PESAN DARI KAMAR SEBELAH
Aku
memandang ayah yang tergolek lemah dalam ruangan sangat dingin, dibatasi
selapis kaca tebal yang menyekat aku dengannya. Di dalam ruangan kaca
berpendingin itu, berjejer pasien lain bersama ayah. Masing-masing dari mereka,
tubuhnya, dipenuhi kabel, selang, dan berbagai alat monitor pemantau kehidupan.
Bunyi tit...tit...tit masih terdengar lirih menembus kaca di depanku.
Jam
dinding dalam ruangan, yang terlihat dari tempatku berdiri, jarum panjangnya
nyaris menyentuh angka 12, sedangkan jarum pendeknya mepet dengan angka 6. Itu
menandakan waktu bezoek akan
berakhir. Begitu juga tulisan yang tertera di gerbang masuk Rumah Sakit Husada Setya. Jam kunjungan sore mulai
pukul 16.30—18.00. Berhubung ayah dirawat di ICU, aku dan keluargaku leluasa
menungguinya tanpa dipengaruhi jam bezoek.
“Mbak,
aku antarkan ibu pulang dulu,” pamit Ratu.
Ratu
adik angkatku, yang sejak kemarin bersamaku dan ibu, menjaga ayah yang comma di ICU. Sambil memalingkan wajah
ke arahnya, aku mengangguk dan tersenyum juga kepada ibu. Gurat lelah wajahnya
tampak jelas meski masih berusaha tersenyum padaku.
“Atu,”
panggilku sebelum ia berlalu bersama ibu, “Kalau Mbak Rita sudah pulang kerja,
nanti kamu bilang dia supaya menggantikanmu menemani mbak di sini.”
Kepala
Ratu hanya menggeleng. “Biar aku saja yang ke sini lagi, Mbak! Kasihan Mbak
Rita pulang kerja dan besoknya harus masuk kerja pagi-pagi. Aku nggak pa pa.
Lagian kuliahku juga hanya beberapa. Jadi nggak terlalu mengganggu.”
Aku
hanya terdiam mendengar penjelasannya. Mengangguk pelan, berusaha menyetujui
keinginannya. Ibu bahkan sudah mengelus kepala Ratu dengan lembut. Mereka pun
pamit kedua kalinya dan berlalu dari ruang tunggu ICU di mana aku masih
berdiri. Ketika aku membalikkan tubuh hendak memandang ayah lewat kaca ruangan
ICU, seorang perawat tersenyum padaku. Gerak bibirnya meminta maaf padaku
karena hendak menutup tirai jendela kaca di hadapanku. Tirai perlahan
dirapatkan satu sama lain. Tirai kiri dan kanan ditariknya ke tengah. Dan
sejurus kemudian ayah yang tergolek lemah, sudah tak tampak. Hanya menyisakan
suara tit...tit...tit....
Ruang
tunggu yang kutempati terasa sunyi setelah Ratu dan ibu pulang. Aku bersiap
melaksanakan salat magrib. Azan sudah berkumandang sejak setengah jam yang
lalu. Di luar ruangan terdengar suara jamaah salat magrib. Rupanya jamaah itu
para anggota keluarga pasien sebelah. Aku berjingkat pelan ke luar dari kamar
menuju toilet untuk berwudhu. Salah seorang anggota keluarga pasien sebelah ada
yang tidak salat, dia tersenyum kepadaku. Dengan sedikit berbisik, aku
menitipkan kamar tungguku padanya. Senyum keduanya berkembang lagi. Kepalanya
mengangguk pelan dan mempersilakan aku berlalu.
Bunyi
tit...tit...tit... kembali terdengar ketika aku duduk di kamar tunggu. Sambil
menunggu kedatangan Ratu, kusempatkan membaca novel Sahaja Cinta. Keriuhan yang biasa kudengar setiap malam, malam itu
terdengar lirih. Masih ada suara bincang-bincang, orang saling berbicara.
Suaranya terdengar saling bersahut-sahutan. Membahas banyak topik sepertinya.
Sesudah melahap beberapa bab dari novel yang kubaca, aku beringsut ke luar
kamar. Mencari udara segar malam hari. Sambil mencari teman bicara.
Derit
pintu kamar yang kubuka langsung mengarahkan pandangan orang-orang yang ada di
luar. Mereka tersenyum kepadaku. Salah satu wanita yang duduk di situ
mengajakku bergabung. Ditangannya memegang kotak berisi jajanan pasar. Seleraku
seketika menggelegak karena sejak tadi aku belum memasukkan makanan dalam
perutku. Perutku kembung karena hanya meneguk air mineral yang selalu tersedia
di kamar tunggu. Kepulangan Ratu selain mengantarkan ibu sekaligus mencari
makan malam dan snack untuk teman
kami menjaga ayah.
“Mari
Mbak, dicoba jajanannya,” tawar wanita yang tadi memegangi kotak makanan. Tangannya mengangsurkan kotak ke arahku.
Aku pun tanpa segan langsung mendekat dan duduk bergabung bersama keluarganya.
Mengambil lumpia yang bentuknya besar serta dua cabe rawit sebagai pendamping
di mulutku. Sekali aku menggigit lumpia itu, terasa kelembutannya yang pas.
Kami pun asyik berbagi cerita mengenai keadaan orang-orang terkasih kami yang
sedang menjalani perawatan di ICU.
Dari
penuturan wanita yang memberiku jajanan tadi, aku tahu siapa yang sedang
dirawat. Itu ibu mereka yang sudah comma hampir
dua bulan lamanya. Pihak rumah sakit bahkan para dokter sudah hopeless mengenai kesembuhan ibu mereka.
Namun tetap saja kesemua anak-anaknya tidak ada yang berani mengeluarkan dari
ICU. Aku tercenung sesaat. Nyaris dua bulan di ICU seberapa banyak uang yang
harus mereka bayarkan nanti. Sementara ibu mereka juga tidak ada tanda-tanda
membaik. Ayah yang baru seminggu di rumah sakit, sudah membuat kepalaku pening
memikirkan biayanya kelak. Apalagi ayah juga dirawat di ICU.
Cukup
lama juga aku duduk berbagi cerita dengan keluarga Soewandi. Nama Soewandi
kuketahui dari lelaki yang isya tadi menjadi imam salat berjamaah kami. Aku
ikut melakukan salat isya bersama keluarganya. Ketika malam beranjak, satu per
satu dari keluarga Soewandi meninggalkan teras ruang tunggu ICU. Wanita yang
tadi memberikan kotak makanan, juga salah satu yang berpamitan pulang. Kini
wanita yang masih bersisa ada dua orang. Keduanya ada dalam ruangan tunggu.
Satu masih muda, satu lagi sudah berumur. Yang muda, sebelumnya sempat keluar
dan bergabung bersamaku dan saudara-saudaranya. Sedangkan yang berumur sejak
tadi hanya duduk di dalam. Ia sempat mengarahkan senyumnya kepadaku dari
sela-sela pintu yang terbuka sedikit. Kemudian membaca sebuah buku yang tidak
kuketahui buku apa itu.
Kali
ini, pria dari keluarga Soewandi yang berjaga di ICU hanya 2 orang plus 2 wanita yang ada di dalam ruangan.
Sekali lagi aku ditawari jajanan pasar dalam kotak. Otakku langsung merespon
perintah “ambil”, tapi aku tahu diri. Kasihan Ratu jika datang membawakan makan
malam. Pasti jadi tidak kusentuh karena kekenyangan.
Waktu
terus bergulir. Kini jarum jam ditanganku menunjuk angka 9, sosok Ratu belum
juga tampak. Lorong depan ruang ICU masih penuh orang yang seliweran. Masing-masing dengan urusannya sendiri-sendiri. Perawat
berseragam maupun petugas cleaning
service juga masih menapaki langkah-langkahnya di lorong depan ICU. Aku
memutuskan untuk masuk kamar tunggu dan berpamitan kepada dua pria keluarga Bu
Soewandi. Dua pria itu tetap di luar, duduk sambil mengobrol. Di dekat mereka
sudah terhampar karpet tidur dan bantal. Persiapan jika terlelap dan mengantuk,
kali saja begitu. Tak berapa lama, sesudah aku masuk ke kamar tunggu, pintu
kamar di dorong dari luar. Rupanya Ratu datang. Tangan kanannya menenteng
kresek berisi makanan dan sebotol air mineral. Isi kresek langsung dikeluarkan
dan kami bersama-sama menyantapnya.
Suara
obrolan di luar mulai tak terdengar, sepertinya kedua pria anak Ibu Soewandi
sudah terlelap dan zzzzz .... Ratu juga mulai merebahkan badannya. Matanya
kriyip-kriyip menahan kantuk. Aku menyuruhnya tidur saja. Kasihan dia sudah
berjaga terlalu lama di ICU. Besok, kami akan off dari rumah sakit supaya energi negatif tidak bersemayam terlalu
lama. Begitu melihat adik angkatku tidur lelap, aku membereskan sisa-sisa makan
malam dan membuangnya di tong sampah luar. Sebelum membuka pintu, aku melongok ke
luar melalui jendela. Wanita berumur yang masih kerabat Ibu Soewandi kulihat
sedang berjalan ke seberang ruang ICU.
Memang,
di seberang ruang ICU ada semacam saung yang biasa dipakai untuk mengaso atau
sekedar duduk-duduk. Lorong depan ICU meski tidak seramai petang tadi, tetap
masih dilewati orang. Ya perawat, petugas kebersihan, penunggu pasien atau
perawat yang mengantar pasien dari IGD masuk ke kamar perawatan. Lalu-lalangnya
masih, tapi mulai berkurang. Nyaris sepi. Hanya di depan ruang tunggu
masing-masing kamar terlihat para penunggu. Ada yang geletakan. Ada juga yang mengobrol,
membaca koran atau membaca buku.
“Malam,
Bu...” Dengan sopan kusapa kerabat Ibu Soewandi itu. Dia agak kaget. Sambil
membetulkan duduknya, dia membalas sapaku dan mengembangkan senyuman. Setelah
memasukkan sampah ke dalam tong, aku mendatanginya dan duduk di dekatnya.
“Kok
tidak istirahat di dalam, Bu?” tanyaku pelan. Ia menggerakkan tangannya membuat
sebuah gerakan mengipas. Aku langsung paham dia gerah dalam ruang tunggu itu.
Ibu itu memperkenalkan dirinya. “Saya, Bu Warti. Soewarti memakai ejaan lama
‘u’-nya,” kemudian terdengar kekehannya. Aku juga ikut tertawa kecil mendengar
ia berkata begitu.
Udara
malam ketika kami duduk bersama memang terasa menusuk dinginnya. Barangkali
saja, tubuh seumuran beliau cepat merasakan suasana hangat dan dingin. Ibu itu juga
memakai baju agak tebal. Heranku kembali muncul. Belum sempat menanyainya, ia
sudah mengajak bicara mengenai ayah. Kami pun mengobrol seru berbagai topik.
Malam semakin larut, udara juga makin dingin. Ibu Warti merapatkan baju
tebalnya, sesekali tangannya digosok-gosokkan, saling beradu. Aku sudah meminta
padanya untuk masuk kembali ke dalam kamar tunggu. Ia masih bersikukuh mau
duduk di tempat kami mengobrol. Akhirnya, aku pun ikut menemaninya. Sebelum
melanjutkan keseruan bersama, aku pamit mengambil jaket. Saat melintasi lorong
menuju kamar tunggu, suasana terasa sepi. Sengaja aku mengedarkan pandangan ke
arah teras masing-masing kamar tunggu. Para penunggu terlihat membaringkan
tubuh pada alas-alas yang sudah mereka siapkan.
Setelah
merapatkan jaket di tubuh, aku menutup pintu kamar tunggu. Membiarkan Ratu
sendiri di dalamnya. Sekali lagi aku melongok, melihat para penunggu lain.
Hanya ada dua penunggu yang masih mengobrol di kamar tunggu paling ujung. Ketika
melintas lorong, dua orang perawat berjalan menuju ruang ICU. Dari arah lain,
ada tiga orang menenteng beberapa perlengkapan, sepertinya mereka hendak
berjaga. Aku masih melihat Bu Warti duduk di saung, menungguku. Melihat aku
menyeberangi lorong, ia melambaikan tangannya. Memintaku lebih cepat
mendekatinya. Maaf Bu, ucapku begitu tiba didekatnya. Ia kemudian menepuk
pundakku dan memintaku segera duduk. Kami pun melewati malam dengan obrolan
mengasyikkan, seru, dan sesekali tertawa-tawa kecil.
Malam
kian larut seiring waktu yang terus bergerak menuju tengah malam. Perbincangan
kami sepertinya tidak akan pernah terputus, karena selalu ada saja topik yang
disampaikan Bu Warti. Dan aku larut dalam setiap obrolan dengannya. Beberapa
kali orang yang melintas saung melihat ke arah kami. Meski tidak sebanyak jam bezoek tetap ada saja orang-orang yang melewati
lorong depan ICU. Semuanya memperhatikan kami. Pencahayaan saung yang lumayan
terang membuat setiap orang yang lewat tertarik melihatnya. Apalagi dari
beberapa saung yang ada, hanya kami berdua yang duduk di situ. Otomatis dalam temaramnya
malam, keberadaan kami berdua sangat kentara.
Bu
Warti mendekapkan kedua tangannya. Berusaha merapatkan keduanya untuk menghalau
dinginnya malam. Kami sempat membisu sebentar. Saat itu Bu Warti memandang ke
arah ruang ICU. Matanya yang semula ceria, tiba-tiba melayu, menjadi sayu. Aku
tak berani menanyakan apa penyebabnya. Hingga akhirnya, suara lirih Bu Warti
terdengar mengatakan sesuatu, “Ibu sebenarnya sedih melihat yang ada di dalam
ruang ICU. Kasihan... Terlalu lama menderita. Dan, tak ada satu pun anak-anak
yang berani mengambil keputusan.”
Rupanya rona sayu Bu Warti karena mengingat kerabatnya yang sakit di dalam
sana. Aku hanya bisa terdiam mendengar
penuturan Bu Warti.
“Mungkin
mereka masih berharap mukjizat dari Tuhan, Bu,” kataku coba memberi harapan,
“Makanya, mereka masih terus berupaya secara medis di sini.” Bu Warti
menggeleng pelan.
“Tapi
waktu 2 bulan bukan waktu yang pendek. Lama...! Juga biaya perawatan di ICU
tentunya tidak murah. Kasihan mereka dan keluarga masing-masing. Semuanya tentu
punya keperluan bagi rumah tangganya.” Mata Bu Warti menerawang. Ia kemudian
menghela napas panjang berulang kali.
“Bu...,”
kataku memotong helaan napasnya, “Barangkali mereka...” Sebelum aku
menyelesaikan bicara, Bu Warti menanyakan kondisi ayah. Dengan terpaksa aku
berhenti dan mulai menjelaskan keadaan ayah.
“Ayah
juga comma, Bu.., tapi dokter masih
mau mengobservasi kondisi ayah secara keseluruhan. Dan kami sudah
menyetujuinya.”
“Ayahmu
orang baik...,” tiba-tiba saja mulut Bu Warti berucap begitu. Aku jelas
terperanjat mendengarnya. Bagaimana mungkin Bu Warti tahu ayah orang baik,
sementara keluarga kami tidak saling mengenal sebelumnya.
Kebingunganku
terlihat Bu Warti. Ia kemudian mengatakan pernah melihat ayah sewaktu masuk ke
dalam ruang ICU. Kala itu ia berada di
ranjang Bu Soewandi. Pembaringan ayah memang bersebelahan dengan Bu Soewandi. Siapa pun yang mengunjungi ayah atau Bu Soewandi
pasti bisa saling melihat kedua pasien itu. Sama-sama tergolek lemah tanpa daya
dan comma. Yang membedakan hanya lamanya
waktu perawatan.
“Bagaimana
ibu sampai tahu kalau ayah saya orang baik?” tanyaku agak menyelidik. Dengan
tersenyum serta suara tenang Bu Warti mengatakan bahwa raut wajah ayah tidak
bisa menipu. Meskipun ayah digerogoti penyakitnya namun cahya kebaikan sebagai
orang baik tak pernah luntur. Hatiku senang mendengarnya. Tapi tetap saja masih
bingung dengan penjelasan Bu Warti. Kalau benar dia tahu ayah orang baik,
heibat sekali kemampuan Bu Warti itu. Pikiran itu selintas berkecamuk
dibenakku. Ayah juga menanti seseorang, lanjut Bu Warti menerangkan, “Adakah
yang masih ditunggunya?” Aku kian terkesima begitu Bu Warti mengatakan hal itu.
Kedua
kakakku belum sempat datang menjenguk ayah sejak beliau masuk rumah sakit.
Kedua kakakku bekerja di pengeboran lepas pantai, sehingga waktu kepulangannya
harus mengikuti jadwal. “Benar Bu, kedua kakak saya masih ada di lepas pantai.
Mereka belum bisa menjenguk ayah yang comma.”
Bu Warti mengangguk pelan sambil berujar, “Pastikan kedua kakak datang dan
menjenguk ayah, ya!”
“Tentu,
Bu.... Kami sudah mengabari mereka berdua. Pada kesempatan pertama pulang,
mereka langsung menuju sini. Kedua kakak ipar saya bahkan sedang menuju sini.”
Aku berusaha menjelaskan pada Bu Warti bahwa kesemua anak-anak ayah peduli.
“Adik saya juga tak bisa pulang. Ia kuliah di
Jerman dan baru setahun di sana,” kataku menambahkan. Bu Warti kembali
mengangguk. “Nggak pa pa. Dia memang jauh, tapi ayah memakluminya.”
“Saya senang mendengarnya. Semoga ayahmu
diberi kemudahan dan kebaikan dalam menjalani sakitnya. Sakit, mati, adalah
bagian dari kehidupan kita. Tidak perlu ditakuti.” Mata Bu Warti kembali
terlihat menerawang ke arah ruang ICU. Sementara itu, malam yang makin larut
dan dingin ternyata masih menyisakan orang-orang yang hilir-mudik di depan
lorong ICU. Ada saja yang mereka tenteng dari luar. Mereka pun selalu melihat
ke arah saung. Melihat ke arah kami berdua.
Membuang
rasa penasaranku, aku bertanya apakah Bu Warti memiliki semacam indera keenam.
Sampai ia tahu ayah orang baik. Bahkan ia pun sampai tahu ayah masih menunggu
seseorang. Ditanyai begitu, Bu Warti hanya terkekeh kecil, tertawa kecil sambil
mengatakan, “Mungkin benar. Tapi, betapa susahnya saya menyampaikan kepada
anak-anak bahwa kerabat kami di dalam ICU sana, sudah ingin dikhlaskan. Dia
terlalu lama tersiksa dan ingin dibawa pulang, serta dirawat di rumah saja. Dia
merasa lebih hangat jika berada di rumah. Dikelilingi anak-anak, menantu, dan
para cucu.” Aku tercenung mendengar penuturan Bu Warti, sekaligus kagum akan kemampuannya.
“Besok
pagi, saya minta tolong Mbak Ranti jangan pulang sebelum jam bezoek tiba.”
“Saya
harus membantu apa, Bu Warti?” tanyaku kurang mengerti. Bu Warti hanya
tersenyum sembari mengulang permohonannya, “Jangan pulang sebelum jam bezoek pagi tiba, ya.... Hanya itu permintaan saya.”
“Sebelum
subuh nanti, saya pulang duluan, karena ada urusan yang mesti saya selesaikan
di rumah, pagi sekali. Biar ketiga anak-anak itu..,” Bu Warti menunjuk ke arah
para penunggu yang tertidur lelap, “Yang menjaga kerabat kami di dalam.”
“Benar
ya Mbak Ranti, titip pesan yang saya sampaikan tadi.” Untuk kedua kalinya Bu
Warti mengingatkanku. Merasa dititipi amanah, aku mengangguk setuju. Toh bukan
sesuatu yang sulit.
“Ibu
pulang dengan siapa subuh nanti?”
“Nggak
usah khawatirkan saya. Ada yang jemput subuh nanti,” senyum Bu Warti mengembang
di mulutnya. Aku lega setelah diberi penjelasan begitu.
“Siplah,
Bu....” Kuacungkan jempol kananku kepada Bu Warti.
“Kamu
memang anak baik, juga adikmu Ratu yang sekarang terlelap karena kecapekan.”
Aku terkejut Bu Warti tahu nama adik angkatku. Padahal seingatku, sepanjang
kami mengobrol, aku tidak menyebut nama Ratu atau menceritakan kelelahan yang
menderanya. Luar biasa kemampuan ibu ini, aku hanya bisa menggumam.
“Bu,
saya duluan ke kamar,” pamitku padanya, “Ngantuk sekali dan capek.” Bu Warti
mengangguk sembari ikut berdiri mempersilakan aku duluan tidur.
“Sebentar
lagi saya masuk. Silakan lho, Mbak Ranti kalau mau mengaso....” Aku pun
meninggalkan Bu Warti sendirian di saung. Sebelum menutup pintu kamar, aku
masih sempat melambaikan tangan kepadanya. Ia pun membalas lambaianku dengan
kedua tangannya. Ketika pintu kututup, dari celah korden jendela aku melihat Bu
Warti berdiri dan berjalan menuju kamar tunggunya. Sebenarnya aku tak tega
meninggalkannya, tapi mataku benar-benar sudah tak mau kompromi. Dan begitu
badanku kubaringkan di atas kasur, seketika itu pula sukmaku melayang lepas,
mengembara. Aku tertidur lelap hingga merasa sebuah guncangan mengusik tidurku.
“Mbak bangun, subuhan. Kesiangan kita nih,”
guncang Ratu pada tubuhku. Aku benar-benar terkejut karena baru saja merasakan
lelap tidur namun sudah harus bangun. Sambil mengusap mata dan merapikan rambut
dengan jari-jari tangan, aku bangkit dan ke luar kamar. Kulongok jam di HP,
sudah setengah enam pagi. Aku pun bergegas menuju toilet untuk wudhu.
Ketika
menengok kamar sebelah, kerabat lain Bu Warti sudah berganti orang. Hanya ada
satu wanita yang kemarin bersama Bu Warti yang kukenal. Dan sesuai perkataannya
semalam, Bu Warti memang tidak terlihat di kamar tunggu. Di teras kamar tunggu
mereka masih tergelar karpet sisa tempat rebahan semalam. Ada lima orang yang
sedang jagongan sambil sarapan dan
minum teh. Hanya si wanita muda itu saja yang menyapaku. Dia melambaikan
tangannya ketika aku keluar kamar. Derit suara pintu kamar tungguku penyebab
dia tahu aku keluar kamar.
Ratu
sudah kembali dari luar kamar. Dia mencari sarapan. Jadi selesai bebersih dan
kembali ke kamar, hidangan sudah tersedia. Nasi kuning komplit pengganjal perut
kami pagi hari. Siang nanti salah satu kakak iparku akan datang menggantikan
kami menjaga ayah. Aku juga sudah katakan kepada Ratu jika hendak pulang duluan
tidak apa-apa. Tapi adik angkatku bersikukuh tetap bersamaku sampai kakak ipar datang
siang nanti. “Sudah Mbak, kita sama-sama pulangnya sampai Mbak Tria datang
gantiin kita.”
Anak
satu ini meskipun bukan anak kandung ayah dan ibu, tapi cinta dan sayangnya
luar biasa. Mungkin karena Ratu diasuh ibu dan ayah sejak masih orok. Sementara
adik kandungku cowok sedang kuliah di Jerman, sejak setahun yang lalu. Bersama
Ratulah aku bahu-membahu mengurus ayah yang sakit sejak bulan kemarin. Jika
Riano tidak ke Jerman, pasti kami bertiga yang menjaga dan merawat ayah. Riano
salah satu kebanggaan ayah. Dan Riano juga sayang ayah sama halnya Ratu.
Aku
dan Ratu duduk di dalam kamar tunggu. Menunggu tirai penutup kaca pembatas
dibuka. Selama menunggu tirai dibuka, terdengar suara tit...tit...tit... serta
suara perawat berbicara. Bayangan kesibukan di dalam terasa sekali pagi itu. Kesibukan
itu tersiluet dari bayangan tirai yang masih tertutup. Kesibukan bukan di
pembaringan ayah melainkan di pembaringan Bu Soewandi. Tepat pukul 10 tirai
dibuka dan kami berdua melihat ayah tetap tergolek lemah. Dadanya bernapas
teratur, matanya masih terpejam. Selang macam-macam, kabel aneka warna juga
masih menempel ditubuh ayah. Aku pejamkan mata berdoa untuk kesembuhan ayah.
Ratu juga melakukan ritual yang sama di depan kaca pembatas. Mataku kemudian
berpaling ke arah pembaringan Bu Soewandi. Tirai pembatasnya agak tersibak
sehingga terlihat apa yang sedang terjadi di situ. Ada 3 perawat di situ, juga
dokter yang tidak memakai jubah kebesarannya.
Ketika
kami duduk sambil menikmati jajanan yang dibeli Ratu, tiba-tiba terdengar suara
raungan dan suara tangisan dari kamar sebelah. Aku bergegas bangkit dan spontan
menuju kamar sebelah. Kulihat wanita muda yang kukenal sedang menangis. Matanya
berlinangan air mata. Aku menerobos ke dalam kamar tunggu mereka dan melihat apa
yang sedang terjadi di ruangan ICU Bu Soewandi. Benar dugaanku. Seperti yang
kulihat dari sibakan tirai tadi, di situ memang ada 3 perawat dan satu dokter.
Mereka mengerubungi tubuh Bu Soewandi. Melakukan sesuatu pada tubuh lemah itu.
Sesekali tubuh lemah itu kejang-kejang. Satu dari keluarga Bu Soewandi diminta
masuk ke dalam. Tak lama kemudian salah satu perawat menutup tirai jendela
pembatas. Maaf, kami harus menutup tirainya, begitu gerak bibir perawat itu.
Ketika perawat itu menarik tirai sebelah kiri, aku melihat kepala Bu Soewandi
seperti berpaling ke arah jendela. Menatapku sekejap tanpa diketahui para
petugas medis yang sedang sibuk di situ. Mata Bu Soewandi terbuka sedikit.
Bibirnya menyunggingkan senyuman kepadaku. Matanya kemudian terpejam lagi dan
kepalanya kembali ke posisi semula. Aku sangat terkejut, tertegun ketika
melihat mata dan wajah Bu Soewandi. Jantungku berdebar keras, napasku
naik-turun. Nyaris tak percaya apa yang kulihat barusan.
Masa
kritis Bu Soewandi akhirnya terlewati. Kondisi beliau berangsur membaik meski
tetap comma. Kehidupan sementara
dengan bantuan alat-alat medis berjalan normal lagi. Tirai pembatas jendela
sudah dibuka lagi. Membiarkan kerabat dan tamu keluarga melihat Bu Soewandi. Di
dalam kamar tunggu aku hanya termenung, nyaris tidak percaya dengan
penglihatanku tadi. Ratu memegang pundakku, memelukku karena tahu aku
terguncang. Tiba-tiba pintu kamar tunggu kami diketuk dari luar. Wanita muda
kerabat Bu Soewandi masuk. Matanya masih terlihat sembab, meskipun air mata
sudah tak tumpah di pipinya. Perempuan itu kemudian mendekatiku dan memelukku.
Ratu buru-buru melepas pelukannya. Aku memberanikan diri bertanya padanya.
“Bu
Warti pulang tadi subuh, ya Mbak?” Pertanyaan awalku padanya. Mendengar kata
Warti kusebutkan, perempuan itu terkejut. Matanya memandang ke arahku. Dia
menghela napas panjang setelah mendengar pertanyaanku.
“Saya
semalam mengobrol dengannya, Mbak...,” kataku berusaha jujur kepadanya.
“Semalam
beliau keluar dari kamar dan saya lihat mbak juga sudah tidur di kamar. Dua
saudara mbak juga sudah terlelap di teras,” lanjut omonganku. Sekali lagi
wanita muda itu menghela napas.
“Kami
bercerita banyak hal di saung depan situ,” aku tunjuk saung tempat kami semalam
mengobrol. Kepala wanita muda itu menggeleng pelan.
“Mbak
...,” suara wanita itu akhirnya keluar. Karena sejak tadi hanya aku yang
bicara. “Mbak bicara lama dengan Bu Warti?” Wajahnya bersungguh-sungguh ingin
tahu jawabanku. Dan aku hanya menganggukkan kepala. Tiba-tiba dia menangis,
menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian terdengar suara isak
serta lirih, ibuuu .... Sampai di situ aku masih bingung sekaligus penasaran.
“Mbak,
Bu Warti itu ibu saya. Ibu kami yang sekarang terbaring di ruang ICU. Nama
kecil ibu adalah Warti. Soewarti. Soewandi adalah nama ayah kami.” Tubuhku
bergetar hebat, sama sekali tak
menyangka. Di sela-sela keterkejutan yang menyeruak, aku ingat-ingat kembali
kejadian semalam bersama Bu Warti. Aku lantas hanya bisa menghela napas
panjang. Aku ingat satu hal. Semua orang yang melewati saung selalu melihat ke
arah kami. Rupanya orang-orang yang lalu-lalang melihatku bicara sendiri dalam
saung yang benderang. Hmm....
“Semalam
hanya saya sendiri dan satu-satunya perempuan yang berjaga di sini.” Aku
semakin bergetar begitu ia mengatakan hanya satu-satunya wanita yang berjaga di
kamar tunggu ICU. “Kami hanya bertiga, Mbak....” Di pelupuk mataku, aku
langsung terbayang wajah Bu Warti yang bersahaja, lembut, dan menitipkan
pesannya.
Dengan
masih merasakan tubuh yang bergetar, dengan perlahan kusampaikan pesan Bu Warti
kepada anak perempuannya itu. Anak perempuan Bu Warti terdiam, matanya basah,
begitu kusampaikan pesan Bu Warti kepadaku semalam. “Ibu ingin pulang, Mbak!
Ibu ingin dirawat di rumah. Dikelilingi orang-orang yang disayanginya.” Astuti,
anak perempuan Bu Warti kembali menangis. Kedua telapak tangannya menutupi
wajahnya yang basah oleh air mata.
Komentar
Posting Komentar