk di seberangku. “Hai, Mas Ganhar?” Ia menyorongkan tangannya mengajak bersalaman. Aku kaget nama penaku disebutnya begitu tangan kami saling bersalaman.
“IkeL?” ucapku setengah tidak percaya. Ia menganggukkan kepalanya. Benar-benar sebuah kejutan aku menjumpainya siang itu. Kejutan lain yang juga hinggap di kepalaku gara-gara mendengarnya mengucapkan assalamu’alaikum. Aku tahu persis, IkeL katholik tulen.  
“Nisha? Natalie Enesha?” Aku mengeja semua nama perempuan yang secara berurutan keluar dari kepalaku. IkeL kembali mengangguk lagi. Kaget, ya? Itu yang kemudian keluar dari bibirnya. Aku nyaris tidak percaya melihat penampilan IkeL yang modis: muda, segar, dan cantik yang terawat.
IkeL, nama lengkapnya Nikelaria Sarwendah Haswitha. Aku mengenalnya secara tidak sengaja. Saat itu, 5 atau 6 tahun yang lalu, kami bertemu di kereta api Taksaka malam. Kami sama-sama hendak ke Jakarta. Tasnya yang berat, untuk ukuran perempuan, kubantu mengangkatnya ke atas rak bagasi kereta. Sebagai tanda terima kasih, ia mengenalkan dirinya. IkeL yang sekarang beda dengan IkeL yang pertama kali kukenal. Makanya aku sempat pangling melihat penampilannya sekarang. Apapun perubahannya, aku senang berjumpa kembali dengannya.
IkeL yang kukira cewek pendiam saat itu, ternyata teman  bicara yang menyenangkan sekaligus mengasyikkan. Kereta malam Taksaka-lah saksinya. Nyaris sepanjang perjalanan malam itu, cerita tidak terputus. Tentu diselingi juga mulut yang digoyang makanan dan minuman. IkeL membawa makanan kecil yang cukup untuk kami santap berdua. Akan tetapi,  tengah malam  sempat IkeL menyuruhku membeli makanan dari restorasi kereta. Ia minta mie rebus ala kereta Taksaka. Gembul juga rupanya dia. Kami baru benar-benar berhenti bicara ketika kereta melewati Stasiun Karawang. “Mas, ngantuk. Bobok bentar ya..,” ujarnya kala itu. Ia pun langsung pulas tertidur. Sementara aku, hanya merem-melek karena tidur tak bisa senyenyak IkeL.
Kami berpisah akhirnya pagi itu. Aku turun di Stasiun Jatinegara, sedangkan IkeL di Stasiun Gambir. Seperti kebanyakan perkenalan, kami pun saling bertukar nomor HP. Sayangnya, nomor IkeL hilang bersama raibnya HP-ku gara-gara dicopet di bis saat aku menuju Penerbit Cakrawala Aksara.
            Di dalam Hugo’s room, IkeL tertawa melihat aku masih bengong tak percaya. “Sudahlah Mas, jangan lihat aku seperti itu. Malu aku dilihat gitu!” Terdengar pintanya supaya aku menghentikan tatapan. “Maaf, maaf…. Tapi aku benar-benar pangling melihatmu.” Saat itu, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.
            “Mas, sombong sekali sih, nggak pernah kontakan sejak nulis cerita-ceritaku?” Aku terdiam dikatakan sombong oleh IkeL.
            “Lupa juga dengan Nisha, Natalie, dan Enesha?” Mulutnya mecucu, menonjolkan bibir kurang dari 5 senti. Aku terperanjat dia menyebutkan ketiga nama itu, yang sedari tadi memenuhi benakku.
            “Kenapa nggak sebut namamu saja: IkeL! Pakai diganti Nisha, Natalie, Enesha?” Tanyaku nggak mau kalah. IkeL menggelengkan kepalanya sambil berucap, “Payah, payah si Mas Ganhar ini? Payaaahhhhhh bingittt deh!” Aku kembali bengong.
            Selagi aku masih bengong memikirkan ketiga nama perempuan yang disebut IkeL, kembali suaranya terdengar, “Piye to Mas ini…? Nisha, Natalie, Enesha, bukannya ciptaanmu, Mas?” Ciptaanku? Aku sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa geli.
            “Sudah bisa mengetawai diri sendiri, artinya sudah tahu siapa ketiga perempuan itu, kan?” IkeL berkata setengah mengejek. Lidahnya menjulur.
            Kutepok jidatku dan kembali tertawa. “Ya, ya, ya…. Kok bisa lupa dengan tokoh ciptaanku sendiri?” IkeL ikutan tertawa.
            Aku baru ingat; Nisha, Natalie maupun Enesha, adalah tokoh perempuan yang ada dalam cerita-ceritaku untuk IkeL. Waktu penulisannya belum lama, baru sekitar 3-4 tahunan, tapi mengapa aku sampai lupa kalau itu tokoh dalam novel yang kutuliskan. “Maaf, maaf, yaa…,” kataku lagi. Kami tertawa bareng.
            “Trus, kenapa nggak pernah hubungi aku lagi?” IkeL mengulangi pertanyaannya yang tadi. Yang mengatakan aku sombong….         
“Aku apes dua kali, IkeL! Semua gara-gara HP yang bermasalah.” Wajah IkeL setengah tidak percaya mendengar penjelasanku. Maksudnya gimana sih, tanya IkeL kemudian.
            “HP-ku hilang dicopet di Jakarta setelah kita tukaran nomor. Untungnya, kamu masih hubungi aku sesudahnya bahkan sempat cerita macam-macam yang ujungnya jadi tulisan. Jadi buku novel juga.” IkeL menganggukkan kepalanya tanda setuju.
            “Apes berikut, HP-ku jatuh dan langsung digilas ban mobil. Prakkk, hancur berkeping-keping. Aku ganti HP dan ganti nomor tanpa bisa menghubungimu sejak itu. Nggak bisa mengingat sama sekali berapa nomormu. Maafkan aku, ya….” IkeL terlihat menarik nafas. Bersamaan tarikan nafasnya, pintu masuk ruangan Hugos terbuka. Kembali Rosa masuk ke dalam.
            “Ohya, Mas Ganhar mau makan apa?” IkeL menawari aku makan siang. Rosa mendekati IkeL. Bersiap mencatat apa yang hendak dikatakannya. Aku mengambil buku menu yang tadi sempat Rosa berikan padaku selama menunggu IkeL. Kutunjuk nasi goreng seafood ala Café Latte juga sekali lagi orange juice.
“Cuma ini pesanannya? Nggak tambah menu lainnya? Makanan di sini enak-enak lho, Mas….” Nada bicara IkeL layaknya sales promotion girl yang sedang mempromosikan produknya. Sejenak aku berpikir mengiyakan keinginan IkeL atau tidak. Sementara aku masih memikirkan menu tambahan, IkeL sudah memesan makan siangnya, yaitu berupa salad komplit juga stroberi juice. Rosa mencatat semua pesanan tadi, bersiap keluar ruangan. “Aku mau deh salad komplitnya.” Rosa yang hampir mendekati pintu, berpaling kepalanya mendengar teriakanku. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Terdengar suara IkeL yang menyuruh Rosa.
“Tahan semua telepon yang mencari saya. Siang ini, saya ingin bicara dengan Pak Ganhar dulu.” Rosa hanya mengatakan ‘iya Bu’ sebelum benar-benar meninggalkan kami dalam ruangan Hugos. Otakku merespon cepat mengapa IkeL menyuruh Rosa menahan semua telepon masuk, yang mencarinya. Siapa IkeL di hadapanku ini?
“Tinggal dimana sekarang?” Aku mulai menginterogasi IkeL. Tidak ada jawaban langsung dari IkeL. Yang kusaksikan, ia sibuk mengeluarkan HP-HP-nya dan menekan beberapa tombol. Sepertinya, ia memasang mode silent.
“Aku di Wonogiri sekarang, Mas, ikut suami…. Bantuin usaha suami di sana,” jawabnya segera setelah ia meletakkan kedua HP-nya di meja. Mendengar kata Wonogiri disebutkan, aku langsung ingat perkataan Mas Murad editor Penerbit Spektra Media.
“Latte Café salah satu bisnis suamiku yang baru setahun buka di sini,” jelas IkeL. “Baru kemarin, 11 Desember, kami lauching.” Aku tidak bisa menutupi kekagumanku pada IkeL, juga suaminya. “Hebat sekarang kamu,” pujiku, “Sukses deh pokoknya.” Aku acungkan tangan kananku memberinya salam kembali. IkeL menyambut dengan hangat.
“Tadi sempat mikir, kok enak banget bisa suruh kru café untuk menahan telepon. Ah ternyata si pemilik yang perintahkan.” IkeL tertawa.
“Mas Ganhar, silakan lho kalau mau launching atau diskusi buku di sini. Terbuka lebar untukmu. Juga kalau mau bersantai. Ada harga special untukmu.” Sungguh suatu tawaran yang menarik begitu IkeL mengusulkan itu. Pasti dan terima kasih, kataku kemudian.
Tiba-tiba suasana hening. Hanya suara tivi yang terdengar. Sampai akhirnya suara IkeL memanggilku. “Ada apa, IkeL?” Wajah IkeL sekonyong-konyong terlihat sendu. “Aku mau minta maaf untuk peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saat ayahku marah bahkan sampai memaki-maki Mas Ganhar.” Aku sempat tercenung. Peristiwa apa hingga IkeL harus minta maaf segala. Sambil mengingat-mengingat kembali, kuminum orange juice-ku. Dan segarnya orange juice menyegarkan ingatanku lagi.
“Benar Mas, aku malu banget sama Mas Ganhar. Ayah sampai marah seperti itu. Semua yaitu, gara-gara ayah baca obrolan kita dari HP aku. Mana pas itu aku mau nikah, tapi aku juga pas sedang menceritakan sesuatu padamu.” IkeL tampak terdiam. “Kalau ingat peristiwa itu, aku malu, nggak enak hati banget.” Kembali IkeL meminta maaf kemudian diam lagi.
Mendengar cerita sekilas IkeL, aku lantas ingat semua. Ingat bagaimana ayah IkeL menelponku dan menceramahiku. “IkeL sebentar lagi mau menikah, Mas, jadi jangan ganggu dia. Calonnya sudah ada. Gimana kalau sampai calon mantu saya tahu apa yang kalian bicarakan?” Aku kaget tiba-tiba diomongi macam-macam oleh ayah IkeL. Ayahnya juga tidak mau menerima penjelasan apapun dariku. Aku hanya bisa menjawab iya, iya, iya, dan iyaaaaa saja. Sampai akhirnya ayah IkeL mengakhiri bicaranya. Sejak itu, aku tidak bisa menghubungi IkeL. Tampaknya, semua akses menuju IkeL diputus ayahnya. IkeL menurut, karena memang gadis penurut.
Semua cerita-ceritanya, beruntungnya, sempat terekam baik di otakku. Jadi meskipun tak bisa berhubungan lagi dengan IkeL, ceritanya jadi bahan tulisanku. Dan IkeL sama sekali tidak pernah keberatan ketika aku minta izin membukukan cerita-ceritanya. Hal ini pernah kutanyakan sebelum prahara ayahnya memarahiku.
. “Makanya, aku surprise banget baca novel-novelmu,” ujar IkeL setelah sempat terdiam.
“Yang aku tahu hanya cerita versi cerpennya, sedangkan versi novel, sama sekali aku tidak terlibat. Mas Ganhar memang hebat merangkai semua cerita-ceritaku. Imajinasinya itu, lho… Nggak ku..ku.., kuattt!,” puji IkeL. Aku hanya bisa menghela nafas. Meminum lagi orange juice-ku dan tersenyum ke arahnya.
Sekonyong-konyong pintu ruangan Hugos terbuka. Kami sama-sama menengok ke arah pintu. Seorang pria membawa kotak berukuran sedang masuk ke dalam. IkeL berdiri dari duduknya, terlihat sumringah menyambut kedatangan pria itu. Pada saat keduanya berdekatan, si pria meletakkan kotak yang dibawanya, kemudian memeluk mesra IkeL juga mencium kedua pipinya. Tanpa risih, tanpa malu meskipun aku duduk anteng menatap keduanya.
“Sayang, ini Mas Ganandhi yang nulis novel-novel itu!” Jelas IkeL kepada suaminya. Aku sangat yakin, pria itu suaminya. Sebutan sayang itu sudah menjelaskan.
“Ohya?” Jawaban ‘ohya’ suami IkeL dengan tekanan yang tidak mengenakkan menurutku. Dagunya sedikit terangkat. Meskipun akhirnya kami bersalaman dan saling berkenalan. Aku berusaha biasa saja.
“Sudah lama?” tanyanya selesai kami berjabat tangan. Aku tengok jam di tanganku, “Sudah satu jam di sini.” Pria yang bernama Mario Latterna itu tersenyum. Kali ini, senyumnya lebih bersahabat. Secepat itukah berubahnya? Batinku.
“Ya inilah suamiku, Mas….!” ujar IkeL. Mereka secara bersamaan duduk di sofa. Bersebelahan. Terlihat IkeL kemudian meladeni suaminya itu. Menawari makan dan minuman. Setelah menunjuk satu pilihan, IkeL langsung mengangkat telpon yang ada di dekatnya. Ia tak menyuruh karyawannya naik ke lantai 2, tapi langsung memesan dan minta segera diantarkan ke atas. Kami pun melanjutkan obrolan siang itu.
“Niki sudah sering cerita tentang Mas Ganandi.” Mario memulai obrolan. Nada bicaranya terdengar lebih santun, tenang, dan matanya terus memandang ke arahku. “Pujian pokoknya nggak pernah habis untuk Mas,” ujarnya lagi. “Kalau jempol tangan ada 4, mungkin semuanya diberikan ke Mas Ganandhi.” Rupanya suami IkeL mengajak bercanda. Aku tersenyum menanggapi candaannya. IkeL hanya senyum-senyum saja mendengar suaminya mengobrol denganku.
Kami sempat terdiam sebentar. Hingga Mario menanyakan lagi, “Sudah lama menjadi penulis?” Aku mengangguk pelan.
“Sudah lama menulis, tapi yang dipublikasikan baru beberapa tahun belakangan ini saja,” kataku meberikannya penjelasan.
“Semua cerita, dengan rapi tersimpan di laptop,” lanjutku. Mario gantian mengangguk pelan. Tangannya terlihat menggeser kotak yang tadi dibawanya. IkeL yang melihat suaminya memindahkan kotak itu bertanya, “Kotak apaan itu, Sayang?”
“Ini contoh kotak yang mau aku berikan kepada Pak Sanusi. Kemarin beliau minta contohnya. Kalau cocok mau pesan banyak. Katanya begitu,” jelas Mario kepada IkeL yang langsung tidak bertanya-tanya lagi.
Kotak yang disebutkan Mario tidak berukuran besar. Sebesar kotak untuk meletakkan pena-pena mahal layaknya. Bahannya juga bukan kayu biasa. Terlihat tebal dan mengkilap. “Ini, saya juga sedang menjajal bisnis kayu, Mas Ganandhi. Biar ada variasi lain,” ujar Mario kepadaku. Aku hanya bisa menyatakan kekagumanku kepadanya. Entah kenapa sikap suami IkeL bisa menjadi lebih bersahabat. Ah, mungkin efek di luar panas banget. Begitu merasakan ademnya hawa di ruangan Hugos, otaknya mendingin. Semoga saja…..
Kami bertiga pun lantas mengobrol banyak hal. Bahkan dari obrolan ringannya, suami IkeL menawariku kerja sama. “Kalau kira-kira saya mau bikin penerbitan, Mas Ganandhi bisa bantu?” Jelas aku terkejut dengan tawaran itu. Namun secara santai aku menjawab tawarannya itu dengan mengatakan bahwa usaha penerbitan tidak semata menerbitkan sebuah karya, tapi juga harus melihat sisi bisnis juga. “Kalau itu tujuan menginvestasikan uang di bisnis ini,” kataku menambahkan. Mario terlihat menganggukkan kepalanya. Katanya, ia serius ingin menjajal usaha penerbitan. Kalau nanti jadi terealisir, ia berharap aku mau membantunya. Aku juga hanya mengatakan, “Baiklah, siapp-lah!”
Tiba-tiba, “Sayang, kok makanan kita belum diantarkan? Sudah hampir setengah jam belum di keataskan sama anak-anak?” Wajah Mario berpaling ke istrinya yang terlihat duduk santai mendengarkan kami mengobrol. Barulah IkeL menyadari. Buru-buru ia hendak mengangkat telepon dan menanyakan. “Niki sayang.., kamu turunlah ke bawah. Jangan lewat telepon. Mungkin banyak tamu, sehingga pesanan kita sedikit diabaikan,” kata Mario. Tanpa banyak komentar IkeL berdiri, bergegas menuju pintu. Mungkin hendak memastikan pesanan kepada anak buahnya.
“Sebentar Mas,” Mario minta izin menelpon seseorang. Aku mempersilakannya. Kulihat IkeL berjalan pelan menuju pintu. Sementara Mario, sepertinya gagal sambung telponnya.
“Sayang,” panggil Mario. IkeL menengok sambil berucap ‘ya’. Pada saat bersamaan, pintu ruangan Hugos terbuka lebar. Masuklah beberapa kru Latte Café dan seorang pria berkemeja lengan pendek mengenakan dasi. Mereka mendorong meja beroda yang di atasnya ada kue tart dengan lilin menyala. Pada saat bersamaan terdengar lagu Untukmu, yang dulu pernah populer dinyanyikan oleh Tito Sumarsono. Ruangan Hugos langsung gempita dengan lagu itu. IkeL terlihat bingung melihat kehebohan itu. Terlebih aku. Mario berdiri dari duduknya menyambut kedatangan para kru café-nya. IkeL yang terkejut hanya mematung sampai Mario menghampirinya serta memeluknya.
“Selamat ulang tahun, Sayang…” Ucapan itu meluncur deras, sekaligus ciuman mesra untuk IkeL. Lagi-lagi aku hanya melongo, bengong, tidak menyangka menyaksikan kejutan di siang itu. Setelah tertegun beberapa saat, aku pun berdiri, mendekati IkeL dan menyalaminya. Wajah IkeL masih memancarkan ketidakpercayaan atas kejutan yang dibuat suaminya. Kru café yang mengantarkan kue tart juga makan siang kami, langsung bergantian menyalami Sang Boss. Setelah semua diletakkan di meja, Seto, pria yang berkemeja dan berdasi, yang tak lain adalah manager di café itu, mengucapkan kembali ucapan selamat ulang tahun untuk IkeL. Semuanya langsung keluar menyisakan Rosa di dalam ruangan Hugos.
Rosa langsung menata ulang semua makanan. Setelah dirasa sempurna, ia berpamitan. “Cha, makasih yaah,” terdengar suara Mario mengucapkan terima kasih kepada Rosa. Rosa hanya tersenyum dan mengangguk. Tinggalah kami bertiga, dengan makanan di meja dan kue tart dengan nyala lilinnya.
“Sayang, sudah dong bengongnya…!” Mario menegur istrinya yang masih tampak kaget. Diraihnya kotak yang tadi dibawanya. Menyerahkan kepada IkeL sambil berkata, “Bukalah!” IkeL menerima kotak itu agak ragu. Tapi karena Mario menyuruh segera membuka, perlahan ia buka kotak itu, persis di hadapanku dan Mario. Matanya yang indah agak terbelalak. Diambilnya sesuatu dalam kotak itu. Ahaii, sebuah kunci mobil berikut STNK-nya. IkeL langsung melonjak begitu tahu kunci mobil yang dipegangnya. Buru-buru ia memeluk Mario. Memeluk lama, menyisakan aku yang hanya menatap adegan demi adegan yang berlangsung. Mario menghadiahi IkeL mobil idamannya yang sudah lama diinginkan.
“Sayangggg, makasihhhh.” Tetap masih berpelukan, IkeL berkata-kata kepada Mario. Tangan Mario membalas kata-kata IkeL dengan elusan lembut di kepalanya. Tiba-tiba, Mario melepaskan pelukan IkeL. “Sudah, sudah…. Kasihan tamu kita. Melihat kita begini terus.” Mendengar ucapan itu, aku hanya tersenyum sambil kukatakan, “Lanjutkan. Nggak ada siapa-siapa di sini.” Kami pun tertawa bersama-sama. Dan siang itu, aku menikmati suasana yang hangat bersama pasangan Mario dan IkeL.
Di sela-sela menyantap makan siang kami, Mario mengatakan sesuatu padaku. “Selain saya yang memang merencanakan kejutan 12 Desember ini, tadi juga dibantu sama Rosa dan teman-temannya. Tahu nggak Mas, waktu saya minta izin menelpon, tadi saya miscall ke HP Rosa. Mereka semua sudah berdiri di depan pintu ruangan Hugos. Untungnya, Niki agak lelet jalannya, jadi miscall saya pas. Andaikata Niki bergegas menuju pintu, bubar kejutannya.” Mario tertawa sendiri sesudah menceritakan kronologis kejutannya. Aku hanya berkomentar singkat ‘markotop’. Kuberikan jempol untuknya.
“Yang markotop itu, panjenengan Mas!” Aku menghentikan suapanku. IkeL tersenyum.
 “Maksudnya bagaimana, ya?” tanyaku heran.
“Alah…, Mas Ganhar ini gimana sih? Masih muda kok sudah pikun. Nggak ingat sama sekali dengan adegan tadi?” tanya IkeL. Aku benar-benar tidak mengerti maksud pasangan ini.
“Saya hanya menjiplak dari novel-novelmu, Mas…! Adegan-adegan itu, kan ada dalam novel ‘Persembahan Untukmu’ juga ‘Kisah Klasik’. Jadi, kalau ditanya siapa yang pintar, yang panjenengan itulah orangnya.” Mario menjelaskan panjang lebar padaku. Masya Allah, ucapku dalam hati, kenapa aku bisa sampai lupa dengan adegan-adegan itu ya?
“Ulang tahun Niki tahun 2014, saya membuat kejutan juga menjiplak dari novel Mas Ganandhi. Niki padahal membaca novel ‘Denting Piano di Penghujung Malam’ berulang kali, tapi tetap saja tidak sadar kalau saya mengambil adegan dari novel yang Mas tuliskan. Panjenengan tuh memang lihai, bisa saja berimajinasi sedemikian rupa.” Aku manggut-manggut, merasakan dada yang membesar karena bungah.
Sebelum jam 4 sore aku berpamitan kepada mereka berdua. Aku tidak mau pertemuanku dengan Victa dan Shianne terlambat. IkeL mengantarkanku hingga ke parkiran, sementara Mario setelah kupamiti langsung mohon diri untuk menelpon rekan bisnisnya. Ia masih berada dalam ruangan Hugos.
Sebelum aku masuk mobil, IkeL mengucapkan terima kasih serta permintaan maaf lagi atas kejadian beberapa tahun lalu. “Maafkan ayahku, ya Mas….!” Aku mengangguk.
“Sudahlah, itu sudah lewat. Lagi pula sekarang kau sudah bahagia dengan Mario suamimu. Ia orang baik, kamu tak akan rugi mendampinginya. Sukses ya untuk semuanya. Kapan-kapan, aku penuhi tawaranmu untuk beracara di sini.” IkeL tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kutatap bangunan Café Latte sebelum masuk mobil.
“Apalagi yang akan kau tulis tentang aku bersama Shianne?” Aku kaget IkeL bertanya begitu. Sebelum kulanjutkan pertanyaanku, IkeL buru-buru pergi sambil tersenyum. Aku menatapnya yang berjalan masuk ke dalam café sambil berbisik pelan, “Tengok ke belakang IkeL!”. Seperti yang sudah kuduga, ia berbalik badan melihat ke arahku. Matanya mengedip, bibirnya menyunggingkan senyuman. Kedipan dan senyuman yang penuh tanda tanya bagiku. Tubuhnya menghilang masuk ke dalam café-nya.
Seorang satpam café mendekatiku. Ia mengatakan ada seseorang di lantai atas, di dekat jendela, memanggilku. Aku buru-buru mendongak ke atas melihatnya. Kulihat seorang pria sedang melambaikan tangannya. Rupanya Mario, suami IkeL yang ada di atas sana. Aku langsung membalas lambaian tangannya sebagai penghormatan dan rasa terima kasih untuk jamuannya. Tangan kanannya memperagakan gerakan menelpon. Isyarat yang kutangkap, tetap jaga komunikasi dengannya.
Sekonyong-konyong ada tangan yang melingkar di tubuh Mario dari arah belakang. Hmmm, IkeL sudah di atas lagi dan sedang memeluk tubuh suaminya. Lagi-lagi matanya mengedip kepadaku tanpa Mario tahu apa yang sedang dilakukan istrinya.
Mobilku berhenti di perempatan jalan dekat Café Latte. Lampu lalulintas menyala merah. Kusempatkan membuka HP untuk membaca pesan-pesan yang masuk. Nomor tak berkontak nama masuk lagi. Katanya, aku ingin abadi dalam karya-karyamu. Jadikanlah aku inspirasi dalam setiap tulisanmu. Karena denganmu, aku merasakan gemuruh di dadaku yang tak pernah padam sampai kapan pun.  (NE)



               





















Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA