MENGUNYAH MASA LALU DEMI NOSTALGIA

Mika menghempaskan tubuhnya di sofa. Ditariknya nafas dalam-dalam sembari mengitari pandangan memantau segala penjuru rumahnya. Semua tertata, bersih, dan apik dipandang. Seharian tadi Mika membereskan rumah bersama Karti.  asisten rumah tangganya, yang kini sosoknya tampak di dapur bersih. Ia sedang mempersiapkan jus buah segar untuk keempat anaknya siang nanti. Mika meraih koran pagi, membolak-balik lembarannya, dan matanya langsung tertuju sebuah informasi bertuliskan Mengunyah Masa Lalu Bersama Tommy Page. Sebuah desahan kecil mengalir dari bibirnya yang tampak merah meskipun tidak bergincu. Dengan seksama Mika membaca informasi tentang TP yang ternyata akan melakukan tur 2 kota, di Jakarta dan di Solo. TP akan beraksi di Whiz Prime Hotel, Kelapa Gading pada Sabtu, 4 Juni. Mata Mika sejenak menerawang. Kemudian matanya langsung melihat ketiga anaknya yang sedang asyik sendiri-sendiri dengan kesukaan masing-masing. 

            Pratama, sulung Mika kelas 1 SMP, sedang asyik di meja komputer, mengutak-atik program komputer yang jadi kesukaannya. Quinta, anak keduanya yang duduk di kelas 5 SD, asyik membaca di mini perpustakaan keluarga, tak jauh dari Pratama duduk. Reno, anak ketiganya masih kelas 4 SD, tiba-tiba turun dari lantai atas sembari berteriak memanggil ‘mama’ padanya. Mika tersenyum sambil melambaikan tangan mengajaknya duduk menemaninya di sofa.
            “Reno sini! Ada film bagus tuh di tivi. Temani mama yuk,” ajak Mika. Kepala Reno menggeleng menolak ajakan mamanya. “Aku janjian sama Fiona, Ma, sebentar lagi mau ke rumah kita,” ujar Reno ke mamanya. Mika mengangguk lantas membiarkan Reno yang keluar rumah menuju teras depan. Tangan Reno memegang smartphone pemberian papanya kado ulang tahunnya bulan kemarin.
            “Reno, nanti Fiona diajak masuk. Jangan di taman biar tak kepanasan!” teriak Mika sebelum Reno menghilang ke teras. Teriakan nyaring Reno terdengar kemudian.
            Mika melanjutkan membaca koran yang dipegangnya tadi. Ulasan musik tentang Tommy Page dibacanya pelan-pelan. Matanya kadang berbinar, kadang redup, kadang menghela nafas juga. Koran diletakkan kembali ketika Tama berteriak memanggilnya.
            “Ma, Dik Setya bangun tuh!” Mika langsung berpaling ke arah Tama. Ia lalu minta Tama melihat adiknya dulu. “Tama, tolong lihat adikmu dulu. Mama agak susah bangunnya nih.” Tangannya lantas memegangi perutnya yang kian membuncit. Ia berusaha bangkit pelan-pelan hendak menuju ke kamarnya. Sejak tadi anak keempatnya belum bangun. Dan Mika membiarkan Setya tidur molor.
            Dengan agak kepayahan sedikit, Mika berhasil berdiri dari duduknya dan segera menuju kamarnya. Terdengar suara Tama sedang menyapa Setya yang masih menggeliat di ranjang.
            Setya merupakan anak keempat Mika dan Jodi suaminya, yang masih duduk di kelas 1 SD. Jodi memang menginginkan banyak anak di keluarganya. Sebagai anak tunggal ia tidak mau rasa kesepian ada dalam keluarganya. Makanya, ia bersepakat dengan Mika soal banyak anak ini. Mulanya Mika agak keberatan atas keinginan Jodi, tapi sejak ia dapat membuktikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, Mika mengalah. Ia membiarkan rahimnya ditanamkan benih Jodi setiap saat. Ia ikhlas hamil dan melahirkan sesuai keinginan Jodi.
            “Kan seru sayang kalau anak kita 11?” ucap Jodi suatu ketika.
            “Sebelas?” Mata Mika membelalak mendengar keinginan Jodi yang saat itu tertawa-tawa.
            “Enak papa dong,” jawab Mika manyun. Jodi tertawa-tawa lagi.
            “Emang mau kayak Mas Didiet dan Mbak ILa? Anaknya cuma 1. Begitu anaknya lulus dan bekerja di luar negeri mereka cuma berdua. Kesana-kemari hanya berdua,” Jodi memberi contoh keluarga sahabatnya itu.
            Mika tak mau kalah, ia pun beragumentasi, “Tapi mereka jadi semakin dekat dengan kepergian Abiy ke luar negeri!”
            “Benar memang sih keduanya jadi hangat dan dekat. Tapi banyak anak makin bikin hangat juga,” sergah Jodi.
            “Tuh, keluarga Mas Didi dan Mbak Acha. Anak mereka 5. Hangat, seru, dan selalu kompak. Nggak kepingin kita kayak gitu?”
            Entah kenapa ucapan-ucapan lama itu terngiang tiba-tiba kala Mika hendak menemui Setya. Jika sudah begini, Mika hanya menghela nafas sembari tergopoh berjalan karena kandungannya sudah semakin membesar. Baginya tak harus ada penyesalan. Semuanya sudah disepakati oleh mereka di awal-awal pernikahannya. Mika pun harus merelakan posisi bagusnya di kantor karena mematuhi perintah suaminya untuk tinggal di rumah dan total mengabdikan dirinya untuk rumah dan anak-anak. Tarikan nafas kedua terjadi lagi.
            “Ma.., adek nggak mau bangun nih,” protes Tama yang sudah sedari tadi mengelitik-gelitik adik bungsunya. Setya tidak buru-buru bangun malah justru menggeliat dan bergulungan di ranjang. Setelah Mika mendekat barulah Setya bangun sembari berteriak, “Kak Tama kutipuuu.” Setya bangun langsung memeluk Mika erat.
            “Adekkk, hati-hati, jangan sampai menyakiti adik kita yang ada dalam perut mama,” tegur Tama ketika Setya menubruk Mika.
            “Upss, maaf ya.. dedek…. Kakak Setya nggak sengaja.” Setya langsung melepas rangkulannya seraya mengelus perut Mika. Perlakuan Setya seperti itu tak urung membuat Mika terharu dan bangga. Semua anak-anaknya suka-cita menyambut kehamilannya ini. Ia pun mengelus kepala Setya dengan lembut.
            Ketiganya kemudian keluar dari kamar. Sebelum benar-benar keluar dan tanpa diperintah, Tama langsung membereskan ranjang bekas tidur Setya. Lagi-lagi Mika tersenyum menyaksikan tindakan yang dikerjakan Tama. Mika lantas menyuruh Setya mandi. Ia memanggil Karti untuk memandikan Setya. Quinta yang sedari tadi asyik membaca langsung bangkit. “Biar Dek Setya aku mandikan, Ma!” Mika sangat bersyukur dianugerahi anak-anak yang tanggap, cekatan, dan saling menyayangi. Ia lalu duduk kembali di sofa melihat polah-polah anak-anaknya. Di situlah kesadarannya membisikkan sesuatu: punya banyak anak menyenangkan, bukan? Dalam hati Mika tersenyum, senyum yang ia rasakan sendiri.
***
            Karir Jodi melesat. Bisa jadi doa istri dan anak-anaknya yang menyebabkan selain juga kerja keras, keuletan serta dedikasi Jodi untuk kantornya. Baru sebulan ini ia dipromosikan sebagai Marketing Director, sebuah jabatan tinggi di sebuah perusahaan. Ia memperoleh jabatan ini di usianya yang ke-43 tahun. Awal pekerjaannya dimulainya pada divisi marketing dan promosi. Ia tahu persis, serta menguasai perusahaan tempatnya bekerja.  
            Konsekwensi karir Jodi yang cemerlang, membuat waktu bersama keluarganya tidak banyak. Mika sebagai istri memahaminya. Toh, Jodi sudah memberikan kemapanan hidup untuk ia dan anak-anaknya. Jodi sangat bertanggung jawab lahir dan batin pada keluarganya. Meskipun sudah sedemikian sibuk, Jodi tetap berkeinginan memiliki banyak anak. Tambahan anak sebentar lagi belum menyurutkan keinginannya untuk tambah dan lebih banyak anak. Mika sudah mengambil ancang-ancang menyetop keinginan suaminya. Terlebih kalau perbandingannya adalah keluarga Didi, maka kelahiran anak kelima mereka 2 bulan lagi sudah akan menyamakan dengan anak keluarga Didi sahabat mereka.
            “Punya 7 anak saja, nggak jadi 11 deh,” kata Jodi pada saat mereka mengantri memeriksakan kandungan anak kelima. Mika saat itu tidak menjawab. Hanya seperti biasa menghela nafas sambil kepalanya menggeleng-geleng.
            “Kita lihat saja nanti, ya,” ujar Mika yang langsung mengatupkan bibirnya. Mendapat jawaban dari istrinya, Jodi lantas membentuk angka 7 dengan ketujuh jari-jarinya. Bibirnya tersenyum.  
            “Janji, hanya sampai 7 anak saja!” Tanda huruf V diacungkan Jodi didekat telinganya. Mika tidak menjawab apapun kecuali tangannya mengelus perutnya yang buncit. Jodi memerhatikan semua yang dilakukan istrinya.
            “Tahun ini umurku 41 tahun. Kalau aku masih hamil lagi, nanti kita sudah tua anak-anak kita masih kecil,” urai Mika. Gantian Jodi yang menggelengkan kepalanya, tapi kemudian mengangguk pelan. Sejurus kemudian, ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, menyandarkan kepalanya dikedua tangannya. Matanya menatap lurus ke depan, tak melihat Mika istrinya. Melihat suaminya seperti itu, Mika kikuk dan merasa bersalah. Tapi, apa yang dikemukan sangat masuk akal dan harus disampaikan. Ia tak berusaha menjawab apapun lagi setelahnya.
            Setelah berdiam diri tanpa suara, Mika menyampaikan keinginannya. “Kita sudah lama nggak berlibur apalagi sejak papa diangkat jadi Direktur.” Kepala Jodi berpaling ke istrinya. Sorot mata Jodi memahami keinginan istrinya.
            “Aku juga sudah terlalu lama di rumah terus, nggak ‘me time’ maupun ‘us time’ bersama papa,” tambah Mika lagi.  Sorot mata Jodi semakin menampakkan bersalahnya. Namun ia tetap diam. Kini tangannya didekapkan didadanya.
            Tiba-tiba tangan kanan Jodi mengelus pipi Mika sambil berucap, “Makasih untuk semua cinta dan perhatianmu untuk keluarga kita. Maafkan aku.”  Bengggg.., seperti ada yang meledak didada Mika saking kaget dan tak menyangka suaminya berkata demikian. Mika lantas menggenggam tangan suaminya yang masih memegangi pipinya. Disunggingkan senyuman manisnya kepada suaminya itu. Dan mereka baru berhenti ketika perawat memanggil untuk segera diperiksa dokter. Perawat yang memanggil tersenyum, setengah menggoda Mika dan Jodi, “Duh mesranya….” Ia berani menggoda karena sudah mengenal dekat keduanya yang merupakan pasien abadi Dokter Rahmasari Adinda.
***
            Mika membuka kembali koran yang menampilkan profil Tommy Page. Dibaca lagi artikel mengenai idolanya itu. Ia lantas mengenang masa-masa pacaran bersama Jodi. Saat itu mereka masih kuliah. Mika ingat betul, sesungguhnya Jodi tidak menyukai TP. Demi cintanya kepada Mika, Jodi mau saja ketika diajak menyaksikan TP manggung pertama kali di Jakarta. Bahkan Mika sempat geli ucapan Jodi yang mengatakan dirinya norak. Keblinger banget sama idola semacam TP. Di masa itu juga, Mika mengoleksi hampir semua profil TP; dari foto, poster, cuplikan berita sampai kaset-kaset. Dan mengetahui TP akan manggung 4 Juni yang akan datang, Mika ingin sekali bisa menyaksikan idolanya itu. Akan tetapi setiap melihat perutnya membuncit serta saat kelahiran yang kian mendekat, Mika mengurungkan keinginannya. Pernah ia menyampaikan keinginan menonton TP kepada Jodi. Jawabannya masih sama, NORAK. Norakmu nggak lekang oleh waktu, begitu ucapan Jodi menanggapi keinginan Mika.  
            Siang itu, Mika mendengarkan lagu-lagu Tommy Page lewat youtube. Sekedar tombo kangen kepada idolanya itu. Sengaja headset ia kenakan ditelinganya biar benar-benar merasakan kenangan lama bersama idolanya itu, sendiri saja. Anak-anak kebetulan asyik berenang di kolam renang rumah bersama anak-anak tetangga. Mika bisa memantau mereka dari sofa tempat ia duduk santai. Karti juga diminta menemani mereka serta menyiapkan segala kebutuhan isi perut. Ia juga sudah mendapat wattsapp dari suaminya yang mengatakan baru akan pulang malam. Jodi akan ke Singapura mengikut meeting di sana, tidak menginap, dan langsung pulang malam harinya sesudah meeting selesai. Aku ingin bersama kalian minggu ini. Capek kerja teussss……Itu pesan yang dikirimkan bebarengan pemberitahuan hendak pergi ke Singapura untuk meeting.
            Mika benar-benar merasakan ‘Me Time’-nya meskipun hanya sendiri dan hanya mendengarkan idolanya bernyanyi lewat youtube. Lagu-lagu TP benar-benar melarutkan dirinya ke masa lalu. Suara TP yang lembut bisa merogoh suksma. Romantis abis... Mika tersenyum mengingat itu semua. Sesekali bayangan TP muda muncul, beradu dengan wajah Jodi muda. Kamu tetap kalah ganteng, Pa, gumam lirih Mika, yang kemudian tersenyum sendiri. Mika sedang menikmati alunan suara TP yang membawakan lagu I’m falling in love, tiba-tiba ada pesan masuk dari Jodi. Ia mengirimkan foto atau gambar. Mika perlu mengunduh dulu sebelum tahu apa yang dikirimkan suaminya itu.  Matanya terbelalak, Takjub. Terkejut. Terpana. Kumpul jadi satu huruf depan ‘T’.

            Dua lembar tiket menonton Tommy Page di Whiz Prime Hotel, Kelapa Gading, hari Sabtu, 4 Juni 2016. Di bawah gambar tiket tertulis: Mengunyah masa lalu jangan hanya bersama TP doang. Aku juga mau kok menemanimu, sayangku, Mika Norak!! Hahahaa….. Love n kisses. Pesan bergambar tiket nonton Tommy Page benar-benar menggugah serta membuncahkan perasaan terdalam Mika. Ia pun menjawab wattsapp suaminya: I LOVE YOU…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIYAMBAKAN

SENGAJA DATANG KE KOTAMU

KIRIMI AKU SURAT CINTA